Gara Dan Semesta

Gara Dan Semesta
Chapter. 02


__ADS_3

Arun menyembunyikan senyuman nya. Ia tak habis pikir pada Abang nya itu, kenapa bisa-bisa nya ia tak menaruh kecurigaan apapun. Padahal sudah pasti, Arun akan meminta hal-hal aneh yang pasti nya bisa membuat Abang nya itu menyerah.


Arun berjalan beberapa langkah ke depan. "Ya udah sekarang Abang keluar gih. Arun mau baca buku lagi".


Luke menatap tak percaya dengan ucapan Arun. "Kamu berani ngusir Abang? Nggak salah" Tuturnya.


"Berani lah. Masa iya Arun takut" Ucapnya cepat.


"Kualat lho nanti".


"Nggak akan".


Bug!!!


"Auu!" Ujar Arun memegang ujung jempol kakinya. Ia tersandung meja yang tepat berada di depan nya.


Terjadi. Prediksi dan apa yang ada di pikirkan oleh Luke pun terjadi. Seakan Arun menelan ucapannya sendiri.


Luke tertawa keras. Arun yang melihat itu menatap nya kesal. "Iii Abang! Bukannya bantuin Arun malah ketawa".


Luke refleks berhenti tertawa. "Iya-iya di bantuin... makanya jangan ku-a-lat. Eh malah kejadian 'kan?".


Luke berjalan beberapa langkah sampai berada di hadapan Arun. Ia membantu Arun berdiri dan menyuruhnya untuk duduk di sofa.


Luke mengambil P3K yang berada di laci meja belajar Arun. Kemudian ia duduk di bawah untuk mengobati kaki Arun yang agak sedikit membiru.


"Tahan ya. Ini mungkin agak sakit" Ujar Luke.


Arun memperhatikan Luke. "Pelan-pelan" Cicitnya.


"Iya ini juga udah pelan. Wait ini harus di kasih salep biar memarnya ilang".


"Udah??" Tanya Arun.


"Udah. Yuk Abang bantu berdiri". Seraya berdiri setelah membereskan P3k nya.


Arun mengerutkan keningnya. "Huh? Buat apa?".


Luke menatap Arun jengkel. "Ya buat bantu kamu lah, jalan ke kasur. Emang mau di sini?"


"Ish Abang aneh! Yang sakit cuman ujung jempol kaki itu juga nggak sakit-sakit amat. Kalo buat jalan ke sana... Arun juga masih mampu" Ujarnya sinis.


"Oh iya, ya? Tadi aja bilang nya pelan-pelan" Luke menirukan suara Arun.


Arun menatap nya jengah. "Lebay!" Arun berjalan ke kasur.


"Ya udah Abang mau ke bawah dulu".


"Hum"


Melihat kepergian Luke, Arun tersenyum manis. Lagi-lagi ia begitu terharu dengan perlakuan dan perhatian tulus yang di berikan oleh Abang nya itu.


"Gue beruntung bisa punya kakak laki-laki yang begitu baik kayak bang Luke" Batinnya.


...***...


"Mah... Abang boleh nggak ajak Arun pergi" Tanyanya sambil duduk di sofa ruang tamu.


Naura menatap putra nya itu sekilas. Kemudian pandangan nya mengarah lagi pada majalah yang sedang ia baca. "Pergi kemana? Kalo jauh... udah pasti, mamah nggak akan ijinin".


Luke menyimpan Coca-Cola yang ia pegang dimeja. "Pergi ke mall doang mah. Abang juga nggak berani kalo ngajak Arun pergi jauh"


"Ya udah boleh. Kapan? Kebetulan ada yang mau mamah beli, jadi bisa nitip".


Luke nampak berfikir. "Maunya sih malem ini. Tapi nggak tahu deh. Bisi Arun ada keperluan".


Naura menutup majalah nya. "Pasti ada waktu. Orang adik kamu selalu punya waktu".


Luke mengangguk. Memang ia mengetahui bahwa Arun selalu memiliki waktu banyak. Karena ia jarang sekali pergi kecuali memang ada yang mangajak nya.


"By the way Papah kapan pulang nya mah? Katanya hari ini?".


"Itu dia, kebiasaan papah kamu. Bilang pulang hari ini, hari itu, eh ujung-ujung nya nggak jadi. Semalam papah bilang, pulangnya lusa. Katanya masih ada kerjaan yang belum selesai"

__ADS_1


"Oh... gitu. Ya udah mah ntar Abang bilang ke papah buat pulang. Soalnya mamah kangen" Ujar Luke seraya tertawa pelan.


"Ish kamu bisa aja. Ya jangan dong... takutnya kerjaan papah jadi terganggu".


Luke mengangguk. "Mah Abang tiba-tiba jadi pengen brownis deh. Yang rasa cokelat".


Naura tersenyum tipis. "Ya udah kalo gitu... sekarang kita buat aja. Sekalian mamah mau buatin Arun tiramisu".


"Ya udah yuk!" Luke berdiri dari duduknya.


...***...


"Gara! Kamu kok mau pindah sekolah nggak bilang-bilang dulu sama papah" Sentak Marcello


Gara membenarkan duduknya. "Kalaupun Gara bilang. Papah pasti nggak akan peduli" Datar Gara.


"Kalo papah nggak peduli sama kamu. Ngapain papah tanyain soal ini! Paham?".


"Kalo papah peduli. Papah pasti akan ngerti dan tahu apa yang di alami Gara" Tegasnya.


"Kurang ajar! Kamu berani ngomong kayak gitu? Huh!" Marcello menatap tajam Gara.


Gara tiba-tiba berdiri. Spontan Shania pun ikut berdiri. "Terserah papah mau ngomong apa. Gara nggak peduli".


Gara melangkahkan kakinya menuju tangga. Tangga yang menghubungkan nya ke kamar milik nya. "Mau kemana kamu? Papah belum selesai bicara! Apa ini yang di ajarkan oleh guru kamu di sekolah?!" Suara bariton itu berhasil membuat Gara terhenti.


"Apa papah udah pernah ngajarin Gara untuk sopan santun? Ck oh iya lupa... papah kan hanya sibuk kerja-kerja dan kerja" Sinis nya.


"Kurang ajar! Anak yang tak tahu di untung. Saya capek-capek kerja, kelakuan kamu kayak gitu!"


"Apa kamu nggak tahu! Orang di luar sana bahkan untuk makan aja susah. Kamu yang hidupnya enak--"


Shania memegang pundak Marcello. "Udah cukup. Nggak usah di bahas lagi. Jangan terbawa emosi" Ujarnya pelan


Marcello berhasil tenang akibat perkataan dari sang istri Shania. Gara? Entah lah ia sudah sangat jengkel dan jengah dengan apa yang ia lihat. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar.


Di kamar yang gelap itu, Gara terduduk di pojok ruangan. Bahkan cahaya matahari yang masuk hanya sedikit, membuat kamar Gara remang-remang.


Ia memukul tembok dengan keras. Bahkan tidak satu kali, melainkan beberapa kali. Kepala nya dengan sengaja ia sandarkan pada dinding yang bercat hitam itu.


"Bunda... Viola..." Lirihnya pelan.


Gara memasuki toilet. Ia membersihkan tangan nya di wastafel. Bahkan untuk luka yang sedikit parah itu, Gara tak meringis ataupun merasakan perih.


Ia menatap dirinya di cermin. Wajahnya yang tampan, bahkan mata yang penuh dengan kesedihan ada di dalamnya.


Gara yang tak ingin terus-menerus seperti itu. Ia memutuskan untuk tertidur. Siapa tahu pikiran-pikiran yang begitu menguasai dirinya bisa hilang. Pikir Gara.


...***...


"Arun ayo... nanti keburu malem lho" Teriakan Luke dari luar pintu kamar.


Arun spontan melihat jam dinding yang tergantung di dekat lemari nya. Masih menunjukkan pukul 18.45. Arun bernapas kasar.


"Belum malem kok. Masih ada waktu! Arun mau siap-siap dulu" Teriak Arun.


"Ya udah Abang tunggu di bawah!".


"Iyaa..."


Arun dengan cepat bangun dari tidurnya. Arun memasuki kamar mandi. Selepas mandi, Arun mengambil sebuah Hoodie oversize. Ia pun memakai nya.


"Wih... cantik juga gue" Ujarnya pada dirinya sendiri.


Hoodie yang selutut itu membuat kecantikan Arun bertambah. Arun kemudian memoles wajah nya, dan ia juga menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi.


Arun mengambil handphone yang sejak tadi berada di atas nakas. Lalu ia turun ke bawah.


Arun berlari kecil menuju ruang tamu. "Abang... ayo Arun udah siap nih".


Luke yang tadinya fokus melihat handphone, kini ia melihat Arun dari atas sampai bawah. "So cute..." Ujarnya


Arun yang mendengar pujian itu mengangkat wajahnya ke atas. "Iya lah Arun itu paket komplit. Udah cantik, cute, pinter, dan masih banyak lagi"

__ADS_1


Luke tak habis pikir dengan kepd an yang di miliki Arun. Tapi itu kenyataan sih. Luke terkekeh geli dengan pikiran nya sendiri.


"Anak mamah udah cantik aja. Udah mau pergi?" Tanya Naura yang tiba-tiba datang.


Arun menatap Naura. "Iya mah udah mau pergi. Oh iya paling nanti kita makan malem di sana. Nggak pa-pa kan mah?"


"Nggak pa-pa dong. Lagian hari ini bibi juga nggak masak banyak. Oh iya, mamah nitip beli dress yang cantik buat ke acara ulangtahun temen mamah"


"Dress? Warna apa mah. Nanti Arun cariin yang bagus".


"Yang warna merah marun aja"


Arun mengangguk. "Ya udah. Yuk bang pergi"


"Yuk!" Jawab singkat Luke


"Hati-hati ya..." Naura mengelus tangan Arun lembut. "Iya mah..." Serempak Arun dan Luke.


Melihat kepergian kedua anaknya itu, Naura tersenyum lebar. Ia masih tak menyangka anaknya tumbuh besar menjadi anak-anak yang begitu hebat.


Tring


Notif pesan masuk ke handphone Naura. Naura membuka pesan itu.


...Papahnya anak-anak...


...Online...


"Mah tanya sama anak-anak mau di bawain oleh-oleh apa? Papah lusa pulang".


Senyuman manis yang tidak di rencanakan terukir di wajah Naura yang masih muda dan segar itu.


^^^"Nanti mamah tanyain. Mereka lagi pergi, baru aja".^^^


"Oh ya udah. Mamah mau, apa?".


^^^"Nggak mau apa-apa. Yang penting papah cepet pulang".^^^


"Kangen, ya?"


^^^"Ish papah! Inget umur... malu".^^^


Naura off


Naura menutup handphonenya. Ia menggeleng kan kepala nya.


...***...


Luke dan Arun menikmati suasana yang begitu indah. Angin malam dan ramainya kendaraan, seolah menghilang kan beban pikiran keduanya.


"Kamu nggak dingin?" Teriak Luke.


Arun yang samar-samar mendengar itu, dengan cepat menggeleng pelan. "Nggak kok".


"Masa? Kan nggak pake jaket, naik motor pula".


"Nggak kok. Ish Abang nanya mulu... udah fokus nyetir aja"


"Iya-iya maaf".


Luke melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tangan Arun dengan setia memeluk erat perut kekar milik Luke.


Dari kejauhan, Arun melihat motor-motor yang sama. Mereka melajukan nya dengan beriringan, dengan satu orang yang berada di depan.


Arun menatap mereka kagum. "Bang... Abang punya geng motor nggak?" Tanyanya.


Luke menyeritkan dahinya. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?".


"Nggak pa-pa kok. Arun cuman kagum sama geng motor yang ada di belakang. Banyak banget".


"Geng motor? Sok tahu kamu. Mereka cuman samori aja kali".


Arun memukul pundak Luke. "Bukan sok tahu... emang itu geng motor. Jaket, motor, sama helm nya aja sama".

__ADS_1


Mendengar ucapan Arun, Luke begitu penasaran dengan ucapan Arun. Apa geng motor itu? Pikir Luke. Spontan, ia menengok kebelakang.


"Shit! Geng motor yang sama. Feeling gue bener ternyata" Batinnya.


__ADS_2