
Happy Reading.
Vincent POV
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untukku. Akhirnya aku berhasil mendapatkan hati wanitaku kembali dan dia pun bersedia untuk ku ajak menikah.
Sungguh kebahagiaan yang tiada terkira, aku mencintai Lita sejak lama. Kami juga sudah dekat sejak masih kuliah. Perasaan itu tumbuh seiring berjalannya waktu kami bersama.
Meskipun awalnya perjalanan cintaku dengan Lita sempat terganjal oleh Emira, tapi akhirnya takdir tetap mempertemukan kami. Dan ku rasa kami memang ditakdirkan untuk bersama.
Ternyata status duda ini tidak berlangsung lama, karena kini sekarang aku sudah tidak menduda lagi.
Lita sudah sah menjadi istriku dan dia ku boyong ke New York untuk tinggal bersamaku. Showroom Lita yang berada di Los Angeles sudah ku percayakan pada orangku. Aku ingin Lita hanya fokus padaku dan keluarga kami.
****
Sebulan setelah menjadi suami dari Lita, aku merasakan setiap pagi perutku bergejolak. Badanku lemas dan susah untuk menelan makan.
Awalnya aku mengira jika mungkin aku sedang sakit, sampai Lita memintaku untuk periksa ke dokter. Akhirnya aku pun meminta dokter pribadiku datang ke rumah untuk memeriksa ku.
"Anda baik-baik saja tuan, sepertinya anda sedang mengalami morning sickness," dan dari situlah kami tahu jika didalam perut Lita sedang tumbuh baby junior kami.
Aku merasa excited, akhirnya aku diberikan lagi kepercayaan sebagai seorang Ayah. Meskipun waktu itu aku hampir memiliki anak dari perut Emira, tapi rasanya sungguh beda saat orang yang menjadi ibu dari anak kita adalah orang yang kita cintai.
__ADS_1
Rasanya luar biasa bahagia dan bangga, aku sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain berucap syukur dan lebih perhatian terhadap istriku.
Akhirnya selama beberapa bulan ini aku sudah tidak mengalami morning sickness lagi, kini usia kehamilan Lita sudah memasuki 7 bulan. Aku selalu mengikuti kelas senam kehamilan Lita, setiap pemeriksaan kehamilan juga aku tidak pernah absen.
Tapi sepertinya untuk bulan ke tujuh ini aku benar-benar tidak bisa mengantarkan Lita karena harus pergi ke luar kota. Sungguh rasanya aku tidak rela, tapi masalah dadakan ini harus aku selesaikan.
Salah satu perusahaan cabang yang berada di San Francisco mengalami pailit, sepertinya ini karena pengaruh orang dalam. Selama beberapa bulan aku hanya memantau saja, tapi karena keadaan benar-benar mendesak, aku harus pergi meninggalkan Lita di New York.
Tapi tenang saja, aku tidak akan meninggalkan Lita sendirian. Ada Alesha yang dengan suka rela datang dari Los Angeles ke New York karena ingin menjaga Lita. Sungguh aku sangat bersyukur dengan hal itu. Aku juga telah memperketat penjagaan, pengawasan dan keamanan.
Sungguh aku memiliki trauma yang luar biasa jika itu tentang Lita, entah kenapa saat aku meninggalkan nya ke San Francisco perasaan ku benar-benar tidak karuan.
Setiap waktu sebisa mungkin aku menghubungi Lita, ingin mengetahui bagaimana keadaannya. Untung Lita masih menjawab panggilanku dan mengatakan jika dia baik-baik saja.
"Tuan, sepertinya kita harus disini beberapa hari lagi, karena kondisinya belum memungkinkan untuk ditinggalkan," ujar Mike. Orang yang menjadi tanggung jawab dengan kantor cabang.
"Butuh berapa lama lagi?"
Ku lihat Mike sedikit gelisah, sepertinya masalah ini memang tidak bisa di biarkan begitu saja.
"Kita harus menunggu John untuk memberikan keterangan, karena kita juga butuh saksi tuan, mungkin lusa baru bisa pulang," jawab Mike.
Ku kira setelah pelaku utama ditangkap sudah selesai, ternyata harus menunggu sidang dari pelaku itu.
__ADS_1
"Baiklah," sepertinya aku harus menunda kepulangan ku. Padahal aku sudah berjanji pada Lita jika akan pulang hari ini.
****
Malam ini aku benar-benar gelisah, padahal tadi baru saja video call dengan Lita, aku sungguh merindukan istriku dan calon baby ku. Tapi entah kenapa kegelisahan ini tidak hilang juga.
Rasanya aku tidak bisa tidur, dadaku bergemuruh tidak mau berhenti.
"Ya Tuhan, ada apa ini!"
Ku putuskan untuk pergi ke dapur untuk membuat susu, biasanya Lita yang akan membuatkan ku, padahal aku sudah melarangnya tapi istriku itu memang keras kepala. Katanya ingin menyenangkan suaminya.
Duh, rasanya langsung meleleh saat mendapatkan perhatian seperti itu dari Lita. Aku bukan nya berlebihan tapi memang itulah yang aku rasakan.
Saat aku sudah membuat susu dan akan meminumnya, tiba-tiba ponsel ku berdering, nama Alesha tertera.
Kali ini jantung ku tidak bisa tidak berdetak kencang, aku takut terjadi apa-apa dengan Lita, tapi aku harus segera menjawab panggilan dari Alesha agar tahu apa yang terjadi.
"Halo, Alesha?"
"Halo Vincent! Lita masuk rumah sakit!"
Sungguh rasanya jantungku berhenti berdetak.
__ADS_1
Bersambung.