
Happy Reading
Tidak masalah jika tubuhku melar, yang penting anakku sehat. Aku pun bangkit dan menidurkan Damian di baby boxnya.
Aku berjalan ke arah lemari pakaian untuk menyimpan semua barang-barang milikku dan Vincent. Ku lepaskan dress yang tadi ku pakai setelah mandi, kemudian mengambil sebuah lingerie yang baru aku beli.
Malam ini aku ingin memberikan Vincent kejutan, aku akan membuat dia puas dan menjadikan Vincent semakin tergila-gila padaku.
Setelah beberapa saat, Vincent keluar dari dalam kamar mandi dan hanya memakai handuk di pinggangnya. Sungguh mataku tidak fokus saat melihat bagian bawahnya di antara kedua kaki. Mataku benar-benar me*um, tapi begitulah aku, tidak bisa menahan hasrat sekarang.
Mungkin hormon menyusui membuat kita jadi lebih ekspresif dan berhasrat.
Vincent tiba-tiba mendekap ku, dia mengerlingkan matanya jahil, dia sudah tahu apa yang ku inginkan.
"Malam ini akan ku buat kamu meneriakkan namaku, sayang." Vincent mencium keningku, kemudian ciumannya turun ke arah kedua mata, pipi kanan dan kiriku.
__ADS_1
Cup, cup, cup.
Seluruh wajahku tidak luput dari sapuan bibirnya, yang terakhir Vincent menautkan bibirnya pada bibirku, memagut lembut dan menyelusuri rongga mulutku dengan lidah yang menari-nari di dalam sana.
Sungguh Vincent memang pandai dalam hal berciuman.
Tangan kanan Vincent sudah bermain di dadaku, merem*s lembut gundukan kenyal yang lumayan besar. Selain karena aku juga sedang menyusui, memang dadaku besar dari rata-rata kebanyakan wanita di luar sana.
Mulutku merancau mengeluarkan suara khas kala Vincent mencium dan menghisap leher jenjang ku. Memberikan sensasi nikmat dan nyeri yang bersamaan kala Vincent menggigitnya.
Entah berapa lama kami melakukan for play, tiba-tiba kami sudah sama-sama polos, sepertinya hasrat kami sudah sangat menggebu sampai tanganku dan Vincent sudah sudah membuang lingerie yang ku pakai dan handuk milik Vincent.
"Lita, kau adalah wanita yang berharga dalam hidupku, terima kasih karena telah melahirkan putra tampan untukku, percayalah jika aku benar-benar mencintaimu, dan aku harap kamu pun begitu," bisik Vincent sebelum memasukan miliknya.
"Aku juga sangat mencintai mu Vincent!"
__ADS_1
Dengan sekali hentakan, milik Vincent sudah masuk sempurna di dalam, terasa sangat penuh. Maklum karena Vincent hampir tidak pernah absen memasuki ku setiap malam setelah harus berpuasa selama kurang lebih 40 hari setelah melahirkan. Sepertinya memang sudah menjadi kebutuhan pokok buat kami, terutama Vincent dan bakalan uring-uringan kalau semalam saja pria itu tidak melakukannya.
Tapi terkadang Vincent juga tahu kalau aku sedang capek saat Damian rewel seharian. Intinya dalam hubungan ini adalah saling percaya dan pengertian.
Aku terkadang yang kasihan kalau tidak bisa menuruti keinginan dan hasrat Vincent, meskipun lelah, tapi aku sendiri merasa sangat senang bisa melayani suami dengan penuh kelembutan yang mendamba.
Seperti sore ini Vincent menggerakkan tubuhnya dengan tempo sedang, menikmati tubuh ini dengan peluh yang menetes di pelipisnya.
Berkali-kali aku meneriakkan namanya, dan hal itu pula membuat suamiku itu semakin semangat.
Kami memadu kasih dengan saling memberikan kenikmatan yang tiada tara. Setelah hampir satu jam akhirnya Vincent mengeluarkan erangan panjang ketika mencapai surga dunia.
Begitupun dengan ku yang juga merasakan terbang ke awang-awang. Untung saja Damian sudah kenyang, jadi dia tidak terganggu dengan suara kami.
"Terima kasih, sayang." Vincent mencium bibirku lembut. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di sampingku sambil tangannya masih menyentuh perutku.
__ADS_1
Mengeratkan pelukannya dan mencium punggung ku berkali-kali. Sungguh perasaan cinta ini benar-benar membuncah untuk suamiku.