Gelora Cinta Sang Duda

Gelora Cinta Sang Duda
Bab Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Happy Reading.


Lita POV


Hari ini rencananya aku mau periksa kandungan, tapi Vincent tidak ada dan Alesha yang menemaniku. Padahal Alesha memiliki Baby yang baru berusia 8 bulan, tapi dia menyempatkan diri untuk menemani ku atas paksain dari Vincent.


Tidak, sebenarnya Vincent tidak memaksa, tapi memang Alesha sendiri yang mau menemani ku dengan suka rela.


Aku sungguh bersyukur karena memiliki sahabat yang benar-benar baik, tidak seperti orang-orang yang telah menusukku dari belakang. Alesha dan suaminya benar-benar tulus baik padaku.


Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter obgyn calon bayiku dinyatakan sehat. Aku dan Alesha memutuskan untuk pergi ke Mall mencari barang yang belum ku punya. Alesha mengajak baby sitter nya. Kami membeli beberapa pakaian bayi, padahal Vincent sudah banyak membelikan untuk baby kita.


Kami jalan-jalan sampai lupa waktu, hari sudah mulai larut, aku mengajak Alesha untuk makan malam. Baby El juga tidak rewel, entah kenapa aku merasa begitu senang ketika bisa jalan-jalan seperti ini lagi dengan Alesha.


Belanja beberapa barang yang sebenarnya tidak berguna, tapi waktu memilih barang itu menjadi kesenangan tersendiri untukku dan Alesha.


Temanku ini sebenarnya dulu adalah model dan designer terkenal. Tapi setelah menikah dengan Keanu, dia memilih fokus pada keluarga kecilnya. Keanu juga pasti melarang Alesha bekerja, uangnya sudah banyak, untuk apa istrinya bekerja.


Sama seperti Vincent yang uangnya sudah banyak dan melarang ku untuk bekerja. Aku merasa kehidupan ku sudah sangat lengkap dengan kehadiran Vincent dan calon baby kami.


Setelah agak larut, kami memutuskan untuk pulang, sejak tadi Vincent telepon dan menanyai kabarku dan baby-nya. Aku mengatakan jika kami baik-baik saja dan menyuruh Vincent untuk tidak khawatir.

__ADS_1


Namun, saat aku baru saja keluar dari mall, tiba-tiba ada seseorang yang mendorong tubuhku dari belakang. Entah itu sengaja atau tidak, aku tidak tahu. Saat itu aku sedang berada tepat di depan pintu keluar dan beberapa meter di depanku adalah tangga.


Aku mendengar Alesha menjerit keras saat tubuhku berguling, aku reflek memegangi perut dan sebisa mungkin melindungi baby ku, namun tetap saja aku merasakan tubuhku sakit semua, saat kepalaku terantuk sesuatu yang keras tiba-tiba mataku menggelap dan aku sudah tidak ingat semuanya.


*****


Mataku terbuka perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina. Tenggorokan ku begitu kering. Aku juga merasakan perutku begitu sakit, kepala juga pening. Masih ingat jelas bagaimana tadi aku jatuh dari tangga dan terguling.


Reflek tanganku terangkat dan menyentuh perut.


"Sayang ,,, akhirnya kamu sadar!"


Ku rasakan tangan Vincent menyentuh tanganku, dia pun mencium keningku lalu menekan tombol di samping ranjan.


"Sstt, tenang dulu, baby kita selamat, sekarang kamu harus diperiksa dulu ya, kamu sudah tiga hari tidak sadarkan diri," bisik suamiku.


Aku terkejut saat Vincent mengatakan jika aku tidak sadar dalam waktu yang cukup lama yaitu tiga hari. Padahal rasanya baru tadi aku terjatuh dan berguling di tangga yang tidak begitu tinggi.


Tapi ternyata aku sudah tiga hari tidak sadar. Terdengar suara pintu terbuka, ada dua orang masuk yang ku rasa adalah dokter dan perawat. Terlihat dari bajunya. Dokter itu menanyaiku beberapa pertanyaan, padahal saat ini aku sangat ingin bertemu dengan Putraku. Bagaimana keadaannya, bukankah dia belum cukup umur untuk lahir.


Usianya masih tujuh bulan, seharusnya kurang dua bulan lagi dia lahir. Tapi ternyata kecelakaan ku itu membuatnya lahir lebih cepat.

__ADS_1


Aku harap baby boy ku baik-baik saja.


*****


Setelah menjalankan serangkaian pemeriksaan, aku meminta pada dokter untuk bertemu dengan bayiku.


"Aku akan mengantarmu, sayang,, baby kita ada di inkubator. Dia masih sangat kecil dan butuh sinar agar berat badannya normal, dokter bilang kalau beratnya sangat kecil, tapi semua organnya lengkap," ucap Vincent.


Aku pun mengangguk lemah, tidak terasa jika air mataku luluh, sungguh tidak ku sangka jika putraku akan lahir prematur.


"Bawa aku sayang, aku ingin menemui putra kita," Vincent menyentuh wajahku dan mengelus pipiku. Tatapan nya begitu dalam, entah apa yang ada di dalam sorot matanya itu, yang jelas itu adalah sorot kesedihan.


Itu membuatku jadi berpikir yang tidak-tidak, aku takut sekali. Terjadi apa-apa dengan ku.


"Iya sayang,, ayo!" Vincent menggendong ku dan mendudukkannya di atas kursi roda. Perutku terasa sangat sakit tapi aku tahan karena aku akan bertemu dengan baby boy ku.


Rasanya sungguh tidak sadar, baby ku pasti sangat tampan.


"Sayang, kamu harus kuat ya," bisik Vincent semakin membuat ku sedih.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2