
Happy Reading.
Vincent POV.
Jiwaku seakan melayang, hatiku sungguh sakit saat mengetahui kondisi Lita yang tidak sadarkan diri setelah jatuh dari tangga. Bahkan Putra kami yang belum seharusnya lahir ke dunia harus segera dioperasi mengingat kondisi Lita yang kritis.
Akhirnya Baby Boy kami lahir prematur, 27 Minggu dengan berat badan kurang dari 2kg. Paru-paru nya belum terbentuk sempurna hingga dia harus berada di inkubator.
Selama tiga hari aku tidak pernah meninggalkan Lita yang masih betah dengan tidurnya, dia belum membuka mata meski dokter mengatakan jika Lita sudah melewati masa kritis.
Aku sungguh berharap jika Lita bisa secepatnya sadar. Baby boy yang belum ku beri nama itu juga membutuhkan ASI-nya. Meski sekarang hanya bisa di beri Susu formula karena ASI Lita belum keluar.
Malam ketiga ini aku benar-benar berharap Lita akan membuka matanya, sungguh aku hanya bisa berdoa dan berharap pada Tuhan agar Litaku segera sadar. Jangan sampai berlarut-larut karena aku pasti tidak akan sanggup jika Lita pergi.
Kami pasti akan sangat bahagia menyambut Baby Boy kami meskipun keadaannya juga masih belum stabil. Tapi aku terus mengusahakan agar putraku tetap bisa tumbuh dan bisa bertemu dengan ibunya.
Pasti Lita sangat bahagia menyambut kelahiran Putranya, sungguh wanitaku yang malang, dimana seharusnya dia belum melahirkan tapii gara-gara orang brengsek, sialan dan tidak tahu diri itu menabrak Lita dari belakang.
__ADS_1
Awalnya ku kira itu adalah orang suruhan Emira, sudah mau aku datangi dia di penjara tapi ternyata bukan orang yang disuruh oleh Emira melainkan seorang pencuri yang tertangkap basah lalu dikejar oleh petugas dan berakhir menubruk istriku di depan pintu masuk.
Orang itu juga sudah dipenjara, aku sempat memukuli orang-orang ku yang tidak berguna. Mereka ku bayar mahal untuk menjaga Lita tapi apa yang mereka lakukan sehingga membuat istri ku masuk kerumah sakit dengan pendarahan hebat.
Untung saja stok kantong darah dengan golongan yang sama untuk Lita masih banyak, aku juga sudah mendengar penjelasan dari Alesha jika orang-orang ku sudah bekerja dengan baik. Mungkin karena semua ini musibah untukku dan Lita.
Yang penting Lita dan Baby Boy selamat, mereka sudah melewati masa kritis. Lita juga tinggal menunggu sadar dari komanya.
Dokter mengatakan jika Baby Boy ku memang sehat, tapi dengan kondisi paru-parunya yang belum sempurna hal itu juga sedikit membahayakan, karena kelahiran prematur di mana organ dalamnya masih belum terbentuk sempurna meskipun sudah mencapai usia 27 minggu itu sangat beresiko.
"Sayang ,,, akhirnya kamu sadar!"
Lita langsung menanyakan keberadaan Baby nya yang ada diperut, aku mengatakan jika dia baik-baik. Aku langsung memanggil dokter dan Lita diperintahkan. Kondisinya sudah stabil dan aku benar-benar bersyukur akan hal itu.
"Bawa aku sayang, aku ingin menemui putra kita," ku sentuh wajah Lita dan mengelus pipinya. Aku khawatir jika dia akan sangat sedih mengetahui bagaimana keadaan putranya. Meskipun dokter mengatakan jika kondisi baby boy stabil tapi tetap saja melihatnya harus berada di inkubator dengan alat bantu pernapasan sungguh begitu menyesakkan.
Bayi sekecil itu harus ditopang oleh alat-alat medis untuk bernafas, sungguh aku tidak tega, apalagi melihat Lita nanti yang pasti akan begitu sedih.
__ADS_1
Akhirnya aku iyakan ajakan Lita.
"Iya sayang,, ayo!" ku gendong Lita dan mendudukkannya di atas kursi roda. Ku lihat dia sedikit meringis, mungkin efek operasi nya tiga hari lalu. Namun sedetik kemudian dia tersenyum tulus, pasti Lita tidak sabar ingin bertemu dengan Baby Boy kami.
"Sayang, kamu harus kuat ya," bisik ku agar membuat Lita kuat.
Akhirnya aku mendorong kursi roda Lita keluar dari dalam ruang rawat VIP. Kami harus melewati beberapa lorong untuk sampai ke ruang inkubator dimana baby boy kami sedang anteng tertidur.
"Itu Putra kita, sayang, dia masih sangat kecil dan kulitnya berwarna merah, berat badannya waktu lahir kurang dari 2 kilo gram. Tapi sekarang sudah bertambah 3 ons dan semakin sehat." Ujar ku memberitahu pada Lita tentang kondisi Putra kami.
Terdengar isak tangis istriku, Lita sampai menutup mulutnya untuk meredam tangisannya. Aku tahu pasti hatinya merasa sedih ketika melihat kondisi baby boy kami.
"Vincent, aku ingin menyentuhnya," ujar Lita. Aku tahu bagaimana perasaannya saat ini, sama seperti ku yang sangat rapuh dan tidak tega melihat Baby kami seperti ini.
Lita menyentuh kaca inkubator itu, aku meminta salah seorang perawat untuk membiarkan Lita menyentuh putra kami. Karena ini adalah sentuhan pertamanya sebagai seorang Ibu.
__ADS_1