Gelora Cinta Sang Duda

Gelora Cinta Sang Duda
Bab Dua Puluh Lima


__ADS_3

Happy Reading.


Lita POV


Ya Tuhan, ibu mana yang tidak miris saat melihat keadaan anaknya yang begitu kecil bahkan harus di bantu alat pernafasan untuk bernafas.


Ukurannya bahkan hanya sebesar telapak tangan saja, kulitnya masih merah, kaki tangannya kecil sekali.


Dadaku rasanya begitu sesak, seperti dihantam batu besar tak kasat mata. Sakit sekali saat melihat kondisi baby ku yang seperti ini.


Padahal beberapa waktu lalu aku masih memeriksakannya di dalam kandungan dan keadaannya sehat-sehat saja.


"Sayang, my boy," ku genggam tangannya yang kecil itu. Air mataku sudah menetes deras. Rasanya tidak tega melihatnya seperti ini.


"Tuhan, aku mohon jaga dia, permata hatiku, Mama sangat menyayangi mu nak, sehat-sehat ya, Mama akan selalu menunggumu!" Aku pun terisak, Vincent memeluk tubuhku dan kami sama-sama menangis, sungguh tidak pernah kami bayangkan jika akan terjadi hal seperti ini dalam hidup kami.

__ADS_1


"Tenang sayang, percayalah baby boy akan sehat, kita harus kuat, jangan pernah menyerah, ya?" Bisik Vincent menenangkan ku.


Berkali-kali mendapatkan musibah, Vincent selalu ada untukku, dia memang pria yang dikirimkan Tuhan untuk menjagaku.


Terima kasih suamiku.


*****


Akhirnya aku sudah diperbolehkan pulang, tapi putraku belum boleh. Dia masih harus di inkubator karena kondisinya masih lemah. Aku pun berusaha untuk memompa ASI agar putraku mendapatkan nutrisi yang baik.


Sungguh aku dan Vincent benar-benar merasa sangat bahagia melihat perkembangannya dan kami sudah tidak sabar untuk bisa berkumpul bersamanya.


Tiga bulan kemudian.


Akhirnya baby boy kami sudah diperbolehkan pulang, tepatnya sebulan yang lalu. Dia kami beri nama Damian Rodrigo. Sekarang bobotnya sudah normal dan naik setiap bulannya. Damian sangat aktif, kami bersyukur baby Damian sehat dan sekarang sudah berkumpul bersama kami.

__ADS_1


Aku dan Vincent tentu tidak akan pernah bisa membayangkan jika baby Damian harus mengalami sesuatu hal yang tidak pernah kami bayangkan. Ternyata setelah beberapa bulan dan dinyatakan mengalami kelainan paru-paru, akhirnya semua itu sudah bisa kami atasi.


Baby Damian sekarang sudah sembuh oleh dokter ahli, sungguh aku tidak pernah menyangka jika akan terjadi hal seperti itu. Damian adalah segalanya untukku, dia adalah pelita harapku. Semasa kehamilan dia sudah aku tunggu-tunggu, aku rutin minum susu hamil. Aku juga rutin mengikuti kelas senam bersama Vincent dan memberikan semua yang terbaik untuk Damian.


Tapi sekarang sepertinya Tuhan telah berbaik hati padaku dan memberikan kesehatan pada Damian yang awalnya dikira tidak akan baik-baik saja.


"Sayang, Papa pulang," Vincent masuk ke dalam kamar dan menghambur memeluk ku, kemudian mencuri cium pada putranya yang tengah meminum ASI-nya.


"Mandi dulu Papa, biar wangi, Damian aja udah mandi, nanti bau loh!" Celetuk ku sambil pura-pura menekan hidung.


"Iya, Papa mandi dulu ya jagoan, emmuah!" Vincent kembali mencium ku namun kali ini dia dapat curi ciuman di bibir.


Akhirnya Vincent melangkah ke kamar mandi dan masuk ke dalam. Baby Damian juga sudah tidur di gendongan setelah menyusu. Memang ku usahakan dia dapat Asi eksklusif langsung dariku.


Tidak masalah jika tubuhku melar, yang penting anakku sehat. Aku pun bangkit dan menidurkan Damian di baby boxnya.

__ADS_1


__ADS_2