
Ibu Chintya sangat risau, terlihat mondar mandir memikirkan nasib Anaknya sudah berhari-hari belum menemukan titik terang terkait Informasi Putrinya.
Sementara itu pikiranya terlihat semakin tidak tenang dengan keselamat Anak semata wayangnya.
"Ayolah pah kita lebih serius mencari Anak kita..? (sambil memegang tanganya)
Ibu tidak perlu cemas, Tahu sendiri dia sudah dewasa, mungkin dengan kepergianya dari Rumah akan merubah gaya hidupnya.
Aku cukup yakin dengan keselamatan Putri kita.
Selama ini, kita sudah melakukan pencarian dengan segala cara, Pihak kepolisian'pun belum menemukan jejaknya.
Air mata mengalir membasahi sampai mengalir ke pipi, Sekarang kita selaku Orang tua berharap untuk kesehatanya, sambil terus mencari dapat menemukanya "sambil memeluk Istrinya.
Jangan pernah berpikiran buruk, marilah do'akan Anak kita, Suatu saat tentunya dia akan kembali.
Aku cukup yakin keberadaanya sekarang akan lebih baik.
****
Seiring pergantian waktu Chintya bersedia ikut tinggal bersama Dimas di desa terpencil di bandung.
Kakaknya mendapat kedatangan tamu titipan Adiknya, menyambut dengan hangat.
Namun semua itu di rahasiakan kepada warga sekitar, bahwa gadis yang di bawa Adiknya merupakan saudaranya yang berkunjung.
Rahasia yang di tutup rapat itu kemungkinan kecil akan ada yang mengetahuinya, setelah gadis itu kembali kepada ingatan masa lalunya.
Hidup dengan kesederhanaan di Desa menjadi suatu yang baru bagi Chintya, Karena selama ini kemehawan menjadi gaya hidupnya.
__ADS_1
Tekad yang ada dalam dirinya untuk sementara waktu meninggalkan Rumahnya tidak mempermasalahkan hal baru itu.
hmmmm pantes saja Adik'ku ini mau melindungi gadis yang belum kenal betul "Ucap Widia
Ternyata wajahnya sangat cantik dan pastinya semua lelaki akan terpesona.
ah..kakak menggodaku...Tapi kan kau sudah dewasa, Kamu kan masih Jomblo belum punya pacar.
Setidaknya saya masih bertanggung jawab kepadanya, "Kak,
Tuh kan kelihatan dari perkataanmu barusan, Berarti kamu tertarik
Suadah ah...pokoknya akan kulakukan apapun untuk kesembuhan dari ingatanya.
eh...ngomong-ngomong nama panggilanya apa..
Saat ini dia di panggil dengan sebutan Nadia kak.
Kakak ini terlalu kepo dech...hh..tertawa sambil menggaruk kepalanya.
Sebenarnya itu Nama yang di berikan olehku, Namun karena dia tidak keberatan, maka panggilanya jadi seprti itu.
***
Haripun sudah beranjak mulai gelap menandakan waktunya Shalat.
Sudah dulu kak saya mau shalat Maghrib dulu ke masjid, Rutinitas Dimas di kampung terbilang pemuda yang rajin.
Terutama masalah dalam ibadah, membuat pandangan warga terhadapnya sangat baik.
__ADS_1
Nak Dimas sudah pulang dari Kota, "Ucap mang ujang. Warga kampung yang bertemu di jalan habis dari Masjid.
Ya pak, Kebetulan saya membawa saudara saya. Mungkin dia akan tinggal di Rumah kakak'ku.
oh...pantes saja.
****
Chintya sedang duduk dalam kamar, Jendela yang terbuka, angin yang damai membawa ketenangan dalam hidupnya.
Kecelakaan yang mebuat dirinya bertemu dengan seorang pemuda mengakibatkan membawanya ke Pedesaan.
Kejadian ini tak pernah terpikirkan, hanya Naluri yang mengikuti jejak hidup pemuda itu !
***
Informasi
Dimas hanya bersaudara dan Orang Tuanya sudah meninggal 6 Tahun yang lalu.
Rumah peninggalan Orang tuanya selalu kosong, apabila dia pergi ke Kota.
Kakanya sudah menikah dan mempunyai Rumah sendiri, Namun sering tinggal sendiri. Suaminya bernama Prayoga bekerja di Kota.
Kepulanganya hanya dua minggu sekali ke kampung menemui istrinya.
Hanyalah sebuah buruh pabrik garmen, Jangkauan Desanya sampai ke kota memakan waktu sekitar 5 jam mengakibatkan tidak memungkinan untuk selalu pulang pergi. Keadaan letih alasanya.
To Be Continue
__ADS_1
Tinggalkan jejak para Reader dengan mendukung Novel Ini****