
Beberapa detik yang lalu seseorang berhasil membawa lari sebuah dompet milik perempuan paruh baya yang akan membayar sebuket bunga pada seorang gadis penjaga toko bunga. Hanya sebuah kata "Copett!!" yang gadis itu teriakkan setelah usahanya gagal merebut dompet itu karena ia didorong cukup keras oleh si pencopet. Setelah berteriak, kini ada seorang pemuda yang mengejar pencopet dan menghajarnya. Memberi hadiah bogeman pada si pencopet sampai ia babak belur.
Setelah beberapa lama akhirnya pemuda itu kembali membawa dompet milik perempuan paruh baya itu dan masih utuh.
"Terimakasih anak muda. Kau baik sekali" ujar perempuan itu.
"Sama-sama. Manusia memang harus saling tolong menolong kan" sahut pria itu.
Perempuan paruh baya itu kemudian menoleh ke arah gadis yg masih terduduk akibat didorong pencopet tadi. Sejujurnya pantat dan telapak tangan gadis itu terasa sakit akibat dorongan pencopet yg cukup keras. Tapi ia menahannya karena jika menampakkan rasa itu, jelas ia akan malu.
Tanpa perintah atau kode dari siapapun, pria itu dengan segera mengulurkan tangannya untuk membantu sang gadis berdiri. Sejenak gadis itu mematung karena detik ini ia benar-benar menatap pria itu dan terpesona dengan ketampanannya.
"Ayo ku bantu berdiri" ucapnya lembut.
Oh ya tuhan. Siapapun tolong selamatkan si gadis itu. Dia harus segera sadar dari lamunannya.
Akhirnya ia sadar dan segera meraih tangan si pria.
"Wahh kalian lucu sekali. Kalian terlihat sangat cocok" ujar perempuan paruh baya itu.
"Ishh nenek, kita bahkan tidak saling kenal" sahut si gadis.
"Ayo kenalan. Namaku Deandra..Namamu siapa?" ucap pria itu yang kini tengah mengulurkan tangannya lagi untuk berkenalan.
Astaga jantung gadis itu berdegup kencang sekarang.
Si gadis pun menjabat uluran tangan itu seraya tersenyum.
"Aku Adelia"
Terlihat jelas keduanya kini merasa kaku dan gugup. Tapi berbeda dengan perempuan paruh baya tadi yang kini sedang tersenyum.
Drttt~
"Maaf aku mengangkat telfon dulu ya" ujar pria tadi dan segera mengambil ponsel dari saku celananya.
"*Kau sudah sampai?.."
...
"Baiklah aku pulang. Tunggu aku ya*.."
__ADS_1
...
Deandra kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
"Maaf sekali Adelia, nek, aku harus pulang. Kakakku baru saja pulang jadi aku harus menemuinya"
Nampaknya Deandra ini orang yang sopan. Ia bahkan meminta izin untuk mengangkat telfon dan berpamitan saat pulang. Ia juga terlihat rapih saat mengenakan celana jeans berwarna hitam panjang dan kaos hitam berlengan pendek serta jaket berwarna navy.
Setelah mendapat anggukan dari dua perempuan tadi, Deandra segera berlari menuju halte dan segera menaiki bus saat bus berhenti didepannya.
*Beberapa jam kemudian*
"Ibu, maaf Adelia pulang terlambat" ucap Adelia pada ibu panti yang sudah bertahun-tahun mengurusnya.
Ya. Selama ini Adelia tinggal di panti asuhan setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat ia menjalani sekolah tingkat dasar. Saat itu ibu panti yang biasa dipanggil ibu Lastri itu menolong Adelia dan mengangkatnya sebagai anak. Karena kebetulan Ibu Lastri ini tidak bisa memiliki keturunan. Akhirnya setelah beberapa tahun Ibu Lastri mengurus Adelia, ia berniat membuat panti asuhan bersama suaminya, Anto.
"Tidak apa nak. Kau sudah makan?" sahut Bu Lastri.
Adelia menggeleng. Ia menoleh ke arah dinding dan jam yang kini menunjukkan pukul 7 malam.
"Yasudah kau mandi dulu lalu makan. Ibu mau menemui anak-anak yang lain yah"
Adelia hanya mengangguk dan tersenyum. Ia segera pergi ke kamarnya dan kemudian ke kamar mandi.
Melihat mereka, ia jadi ingat ketika masih sekolah dasar dulu. Saat malam hari ia selalu belajar diruang tamu bersama ayah dan ibunya. Ibunya selalu mengajari PR Adelia. Sementara sang ayah melihat mereka dengan senyum dan tatapan bahagia.
***
Diruang makan yang cukup besar ini terdapat sekeluarga sedang menyantap makanan yang ada didepannya. Tak ada pembicaraan apapun selain suara piring yg tersentuh sendok dan garpu.
Meski sedang makan, Deandra memikirkan kejadian beberapa jam lalu yang ia alami di pinggir jalan saat menolong perempuan yang kecopetan. Ia masih teringat wajah gadis tadi yang cantik. Dengan tubuh yang tak terlalu tinggi, wajah yang tirus, hidung kecil nan lancip serta senyum yang cantik menampilkan deretan gigi rapih dan putih.
Hanya membayangkan senyumnya saja mampu mengundang senyum Deandra yang kini masih mengunyah makanannya. Seorang pria diujung sana hanya menggeleng sambil menatap bingung dengan salah satu putranya yang tengah menatap nasi dan lauk tapi ia tersenyum seperti orang konyol.
Setelah beberapa menit berlalu dan semuanya sudah menghabiskan makanan masing-masing, tiba-tiba seseorang berkata,
"Deandra.."
"Iya pah" sahut Deandra pada papahnya, Davidson Aji Hartono.
"Kamu sedang sehat-sehat saja kan nak?"
__ADS_1
Deandra mengerutkan dahinya. Ia sedikit bingung dengan apa yang baru saja papahnya tanyakan.
"Papah liat kamu senyum-senyum saat makan tadi"
Deandra kini justru tersenyum. Nampaknya ia ketahuan karena telah memikirkan Adelia.
"Paling juga lagi jatuh cinta" sela seorang pria yang beberapa tahun lebih tua dari Deandra yakni Delon Kusumo Hartono. Putra pertama keluarga Hartono.
"Rupanya anak papah sedang pada jatuh cinta"
"Kakakmu ini pulang karena akan mengenalkan perempuan pada papah Ndra"
Deandra sontak terkejut dan menatap kakaknya Delon. Dengan tatapan mata yang berbinar ia meledek kakaknya ini yang sudah memiliki pacar. Karena setahu Deandra, Delon tak pernah berpacaran. Ia hanya dekat dengan beberapa perempuan saja dan itu hanya sedikit dan sebentar.
"Aku sebenarnya sudah melamarnya ketika di Amerika. Dan aku berencana menikahinya bulan depan"
Mata Deandra kian berbinar mendengar penuturan kakaknya. Ia merasa kecewa karena kakaknya ini tak mengenalkan kekasihnya itu padanya. Padahal sedari dulu, mereka berdua selalu berbagi cerita apapun. Apalagi saat Deandra masih duduk di bangku SMA dan berpacaran dengan salah satu gadis incaran disekolahnya. Meski tak pernah memberitahukan namanya, Deandra mengatakan bahwa ia memiliki kekasih yang cantik dan baik. Gadis itu adalah anak dari salah satu pengacara kondang di kota dan tentunya ia dari keluarga berada yang tak kalah terkenal dengan keluarga Hartono karena nama Davidson Aji Hartono selalu memasuki daftar keluarga terkaya dengan usaha pertambangan yang ia miliki.
Meski dari keluarga berpunya, mereka selalu tampil sederhana dan biasa saja layaknya masyarakat pada umumnya.
"Sebelum kau menikahinya, kau harus mengenalkannya padaku"
"Hey apa-apaan kau ini. Aku tak mau"
"Kenapa tidak mau?"
"Aku takut kau merebutnya karena dia cantik"
Ya begitulah pembicaraan mereka malam ini. Hingga beberapa saat kemudian satu persatu dari mereka pamit pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Sesampainya dikamar Deandra.
"Kak Delon ini bagaimana sih. Dia bilang apapun yang terjadi padanya akan ia ceritakan padaku. Tapi kali ini dia tidak bercerita"
"Dulu saat aku berpacaran dengan Bianca saja aku menceritakan banyak hal padanya kecuali nama dan fotonya. Karena aku tak ingin kakak juga menyukai kekasihku"
"Bianca gadis yang cantik dan baik. Dia sangat perhatian padaku apalagi saat aku bermain basket dilapangan, ia pasti memberiku sebotol minum dan sebuah handuk untuk mengelap keringatku. Ia menjadi wakil ketua osis yang aktif dan cukup terkenal disekolah"
"Oh jika memikirkan kenangan memang manis. Tapi melihat kenyataan itu yang pahit. Kenyataannya dia tiba-tiba memutuskanku dan bilang dia tidak mencintaiku. Setelah kutanya kenapa, dia hanya diam dan besoknya ia tak berangkat sekolah sampai saat ini aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Meski aku sempat mendengar kabar bahwa dia pergi keluar negri yang entah negara mana itu aku tak tau"
"Tapi itu semua sudah menjadi masa lalu. Semoga Bianca mendapat penggantiku yang baik untuknya. Dan aku mendapat pengganti Bianca yang lebih baik darinya"
__ADS_1
"Jika dipikir-pikir pengganti, aku ingat gadis tadi sore yang didepan toko bunga itu. Namanya Adelia. Cantik dan sepertinya aku sudah menyukai gadis itu. Besok aku ingin menemuinya lagi"