
Akhir pekan telah datang. Keluarga Hartono biasanya akan menikmati akhir pekan mereka dengan bermain golf, billiard, tenis, atau yang lain. Tapi berbeda dengan hari ini. Mereka disibukkan dengan urusan pernikahan Delon.
Deandra ditugaskan untuk memilih gedung. Sedang papah Hartono mengurus tamu yang akan diundang, mamah Kartika mengurus berbagai camilan untuk disajikan saat acara pernikahan, dan Delon beserta calon istrinya sibuk memilah-milah gaun yang akan mereka kenakan di acara nanti.
Sebenarnya sampai saat ini hanya Deandra lah yang belum mengenal calon kakak iparnya itu. Saat makan malam tempo hari ia sedang pergi untuk sejenak menenangkan pikirannya yang sempat gundah.
Dalam batin Deandra berkata, "Nanti saat pernikahan juga aku akan melihatnya untuk berkenalan"
***
Di dalam toko yang sepi tapi sejuk ini seorang gadis sedang termenung. Menatap ke arah jalanan yang cukup ramai kendaraan berlalu-lalang.
Hari-harinya berlalu seperti biasanya setelah ia mengenal Deandra. Sosok pria tampan yang ia kira adalah pria sederhana namun kenyataannya pria itu adalah pemilik usaha perhotelan H. Family Hotel yang tentunya dari keluarga berada.
Beberapa hari lalu Deandra sempat datang ketoko bunga tempat Adelia bekerja. Mengajak Adelia keluar untuk makan malam tapi Adelia menolak.
Baginya ia sama sekali tak pantas dekat dengan Deandra yang berpunya sedang ia hanya gadis yatim piatu dan tinggal di panti asuhan.
Berkali-kali Deandra berkata, "Aku ingin mengenalmu lebih dalam. Aku nyaman bersamamu dan kupikir aku menyukaimu" tapi berkali-kali juga Adelia menolak dengan alasan mereka berbeda derajat.
Deandra jelas frustasi bagaimana sikap Adelia yang berubah ketika tau bahwa ia dari keluarga berpunya. Deandra tak mempermasalahkan itu. Selagi mereka saling mencintai, kenapa tidak? lagipula kaya ataupun miskin, tetap sama saja dimata tuhan.
Beberapa saat setelahnya, lamunan Adelia buyar saat seseorang pelanggan mulai memasuki toko.
Seketika Adelia memasang wajah ramah. Dengan senyum cantiknya ia selalu perlihatkan itu pada setiap pelanggan terkecuali Deandra.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?"
Seorang wanita paruh baya itu menatap Adelia dengan senyuman. Tangannya mulai terulur mengelus lengan Adelia.
"Anak muda, apa kau melupakanku?"
Adelia mengerutkan dahinya mencoba mengingat sesuatu. Sedari tadi memang ia merasa tak asing dengan wajah ini.
"Ibu yang waktu itu kecopetan kan?" Ujar Adelia antusias.
Wanita paruh baya itu mengangguk dan tak melepas senyumnya.
Melihat itu Adelia segera menghamburkan tubuhnya untuk memeluk wanita paruh baya itu. Kemudian Adelia segera mendapat balasan pelukan yang begitu hangat sampai beberapa saat dan akhirnya mereka melepas pelukan.
"Ibu apa kabar" Tanya Adelia.
"Saya baik"
"Seingatku, namamu Adelia kan?" Lanjut wanita itu.
"Iya bu"
"Panggil saya nenek Metha saja"
"Oh, nenek Metha"
__ADS_1
Keduanya melanjutkan obrolan. Mulai dari tentang pekerjaan Adelia, kehidupan nenek Metha dan tentang Deandra yang pernah menolong nenek Metha kala itu.
Nenek Metha sangat nyaman ketika berbincang dengan Adelia. Baginya Adelia adalah gadis ramah dan mudah akrab dengan orang lain apalagi mereka ini sudah pernah bertemu.
"Nenek memiliki cucu perempuan. Dia baru saja pulang dari Australia beberapa hari lalu"
"Cucu nenek pasti cantik karena neneknya juga sangat cantik" Kata Adelia.
Nenek Metha tersipu malu.
"Beberapa hari ini nenek sering kepikiran nak Deandra. Dia anak yang baik"
"Dia sering berkunjung kesini nek" Sahut Adelia.
"Dia pria yang baik dan tidak sombong"
"Ishh kenapa jadi membahas orang itu sih" Batin Adelia.
***
"Kak, aku sudah menemukan gedung yg kau cari. Akan aku kirimkan foto konsepnya" Kata Deandra dari sambungan telfon.
*Send picture*
*Send picture*
*Send picture*
"Tidak perlu. Aku juga punya uang" Sahut Deandra.
"Ishh sombong sekali"
Deandra terkekeh. Tak lama ia segera melakukan apa yang Delon perintahkan. Mengajukan penyewaan, membayar sewa dan setelahnya ia pergi dari tempat itu.
Sesampainya diparkiran, Deandra segera memasuki mobilnya dan bergegas pergi. Sepanjang perjalanan ia mencoba memutar musik romansa. Sedikit bersenandung dan membayangkan wajah cantik Adelia.
Apakah Deandra kini sudah gila? Belum sebulan bertemu tapi Deandra sudah seperti orang konyol yang sering tiba-tiba senyum tanpa alasan.
Ditengah perjalanan ia melihat toko bunga tempat Adelia bekerja. Otaknya muncul sebuah ide dan ia segera memarkirkan mobilnya dipelataran toko.
Dengan langkah lebar ia mulai memasuki toko dan melihat Adelia yang hendak menyapa pelanggan. Tapi saat manik mata mereka bertemu, saat Adelia tau pelanggan itu adalah Deandra, secepat kilat Adelia memalingkan wajahnya dan pergi menghindari Deandra.
Namun secepat-cepatnya pergerakan Adelia untuk berpaling, tetap saja Deandra mampu lebih cepat untuk meraih tangan Adelia dan berhasil membuat Adelia memelototi Deandra.
"Lepaskan!"
"Tidak akan kulepaskan sebelum kau menjawabku"
"Yasudah ayo cepat bertanya" Kata Adelia dengan suara yang begitu lantang.
"Kenapa kau menghindariku?"
__ADS_1
Adelia sempat diam sejenak.
"Kenapa kau bertanya?"
"Supaya kau cepat ku lepaskan"
"Kenapa kau mencegahku?" Seketika Deandra melirik kearah tangannya yang sedang menahan tangan Adelia.
"Aku menyukaimu Adelia!" Kata Deandra.
"Aku ingin dekat denganmu. Lalu dimanakah salahku kenapa kau selalu menjauhiku?" Lanjutnya.
Adelia terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang sekarang. Telinganya mendengar ucapan rasa suka dari seseorang yang akhir-akhir ini mampu menggoyahkan perasaannya. Terlebih lagi, saat ini juga tubuh mereka sangat berdekatan dan tangannya digenggam erat oleh Deandra.
"Kau tidak salah...tapi perasaanmu yang salah"
"Bagian mana dari rasaku yang salah. Nanti akan kucoba perbaiki" Sahut Deandra.
"Buang saja perasaanmu. Percuma aku mencintaimu tapi kita berbeda kasta"
"Kau peduli tentang kasta?"
Adelia menunduk menahan tangisnya. Tubuhnya mulai lemas dan bergetar.
"Orang tuaku tidak pernah melarangku dengan siapapun. Asal aku mencintainya, maka mereka akan menerima dengan sepenuh hati" Kata Deandra lagi.
"Tapi beri aku waktu untuk bisa percaya dengan perasaanmu"
"Aku tidak ingin memberimu waktu. 3 Hari lagi pernikahan kakakku. Datanglah, aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku"
"Apa tidak tidak terlalu cepat?" Kata Adelia seraya mendongak menatap wajah Deandra.
"Tidak untuk sesuatu yang terbaik sepertimu"
***
Hari pernikahan Delon pun tiba. Disini digedung ini Delon dan kekasihnya sudah siap untuk mengucap janji pada tuhan untuk sehidup semati akan tetap bersama dalam suka dan duka. Akan tetap saling mencintai untuk saat ini hingga mati.
Dan diambang pintu diseberang sana tepat saat pengucapan janji, Deandra menampakkan dirinya sedang menggenggam tangan kekasihnya, Adelia.
Dengan senyum bahagia dan ketulusan ia mulai melangkah mendekati kursi tempat orang tuanya berada. Kedatangan Deandra dengan seorang perempuan itu jelas membuat Davidson dan Kartika terkejut bukan main. Pasalnya, selama ini Deandra tak pernah sekali pun mengenalkan kekasihnya pada orang tuanya.
"Hay tante...om..." Sapa Adelia.
Nampak jelas suasana canggung diantara mereka. Namun Deandra berhasil mencairkannya dan berkata, "Dia calon menantu mamah sama papah juga"
Davidson dan Kartika kembali terkejut. Namun setelahnya mereka berdua mengulas senyum dan Kartika memeluk Adelia sambil berbisik.
"Panggil saja mamah sama papah ya. Didepan sana itu kakak iparmu dan istrinya"
Adelia menyahuti hanya dengan mengucap kata "Iyah.." Meski kecanggungan itu masih kental terasa. Dalam batinnya kini tengah merutuki situasi seperti ini. Mengutuk Deandra agar ia segera mengantarkannya pulang kerumah panti.
__ADS_1
Sementara itu, perempuan yang tengah memandangi perbincangan Adelia kini memasang muka masam dan berakhir dengan smirknya.