
Malam harinya Deandra tak langsung pulang. Ia pergi ke sebuah restoran untuk makan malam sendiri. Diluar sana sedang hujan. Ia sangat malas menyetir ketika hujan. Bukan hanya karena jalanan licin. Tapi jika melihat hujan, otaknya seperti kembali memutar ingatan ketika masih sekolah. Ia rela terkena hujan demi menemani kekasihnya bermain hujan sepulang sekolah.
Hal itu sering ia lakukan karena kekasihnya menyukai hujan. Sedang ia membenci hujan karena esok hari setelah terkena air hujan, ia akan demam dan flu sampai beberapa hari. Sungguh kepribadian yang bertolak belakang.
Dari balik jendela kaca ini, matanya menatap dengan tatapan kosong. Teringat kenangan dulu memang menyakitkan. Sampai beberapa puluh menit berlalu Deandra masih menatap jendela itu dan tiba-tiba saja ponselnya berdering tanda pesan masuk dari Delon.
Delon :
"Kau dimana"
"Aku makan diluar" Deandra membalas.
"Bersama siapa?" Tanya Delon lagi.
"Sendiri"
"Kau tidak pulang?"
"Mungkin larut malam nanti"
"Padahal aku mengajak calon istriku"
"Kapan-kapan saja kalau ada kesempatan lagi. Selamat bersenang-senang"
"Terimakasih. Aku senang akhirnya minggu depan akan menikah"
"Benarkah?"
"Sungguh. Papah sendiri yang bilang kita harus segera menikah"
"Aku ikut bahagia. Semoga segalanya lancar"
"Terimakasih atas doa mu. Kau jangan pulang larut. Jangan mabuk dan jangan menyewa perempuan malam"
"Ishh itu bukan gaya-ku"
"Yasudah terserahmu saja. Semoga kau juga segera mendapat kekasih"
Seperti itulah perbincangan keduanya. Hari ini Deandra kurang bersemangat karena ia merasakan hal aneh pada perasaannya. Beberapa hari ini hatinya merasa nyaman dan aman kala bersama Adelia. Tapi di satu sisi ia juga merasa ragu perihal rasa ini. Sikap Adelia berbeda saat pertemuan pertama dan setelahnya. Benarkah ini cinta? atau hanya rasa semu saja karena hatinya memang telah lama hampa?
Entahlah, Deandra sendiri pun bingung.
__ADS_1
***
Sementara itu ditempat lain. Seorang gadis sedang termenung didekat jendela kamarnya. Melihat derasnya hujan dan gemuruh petir yang menyambar.
Tak hanya hujan diluar. Pipinya pun kini mulai basah karena kerinduannya pada orang tuanya.
Sudah belasan tahun ia hidup di panti bersama anak-anak lain yang memiliki nasib yang beragam. Ada anak yang sengaja ditinggalkan didepan rumah panti saat masih bayi, ada yang kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, ada yang orang tuanya pergi entah kemana dan masih banyak lagi.
Ketika malam hari memang Adelia sering seperti itu. Tiba-tiba bernostalgia tentang masa lalu dan dengan sendirinya air mata mulai menetes membasahi pipi dan tak jarang pula ia menangis sampai matanya sembab.
Meski kedua orang tuanya telah meninggal, ia tetap bersyukur karena bertemu dengan ibu Lastri dan pak Anto si pemilik panti asuhan ini yang telah mengurusnya. Mereka berdua benar-benar seperti memperlakukan Adelia layaknya anak kandung mereka sendiri. Bahkan seperti beberapa menit yang lalu ibu Lastri mengirim segelas susu putih hangat dan memberikan selimut tebal karena tadi sepulang dari toko bunga, Adelia terkena hujan.
Beberapa hari berlalu.
Sejak kejadian Adelia tertusuk duri mawar beberapa hari kemarin, Deandra menjadi sering berkunjung ke toko bunga hanya untuk memastikan keadaan Adelia. Padahal sudah hampir sembuh dan sudah tak sakit lagi. Tapi Deandra memaksa datang dan selalu menge-cek kondisi jari Adelia.
Seperti malam ini, Deandra sudah yang ketiga kalinya datang ketoko bunga. Pagi, siang, dan malam ini Deandra datang. Ia bahkan selalu bertanya "Apakah masih sakit?" dan hanya dibalas gelengan kepala oleh Adelia.
Adelia menatap Deandra dalam. Batinnya sedang terjadi pro dan kontra. Antara suka dan tidak suka. Pria didepannya ini selalu datang ketempat kerjanya setiap hari. Beberapa hari sekali pria ini membeli beraneka macam bunga. Dan tentunya ia membayar beberapa kali lipat dari harga aslinya yang sering membuat Adelia merasa terhina. Saat ditanya untuk siapa, Deandra selalu menjawab "Untuk diriku sendiri" dan ia pun selalu menanyakan perihal makna setiap bunga yang akan ia beli.
Apa peduli Adelia. Meski jika ia menyukai pria ini, ia mungkin akan mundur karena perbedaan derajat sosial yang sangat jauh. Baginya, setiap orang yang kaya akan bersama orang yang kaya. Dan sebaliknya, orang yang miskin akan bersama orang yang miskin pula.
***
"Tuan.." Ucap seorang pelayan seraya menepuk lirih lengan Deandra yang ia gunakan sebagai bantal kepalanya diatas meja.
Setelah sadar, Deandra mendongak. Ia ingat bahwa ia ketiduran sampai sekitar dua jam.
"Maaf tuan, kami akan segera tutup"
Mendengar itu Deandra segera melihat jam pada pergelangannya. Benar kata pelayan tadi. Ini sudah jam 12 malam.
"Maaf saya ketiduran. Tolong berikan saya bill. Saya ingin segera pergi"
Pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan Deandra sejenak. Tak lama pelayan itu kembali dengan membawa selembar bill pesanan untuk Deandra bayar.
Meski hanya makanan satu porsi dan segelas minum, harganya tetap mahal mengingat ini adalah restoran elit dengan pelayanan dan rasa masakan yang terkenal berkualitas tinggi.
Setelah membayar, Deandra segera beranjak dari kursinya dan bergegas menuju parkiran.
Dirumah keluarga Hartono.
__ADS_1
Deandra baru saja sampai dirumah. Suasana rumah sudah sepi. Kedua orang tuanya mungkin sudah tidur karena ini memang sudah larut malam.
Saat hendak menekan knop pintu kamar, Deandra melihat Delon dari arah dapur sambil membawa segelas air minum.
"Kau baru pulang?" Tanya Delon.
"Iya"
"Apa kekasihmu menginap?" Tanya Deandra.
"Mana mungkin papah mengijinkan kekasih untuk menginap? aku baru sampai setelah mengantarnya pulang"
Deandra hanya bergumam dan mengangguk.
"Apa kau habis kencan?"
Pertanyaan itu sedikit membuat Deandra melongo. "Kencan?" Tanya Deandra dan Delon hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Aku tidak punya kekasih" Deandra menunduk.
Delon tersenyum.
"Aku tau kau sedang menyukai seseorang. Apa kau bingung bagaimana cara mengungkapkannya?"
Kini Deandra mendongak antusias.
"Beri dia bunga. Atau coklat, atau barang mahal yang indah padanya lalu kau utarakan perasaanmu padanya"
"Dia penjual bunga kak" Ucap Deandra jengah.
"Penjual bunga?"
Deandra mengangguk.
"Dia juga bukan orang yang terobsesi dengan barang-barang seperti itu"
"Emm...mungkin kau coba memberinya perhatian-perhatian kecil. Kau hadiahkan dia barang yang ia suka. Atau kalau tidak, kau langsung saja mengatakan kau suka padanya"
Delon menjelaskan pada adiknya tentang bagaimana mengungkapkan perasaan. Delon mengerti bahwa adiknya ini pernah menjalin hubungan dengan seseorang namun ditengah jalan gadis itu memutuskan hubungan begitu saja kemudian ia menghilang entah kemana.
Ide dari Delon masih terngiang-ngiang dipikirannya meski ia sudah membersihkan diri dan bermain ponsel beberapa saat. Mungkin bisa dicoba suatu saat nanti.
__ADS_1