Genggamanmu

Genggamanmu
Melamarmu


__ADS_3

"Sungguh aku terkejut" Kata Deandra.


"Sebenarnya aku sudah tau kau akan menjadi adik iparku"


"Tapi kau tak memberitahuku?" Kata Deandra lagi.


"Untuk apa?"


"Untuk kejelasan hubungan kita dulu"


"Kau masih tetap sama Ndra. Aku tidak pernah mencintaimu"


Deandra frustasi. Ia segera menyalakan kran wastafel dan sedikit membasahi rambutnya.


"Lalu apa arti perhatianmu dulu?"


"Hanya iseng. Aku tak punya teman. Jadi aku baik padamu agar kau mau menjadi temanku" Kata perempuan itu yang ternyata adalah Bianca, kakak ipar Deandra mulai malam ini.


"Tapi aku mencintaimu Bi!"


Deandra meninggikan suaranya membuat orang lain yang sedang di sekitar mereka memperhatikan keduanya tengah berdebat didepan toilet gedung.


"Kau mencintaiku? Lalu siapa wanita tadi?"


Deandra gelagapan. Ya memang benar jika Deandra masih menyimpan perasaan pada Bianca. Tapi ia juga menaruh hati pada Adelia. Bagaimana ini?


Sementara itu di ruangan tadi masih ada Adelia dan kedua orang tua Deandra serta Delon disana.


"Jadi kau kekasih adikku?"


Adelia hanya meringis. Nyatanya ia tak berpacaran karena ia menolak Deandra. Tapi hatinya menyimpan sedikit harapan pada Deandra tentang hubungan ini. Aneh memang kemauannya.


Delon yang melihat Adelia hanya tersenyum. Ia menganggap respon Adelia adalah mengiyakan ucapannya.


Tak lama sosok yang sedari tadi ditunggu sudah datang. Hampir bebarengan mereka menemui orang tuanya serta Delon dan Adelia.


"Apa aku terlalu lama?" Bisik Deandra pada Adelia.


Adelia hanya menggeleng.


Sedangkan Bianca kini menggandeng lengan suaminya, Delon Kusumo Hartono. Melihat sikap Bianca, tentu Delon merasa senang dan tak kuasa mengumbar senyum bahagianya.


Lain dengan Deandra, ia kini justru mendelik menatap tangan Bianca dengan tangan kakaknya. Bianca tau Deandra sedang cemburu. Dan jelas ia merasakan kemenangan sekarang.


***


Pagi hari keluarga Hartono melakukan kebiasaan mereka seperti sarapan bersama. Suasana sedikit berbeda karena kini ada anggota baru yakni Bianca Prastiwi.


"Bi, ayo makan lebih banyak" Kata mama Kartika.


Bianca mengangguk. Kemudian melirik Deandra sembari tersenyum dan menyahuti, "Iya mama. Itu Deandra juga makan yang banyak biar semangat untuk segera menikahi kekasihnya"


"Sialan kau Bianca!. Tenang saja, aku akan menikahi Adelia dan memamerkan kemesraan kita didepan matamu" Umpatan Deandra dalam hatinya sambil memelototi Bianca.

__ADS_1


Bianca tau Deandra sedang mengumpat padanya didalam hati. Ia semakin bahagia karena kemenangan masih memihak padanya.


Sementara itu di toko bunga tempat Adelia bekerja.


Adelia masih dengan kesehariannya. Membersihkan daun dan kelopak bunga yang berjatuhan. Menyiapkan pupuk dan tanah. Kemudian menyiapkan pesanan buket bunga dan yang lain.


Setelah ia selesai menyiapkan segala keperluan itu, ia kembali ke kursi kasir. Pemilik toko sudah mempercayakan toko bunga ini pada Adelia.


Hari-harinya seperti biasanya. Melayani pembeli dan sering kali membuat buket bunga untuk pesanan dan kadang juga untuk dibuat karangan.


Malam hari.


Sepulang dari tempat kerjanya, Deandra segera pergi menuju tempat yang kini sudah menjadi favoritnya. Toko bunga dengan penjaga gadis yang cantik meski kadang gadis itu ketus padanya.


Dengan segala persiapan telah ia siapkan untuk satu hal ini. Selain menyiapkan apa yang akan ia beri, ia juga menyiapkan mentalnya untuk rencana yang sudah ia siapkan matang-matang.


Deandra menyalakan mesin mobilnya. Mulai melajukan mobil itu dengan pelan. Hatinya tentu masih gugup dengan rencana ini. Karena ini adalah kali pertama yang akan ia lakukan.


Butuh waktu sekitar 30 menit Deandra untuk sampai didepan toko bunga Adelia. Langkah yang kian gugup dan tangan yang semakin gemetar karena kini dirinya sudah berada didepan pintu toko bunga itu. Dengan begitu hati-hati, ia mencoba menekan knop pintu dan membuka pintunya. Seperti maling, ia berjalan menendap-endap agar si gadis tak mengetahui kedatangannya.


Pertama kali yang ia lihat tentu saja Adelia yang tengah menyusun sebuah karang milik pelanggan. Ia duduk membelakangi Deandra dan tentu saja Deandra merasa aman untuk memberinya kejutan sekarang.


Deandra menyembunyikan buket bunga yang ia bawa dibalik punggungnya.


"Adelia.." Ucap Deandra pelan.


Yang dipanggil kini menoleh. Mendapati Deandra tengah dibelakangnya kini ia beranjak dari kursinya dan menatap Deandra.


Suasana masih sangat canggung. Deandra masih menetralkan detak jantung dan deru nafasnya karena saking gugupnya.


"Iyah?"


Rupanya Adelia mulai menyadari apa yang ada dibalik punggung Deandra. Meski punggungnya lebar, tetap saja buket mawar merah itu mampu menyembul bak tengah menyapa Adelia disana karena memang buket itu berukuran besar.


"Aku datang kesini untuk maksud yang baik. Aku sudah mengetahui dan meyakini perasaanku padamu.."


"..Sejak awal pertemuan kita aku sudah menaruh hati padamu. Andai aku tau dimana pencopet itu, sudah pasti ku datangi karena ingin berterimakasih padanya.."


Adelia mendengarkan ucapan Deandra dengan begitu perhatian. Meski ia pun mengernyitkan dahinya mencoba mencerna apa yang tengah Deandra bicarakan.


"..Karena dia mengganggumu dan aku datang menolongmu"


"Jadi kau senang kalau aku celaka?" Cetus Adelia.


"Bu-bukan begitu maksudku"


"Lalu?"


Adelia menyilangkan tangannya didada. Sedikit memiringkan kepalanya dan menatap Deandra dengan tatapan intimidasi.


"Aku mencintaimu. Aku nyaman bersamamu dan aku mohon untuk tidak memperdulikan tentang kasta"


Adelia mengubah tatapannya. Tangannya ia turunkan dan masih menanti kelanjutan ucapan Deandra.

__ADS_1


Secara tiba-tiba, Deandra menekuk lututnya dan memberikan buket mawar merah berukuran besar pada Adelia. Tak lupa pula Deandra memunculkan dari dalam saku jas sebuah kotak berisi cincin berlian yang bertengger anggun didalamnya.


"Aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?"


Kalimat akhir yang mengganjal dihati Deandra kini sudah lolos melalui mulutnya dan mulus menyeruak telinga Adelia. Membuat Adelia terkejut bukan main. Mematung dan melongo tentu sudah menggambarkan keterkejutan Adelia saat ini.


Namun hal itu tak bertahan lama. Setelahnya Adelia menunduk dan mulai menitihkan air matanya.


Melihat itu, Deandra merasa bersalah. Ia memikirkan sikapnya yang mungkin menyakiti Adelia sampai ia menangis.


Deandra segera berdiri dan mengusap air mata Adelia yang mulai membasahi pipi.


"Maafkan aku" Ucap Deandra sambil mengelus pipi Adelia.


Adelia kini mendongak. Menatap manik mata seorang yang selama ini mengganggu pikirannya dan mengisi hatinya.


"Maaf untuk apa?" Kata Adelia dengan begitu lirih.


"Karena aku, kau jadi menangis"


Adelia mengulas senyum. Tentu saja senyum itu mampu menenangkan hatinya dan sejenak mendatangkan lega.


"Kau sungguh mencintaiku?"


Deandra mengangguk antusias.


"Kau tau latar belakangku?"


Deandra mengangguk lagi.


"Aku mengajakmu untuk hidup bersama kedepan, bukan kebelakang" Sahut Deandra.


"Semua manusia berhak bahagia. Aku mengerti ini tidak mudah. Tapi aku akan memberimu keyakinan agar kau mau mempercayaiku" Katanya lagi.


"Tapi.."


"Aku hanya menerima jawaban (Iya) atau (Tidak). Sudah itu saja"


Adelia terdiam. Ia menunduk memikirkan apa yang tengah Deandra maksud. Entah apapun yang ia pilih nanti, ia menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi tersendiri.


Cukup lama Adelia terdiam. Deandra yang didepannya hanya mampu menunggu dan tak mengurangi senyumnya sedikit pun.


"Aku..." Kata Adelia.


"Aku..." Katanya lagi.


"Iya?" Deandra menyela.


Adelia tak mengatakan apapun lagi. Kini ia justru tersenyum dan kemudian mengangguk.


"Apa anggukan itu adalah tanda kau menerima lamaranku?"


Adelia mengangguk lagi.

__ADS_1


Sungguh, sedetik kemudian Deandra merasa begitu girang dan melompat-lompat sendiri. Tak hanya itu, ia pun memeluk Adelia dengan gemas dan sesekali menciumnya.


__ADS_2