Genggamanmu

Genggamanmu
Duri


__ADS_3

Makan malam keluarga Hartono berlangsung seperti biasanya. Hanya bunyi denting sendok garpu yang bertabrakan dengan piring. Setelah makan, seperti biasa juga mereka akan berbincang diruang keluarga untuk membahas bisnis dan keseharian masing-masing.


Delon yang mengendalikan perusahaan Hartono's Company, sedang Deandra mengurus usaha perhotelan H. Family Hotel yang memiliki banyak cabang di seluruh kota. Meski memiliki banyak cabang, tapi tetap saja usaha utama keluarga Hartono adalah Hartono's Company yang tengah dikendalikan oleh Delon.


Ditengah perbincangan bisnis, tiba-tiba Davidson berbisik pada istrinya, Kartika


"Mamah ingat rencana papah waktu itu?"


"Sebaiknya bicarakan nanti setelah Deandra menikah pah"


"Oh baiklah. Papah juga berfikir begitu"


Setelahnya Davidson dan Kartika kembali bersikap biasa lagi menatap dan mendengarkan kedua putranya mengobrol tentang bisnis.


"Delon" Ujar Davidson.


Delon seketika menoleh kearah papah karena sejak tadi ia asik bicara dengan Deandra.


"Bagaimana kabar calon istrimu?"


"Dia baik pah"


"Papah ingin bertemu dengannya. Bagaimana kalau pernikahan kalian dipercepat?"


Mendengar pernikahan akan dipercepat, Delon merasa girang bukan main. Pasalnya ia sudah berpacaran dengan gadis itu selama bertahun-tahun. Dan baru beberapa bulan kemarin ia melamarnya ketika di Amerika.


"Baiklah pah, aku akan bicara padanya"


"Segera bicarakan"


Setelah mengatakan itu, Davidson dan Kartika pamit pergi kekamar mereka untuk istirahat. Sedangkan Delon dan Deandra masih disana sedang berjingkrak-jingkrak kesenangan.


"Kau dengar itu Ndra? papah menyetujui pernikahanku dengan kekasihku"


"Aku juga denger"


"Lalu kapan kau akan mengenalkan gadismu pada papah?"


Deandra sejenak terdiam mendengar kata "Gadismu". Pasalnya sekarang ia tak memiliki kekasih. Gadis yang ia temui beberapa hari kemarin malah berubah ketika ia temui untuk kedua kalinya.


"Aku ngga punya pacar kak"


"Ngga punya? kemarin kamu beli bunga itu untuk siapa?"


"Untuk diriku sendiri"


Delon sedikit kaget dengan jawaban adiknya. Ia sontak menertawakan Deandra dan kini yang ditertawakan merasa kesal dan pergi meninggalkan Delon sendirian yang masik bergelak tawa.


***


Didalam toko bunga kecil yang sudah Adelia jaga selama beberapa tahun ini, Adelia tengah duduk di salah satu bangku. Menatap jauh kearah jendela kaca yang menampilkan jalanan didepan.


Memikirkan bagaimana tentang kehidupannya setelah ia dipanti asuhan. Kehidupannya bersekolah, mondar-mandir mencari kerja, dan akhirnya sampailah ia ada disini hingga sekarang.

__ADS_1


"Hey"


Adelia terkejut bukan main. Pasalnya ia seperti tak melihat kedatangan seseorang, namun tiba-tiba saja ada yang mengejutkannya seperti sekarang ini.


Ia jelas kesal dan memasang muka masam pada orang yang berhasil mengejutkannya hingga terperajat.


"Uangmu lebih 350 ribu waktu itu" Ujar Adelia yang kini sedang membuka laci dan mengambil beberapa uang kertas untuk diberikan pada pria didepannya ini.


Saat ia hitung sudah pas, ia segera menyerahkan uang itu. Namun pria itu justru menolak dan membuat Adelia kembali kesal.


"Ini uangmu!" Ucap Adelia dengan nada yang meninggi.


"Untukmu saja. Kau simpan ya"


Deandra mengembangkan senyumnya. Senyum itu masih sama seperti saat pertemuan pertama mereka berdua.


Dalam hati Adelia "Dia pria yang waktu itu menolongku. Tapi kenapa penampilannya berbeda?"


"Kau melamun? atau kau sedang menatap ketampananku?"


Adelia kesal lagi. Ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Bagaimana bisa ada orang menyebalkan seperti dia? Tapi memang benar dia tampan.


"Kenapa kau datang kesini" Ujar Adelia ketus.


"Adelia...namamu Adelia kan?"


"Kenapa memangnya?"


"Sikapmu berbeda seperti saat pertama kita bertemu" Lanjutnya.


"Berbeda?" Adelia memicingkan sebelah matanya.


Deandra mengangguk.


"Saat pertama kita bertemu itu karena kau menolong pelangganku saat kecopetan"


"Dan pertemuan kita selanjutnya kau datang sebagai pelangganku" Lanjut Adelia.


"Apa hanya itu?"


Adelia mengangguk. Ia mulai melangkahkan kakinya mengitari bilik-bilik tempat pot bunga. Melihat Adelia yang melangkah menjauhinya, tentu Deandra mengikuti langkah kaki Adelia yang kecil itu sambil menunduk.


"Aw.."


Secepat kilat Deandra mendongak dan menatap Adelia. Mencari bagian tubuh mana yang terluka.


Jari Adelia terluka terkena duri bunga mawar didepan. Dengan sigap Deandra meraih jari itu dan ia bawa pada bibirnya untuk menyedot darah itu agar segera berhenti mengalir.


Adelia menatap Deandra yang sedang memegangi jarinya.


"Ada kotak P3K?"


"Ada di meja kasir"

__ADS_1


Deandra segera berlari menuju meja kasir. Mencari kotak yang ia cari dan bergegas membawanya pada Adelia. Setelahnya ia mengelap jari Adelia yang baru saja terluka itu dengan tisu steril kemudian menempelkan plester padanya.


Adelia masih mematung melihat sikap Deandra yang begitu gesit menolongnya meski hanya tertusuk duri.


"Terimakasih" Ujar Adelia lirih sambil menunduk.


"Sama-sama. Apa masih sakit?"


"Hanya sedikit"


Deandra merapihkan kotak itu dan segera mengembalikannya pada tempat sebelumnya.


Ketika kembali menemui Adelia, jantung Deandra dibuat berdegup karena melihat Adelia yang tengah mengelus plester sambil tersenyum.


"Kau cantik"


Seketika senyum Adelia memudar kala mendengar penuturan Deandra secara tiba-tiba itu.


"Kau tak ingin berterimakasih lagi karena aku memujimu?" Ucap Deandra lagi.


"Terimakasih sudah mengobatiku"


"Sebenarnya luka seperti ini sudah biasa aku alami. Tanganku tertusuk duri, tersayat pisau, mataku kemasukan tanah, kakiku ketiban pot berisi tanah, dan masih banyak lagi"


"Hanya saja tadi aku terkejut karena tidak melihat duri itu" Lanjutnya.


"Lain kali lebih hati-hati lagi ya" Ucap Deandra mengelus surai rambut Adelia.


Adelia tersipu malu dengan sikap Deandra hari ini. Jangan tanyakan bagaimana jantungnya, sudah jelas berdegup kencang sejak tadi.


Deandra menoleh kearah jalanan yang sudah mulai gelap.


"Ini sudah hampir malam. Jam berapa kau selesai bekerja?"


"Ini sudah selesai" Adelia menoleh kearah jam dinding yg dimana jarum pendeknya menunjuk ke angka 6 dan jarum panjangnya di angka 2.


"Boleh ku antar kau pulang?"


"Jangan!"


Deandra mendongak menatap Adelia.


"Kenapa" Tanya Deandra.


"Em..itu.."


"Kenapa Adelia.." Kata Deandra dengan lembut yang mampu menyihir Adelia.


"Aku takut dimarahi ibuku karena pulang dengan laki-laki"


"Yasudah.. Yang penting kau harus hati-hati"


Adelia mengangguk seraya tersenyum. Senyuman cantik yang mampu menghidupkan kembali rasa yang pernah mati setelah beberapa tahun silam. Perasaan nyaman dan aman itu hadir lagi setelah dipaksa pergi oleh seseorang yang pernah Deandra cintai setulus hati. Hatinya tak lagi sepi. Batinnya tak lagi gulana kala mendapati seseorang sebagai pencipta rasa.

__ADS_1


__ADS_2