
Esok harinya setelah dari kantor, Deandra benar-benar pergi ke toko bunga itu dan menemui gadis yang ia temui kemarin. Dengan senyum yang begitu ramah, Adelia menyapa Deandra layaknya menyapa pelanggan seperti biasanya.
"Selamat sore tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Adelia.
Deandra yang didepannya ini hanya diam memandang senyum Adelia. Matanya menatap dalam gadis yang mengisi pikirannya sejak semalam.
"Maaf tuan" Adelia kembali bersuara. Berharap pria didepannya ini merespon sapaannya.
Dan tak selang lama akhirnya Deandra tersadar. Ia balik tersenyum menatap Adelia dan kini Adelia lah yang merasa aneh dengan sikap Deandra.
"Maaf aku melamun"
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Adelia lagi.
"Ada"
"Aku ingin bertanya" Lanjut Deandra.
"Silahkan tuan"
"Kau ingat aku kan?"
Adelia terdiam sejenak memandang seseorang yang tengah menatapnya dalam. Dalam batinnya "Kenapa dengan orang ini? jika ingin membeli bunga, katakan saja jenis bunganya. Kenapa harus menanyakan ingat atau tidak?"
"Aku yang kemarin menolongmu dari pencopet-"
"Bukan aku yang dicopet. Tapi pelangganku" Sela Adelia
"Oh maaf"
"Aku datang kesini sebenarnya tak ada tujuan. Tapi karena kau berjualan bunga maka aku akan membelinya"
Adelia terdiam. Ia melangkahkan kakinya menuju rak-rak tempat para bunga ditata. Deandra pun membututi langkah kaki Adelia. Ia mengamati bagaimana Adelia menyentuh bunga, membersihkan daun bunga yang terkena tanah dan mengambil daun serta kelopak bunya yang berjatuhan.
__ADS_1
Saat diujung rak, Adelia melihat bunga Tulip. Ia mengelus dan juga mencium wangi tulip dihadapannya itu.
Ia sadar sedari tadi Deandra terus mengikuti dan mengamati gerak-geriknya. Sampai Deandra merasa cukup jengah dan kembali bicara,
"Aku membeli bunga itu" Deandra menyeru dan menunjuk bunga yang baru saja Adelia sentuh.
"Ini bunga Tulip"
"Iya aku ingin membelinya"
Adelia mengambil bunga Tulip itu dan mulai membuatnya menjadi buket bunga tulip. Sambil membungkus ia berucap,
"Meski bunga Tulip berasal dari daratan Turki, tapi ia menjadi bunga yang populer di Belanda. Dia memiliki makna eleganitas dan keanggunan"
"Seperti dirimu kan?" Dalam batin Deandra sambil tersenyum.
"Apa kau ingin memberinya pada kekasihmu? atau seseorang yang kau sukai?" Ujar Adelia seraya memberikan buket bunga Tulip yang cantik itu pada Deandra.
"Aku tidak akan memberinya pada siapapun. Hanya dia terlihat cantik lalu aku ingin memilikinya"
Deandra tersenyum. Tangannya mulai merogoh dompet yang ada di dalam saku dalam jas hitamnya.
Berbeda dengan apa yang ia kenakan kemarin, kini Deandra mengenakan setelan jas berwarna hitam dan dasi berwarna senada. Tak lupa pula kemarin ia pun mengenakan bus saat akan pulang. Tapi sekarang, ia membawa mobil entah merk apa yang membuat Adelia terkejut dan sedikit kecewa dengan harapannya.
Entah apa yang Adelia rasakan ketika melihat pria ini kemarin. Mengenakan celana jeans panjang, kaos pendek dan jaket berwarna senada. Sangat berbeda dengan apa yang pria ini kenakan hari ini membuat Adelia berkecil hati. Pasalnya bagaimana bisa ia akan menyukai seseorang yang derajatnya jauh lebih tinggi diatasnya.
"Bunga Tulip menggambarkan seseorang. Dari ucapanmu barusan, aku mengerti bahwa kau memang benar. Seseorang itu elegan dan anggun"
Deandra memberikan beberapa lembar uang kertas bernominal paling tinggi. Setelah Adelia menerimanya dan menghitung uang itu, Deandra mengambil bunga Tulip dari tangan Adelia dan segera pergi meninggalkan Adelia yang masih mematung itu.
Adelia tersadar ketika Deandra sudah pergi dari hadapannya dan sedang menuju mobilnya. Ia berteriak
"Uang mu lebih tuan" Deandra pun menoleh dan tersenyum. Sambil mengatakan,
__ADS_1
"Lain kali saja kau kembalikan padaku"
Deandra segera memasuki mobilnya dengan cepat. Menyalakan mesin dan kemudian melesat membelah jalanan kota yang terbilang cukup ramai karena sore hari adalah umumnya jam pulang bekerja.
Sepeninggal Deandra, Adelia menghitung kembali uang kertas itu. Dan benar, ia tak salah kalau uangnya lebih 350 ribu.
"Bunga Tulip itu seharga 150 ribu. Tapi dia membayar 500 ribu. Apa dia ingin pamer uang?"
"Dasar orang kaya!" Gerutunya tak berhenti sampai beberapa menit. Sampai kini ia dalam perjalanan pulang kerumah pun masih memasang wajah masam dan membuat ibu panti keheranan.
***
"Kau membeli bunga untuk siapa Ndra?"
Sapa Delon yang sedang duduk santai diteras rumah. Sambil bermain ponsel dan ditemani secangkir teh dan snak.
Deandra melihat kakaknya mengajaknya bicara. Alih-alih menyahuti, ia justru hanya tersenyum dan berjalan melewatinya begitu saja. Rasa kesal dan penasaran tentu muncul di benak Delon.
"Ishh mungkin dia sudah gila"
Sesampainya dikamar, Deandra menaruh buket bunga tulip itu di atas meja. Memandangnya dengan senyuman dan membayangkan wajah cantik Adelia.
Jika diingat-ingat, sikap Adelia kemarin dan tadi sore terlihat berbeda. Kemarin ia ramah dan mau bersalaman. Tapi tadi, ia enggan menatap mata Deandra.
"Mungkin ia canggung karena kedatanganku sebagai pelanggan"
"Siapa yang canggung" Celetukan Delon mampu mengejutkan Deandra karena ia muncul dari balik pintu yang hanya menyembulkan kepalanya tanpa ada suara pintu sedikit pun.
"Kau ingin tau?" Deandra membalikkan tubuhnya menghadap pintu.
"Iya. katakan siapa dia"
"Itu rahasia"
__ADS_1
Kecewa dan kesal menyelimuti perasaan Delon. Ia memonyongkan bibirnya dan segera pergi meninggalkan kamar Deandra adiknya tanpa menutup pintu.
Melihat tingkah Delon yang kembali melakukan kebiasaannya, Deandra pun kesal. Hampir setiap kali Delon masuk kekamarnya tapi tak menutup kembali pintunya. Tapi berbeda ketika Deandra pergi ke kamar Delon, Delon selalu bilang "Tutup pintunya!" meski Deandra belum berniat meninggalkan kamarnya.