
.......Bip.....Bip......Bip...........
bunyi suara pada alat patient monitor yang berada di atas meja ruangan khusus Intensive Coronary Care Unit , yang pasti ada salah satu rumah sakit yang memiliki akreditasi terbaik dengan kualifikasi dokter - dokter terbaik di bidangnya masing-masing pula.
Alat patient monitor pasti selalu ada di dekat beberapa ranjang khusus pasien, dimana seorang yang membutuhkan diperhatikan khusus dari tenaga medis dan paramedis. Seorang pria terbaring dengan kondisi tidak sadar, yang masih dalam kondisi lemah, bahkan untuk sekedar bernafas memerlukan bantuan dari oksigen yang berada di dalam tabung oksigen. Untuk denyut nadi, jangan ditanyakan lagi, karena itu jelas terlihat dari beberapa kabel yang terpasang di tubuh pasien.
Bahkan dokter meminta pemeriksaan penunjang lainnya kepada pasien, diantaranya pemeriksaan EKG atau yang lebih dikenal dalam bahasa medisnya elektrokardiografi untuk mengevaluasi fungsi kerja jantung dimana pemeriksaan EKG ini hanya sebagai tes diagnostik umum yang biasa diminta dokter ketika ada pasien yang mengalami permasalahan pada jantung seperti yang dialami oleh pria tampan yang masih nyaman menutup matanya.
Pada umumnya, ruangan khusus untuk menangani pasien dengan kondisi membutuhkan penanganan medis segera, lebih tertutup yang tidak bisa dimasukkan bebas oleh orang-orang yang tidak memiliki kepentingan. Hanya diperuntukkan untuk tenaga medis dan paramedis saja. Hal ini berlaku juga di rumah sakit dimana seorang pria tampan yang memiliki nama Farel Adiyaksa yang didapatkan dari dalam dompet yang terletak di dalam jas yang terpasang di tubuh pria itu ketika di temukan oleh penolong nya.
Seorang penolong yang berjenis kelamin perempuan itu memberikan kartu identitas orang yang sudah diberikan pertolongan pertama kepada seorang pekerja rumah sakit di bagian administrasi rumah sakit. Namun ketika seorang pekerja di bagian administrasi rumah sakit menanyakan tentang ke pengurusan administrasi rumah sakit, seorang penolong yang berjenis kelamin perempuan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, karena dia hanya menolong pria tersebut yang membutuhkan pertolongan segera , sehingga tidak pernah terbayangkan oleh dirinya jika diberikan pertanyaan seperti ini , maka jawaban apa yang akan dia berikan.
Beruntung nya ketika gadis ini melihat banner besar rumah sakit, dia langsung teringat sang kakak yang bekerja di rumah sakit ini sebagai paramedis yang kebetulan sekali , masih bekerja di shift malam hari ini sehingga gadis itu segera menghubungi sang kakak, dan meminta sang kakak ikut membantu pengurusan administrasi rumah sakit , agar tidak menghalangi pria yang diberi pertolongan tetap mendapatkan tindakan medis yang dibutuhkannya.
Sang kakak yang hanya pekerja di bagian paramedis dengan gaji yang cukup perbulannya saja , sedikit meringis ketika sang adik , bisa-bisanya menolong orang lain tanpa mempertimbangkan lagi akan ada biaya rumah sakit yang harus dibayarkan ketika selesai dalam penanganan medis. Sempat terjadi adu mulut ketika sang adik berkata " kemanusiaan, kakak "
" nurani aku terpanggil "
" bagaimana aku bisa membiarkan dirinya sekarat disaat aku bisa memberikan pertolongan kepada dirinya " ucap sang adik, yang membuat sang kakak hanya bisa pasrah, dan berbicara kepada orang yang bertugas di bagian administrasi , bila dirinya akan menjadi penanggung jawab sampai pihak keluarga pria tersebut dapat dihubungi.
" kak " ucap gadis itu memberikan senyuman terbaiknya, dengan bingkai mata yang berbinar-binar
" Na "
" kakak tidak masalah dengan rasa kemanusiaan kamu terlalu tinggi itu "
" tapi "
" kakak mohon kepada kamu "
" pikirkan juga keuangan kita "
" untuk makan sehari - hari, dan lain sebagainya "
" bahkan biaya kuliah kamu, harus kita perhitungkan, walaupun kamu mendapatkan beasiswa, tapi "
" biaya lainnya masih harus kakak tanggung, dik "
" mengerti lah " ucap sang kakak dengan intonasi suara yang lemah agar sang adik mengerti namun tidak merasa tersinggung.
" iya, kak "
" maafkan Hana, sudah merepotkan kakak " ucap Hana dengan lirih
" tidak "
" bukan seperti itu "
" kamu sudah melakukan hal yang baik, hanya saja keuangan kita saat ini yang tidak baik "
" kakak sudah meninggalkan ruangan terlalu lama "
" kakak kembali ke tempat kerja kakak lagi "
" kalau keluarga pasien itu sudah ada, segera lah pulang " ucap sang kakak segera bergegas pergi menuju tempat kerjanya setelah berhasil mendaratkan kecupan di puncak kepala sang adik.
Berbekal handphone milik pasien yang ditemukan bersama dompet di saku jas pasien pria itu Hana segera berusaha untuk menghubungi pihak keluarganya, akan tetapi handphone milik pria itu memiliki kata sandi, dan finger print untuk membuka layar sentuh ponsel merk terkenal itu, sehingga sang gadis tidak bisa menghubungi kontak yang ada di dalam handphone.
Hana bukan ahli dalam bidang ITE, dan bukan pula ahli membuka kode seperti para hacker, dia hanya bisa mengaplikasikan ilmu teknologi untuk menyelesaikan tugas di program pendidikan nya. Apalagi saat ini Hana memiliki tugas dari dosen mata kuliah yang dia ambil di satu semester ini. Bisa saja Hana meminta salah satu petugas medis atau petugas para medis untuk scan wajah Farel atau meminta sidik jari Farel, akan tetapi tidak Hana lakukan karena sejak tadi para petugas medis dan paramedis saja sibuk memberikan penanganan medis pada Farel, Hana terlalu sungkan untuk meminta pertolongan yang hanya untuk hal remeh seperti ini. Sehingga pada akhirnya Hana memutuskan untuk menunggu ponsel Farel berdering, dan meminta orang yang menghubungi Farel untuk lekas menghubungi pihak keluarga atau datang langsung ke rumah sakit untuk melihat kondisi si pasien. Untungnya alat charger handphone Farel sama dengan alat charger sahabatnya yang tertinggal di laptop Hana sehingga Hana bisa men-charge ponsel Farel yang baterai hanya tinggal beberapa persen saja.
Drt - Drt - Drt, Suara getaran ponsel milik Farel yang berada di sisi kiri laptop yang masih menyala, karena Hana menunggu di ruang tunggu nyambi mengerjakan tugas dari dosen salah satu mata kuliahnya.
__ADS_1
Ketika simbol hijau ditekan oleh Hana, kalimat yang keluar dari lawan bicara Hana, hanya berisikan kalimat makian dengan intonasi yang cukup tinggi dimana Hana terpaksa menjauhkan ponsel Farel dari telinga Hana. Kalau Hana tidak melakukan nya, maka akan merasa berdosa kepada telinga nya yang harus menjadi korban dari perbuatan orang yang menghubungi Farel.
Hana yang masih mendengarkan curhatan orang yang sedang menelpon Farel, hanya memberikan sikap diam tanpa mengajukan protes, Hana berfikir jika pria yang masih dalam sambungan telepon itu butuh untuk didengarkan curhatan nya, maka Hana akan menjadi pendengar yang baik.
Sampai dimana pria yang masih dalam sambungan telepon itu selesai, barulah Hana mengucapkan kalimat salam, tentu saja membuat membuat pria yang sudah mencurahkan curhatan nya terkejut, sampai-sampai dia memeriksa kembali nomor ponsel yang sedang dihubungi saat ini. Dan itu adalah nomor telepon sang adik, dengan penasaran pria tersebut bertanya
" anda siapa " yang kemudian Hana memberikan jawaban.
Hana memberikan klarifikasi tentang bagaimana ponsel Farel berada di tangan Hana, begitu pula dengan dompet Farel yang sudah berada di dalam tas ransel Hana. Hana juga menjelaskan bagaimana Hana menemukan Farel, dimana lokasi saat itu, pakaian yang dikenakan Farel, dan lain sebagainya yang berisi informasi yang Hana ketahui tentang Farel.
Informasi yang Hana sampaikan tentu saja sangat mengejutkan pria yang saat ini masih berada di sambungan telepon, pria itu lantas meminta Hana untuk mengirimkan lokasi Farel yang saat ini masih berada di ruangan khusus Intensive Coronary Care Unit , salah satu rumah sakit yang ada di kota ini.
Tidak berselang lama sambungan terputus, setelah salah satu diantaranya mereka mematikan sambungan telepon tersebut. Hana kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, mengaktifkan kembali laptop yang sempat tertutup,membuka kembali file yang tadi masih sempat Hana simpan di lokal disk pada laptop. Sesekali Hana melihat waktu pada jam tangan yang dia pakai di tangan kanannya. Waktu sudah hampir malam, namun masih belum ada tanda-tanda pihak keluarga Farel akan datang. Hana bukan tidak sabar, dan tidak mau menunggu Farel yang saat ini masih di observasi di dalam ruangan Intensive Coronary Care Unit.
Beberapa jam Hana masih setia menunggu, dan akhirnya yang Hana nanti-nantikan datang, seorang pria yang sama tampannya, dengan Farel, walaupun ada beberapa yang berbeda baik dari potongan rambut, tinggi badan, dan beberapa hal yang tidak terlalu diperhatikan oleh Hana, karena fokus Hana saat ini, adalah dia akan segera pulang ketika Farel sudah ada pihak keluarga yang mengurusi nya
" Hana " ucap pria tampan itu sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah Hana
'' iya " sahut Hana sembari sedikit menundukkan kepalanya
" perkenalkan , saya "
" saya Dimas "
" abangnya Farel " ucap Dimas sembari menyodorkan telapak tangan sebelah kanan nya.
" dimana kamu menemukan Farel "
" bagaimana kamu menemukan Farel, Hana "
ucap Dimas dengan tidak sabar , ingin mengetahui kronologis sampai Farel harus di rawat di ruangan khusus Intensive Coronary Care Unit.
Hana mulai menceritakan bagaimana bisa dia menemukan Farel, dimana Farel yang sudah terduduk di salah satu sudut koridor setelah pintu lift mall, yang sayangnya jarang dilintasi banyak orang. Farel menekan-nekan puncak kepala nya, namun tidak lama kemudian menekan area dada sebelah kanan.
Dimas yang masih setia mendengarkan setiap kalimat Hana tentang upaya Hana dan beberapa orang yang membantu Hana, hanya bisa mengucapkan terimakasih yang walaupun tidak sempat bertemu dengan orang-orang nya, setidaknya tuhan yang akan membalas kebaikan mereka yang telah ikhlas membawa Farel ke rumah sakit sehingga Farel bisa diselamatkan walaupun masih menunggu Farel siuman dari tidur panjangnya.
" Hm "
" kalau begitu "
" saya permisi izin untuk pulang, pak Dimas " ucap Hana dengan memberikan senyuman, yang kemudian bergerak untuk mematikan laptop yang masih menyala, dan beberapa kertas dan buku yang sedikit berantakan di kursi tunggu keluarga pasien.
" Hana "
" bolehkah saya mengajukan permohonan kepada kamu "
" saya meminta kamu untuk tetap menunggu Farel di sini " ucap Dimas dengan memelas, berharap Hana mengabulkan permohonan nya.
" bagaimana yah, pak " ucap Hana dengan ragu-ragu untuk mengiyakan permintaan dari Dimas, karena sang kakak sudah meminta dirinya segera pulang jika Farel sudah ada pihak keluarga yang datang untuk mengurusi segala sesuatu tentang Farel, sehingga Hana tidak lagi terbebani dengan kondisi Farel, dan juga administrasi rumah sakit yang harus ditanggung selama Farel mendapatkan penanganan medis rumah sakit.
" Farel tidak memiliki siapa-siapa "
" saya "
" saya "
" masih banyak hal yang harus saya selesaikan hari ini "
" bila semua bisa saya selesaikan dengan cepat, saya pasti akan segera kembali ke sini "
" tapi "
__ADS_1
" untuk saat ini, saya sangat membutuhkan kamu memberikan informasi apapun kepada saya " ucap Dimas serius dengan permintaannya menatap manik mata Hana yang terlihat sangat bening dan indah.
" kenapa bapak tidak menghubungi isterinya ? " tanya Hana dengan hati-hati
" Farel masih single, dia juga masih perjaka " ucap Dimas dengan menahan senyuman
" Oh "
" maafkan saya, pak " ucap Hana merasa tidak enak, sembari menekan pelipisnya untuk menutupi wajahnya yang sudah merona menahan malu.
" Oh"
" tidak apa-apa "
" dia " memang terlihat lebih tua dari usianya " ucap Dimas yang masih menahan diri untuk tidak tertawa
" bagaimana, Hana"
" saya memohon kepada kamu, Hana "
" tolong, bantu lah saya untuk menjaga Farel malam hari ini "
" setelah malam ini, sata akan menjaga Farel sembari menunggu Farel pulih dari sakitnya " ucap Dimas lagi yang masih dengan raut wajah yang memelas
Hana masih mempertimbangkan permintaan Dimas, namun dia juga merasa tidak enak mengabaikan ucapan kakak perempuan nya yang meminta Hana segera pulang jika urusannya sudah selesai.
" bagaimana yah , pak "
" kakak saya sudah mengatakan bahwa saya harus segera pulang jika pihak keluarga tuan Farel sudah ada "
" lagipula, saya masih ada tugas dari dosen yang harus saya selesaikan malam ini "
" dan "
" besok hari, saya ada part time di coffee shop " ucap Hana pada lawan bicaranya
" izinkan saya bertemu dengan kakak perempuan kamu, Hana "
" saya yang akan meminta izin kepadanya agar dia memberikan izinnya untuk membantu saya " ucap Dimas yang masih bersikukuh untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh Dimas.
Kakak perempuan Hana segera datang menemui adik yang masih berada di dalam ruangan Intensive Coronary Care Unit. Kedatangan kakak perempuan Hana membuat Dimas harus memutar otak untuk bisa mengarang indah cerita yang akan membuat Hana dan kakak perempuan Hana merasa tersentuh, dan pada akhirnya bersedia membantu Dimas untuk merawat Farel selama berada di rumah sakit.
Mungkin di masa sekolah Dimas tinggi nilai bahasa Indonesia, di sub tema mengarang, sehingga mampu menghipnotis Hana dan kakak perempuan Hana dengan menjual tema cerita the lifestyle of Farel, dan tentang perjalanan hidup Farel, dengan beberapa hal di hiperbola sehingga mampu menyentuh rasa sosial Hana dan kakak perempuan Hana.
Hana sendiri terkejut ketika sang kakak meminta Hana untuk tetap tinggal, membantu Dimas untuk menjaga Farel. Kakak perempuan Hana bahkan telah meninggalkan Hana setelah beberapa waktu lalu sebelum Dimas yang juga pergi meninggalkan Hana yang akan berjaga di depan ruangan Intensive Coronary Care Unit.
Namun Dimas sudah menuntaskan segala urusan administratif rumah sakit, menandatangani berkas-berkas yang diberikan oleh pihak rumah sakit sebagai bukti bahwa keluarga tidak menolak atas segala apapun dari tindakan yang diberikan oleh dokter dan paramedis, dan tidak menolak dengan segala pemeriksaan yang harus dilakukan untuk penanganan medis pasien.
Bahkan Dimas sudah menyiapkan kamar rawat inap VVIP dengan kualitas pelayanan terbaik dari rumah sakit ini, untuk Farel tempati ketika Farel sudah siuman dari tidur panjangnya. Dimas juga sudah memenuhi kebutuhan Hana, baik makanan, pakaian, dan lain sebagainya sebagai ucapan terimakasih akan kebaikan Hana yang bersedia membantu Dimas.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
❤️❤️