
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
Dimas memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk Farel, menyelesaikan segala urusan administratif rumah sakit dimana Farel di rawa saat ini. Bahkan Dimas sudah menyiapkan ruangan VVIP yang terbaik untuk Farel tempati setelah Farel berhasil melewati fase kritis nya, yang masih membutuhkan observasi di ruangan khusus Intensive Coronary Care Unit.
Dimas juga telah menandatangani semua berkas-berkas penting yang harus ditandatangani oleh pihak keluarga. Karena Dimas takut jika dia sudah meninggalkan rumah sakit, masih ada berkas yang tertinggal yang akan menghambat penanganan medis dari medis dan paramedis berikan, sedangkan Dimas sendiri memiliki kepentingan yang memiliki nilai urgensi yang sama seperti Farel.
Bukannya tidak peduli pada adiknya sendiri, akan tetapi bila kepentingan perusahaan tidak segera ditangani oleh Dimas akan menyebabkan perusahaan akan kehilangan kesempatan besar untuk memenangkan tender besar yang akan memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Dimas tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan besar seperti ini. Perusahaan mendapatkan keuntungan, Farel mendapatkan perawatan, semua bisa terkendali, oleh karena itu Dimas memanfaatkan skill-nya dalam negosiasi agar perempuan bernama Hana bisa mendampingi Farel selama di rawat, dan kakak perempuan Hana memberikan izin kepada adiknya untuk membantu Dimas menjaga adiknya, bravo sekali bukan akal Dimas bekerja sangat baik dalam memberikan keuntungan pada dirinya sendiri.
Beberapa kesempatan Dimas menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah sakit dimana sang adik berhasil melewati fase kritis nya, sehingga Farel sudah dipindahkan ke dalam ruangan rawat inap yang memiliki fasilitas terbaik yang diberikan oleh pihak rumah sakit kepada pasien dan keluarga pasien, terbukti Hana yang juga merasa nyaman , meskipun menjaga Farel yang masih betah untuk memejamkan kedua matanya.
Farel mampu membuka kedua matanya satu hari setelah dia sempat mengalami kejang di dalam ruangan khusus Intensive Coronary Care Unit. Pagi menjelang siang hari ini Farel kembali membuka kedua matanya, setelah sebelumnya hanya melihat siluet tubuh seorang wanita yang berada di dekat dirinya.
Namun tidak untuk saat ini, Farel bisa melihat dengan jelas wajah dan bentuk tubuh wanita yang selalu menemani dirinya selama di dalam ruangan VVIP ini,
" apa yang kamu rasakan " ucap Hana setelah dokter melakukan rangkaian pemeriksaan pada Farel, yang hanya gelengan kepala saja yang diberikan Farel, bahwa dia tidak tahu apa yang dia rasakan. Dan terlalu malas bagi Farel untuk membuka mulutnya untuk berbicara. Tubuhnya masih terlalu lemah, dan terasa sedikit sakit ketika mencerna ucapan dari orang lain yang mengajak dirinya bercerita.
Semakin lama, kondisi Farel semakin membaik, apalagi setelah Farel mendapatkan terapi yang terbaik sesuai dengan permintaan Dimas selaku pihak keluarga yang tidak mempermasalahkan biaya yang akan di tanggung pihak keluarga yang terpenting adalah kondisi Farel semakin membaik saja itu sudah lebih dari cukup.
Selama kurang lebih tujuh hari Farel mendapatkan perawatan medis, Farel mengalami banyak sekali perkembangan ,namun tidak dengan ingatannya yang sama sekali tidak mengingat siapapun, saat Dimas mengatakan bahwa dirinya adalah kakak laki-laki Farel, akan tetapi Farel menolak untuk berbicara dengan Dimas, malah meminta Hana untuk mendekati dirinya karena merasa asing dengan Dimas.
Farel juga melupakan semua orang - orang di masa lalunya, bahkan dia sendiri tidak tahu siapa dirinya, apalagi kenangan-kenangan di masa lalu nya yang seakan-akan hanya lah butiran debu, yang tidak berarti apa-apa. Farel juga seakan-akan terlahir kembali, dan Dimas merasa mungkin ini lebih baik, dan tidak terlalu buruk, yang penting fisik Farel tidak ada kekurangan satu apapun.
Dimas agak terkejut ketika dia datang untuk berkunjung melihat tingkah Farel yang seperti seekor anak itik pasca menetas, dimana ketika Farel terbangun dari koma nya pertama kali siluet wajah, dan tubuh Hana. Keesokan harinya Farel juga hanya melihat Hana yang menemani dirinya. Iya, Farel terbangun dari tidurnya ketika di sepertiga malam dimana Hana yang tertidur dengan pulas di atas kasur keluarga pasien yang juga tersedia di dalam ruangan rawat inap yang Farel.
Farel bahkan memandangi wajah cantik Hana yang masih tetap menutup kedua matanya karena tertidur dengan pulas, tanpa sadar Farel menyunggingkan senyuman di wajah tampannya
" my wife " sebuah kata yang terlintas di dalam otaknya, dan menjadi kata pertama, wajah pertama yang Farel tandai sebagai miliknya.
Hingga secara perlahan-lahan Farel kembali tertidur dengan sendirinya, namun ternyata kali ini Hana yang terjaga dari tidurnya, Hana segera bangun dari tidurnya, kemudian langsung membersihkan tubuh nya, untuk melaksanakan ibadah wajib dua rakaat nya. Setelah itu Hana mendekati ranjang pasien untuk mengecek kondisi Farel, apakah dia sudah nyaman atau tidak, apalagi tubuh Farel masih terpasang cairan infus, dan alat bantu untuk bernafas.
Hana memperbaiki selimut yang membungkus sebagian tubuh Farel yang sedikit tidak rapi, yang Hana kira akibat dari seorang perawat yang melakukan pengecekan rutin pada pasien yang berada di dalam ruangan rawat inap.
Padahal hal itu akibat dari pergerakan yang Farel ketika dia baru saja kembali membuka kedua matanya. Aroma tubuh Hana tercium sangat jelas di indera penciuman Farel yang baru saja memejamkan lagi kedua matanya. Gerakan tangan Hana yang menyentuh lengan bagian atas dan lengan bagian bawah Farel , hal itu dilakukan oleh Hana untuk memberikan pijatan halus, agar rasa kebas yang akan Farel rasakan ketika dirinya terbangun tidak terlalu terasa.
Karena Hana pernah merasakan nikmatnya ketika jarum infus menusuk di bawah kulit pada salah satu punggung telapak tangannya, dan itu tidak nyaman setelah beberapa hari di rawat, oleh karena itu lah Hana berinisiatif seperti yang dia lakukan saat ini. Tanpa Hana ketahui bila Farel merasakan sentuhan pijatan itu kembali menyentuh relung hatinya.
Hanya Hana yang peduli dengan dirinya, hanya Hana yang memberikan perhatian dengan merawat dirinya yang saat ini terbaring lemah tidak berdaya, Farel ingin membuka kembali kedua bola matanya, akan tetapi neuro transmitter atau senyawa kimia yang bekerja sebagai pengantar stimulus atau pesan berupa rangsangan ke sel-sel saraf, baik di otak maupun di otot tidak berjalan dengan baik, sehingga Farel tetap tertidur, dan semakin tertidur.
Hal itu terjadi, mungkin karena tubuh Farel lebih membutuhkan tidur untuk memulihkan kembali tubuhnya, yang artinya respon tubuh Farel cukup baik. Walaupun dua hari yang lalu tepatnya di waktu sore dua hari yang lalu Farel mengalami serangan yang belum diketahui oleh dirinya dan pihak keluarga apa yang terjadi, karena dimas belum menemui dokter yang merawat Farel selama dalam perawatan medis di rumah sakit ini.
Dimas bukannya tidak peduli dengan adiknya. akan tetapi ada hal penting yang harus dia urus apalagi dengan kondisi Farel seperti ini, yang artinya pekerjaan Farel dilimpahkan kepada dirinya juga.
Pukul 09. 15 , Dimas tiba di ruangan rawat inap Farel. Dimas membawa banyak makanan untuk di makan Hana selama menemani Farel. Bahkan Dimas memberikan banyak pakaian pada Hana, sehingga segala kebutuhan Hana sangat tercukupi selama menemani Farel di dalam proses pemulihan dalam perawatan medis.
Ternyata dokter yang bertanggung jawab terhadap Farel sedang melakukan visitasi bersama dua orang perawat yang akan mencatat perkembangan, dan salah seorang perawat menjelaskan apa saja tentang perkembangan pasien mengenai vital sign atau yang sering dikenal dengan catatan tekanan darah terakhir setelah dilakukan pemeriksaan. Suhu tubuh, an terapi obat apa saja yang sudah didapatkan oleh pasien, sampai berapa kolf atau botol yang sudah habis masuk ke dalam tubuh pasien.
" bagaimana, nona "
" apakah tuan Farel sudah kembali terjaga selama dalam ruangan rawat inap ini ? " tanya dokter kepada Hana, yang hanya dijawab Hana dengan gelengan kepala saja.
Namun gerakan dokter yang akan memeriksa detak jantung Farel, dengan dokter sedikit membuka pakaian pasien, dan meletakkan stetoskop membuat Farel membuka kedua matanya, apalagi aroma parfum di tubuh sang dokter berbeda dengan aroma yang biasa dia resapi membuat Farel merasa tidak suka.
Bahkan respon Farel yang menyingkirkan tangan dokter yang masih betah di dada sebelah kiri membuat Farel sedikit kesal.
" maafkan aku, tuan "
" saya dokter Fahrezi " ucap dokter itu memperlihatkan diri kepada Farel, namun Farel tidak memberikan respon yang baik kepada dokter tersebut, tatapan Farel tidak berpindah dari wajah Hana
__ADS_1
" Oh " ucap dokter melihat arah pandangan mata Farel
" nona "
" silahkan anda mendekat ke sisi tuan Farel "
" sepertinya tuan Farel merasa nyaman jika nona berada di dekatnya " ucap dokter yang membuat Hana terkejut, padahal ada Dimas juga yang berada di dalam ruangan rawat inap Farel.
" a a-aku " ucap Hana terbata-bata, karena mungkin saja Hana salah pendengaran
" mendekat lah di sisi Farel, Hana "
" sejak tadi abang juga merasa bila pandangan mata Farel tertuju pada dirimu "
" bukan hanya dokter saja yang bisa melihatnya " ucap Dimas yang mendapatkan anggukkan kepala dari orang lain yang juga berada di dalam ruangan rawat inap ini.
" t - tapi "
" Hm, baiklah " ucap Hana dengan pasrah ketika semua orang menjadikan Hana pusat pandangan.
" Hm "
" tolong nona katakan kepada tuan Farel, bisakah saya mulai melakukan pemeriksaan terhadap tubuhnya "
" karena tuan Farel menolak saya melakukan pemeriksaan " ucap dokter, yang berupaya bernegosiasi dengan Farel melalui Hana.
Dengan terpaksa Hana mulai bernegosiasi dengan Farel agar Farel tidak lagi memberikan respon penolakan terhadap apa yang akan dilakukan oleh dokter dan paramedis. Dimas terkejut, ketika Farel memberikan anggukan kepalanya ketika Hana berbicara dengan Farel yang tidak terlalu lembut juga nada suaranya, malah terdengar canggung, apalagi Farel yang langsung menggenggam telapak tangan Hana, yang sudah beberapa kali Hana melakukan penolakan, namun Farel menahannya untuk tetap berada di sisinya.
" Hana "
" tidak apa-apa " ucap Dimas ketika Hana masih berusaha melepaskan tautan tangan dia dan Farel.
Farel juga sudah merespon pertanyaan dokter ketika dokter menanyakan kondisi tubuh yang Farel rasakan, Keluhan apa yang ingin Farel sampaikan. Sampai pertanyaan-pertanyaan random mengenai siapa namanya, berapa umur nya, siapa nama ayah dan ibu, berserta berapa bersaudara, dan nama - nama saudaranya.
Yang ke semua pertanyaan itu tidak mampu dijawab oleh Farel, membuat Farel tidak nyaman, terlihat dari respon Farel yang semakin mempererat genggaman tangannya dengan Hana, meminta Hana untuk mendekati dirinya, sehingga tubuh Farel dan hana tanpa jarak, karena rapat nya Farel pada tubuh Hana.
Dokter Fahrezi hendak mengatakan diagnosis nya selama Farel di rawat inap, akan tetapi Dimas meminta dokter Fahrezi untuk memberikan penjelasan tentang diagnosis dokter nanti saja, karena Dimas ingin suasana yang lebih private menyangkut penyakit yang di derita oleh Farel.
Tentu saja dokter Fahrezi menyetujui permintaan itu, karena itu adalah hak pasien dan keluarga pasien jika tidak ingin riwayat penyakit di ketahui oleh orang lain kecuali orang-orang terdekatnya Farel.
Akan tetapi tidak sekarang waktunya, karena dokter Fahrezi masih di jam tugas nya untuk melakukan visitasi ke seluruh ruangan dimana para pasien yang dia rawat, dan dia yang bertanggung jawab selama pasien di rawat inap di rumah sakit ini.
Dengan berat hati Dimas terpaksa menyetujui hal itu karena Dimas berusaha mengerti tugas dokter, Dimas mungkin memanfaatkan waktu tunggu nya dengan sarapan bersama Farel dan juga Hana. Apalagi ketika Dimas melihat piring berbahan stainless steel yang memiliki banyak sekat, dan kalau petugas gizi rumah sakit menyebutnya dengan nampan/ompreng rumah sakit, sebagai wadah untuk masakan yang di kelola oleh bagian gizi rumah sakit.
Namun, niat Dimas yang bisa makan bersama, tidak terealisasi karena begitu over protective terhadap Dimas yang mengajak Hana untuk berkomunikasi, minta ini, minta itu, bukan yang ini, bukan yang itu, membuat Hana pusing apa maunya Farel, sedangkan Dimas yang melihat tingkah laku Farel, berusaha menahan diri agar tidak melepaskan suara tertawa nya, jika tidak mau kena usir Farel.
Bagaimana Dimas mengetahui nya. Hal itu cukup mudah, karena sejak sedari tadi Farel memberikan tatapan permusuhan terhadap Dimas. Dan Dimas suka sekali melihat ekspresi wajah Farel seperti ini yang sudah lama tidak pernah dilihat Dimas sejak Farel mengetahui kebobrokan keluarga mereka, dan keburukan mantan kekasih Farel.
" aku lapar " ucap Farel dengan manja kepada Hana. Tentu saja Hana malu mendengar ucapan Farel yang sudah tentu terdengar juga oleh Dimas
" ya sudah, Hana "
" abang meminta tolong kepada kamu untuk menyuapi calon suami kamu itu " ucap Dimas sedikit menggoda Farel, namun perkataan Dimas membuat Hana menjadi salah tingkah, bahkan rona wajahnya bewarna merah pertanda Hana menahan malunya
" Honey " ucap Farel tanpa malu, sekarang rona wajah Hana kian memerah saja menahan malu yang luar biasa.
Sedangkan Dimas memuntahkan suara tertawa, karena dia sungguh tidak lagi mampu menahan rasa yang menggelitik di perut nya
" Hana " ucap Dimas yang sudah tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya lagi.
__ADS_1
" Honey " ucap Farel lagi tanpa malu
Dengan susah payah, Hana menahan dirinya. Hana segera mengambil ompreng yang berisi menu masakan khusus pasien. Hana pula segera memberikan suapan demi suapan masuk ke mulut Farel, yang sesekali di jeda dengan memberikan Farel air mineral.
" mulut aku kok, sakit sekali "
" terasa sangat pegal " ucap Farel ketika Hana memberikan suapan kedua.
" iya "
" tapi abang harus menghabiskan makanannya " ucap Hana dengan sabar
" tapi "
" mulut nya capek, terus terasa perih, tidak tahu kenapa "
" makanya aku malas untuk makan, walaupun perut aku lapar, Honey " ucap Farel dengan manja
" bang " ucap Hana kepada Dimas yang sedang menikmati menu sarapan pagi nya
" iya "
" nanti abang akan tanyain ke dokter nya " ucap Dimas yang sudah meminum air mineralnya setelah mengunyah makanan.
" dia, siapa "
" Honey " tanya Farel merapat ke tubuh Hana
" jangan banyak ngomong "
" habis ini "
" abang harus bersihkan diri, sikat giginya "
" bau, atuh " ucap Hana yang sudah menutupi hidungnya.
" bau " ucap Farel mengulangi ucapan Hana, kemudian Farel mendekatkan telapak tangan ke hidung nya
" bau " ucap Farel yang hendak menangis
'' iya "
" makanya, habiskan terlebih dahulu makanannya, nanti sikat giginya biar tidak bau " ucap Hana, akan tetapi Farel menggelengkan kepala nya, tidak satu pendapat dengan Hana
Akhirnya Dimas harus memanggil perawat laki-laki untuk membantu Farel membersihkan tubuh, mandi, sikat gigi, dan menganti pakaiannya dengan pakaian yang baru. Sehingga terlihat wajah Farel yang sudah menjadi sangat tampan, membuat Hana malu karena sempat tertegun menatap wajah Farel yang sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.
*
*
*
*
*
*
❤️❤️
__ADS_1