
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Kedatangan keluarga Humaira dan Hana di dalam ruangan rawat inap Farel membuat Humaira berpikir keras, siapa kah Dimas ini. Karena bisa begitu terlihat cukup dekat dengan dengan keluarga mereka berdua.
kakak laki-laki Humaira dan Hana menyapa Dimas dengan kata " tuan "
tunggu, maksud nya ini apa ?
Humaira menatap Dimas, yang secara kebetulan Dimas mengalihkan pandangannya ke arah Humaira juga, sehingga mereka saling bertatapan.
Dimas masih memberikan Humaira senyuman manis yang terlihat seperti senyuman devil bagi Humaira. Membuat Humaira semakin bergidik ngeri, siapa kah orang ini. Bisa-bisanya selangkah lebih dahulu dari apa yang direncanakan oleh Humaira
" hei "
" ada apa dengan kalian " ucap pamannya Hana
" mungkin masih terkejut dengan kedatangan kita, suamiku " ucap bibi Hana yang datang mendekati Hana
" salim ke ayah dan ibu kek, Hira "
" ini hanya bengong aja sedari tadi " ucap kakak ipar Humaira dan Hana
Baik Hana maupun Humaira segera menyalami satu persatu anggota keluarga mereka berdua dengan penuh takzim
" terimakasih "
" atas segala yang tuan berikan kepada kami sekeluarga "
" semua akomodasi dan lainnya " ucap ayah untuk membuka percakapan ketika mereka semua duduk di sofa yang ada di dalam ruangan rawat inap Farel
" Oh "
" sama-sama, ayah " ucap Dimas merendah untuk menghormati sosok ayah
" alangkah baiknya, jika ayah hanya menyapa saya dengan nama saja "
" Dimas "
" atau nak Dimas boleh juga " pinta Dimas dengan sopan. Tentu saja respon keluarga dari Humaira dan Hana sangat welcome, karena sosok Dimas terlihat sopan dan santun yang sudah menjadi nilai positif jika mereka bisa mempererat hubungan silaturahmi ini ke arah yang lebih baik, pernikahan misalnya.
Apalagi Dimas sempat mengutarakan maksud kedatangannya beberapa hari yang lalu di kota kelahiran Hana. Meminang Hana untuk adiknya yang mengalami sakit yang harus di rawat di rumah sakit.
Dan entah apalagi yang diceritakan oleh Dimas sehingga pihak keluarga Hana menyetujui rencana pernikahan Hana dan Farel.
Ayah Hana melihat bagaimana tingkah laku Farel dan perlakuan Farel kepada Hana, begitu pula dengan ibunda Hana dan para anggota keluarga yang lainnya.
" Bagaimana, ayah " ucap Dimas tanpa basa-basi lagi
" Kalau ayah, dan keluarga memberikan kesempatan untuk Hana memilih "
" Untuk melanjutkan hubungan mereka ke arah yang lebih serius atau bagaimana " ucap ayah Hana
" Ayah "
" Hana masih harus menyelesaikan pendidikan nya terlebih dahulu "
" Kalau Hana tidak fokus, nanti beasiswa Hana akan di cabut dari pihak kampus " ucap Humaira berusaha memprovokasi sang ayah
" Ayah dan keluarga bisa tenang kok untuk biaya pendidikan Hana setelah menikah dengan Farel "
" Jika memang beasiswa Hana di cabut karena nilai Hana menurun atau karena apa "
" Farel sangat mampu menguliahkan Hana sampai selesai "
" Pihak keluarga tidak perlu memusingkan biaya pendidikan Hana " ucap Dimas
" Kasihan Hana jika kita tidak menyegerakan pernikahan mereka, ayah "
" Seperti yang ayah lihat sendiri, sejauh mana hubungan mereka berdua "
" Daripada ayah dan keluarga malu, begitu pula dengan saya sebagai kakak Farel "
" Alangkah baiknya kita merestui hubungan mereka dan mereka bisa bebas melakukan apa saja, tanpa kita merasa was-was "
" Terutama Hana perempuan, merantau pula, kan ayah bisa jauh lebih tenang karena sudah ada Farel yang menjaga Hana " ucap Dimas
Dimana ucapan Dimas membuat Humaira sampai melongo, sedangkan Dimas dengan santainya masih berbincang-bincang hangat dengan anggota keluarga Humaira dan Hana. Humaira sampai tidak bisa berkata-kata sangking pintar nya Dimas bersandiwara. Seharusnya Dimas menjadi aktor saja, karena acting Dimas sangat natural sekali.
Kesepakatan didapatkan dengan hasil yang sesuai dengan keinginan Dimas, tentu saja membuat Dimas puas dengan hasil kerja keras dirinya yang mampu bernegosiasi dengan baik. Walaupun sesekali Dimas menatap wajah Humaira yang nampak tidak terima dengan keputusan yang sudah ditetapkan oleh kedua belah pihak keluarga.
Mau tidak mau baik Humaira maupun Hana hanya bisa pasrah, apalagi saat sang ayah bertanya kepada dirinya mengenai lamaran dari Farel yang masih begitu sangat cepat bagi Hana. Namun masih bisakah Hana menolak, ketika semua anggota keluarga mendukung Farel, apalagi Farel yang menempel di tubuh Hana, dan tidak mau bergeser satu inchi pun ketika Hana sedikit memberikan ruang atau jarak diantara mereka.
Farel enggan untuk menjauhi Hana, bahkan tangan nya tidak berdiam di tempat, selalu menyentuh tubuh Hana, entah lengan, entah telapak tangan, terkadang area sedikit sensitif Hana. Dan itu disaksikan oleh anggota keluarga Hana, ingin marah bagaimana lagi , saat ini acara lamaran dari pihak laki-laki.
" Bagaimana, Hana "
" Apakah kamu menerima Farel menjadi calon suami kamu " ucap sang ayah
" Iya, ayah " ucap Hana dengan pasrah
" Baik "
" Kapan anda dan Farel merencanakan pernikahan " ucap sang ayah
" Malam hari ini juga " ucap Dimas membuat seluruh anggota keluarga Hana yang hadir membulatkan mata mereka
" Iya , malam hari ini " ulang Dimas kembali ketika semua orang seakan-akan tidak percaya dengan ucapan Dimas
" Tidak bisa seperti itu, pak "
" Kalau secepat ini, seolah-olah adik saya mengalami kecelakaan " ucap Akmal
__ADS_1
" Maksudnya "
" Farel dan Hana melangsungkan akad nikah terlebih dahulu malam hari ini "
" Mereka bisa sah secara agama dan hukum "
" Selanjutnya akan kita adakan resepsi pernikahan di kota kelahiran dan tempat tinggal kalian, atau di gedung hotel juga tidak masalah "
" Saya sudah mempersiapkan semuanya "
" Kamu tahu kan hotel H di jalan X, itu adalah milik keluarga saya "
" Dan kita tinggal tunggu semua hasil cetakan undangan selesai dua hari lagi " ucap Dimas
" Aku hanya takut, Akmal " ucap Dimas terdiam sebentar
" Lihat lah mereka "
" Untuk menunggu dua hari lagi, tentu akan sulit bagi mereka "
" Aku takut Hana akan dirugikan di sini " ucap Dimas yang mendapatkan anggukkan kepala dari semua orang. Sedangkan tersangka utama hanya mempererat belitannya di tubuh Hana.
" Anda benar, tuan Dimas " ucap ayah
" Dimas saja, ayah " complain Dimas
" Iya, Dimas "
" Baik, ba'da magrib kita akan melangsungkan akad nikah, dan dilanjutkan perayaan kecil dan berdoa bersama setelah ba'da isya " ucap ayah dan mendapatkan anggukkan kepala dari Dimas
" Alhamdulillah " ucap semua orang kecuali Humaira dan Hana
Mereka berdua nampak begitu kecewa, ingin mengatakan kebenaran akan apa yang terjadi, terlalu beresiko, apalagi melihat cara anggota keluarga mereka memperlakukan Dimas dengan sangat baik. Alasan yang akan Humaira sampaikan akankah di terima oleh keluarga mereka.
" Kamu kenapa, Hira " tanya ibu
" Kamu tidak perlu khawatir "
" Kata Dimas, Farel sudah mempersiapkan pelangkah untuk kamu " ucap ayah sembari menggenggam tangan anaknya
" Bukan karena itu "
" Ayah "
" Ibu " ucap Humaira
" Kalau pun tidak saat ini, entah kapan pun "
" Bila jodoh Hana datang lebih cepat dari jodoh Hira "
" Hira ikhlas, Hira ridho menerimanya "
" Cukup seperangkat alat sholat saja sudah cukup "
" Hanya saja " ucap Humaira terhenti menatap ke arah Dimas yang juga menatap Humaira dengan dalam
" Apakah ayah dan ibu menerima Farel sebagai imam untuk Hana " ucap Humaira
" Oh "
" Itu, alasan yang membuat kamu nampak begitu sedih. Sejak sedari tadi kamu pelanga pelongo aja " ucap ibu dengan tertawa
" Dimas ini, ternyata anaknya almarhum Riskha "
" Itu loh pemilik toko kelontong di dekat kita itu, nak "
" Ada ruko enam pintu itu " ucap ibu lagi
" Dulunya itu rumah Dimas, waktu masih kecil, akan tetapi mereka pindah "
" Sejak saat itu ibu tidak pernah bertemu lagi dengan Riskha "
" Dimas baru bilang, ternyata teman pengajian bunda sudah meninggal dunia sejak lama " ucap ibu
" Lagi pula Dimas dan Akmal juga dulunya teman sepermainan "
" Hanya saja, abang kamu ini ternyata kerja di cabang perusahaan nya Dimas " ucap ibu lagi
" Sedikit banyak, ibu dan ayah tahu lah bagaimana Dimas dan juga Farel " ucap Ibu
" Farel itu jahil, suka sekali membuat kamu menangis waktu kecil, tentu saja kamu tidak ingat, karena kamu masih tiga tahunan saat itu " ucap ibu lagi memberikan penjelasan bagaimana bisa keluarga Humaira dan Hana menerima Farel sebagai calon suami Hana. Dan tanpa mempertanyakan pertemuan mereka apalagi sesingkat ini.
" Hm "
" Itu kan sudah lama, ibu "
" Orang akan berbeda ketika dewasa "
" Dan "
" Hana juga Farel baru saja bertemu, agak aneh jika kalian menyetujui pernikahan ini secepat ini " ucap Humaira masih berusaha meyakinkan keluarga nya untuk memikirkan kembali pernikahan
Semua anggota keluarga Humaira dan Hana terdiam dengan ucapan Humaira, ada kebenaran dari ucapan Humaira. Memang terkesan terburu-buru, hanya berdasarkan pengakuan Dimas tentang Hana dan Farel, tanpa melihat ke hal-hal yang lebih spesifik.
Kalau pun sudah tahu latar belakang keluarga Farel, minimal tahu tentang sifat-sifat Farel. Karena terlalu cepat memutuskan, tentu saja hal ini harus lebih dipikirkan secara matang.
" Enak lauk di kunyah - kunyah, enak kata diperkatakan, ayah " ucap Humaira, sekali lagi mencoba membuat ayahnya untuk kembali mempertimbangkan lagi keputusan mereka yang kelak takut di sesali oleh kedua orang tua dan keluarga mereka. Karena perkara menikah bukan lah perkara singkat, akan bertahan sampai ajal menjemput, kalau bisa.
Humaira meminta agar keluarga mereka merundingkan kembali keputusan ini. Sungguh Humaira bukan merasa iri, atau menyimpan penyakit hati lainnya. Humaira terlalu menyayangi Hana, Humaira tidak menginginkan hal buruk menimpa adik nya.
Dimas mengeram menahan gejolak emosi ketika mendengarkan segala ucapan Humaira dalam upaya menolak pernikahan antara Farel dan Hana, yang lebih tepatnya menyelamatkan Hana dan dirinya dari jeratan dua bersaudara menyebalkan ini.
__ADS_1
Namun sebisa mungkin Dimas harus menahan emosi agar tidak meledak, karena hanya akan menyebabkan kegagalan akan rencana yang sudah Dimas atur sedemikian rupa agar adiknya Farel bisa menikah dengan Hana, dan Dimas bisa lebih konsentrasi mengurus perusahaan.
Sedangkan Farel akan Dimas percayakan kepada Hana untuk mengurusi segala keperluan Farel. Satu dayung dua tiga pulau terlampaui, sungguh rencana yang matang . Oleh karena itu Dimas harus mampu menahan dirinya, dan mencari celah untuk membantah ucapan Humaira, walaupun di setiap ucapan Humaira benar adanya, akan tetapi pasti ada celah untuk merusak kalimat yang dikemas apik Humaira.
" Ikan di laut, asam di gunung, bertemu dalam belanga " ucap Dimas, yang memiliki arti " biarpun tinggal berjauhan, kalau sudah jodoh akan menjadi suami istri.
Satu pepatah lama yang pernah dia dengar dari salah satu sahabat yang suka dengan syair, ketika Dimas memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan seorang wanita, karena wanita itu lebih memilih meniti karier dari pada bertahan di sisi Dimas.
Pihak keluarga semakin pusing memikirkan semua kalimat baik dari Humaira dan Dimas yang saling bersahutan mempertahankan pendapat mereka masing-masing.
Namun di saat serius seperti itu, Farel yang tidak tahu diri menjelajahi bagian tubuh yang membuat Farel suka, namun tidak disukai oleh keluarga Hana. Itu terlalu plus plus
Kedua orang tua Humaira dan Hana saling bertatapan. Dengan anggukkan kepala, mereka berdua sepakat untuk memutuskan satu keputusan, yaitu menyetujui permintaan Dimas untuk menikahkan Farel dan Hana.
" Hira " ucap ibu sambil mengelus-elus punggung Hana
" Mengerti lah "
" Baik ayah maupun ibu, memikirkan hal yang paling terbaik untuk anak-anak "
" Bunda tidak ingin karena keegoisan kita menunda pernikahan Hana dan Farel "
" Lihat lah mereka " ucap ibu mengalihkan pandangannya ke arah Farel dan Hana yang membuat Humaira pun mengalihkan pandangannya ke arah yang sama
" Bagaimana kamu "
" Ibu, ayah, dan lainnya bisa menghalangi mereka "
" Kita hanya akan berdosa jika sampai mereka berbuat dosa " ucap ibu menjeda ucapan
" Kita dari pihak perempuan, Hira "
" Kita yang akan dirugikan, dan kita akan malu "
" Seluruh keluarga kita akan malu untuk jangka waktu yang lama, bahkan mungkin hingga ibu dan ayah meninggal, aib itu akan tetap kami bawa, nak " ucap ibu dengan pelan dan Humaira mendengarkan ucapan ibunya dengan seksama
" Apakah kamu merestui pernikahan adik kamu Hana, Hira " ucap ibu menatap wajah cantik anak perempuan sulungnya.
Humaira terdiam sejenak, sungguh berat bagi dia untuk mengiyakan permintaan ibu, dan berat untuk menolak. Humaira di titik paling bimbang dalam hidup nya.
" Ibu "
" Sungguh aku menyayangi adikku "
" Kebahagiaan Hana adalah kebahagiaan aku "
" Kesedihannya adalah kesedihan aku "
" Aku merestui pernikahan Farel dan Hana "
" Asal Farel berjanji akan selalu membahagiakan Hana, menyayangi Hana, menjaga Hana " ucap Humaira dengan berurai air mata, membuat semua orang bungkam, dan Hana ikut menangis, mencoba untuk mendekati Humaira, namun dihalangi oleh Farel yang tidak ingin Hana menjauh dari dirinya barang satu jengkal pun.
" Bagaimana, Farel " ucap ibu
" Hm "
" Aku menyayangi Hana "
" Hidup aku adalah Hana "
" Dunia aku , dunianya Hana " ucap Farel
" Kamu berjanji ? " Ucap Humaira
" Hm "
" Apa itu berjanji " ucap Farel tidak mengerti maksud Humaira dengan kata berjanji yang cukup baru untuk dia mengerti.
" Hira "
" Jangan paksa Farel berfikir terlalu keras "
" Dia sudah berusaha keras untuk menghafal kalimat akad "
" Please "
" Aku rasa kamu paling tahu dengan kondisi Farel dari pada kami yang bukan orang medis " ucap Dimas memperingati Humaira namun di kemas dengan kelembutan dalam tutur bahasanya.
" Aku hanya takut, Jika ingatan Farel pulih, dia akan melupakan Hana " ucap Humaira dengan lirih
" Tugas kita bersama untuk memberikan Farel penjelasan, memberikan bukti bahwa di masa dia sakit, dia lah yang meminta Hana untuk menikah dengan dirinya. "
" Dan aku tidak akan melepaskan Hana untuk di sakiti, walaupun itu adikku sendiri. Apalagi perjuangan Hana menyelamatkan Farel saat itu hingga saat ini masih sangat berharga bagiku, dan akan aku ingat. Oleh karena itu, jika kamu tidak mau memandang Farel, tidak apa "
" Aku yang akan berjanji untuk melindungi Hana " ucap Dimas dengan tegas.
Semua orang kembali terdiam menanti jawaban dari Humaira. Bunyi jarum jam berdetak, sangat terdengar, sangking hening kondisi di dalam ruangan rawat inap Farel, padahal di huni banyak orang.
Semua orang masih terdiam, menyelami perasaan melalui manik mata, menanti jawaban Humaira yang masih setia memejamkan kedua matanya. Helaan nafas Humaira, membuat semua orang berdebar-debar, akankah Humaira menyetujui pernikahan Farel dan Hana yang akan berlangsung malam ini. Atau akan menolak pernikahan ini, dan mengajak Hana pergi dari ruangan terkutuk ini karena telah membuat mereka terjebak dalam kondisi seperti ini.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
❤️❤️