GOD DESTINY

GOD DESTINY
5


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Humaira menatap tajam kearah kedua pria yang masih bergelut. Lebih tepatnya Dimas yang berusaha untuk menenangkan Farel yang masih berusaha untuk menemui Hana yang ada di dalam kamar mandi.


" brengsek " ucap Humaira yang sudah membawa pakaian salin untuk Hana, karena Humaira tidak ingin terlalu lama meninggalkan Hana di dalam kamar mandi. Karena Hana masih gemetaran dan tidak henti mengucapkan kalimat meminta maaf kepada Humaira, karena tindakan nya yang berusaha untuk menenangkan Farel yang berteriak-teriak histeris karena kepergian Hana, akan tetapi seperti ini yang Hana dapatkan dari Farel.


Hampir saja kesuciannya terenggut jika saja Humaira masih kekeh dengan pendiriannya untuk membawa pergi Hana dari sisi Farel.


Humaira juga menyesali dirinya kenapa tidak membawa Hana pergi saja dengan cara diam-diam jika tahu Dimas akan menahan mereka seperti ini.


Humaira berpikir dengan cepat untuk berpura-pura mengiyakan permintaan dari Dimas, setelah itu mereka akan pergi meninggalkan rumah sakit, kemudian Humaira akan mengajukan permohonan cuti untuk sementara waktu, sampai Dimas dan Farel tidak akan pernah bisa menemukan mereka berdua lagi.


Tanpa diketahui oleh Humaira jika ternyata Dimas jauh lebih licik dari yang Humaira duga. Tampang tampan Dimas yang selalu memberikan senyuman ramah, memiliki akal yang luar biasa licik. Segala sesuatu sudah Dimas perhitungan, bahkan sebelum Humaira berfikiran untuk melarikan diri walaupun Humaira sudah mengiyakan permintaan Dimas.


" ayo "


" bersikaplah biasa-biasa saja "


" setelah ini, kita akan kabur dari mereka "


" kakak juga akan mengajukan permohonan cuti untuk menyelamatkan kamu dan kakak dari mereka berdua " ucap Humaira


" lain kali "


" tidak - tidak "


" tidak akan pernah ada lagi lain kali "


" jangan memberikan bantuan kepada siapapun lagi, kita di kota orang, kita harus bisa menjaga diri kita sendiri, Hana " ucap Humaira menatap manik mata sang adik yang masih gemetaran.


" ayo " ajak Humaira


" jangan menangis "


" maafkan kakak, karena memaksakan kamu pulang, sehingga kamu mengalami hal seperti ini " ucap Humaira yang sudah menangis tanpa dia sadari


" tidak, kak "


" Hana yang bersalah " ucap Hana dengan menggelengkan kepala nya sembari sesenggukan


" oleh karena itu, berpura-pura lah "


" agar kita berdua terbebas dari mereka "


" Hm " ucap Humaira, sembari menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Hana.


Sedangkan Hana , hanya mampu menganggukkan kepalanya saja, Hana tidak lagi berani membantah ucapan sang kakak.


Inilah yang dia dapatkan ketika tidak mendengarkan nasihat dari sang kakak, dirinya hampir saja kehilangan sesuatu yang paling berharga yang dia miliki.


Tidak ada yang tersisa jika Farel berhasil merenggutnya. Oleh karena itu, Hana harus mengikuti semua arahan dari Humaira untuk bisa terlepas dari jeratan Farel dan Dimas. Ternyata wajah tampan itu memiliki sesuatu yang tersimpan sesuatu yang buruk. Baru kali ini Hana menyesali diri.


Ketika dia memberikan kebaikan, yang ternyata bisa membuat dirinya mendapatkan keburukan. Hana harus bisa memilah mana orang yang harus dia berikan pertolongan, tidak lagi seperti selama ini, yang tanpa pikir panjang memberikan pertolongan kepada siapapun tanpa pamrih.


Sedangkan Dimas masih berusaha menenangkan Farel tanpa bantuan petugas medis baik dokter maupun perawat, bagaimana pun Dimas harus menjaga nama baik keluarga besarnya, jika hal tidak baik yang di lakukan oleh Farel dan Dimas diketahui oleh orang lain.


Dimas mengigit bibir bagian bawahnya ketika tanpa sengaja menyentuh area pribadi Farel


" Farel " panggil Dimas dengan sedikit tertawa


" kamu benar-benar h.o.r.n.y " ucap Dimas masih terkekeh geli


" aku ingin "


" mana Hana "


" ini sakit " ucap Farel menekan area pribadinya. Dimas tahu maksud dari Farel yang mengatakan jika bagian area pribadi Farel yang sudah membesar itu terasa sakit meminta untuk di lepaskan


" abang akan membantu kamu untuk menenangkan nya " ucap Dimas


" tidak "


" bukan abang , tapi Hana " ucap Farel tidak terima dengan penjelasan dari Dimas


" Farel "


" mengertilah "


" untuk hari ini biarkan abang yang akan membantu kamu, sampai kamu menikah dengan Hana " ucap Dimas yang masih mencoba meyakinkan Farel yang masih berusaha berontak

__ADS_1


" abang berjanji "


" setelah kamu menikahi Hana "


" kamu bisa melakukannya dengan Hana " ucap Dimas yang masih mencoba negoisasi dengan Farel


" setiap hari " ucap Farel dengan mengernyitkan dahinya


" iya "


" setiap hari "


" setiap saat "


" terserah kamu " ucap Dimas yang sudah tidak mampu menahan suara tawanya. Dan itu menular ke Farel


" ayo "


" menikahi Hana, sekarang " ucap Farel penuh semangat, terlihat dari binar matanya


" belum bisa sekarang "


" abang sudah mengutus orang untuk menjemput kedua orang tuanya Hana "


" kamu harus mengiyakan semua ucapan abang, jika kedua orang tua Hana tiba nanti "


" agar kamu bisa menikahi Hana "


" jika tidak menurut perintah abang, kamu tidak akan bisa menikahi Hana "


" mengerti " ucap Dimas, yang mendapatkan anggukkan kepala dari Farel


" iya " jawab Farel dengan singkat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya saja, yang penting Farel segera menikah dengan Hana, kalau bisa saat ini juga. Karena Hana adalah pusat dunia nya Farel, bukan hanya sekedar keinginan yang bersifat biologis saja, akan tetapi ada kebutuhan lain yang tidak bisa Farel mengerti dan pahami apa yang dia inginkan, namun hal itu semua ada pada Hana.


Humaira sudah memiliki beberapa rencana dalam sekejap mata, mungkin terlalu kecil kemungkinannya untuk berhasil, akan tetapi lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali. Untuk dapat terlepas dari Dimas, yang penting mereka berdua dapat keluar dari ruangan rawat inap Farel sekarang juga, lebih cepat lebih baik.


Akan tetapi betapa terkejutnya Humaira ketika keluar dari kamar mandi yang ada di dalam ruangan rawat inap Farel, sudah berdiri kokoh dua orang bertubuh besar, terlihat dingin, saat tatapan mata mereka bertemu dengan Humaira. Tiba-tiba Humaira merasa jika mereka berdua salah memilih lawan


" sebentar lagi kita akan kedatangan tamu penting " ucap Dimas dengan tersenyum manis menatap Humaira, tetapi Humaira yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah Dimas, menatap senyuman Dimas tidak lagi manis seperti yang dia pikir selama ini. Ini senyuman devil yang menyiratkan betapa pandainya Dimas berkamuflase di balik senyuman.


" kalian bersikap seperti biasa saja "


" Hana "


" Farel sangat membutuhkan kamu "


" dia akan suami yang baik, apalagi kamu adalah dunianya "


" abang memohon kepada kamu, Hana " ucap Dimas mendekati Hana, dan Hana hanya terdiam tidak bergeming dari posisinya, hanya saja pandangannya menatap sang kakak untuk meminta pendapatnya, apa yang harus Hana katakan, harus di respon bagaimana ucapan yang baru saja Dimas katakan.


" Oh "


" aku mengerti " ucap Dimas dengan lembut. Dimas beralih menuju ke arah Humaira yang berdiri tidak jauh dari Hana


" Hira "


" bagaimana pendapat kamu " ucap Dimas dengan menatap manik mata Humaira dengan intens


" tolong ? "


" kami yang meminta tolong kepada kalian, tuan Dimas "


" tolong lepaskan kami " ucap Humaira sedikit mengiba, karena dengan bertindak kasar, Humaira hanya akan membahayakan mereka berdua saja. Dengan kekuasaan dan dengan kekuatan, baik Humaira maupun Hana dipastikan akan kalah.


" Humaira "


" mengertilah, semua akan baik-baik saja"


" apa sulit nya "


" Farel begitu menyayangi adik kamu " ucap Dimas, namun Humaira masih mencoba bernegosiasi dengan mengatakan penolakan, akan tetapi setelah Dimas membisikkan sesuatu di telinga Humaira yang membuat tubuh Humaira hampir limbung andai saja Dimas tidak segera menopangnya.


" wah "


" kamu benar-benar kakak yang baik, begitu penyayang "


" bukan kah seperti itu, Hana " ucap Dimas dengan sebuah senyuman yang terukir di wajah tampannya. Membuat Hana binggung harus seperti apa menanggapi ucapan Dimas, dan harus bersikap seperti apa. Hana meminta pendapat Humaira, akan tetapi Humaira hanya nge-freeze saja di tempatnya.


" Humaira"

__ADS_1


" Hana bertanya, bagaimana kenapa kamu " ucap Dimas yang di balas Humaira hanya anggukkan kepala yang membuat Hana binggung apa maksud dari anggukkan kepala Humaira


" lebih baik, kita segera makan terlebih dahulu "


" akan banyak tamu yang akan segera tiba "


" dan abang harap, untuk Ira memberikan respon yang , penyataan yang baik yah " ucap Dimas menatap Humaira yang sudah terlihat menahan diri untuk tidak menumpahkan kekesalannya


" dan untuk Hana "


" terimalah Farel "


" ucapkan jika kamu menyayangi Farel, saat nanti kita membicarakan tentang pernikahan kalian " ucap Dimas sembari meminta waiters yang baru saja datang menyajikan menu di meja yang entah kapan datangnya, mungkin saat Hana dan Humaira berada di dalam kamar mandi.


Baik Humaira maupun Hana terdiam saja, jika Humaira terdiam karena kejutan apa yang akan Dimas berikan kepada mereka berdua. Maka Hana menunggu kode dari Humaira apa yang akan diputuskan Humaira terkait hidupnya, masa depannya.


Sungguh miris jika Hana menikahi Farel yang tidak pernah dia kenal sebelumnya, walaupun Farel memiliki wajah tampan, seperti nya termasuk orang yang memiliki kekayaan, terlihat dari fasilitas kamar yang di tempati oleh Farel, obat-obatan yang diminum oleh Farel yang pasti mahal, karena Humaira mengatakan hal itu sebelum Dimas bersikap seperti ini, yang diketahui oleh Humaira dari catatan rekam medis pasien, karena Humaira termasuk perawat yang membantu Farel, dan dipercaya karena pada awal masuk rumah sakit Humaira lah penanggung jawab atas identitas pasien sebagai keluarga Humaira.


Dimas mengajak mereka semua untuk makan, termasuk Farel yang sudah belajar untuk mandiri dalam setiap kegiatan nya termasuk makan. Agar bisa cepat pulih, dan pulang ke rumah.


Awalnya Farel menolak, karena tidak lagi bisa bermanja-manja dengan Hana, namun ucapan Dimas bagaikan pecut yang memacu Farel untuk segera sembuh, kalau tidak beresiko kehilangan Hana, ucap Dimas yang memberikan Farel motivasi untuk segera bisa pulang dan meneruskan perawatan di rumah saja


Bukan karena memikirkan biaya rumah sakit, atau biaya-biaya lainnya. Akan tetapi, memikirkan kesehatan Hana yang pasti tidak terlalu nyaman jika lama di ruangan rawat inap Farel walaupun sudah memiliki fasilitas terbaik yang di berikan oleh pihak rumah sakit.


Suara ketukan terdengar di pintu ruangan rawat inap Farel bagian dalam membuat semua orang menolehkan kepalanya ke arah asal suara. Seorang bodyguard segera datang menghampiri Dimas untuk memberitahu jika orang yang Dimas minta untuk datang sudah berada di ruangan rawat inap Farel bagian depan. Dimas berkata " persilahkan mereka untuk masuk " membuat bodyguard tersebut segera bergegas melaksanakan perintah Dimas.


Semua itu tidak luput dari penglihatan Humaira dan Hana, siapakah tamu yang Dimas nantikan sejak tadi. Mungkin dengan kedatangan tamu tersebut membuat Humaira bisa memiliki kesempatan kabur bersama Hana, dan melakukan rencana yang sudah Humaira pikirkan sejak tadi.


Namun, perkiraan Humaira ternyata meleset. Tamu yang dinantikan oleh Dimas, adalah kedua orang tua Humaira dan Hana. Bahkan kakak laki-laki mereka berdua turut hadir di sana bersama isterinya dan anak mereka yang sudah balita. Ada juga kakak laki-laki sang ayah yang ikut, serta saudara perempuan sang ibu.


Melihat kedatangan tamu yang dinantikan oleh Dimas adalah anggota keluarga mereka berdua membuat Humaira menarik nafasnya dalam-dalam. Humaira benar-benar speechless dengan kemampuan Dimas yang mengetahui secara detail seperti ini, yang artinya mereka tidak akan bisa lari dari jeratan Dimas dan Farel.


Tidak bisa lari, bukan berarti tidak mampu. Apalagi semua orang yang sudah ada dihadapannya adalah keluarga mereka. Ada secercah harapan, membuat Humaira menyunggingkan senyuman, dan senyuman yang terukir di wajah cantik Humaira dianggap keluarga nya sebagai penyambutan kedatangan mereka.


Tanpa di sangka - sangka Humaira, Dimas meringsek maju melewati Humaira untuk menyambut kedatangan para tamunya. Dengan tidak ada malunya, Dimas memberikan kedua orang tua Humaira salam dengan penuh takzim, dan seterusnya kepada anggota keluarga Humaira lainnya. Terakhir memberikan salam kepada kakak laki-laki Humaira.


Kakak laki-laki Humaira terlihat segan menerima sapaan dari Dimas, terlihat sekali dari gesture tubuh kakak laki-laki Humaira.


" apa kabar, bapak Akmal " ucap Dimas dengan sopan


" baik, tuan " ucap Akmal dengan sungkan


" perkenalkan "


" ini istri saya, Raisa " ucap Akmal memperkenalkan istrinya kepada Dimas. dan Dimas dengan santun menerima perkenalan itu,


" iya "


" kita belum berjumpa saat itu " ucap Dimas menyodorkan telapak tangan sebelah kanan sebagai cara perkenalan, yang di sambut baik oleh isteri Akmal.


Semua yang terjadi di hadapan Humaira membuat dia terkejut, begitu pula dengan Hana. Mengapa keluarga mereka berdua seperti sudah saling mengenal dengan Dimas, apa yang terlewatkan dari mereka berdua, sampai-sampai seperti ini, atau akal bulus nya Dimas yang sudah menyusun rencana sebegitu matang nya.


" kenapa melamun "


" terkejut yah kedatangan ibu dan ayah " ucap sang ibu membuat Humaira tersadar dari lamunannya. Segera Humaira meraih telapak tangan sang ibu untuk dia salami dengan penuh takzim, tidak lupa menyematkan kecupan di pipi bagian kanan dan pipi bagian kiri. Setelah itu memberikan pelukan yang sudah lama tidak mereka lakukan , karena mereka sudah lebih kurang satu tahun tidak pulang ke kampung halaman.


" Hanya ibu saja yang kamu rindukan, Hira " ucap sang ayah merasa terlupakan. Dan berhasil menarik atensi Humaira untuk segera mendekati sang ayah dan melakukan hal yang serupa yang dia lakukan kepada ibunya tersayang.


Tunggu dulu , " Hira "


sesaat Humaira baru menyadari bahwa ada yang terlupakan ketika Dimas mengucapkan namanya. Humaira tidak fokus akan hal itu karena sibuk memikirkan rencana - rencana melarikan diri dari Dimas dan Farel.


" Hira merasa surprise saja, ayah "


" kedatangan kalian membuat dia merasakan kebahagiaan" ucap Dimas dengan tersenyum.


Sekali lagi Dimas menyebutkan nama panggilan kesayangan dari keluarga, yang hanya diketahui oleh orang terdekat Humaira saja. Hal itu tentu saja membuat Humaira sangat terkejut, ketika dia tersadar dari lamunannya.


Dimas tersenyum penuh makna menatap Humaira yang sudah memucat. Sungguh mereka berdua tidak bisa lari dari Dimas dan Farel, Humaira merasa gagal menjadi kakak dalam menjaga adiknya sendiri, Humaira hendak menangis yang ditanggapi pihak keluarga Humaira sebagai tangisan kerinduan karena sudah lama mereka tidak berjumpa.


Padahal tangisan Humaira adalah tangisan kesedihan yang tidak bisa menyelamatkan Hana dari jeratan Farel, dan Dimas kembali tersenyum dengan smirk.


*


*


*


*

__ADS_1


*


❤️❤️


__ADS_2