
...بسم الله الرحمن الرحيم...
...أحيانا نتمنى أن نكون أحلامنا حقيقة ، وأحيانا نتمنى لو كانت حقيقتنا حلما....
...Terkadang kita berharap mimpi ini menjadi kenyataan, Namun terkadang pula kita berharap andai saja kenyataan ini hanyalah sebuah mimpi....
...🌹🌹🌹...
Seorang anak kecil berlari kesana kemari menikmati hembusan semilir angin yang meniup tubuh hingga terasa begitu sejuk dan damai.
Bibir itu terus menyunggingkan senyum sembari berlari di tepi pantai memandang hamparan laut yang begitu menenangkan jiwa.
"Abi..! Ummi..! sini kejar Aira..!" Gadis belia itu sangat bahagia karena untuk pertama kali mereka berlibur bersama ke pantai, sebelum nya tidak pernah pergi ke pantai mengingat Aira masih sangat kecil untuk di bermain di alam terbuka.
Namun saat ini mereka tengah berlibur karena menuruti kemauan Aira yang terus merengek meminta pergi ke pantai.
Akhirnya orang tua nya mengabulkan permintaan Aira, namun dengan pengawasan kedua orang tua nya.
Kemana pun Aira berlari, Umi nya selalu mengejar di belakang nya.
Orang tua nya sangat takut jika Aira terseret ombak, apalagi mengingat Aira belum bisa berenang tentu saja membuat mereka sangat khawatir.
"Jangan cepat-cepat lari nya sayang..! nanti jatuh..!" Teriak sang Umi saat melihat Aira begitu antusias berlari menjauh dari kedua orang tua nya.
"Ahahaha..ayo kejar Aira Umi..!" Aira terus berlari sembari tertawa riang.
Umi Aira pun dengan semangat mengejar anak putri nya.
Abi Aira hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum saat melihat interaksi anak dan istri nya yang begitu bahagia hanya berlibur kesini.
Hap !
Tubuh mungil Aira berhasil di tangkap oleh sang Umi.
"Eits..mau kemana sayang ? Aira sudah tidak bisa lari lagi." Kata sang Umi seraya mengembangkan senyum nya.
"Yah.. Umi curang !" Kata Aira cemberut.
"Kenapa begitu sayang ? memang nya Umi curang kenapa ?" Tanya sang sembari memperhatikan wajah anak nya yang cemberut namun terlihat begitu lucu.
"Umi curang punya kaki panjang, sedangkan kaki Aira pendek. Jadi Aira tidak bisa lari cepat seperti Umi." Keluh Aira manja dengan wajah di tekuk.
"Ya sudah..biar Aira nggak lagi sama Umi, gimana kalau kita beli es krim ?" Tawar Umi Aira.
"Mau mau mau !" Aira menjawab nya dengan sangat antusias.
Ia langsung menggandeng tangan umi nya berjalan menjauhi pantai mencari penjual es krim, kebetulan di sana tidak ada penjual es krim, jadi harus berjalan sedikit menjauhi pantai untuk mencari penjual es krim.
Aira loncat loncat-loncat kegirangan saat melihat ada penjual es krim di sana.
"Itu penjual es krim nya Umi." Tangan Aira sudah terlepas dari gandengan sang Umi kemudian berlari ke arah penjual es krim.
"Sayang..jangan lari, penjual nya tidak akan kabur.." Peringat sang Umi.
Aira bahkan tak menghiraukan ucapan Umi nya, saat ini hanya fokus menatap berbagai macam aneka rasa es krim yang begitu menggiurkan lidah.
"Umi..Aira mau beli 3 boleh ya..?" Pinta Aira saat keduanya sudah berada di depan penjual es krim.
"No sayang, itu kebanyakan. Satu saja sayang, nanti kalau kebanyakan Aira bisa demam." Tolak Umi.
"Yaahh..tapi Aira ingin rasa ini, ini sama yang ini Umi." Tunjuk Aira pada es krim di hadapan nya.
__ADS_1
"Satu atau tidak sama sekali !" Ancam sang Umi dengan nada tegas.
"Ya sudah, satu yang ini Umi." Akhirnya Aira mau mengalah meski wajah nya terus cemberut, tapi ia tetap menuruti sang Umi.
"Anak pinter.." Ucap Umi seraya mengelus kepala Aira yang tertutup kerudung instan berwarna pink.
Setelah membeli es krim, mereka kembali ke area pantai mendekati Abi nya.
"Sudah dapat ?" Tanya Abi Aira saat melihat dua perempuan yang begitu berharga dalam hidup nya mendekat kearah diri nya.
"Sudah mas." Jawab Umi Aira sembari tersenyum.
Mereka duduk di kursi yang muat untuk menampung 2 orang yaitu Abi dan Umi Aira, sedangkan Aira di pangku oleh Abi nya sembari menikmati es krim yang telah di beli nya.
"Abi, kenapa om Arkan meninggal ? padahal om Arkan orang baik. Apakah Allah tidak menyayangi om Arkan ?" Ucap Aira tiba-tiba.
Abi dan Umi Aira saling pandang sejenak sebelum akhirnya Abi Aira menjawab nya.
"Aira sayang..kamu sering melihat bunga di taman kan ?" Tanya sang Abi.
Aira hanya mengangguk namun mata nya Beralih memandang wajah Abi nya yang menyiratkan begitu antusias nya mendengar kan penjelasan dari nya.
"Aira kalau ingin memetik bunga di taman memilih yang masih bagus atau yang sudah layu ?" Tanya sang Abi kembali.
"Tentu Aira memilih bunga yang masih bagus Abi, Aira akan memetik bunga yang baru mekar pasti sangat indah." Jawab Aira antusias.
"Nah itu Aira tahu, sama hal nya dengan manusia sayang. Allah akan lebih memanggil orang-orang baik untuk di bawa ke hadapan Allah." jelas sang Abi yang masih belum bisa sepenuh nya di mengerti oleh anak seusia Aira.
"Jadi, maksud Abi om Arkan itu orang baik maka nya lebih dulu meninggal Abi ?" Tanya Aira kembali setelah sedikit berpikir.
"Betul sayang, om Arkan orang baik. Maka dari itu Allah lebih sayang pada nya, dan Allah lebih dulu memanggil nya." Tambah sang Abi.
Sedangkan Umi Aira hanya menyimak pembicaraan suami dan anak nya itu.
Entah mengapa Aira merasa akan segera berpisah pada kedua orang tua nya.
"Wallahu a'lam sayang, umur manusia sudah di tentukan oleh Allah, tidak ada satu orang pun yang tahu sampai kapan umur manusia. Nama nya umur, jodoh dan rezeki semua nya sudah di tentukan oleh Allah sayang."
"Manusia hanya bisa berusaha, selebihnya semua di serahkan kepada Allah."
"Aira harus ingat, tidak ada yang kekal di dunia ini, semua akan sirna. Dunia dan isinya semua fana dan akan hancur pada waktunya."
"Jadi, Aira tidak boleh tertipu oleh keindahan dunia sayang. Boleh senang mengejar dunia untuk bekal beribadah kepada Allah. Supaya nanti jika Aira di panggil ke hadapan Allah, Aira sudah mempersiapkan amal ibadah untuk di pertanggung jawabkan pada Allah.
"Apa Aira faham ?" Tanya sang Abi.
"Aira paham Abi." Jawab Aira dengan manik mata masih menatap sang Abi.
"Anak pinter..Aira, jika suatu saat nanti Abi dan Umi tidak ada di dekat Aira, jangan pernah tinggalkan sholat sayang." Ucap sang Abi menasehati sembari mengelus kepala sang anak.
"Apa yang telah Abi dan Umi ajarkan pada Aira maka pergunakanlah sayang. Tetap lakukan semua perintah Allah dan jauhi segala larangan nya."
"Hidup di dunia ini hanya sebentar, jangan sampai Aira meninggal dalam keadaan banyak dosa."
"Iya Abi." Aira mengangguk patuh pada Abi nya.
"Terimakasih sayang.."
"Teruskan hafalan Aira, karena nanti Alquran yang akan menolong Aira. Abi dan Umi tidak butuh doa Aira dan kak Adnan, tapi dan Umi hanya ingin anak-anak Abi tidak tersesat pada jalan yang salah." Ucap sang Abi seraya menerawang jauh.
"Jika Aira dan kak Adnan salah jalan, maka Abi dan Umi akan sangat bersedih karena tidak bisa menolong anak-anak Abi." Kata sang Abi dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Iya Abi, Aira akan selalu mengingat nasehat Abi dan Umi." Ucap Aira sembari menangkup wajah teduh ada Abi nya, Aira bisa merasakan betapa sayang nya kedua orang tua Aira pada anak-anak nya.
Hingga sang Abi berkata tidak mengharapkan di doakan anak-anaknya, sang Abi hanya ingin melihat anaknya berada dalam jalan yang benar.
Hingga hari menjelang gelap mereka masih meneruskan perbincangan itu.
Matahari pun sedikit demi sedikit tenggelam hingga sempurna.
Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah, Aira dituntun oleh Abi dan Umi nya berjalan mendekati mobil.
"Abi, Aira nggak mau duduk di belakang sendiri. Aira mau di pangku Umi." Rengek Aira.
"Dengan senang hati sayang.." sang Umi terlihat gemes melihat tingkah putri manja nya itu.
Akhirnya mereka bertiga duduk di depan dengan Aira yang berada di pangkuan Umi.
Sedangkan Abi Aira mulai menyalakan mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah beberapa saat, mobil yang di kendarai nya berlaju semakin cepat, tiba-tiba rem mobil tidak berfungsi.
"Astaghfirullah, Rem nya blong !" Ucap sang ayah dengan panik.
"Ya Allah, bagaimana ini mas." Jawab Umi Aira tak kalah panik.
Sedangkan Aira yang sudah tertidur di pangkuan Umi nya tak mengetahui apapun.
"Tenang Umi, Abi akan membelokkan mobil nya di beton sana. Umi tetap lindungi Aira, Abi akan akan berusaha melindungi Aira dari depan setelah melepaskan stir."ucap sang Abi
"Semoga Allah masih memberi kesempatan putri kita untuk hidup mas." Ucap sang Umi dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Dan tak lama setelah itu, Abi Aira benar-benar melepaskan stir nya hingga mobil itu membentur beton di pagar jalan.
Bunyi benturan keras itu begitu memekakkan telinga.
Secepat kilat tubuh sang Abi gunakan untuk melindungi Aira dari serpihan kaca yang masuk ke dalam mobil, Tiga manusia itu saling memeluk dengan Aira yang berada di tengah nya, detik berikutnya mobil itu terguling hingga beberapa kali.
Aira terbangun dari tidurnya, ia melihat dua manusia yang begitu Aira cintai sudah berlumuran darah membekap tubuh nya.
"Abi..Umi..bangun !!!" teriak Aira.
"Aaaaaa..!!!" Aira terbangun dari tidurnya.
"Huh huh huh.." Aira masih mengatur nafas yang masih memburu.
"Kenapa aku mimpi itu lagi ?" gumam Aira setelah berhasil mengumpulkan kesadaran nya.
"Abi.. Umi..Aira rindu kalian hiks..." Aira tak bisa menahan tangis nya.
Dulu Aira memang sering mimpi peristiwa naas yang menimpa Abi dan Umi nya.
Namun, sudah beberapa tahun ini Aira tidak lagi memimpikan peristiwa itu.
Tapi entah kenapa ia kembali bermimpi peristiwa naas itu setelah beberapa tahun, padahal sebelumnya ia tidak membicarakan masalah orang tua nya.
"Andai kenyataan ini hanyalah mimpi, mungkin aku akan sangat bahagia. Tuhan, kenapa aku menjalani semua ini ?" Gumam Aira dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak...
...❤️❤️❤️...
...**TBC...
__ADS_1
See you next chapter 👋**