
Hai, sebelum aku memulai kisah tentang teman terbaikku saat SMA. Aku ingin memperkenalkan diriku terlebih dahulu.
"Kiran Putraaaaa, ayo bangun kenapa habis sholat tidur lagi sih? Gak bagus buat kesehatan". Teriak Mamaku dari bawah.
Hmm, yap itu namaku. Kiran Putra, Putranya akan semakin panjang jika aku tidak segera bangun dari kasur empuk ini.
Kelas 10 awal semester, ya benar aku siswa baru di salah satu SMA Negeri X di Kota Y ini. Umur ya?? Kalian pasti tau saat ini berapa umurku. Aku seumuran dengan kalian pada saat masuk kelas 10 awal semester kok.
Baiklah, sekian perkenalannya. Hari ini aku ingin menulis sebuah cerita tentang teman sekelasku yang kini menjadi salah satu teman terbaikku. Seseorang yang membuatku kagum sekaligus bangga dengan sosoknya. Mungkin saat aku selesai bercerita, kalian tidak akan berpikir sama denganku. Tapi begitulah penilaianku terhadap dirinya yang "aneh". Ada satu kalimat yang sering aku ucapkan saat bertemu dengannya.
"Hai, Danny. Apa kabar hari ini?" Ucapku setiap kali Kami bertemu.
^^^Teruntukmu,^^^
^^^Danny, Sahabatku.^^^
...****...
Aku segera mengenakan sepatu setelah menyelesaikan sarapanku hari ini, nasi goreng andalanku. Hari ini adalah hari pertama aku bersekolah di SMA, senang rasanya bisa lulus dengan nilai baik walau aku harus masuk ke salah satu SMA Negeri yang kurang diminati. Alasan aku masuk kesana ya karena orangtuaku tidak mengizinkanku sekolah yang jaraknya jauh dari rumah, sebagai anak yang berbakti dan rajin menabung, aku menuruti kemauan kedua orangtuaku. Haaaah...
"Kiran berangkat, Maaaa". Teriakku dari depan pintu rumah.
"Hati-hati, atribut MOS sudah dibawa, kan?". Teriak Mamaku sedikit berlari kearah pintu depan.
"Iya, Bu Bos, aman". Ucapku sambil memberikan jempol dan tersenyum pada Mamaku.
Mamaku memberikan lambaian tangan padaku dan Papa. Aku berangkat diantar Papa, baru setelahnya Papa berangkat kerja.
Diperjalanan menuju sekolah aku membenarkan atribut MOS-ku agar tidak terbang. Aku berpikir, "Apa saja ya nanti kegiatan hari ini, melelahkan sekali setiap awal masuk sekolah harus mengalami kegiatan tidak bermanfaat ini". Itulah yang kupikirkan setiap kali melakukan kegiatan MOS.
__ADS_1
Tidak terasa kami sudah sampai didepan gerbang sekolah, aku berpamitan pada Papa dan melangkah masuk ke gerbang sekolah. Ketika sampai didalam sekolah, menurutku desain sekolahnya bagus hanya saja sudah cukup tua bangunannya mengingat gedung ini sudah ada dari zaman Belanda.
Aku melangkah menuju ruang kelas yang akan aku tempati sementara selama masa orientasi. Sepanjang jalan banyak anak-anak baru yang sudah mulai saling berkenalan dan bercengkrama satu sama lain. "Bagaimana sih, orang-orang ini bisa saling akrab secepat ini. Apakah karena mereka pernah satu SMP ya dulunya, aneh banget". Ujarku dalam hati.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, aku tidak ada melihat seseorang yang kukenal dari SD ataupun dari SMP-ku disini. "Apa cuma aku, ya, yang nelangsa masuk ke SMA ini, sepertinya orang-orang kenalanku di SD dan SMP pada masuk SMA favorit". Pikirku. "Orang-orang kenalanku" — yap, aku adalah tipe orang yang sulit berteman, menurutku berteman itu buang-buang waktu. Jadi, selama ini aku hanya menganggap teman SD dan SMP-ku sebatas orang kenalan, tidak lebih.
Kini aku sudah sampai diruang kelas 10-1, ruang kelas sementara yang akan aku tempati. Aku berjalan masuk mencari kursi yang masih kosong. Benar dugaanku kursi paling depan masih banyak yang kosong, entah kenapa banyak orang yang tidak mau duduk dimeja paling depan. Padahal, kan, dengan duduk didepan kita bisa menyerap ilmu lebih banyak ketimbang dibelakang.
Aku berjalan menuju ke meja tengah paling depan agar bisa langsung berhadapan dengan papan tulis. Namun, sudut mataku menangkap seorang anak laki-laki sedang duduk dimeja pojok kanan paling belakang. Ia sedang menatap keluar jendela sambil, yap — mengupil.
Pemandangan tidak mengasyikkan di pagi hari menatap orang sedang mengupil sambil menikmati cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela didepannya. Aku memalingkan wajahku seketika saat anak itu menoleh kearahku dan memberikan smirk sambil tetap mengupil. "Menjijikkan". Ujarku.
Beberapa menit kemudian, bel sekolah berbunyi menandakan bahwa awal sekolah akan dimulai. Aku duduk dengan rapi dan tidak lama ada seorang anak laki-laki berkacamata mendatangiku. "Aku terlambat datang, apa aku boleh duduk denganmu?", Ucapnya sambil mengusap keringat yang mengalir dari dahinya.
"Iya, silakan, memang ada yang melarang. Tidak, kan!", Ucapku sedikit menoleh ke arahnya.
"Namaku, Jamil, Namamu siapa", Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Kiran, Kiran Putra". Ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
Kulihat dari sudut mataku, Ia mengatupkan tangannya yang terangkat diudara untuk menjabat tanganku. Kemudian, Ia tersenyum sembari berkata, "Salam kenal, Kiran, semoga kita bisa berteman baik, ya". Ucapnya.
"Hm". Ujarku.
Aku tau, aku cukup dingin kepada orang yang telah susah payah bersikap ramah padaku. Tapi, bagaimana aku selalu bersikap seperti ini setiap saat. Aku selalu merasa cemas saat seseorang mengajakku berbicara. Sulit sekali rasanya bersikap normal, aku selalu membangun tembok besar agar tidak ada orang lain yang bisa memasuki kehidupan pribadiku.
Sesaat setelah perkenalan singkat itu, masuklah seorang pria berusia sekitaran 40 tahunan kedalam kelasku. Beliau adalah Wali Kelas sementara dikelasku.
"Pagi, maaf saya sedikit terlambat, ya. Jadi, langsung saja. Perkenalkan nama Bapak adalah Waluyo. Saya disini bertugas sebagai Wali Kelas sementara untuk kelas kalian selama masa orientasi, sampai sini apa ada pertanyaan?" Ucap Pak Waluyo dengan lantangnya.
__ADS_1
"Beliau, sepertinya guru olahraga, jika dilihat dari postur tubuh dan cara bicaranya". Ujarku dalam hati.
"Tidak ada, Pak, sepertinya". Ujarku bersuara ditengah-tengah keheningan.
Beliau menoleh ke arahku dan berkata, "Baiklah, silakan kalian keluar dan jalan ke arah lapangan upacara. Kegiatan pembukaan MOS akan segera dimulai tolong bawa juga atribut MOS kalian. Karena setelah pembukaan, kakak pembina akan segera menemui kalian untuk memulai kegiatan MOS". Kemudian beliau berjalan ke arah pintu kelas.
Aku berjalan tepat dibelakang Pak Waluyo menuju ke lapangan upacara. Setelah kami sampai, Pak waluyo segera menyuruh kami berbaris dengan rapi. Namun, tiba-tiba, Pak Waluyo berteriak dengan kerasnya dan menunjuk ke arah belakang.
Aku dan semua orang disana menoleh kebelakang kami, disana, tepat dibelakang sana. Ada seorang siswa yang berlari sekencang mungkin menuju ke arah gerbang sekolah. Aku seketika tersadar saat melihat siswa itu. "Loh, Dia kan yang tadi mengupil sambil menikmati matahari pagi". Ucapku dalam hati sembari mengernyitkan dahi.
Pak Waluyo berteriak pada satpam didepan untuk mengagalkan siswa tersebut agar tidak kabur. Namun, semua orang terkejut bagaimana Ia bisa secepat itu berlari dan memanjat gerbang sekolah dan kemudian melompati gerbang itu begitu saja.
Ia kemudian berhenti dan menoleh kebelakang untuk melihat para satpam dan beberapa orang guru yang kewalahan mengejarnya.
Sesaat kemudian, aku sadar bahwa mataku dan matanya saling bertatapan. Kemudian, Ia memberikan sebuah smirk yang dia berikan padaku juga saat dikelas.
"Anak ini, aneh sekali, gak niat sekolah apa gimana? Jika tidak niat ya ngapain lanjut sekolah. Buang-buang waktu saja". Ucapku dalam hati.
Setelah itu dia kemudian lari lagi dan tidak lama terdengar suara motor yang melaju meninggalkan parkiran sekolah.
Semua orang terdiam menatap kejadian tadi, begitu cepatnya orang itu berlari meninggalkan sekolah.
Siswa lain kemudian saling berbisik berkata, "Jika mau bolos kenapa gak dari belum mulai kegiatan ajasih? Kenapa harus repot-repot melompat pagar setinggi 2 meter itu hanya untuk bolos. Gila kurasa dia". Ujar seorang siswa kepada siswa lainnya.
Aku yang mendengarkan percakapan itu pun mengiyakan perkataan mereka. Ngapain harus repot-repot lompat pagar hanya untuk bolos, kan bisa dari sebelum masuk sekolah, aneh.
Hari itu, kami tetap melaksanakan kegiatan MOS yang sudah dijadwalkan. Waktu demi waktu berlalu. Tapi, sampai hingga detik terakhir masa orientasi pertama ini, Ia juga tidak kunjung datang. "Benar-benar membolos sampai akhir rupanya". Ujarku dalam hati.
...****...
__ADS_1