
Tidak terasa sudah hampir seminggu aku menjadi siswa SMA, waktu berjalan begitu cepatnya.
Kulihat jam digital yang ada dimeja belajarku, 07.00 pagi. Aku segera bergegas turun kebawah untuk sarapan. Kulihat mama sedang menyiapkan bekal yang akan kubawa hari ini.
Ada papa yang sedang menonton siaran berita politik di TV. Semua tampak sibuk dengan aktifitas masing-masing.
Aku berjalan menuju ke meja makan dan bergabung dengan Papa. Menyantap sarapan indomie kari ayam dengan telur ceplok rebus dan meminum teh hangat yang dibuat mamaku.
Aku melamun memikirkan, kejutan apalagi yang akan dibuat oleh anak-anak kelasku hari ini, terutama Danny.
Aku segera memasukkan sesendok penuh mie kuah kesukaanku.
...****...
Hari ini pelajaran pertama adalah matematika. Aku suka matematika, jika tahu jawabannya. Jika tidak tahu, aku tidak suka, simpel.
Kudengar rumor yang beredar, guru matematika-ku ini terkenal galak dan nyeremin. Super killer. Ia tidak segan-segan mengabaikan siswa yang telat dan izin untuk memasuki kelas.
Mendiamkan mereka hingga kelas berakhir dengan memberikan mereka hukuman push up. Bersyukurlah, karena itu berarti mood beliau sedang baik.
Jika moodnya buruk, ia akan mengizinkan kalian masuk dan menyuruh kalian terus push up tanpa henti hingga jam pelajarannya berakhir. Huuuuh mengerikan.
...****...
Hari ini, aku menemani Adnan untuk mengambil buku paket yang ada di perpustakaan. Sebelumnya, Adnan sudah dihubungi oleh guru matematika kami. Sebelum kelas dimulai, Adnan harus mengambil buku paket terlebih dahulu di perpustakaan.
Jadilah, Adnan memintaku yang sedang mengawasi piket untuk menemaninya mengambil buku paket.
Diperjalanan balik, kulihat Danny yang hampir terlambat, memasuki area sekolah dengan santainya. Ia sesekali bersenandung dan sedikit melompat kegirangan.
Sepertinya suasana hati orang ini sedang bagus.
Ia berjalan, hingga berpapasan dengan kami. Ia tersenyum dan tiba-tiba mengambil setengah buku lainnya untuk membantu kami. Itu cukup membuat aku dan Adnan terkejut.
Setelahnya, kami bertiga berjalan beriringan sambil membawa buku paket, menuju ke kelas.
Tiba-tiba, kami bertiga dikejutkan dengan suara teriakan seseorang. Kami bertiga segera memutar kepala kami untuk melihat asal sumber suara.
__ADS_1
Disana berdiri seseorang yang kami sebut, Pak Hendra, Guru matematika killer yang baru saja kubicarakan.
Ia terlihat melotot marah dan menunjuk kearah Danny.
"KAMUUU... JAM BERAPA INI, SEKARANG??! KENAPA BARU DATANG? KAMU KELAS MANA, HAHH?!", Teriak Pak Hendra seketika.
Aku dan Adnan bergidik ngeri saat melihat Pak Hendra. Dan kami langsung melihat kearah Danny yang tengah menatap balik Pak Hendra.
"Kelas, 10-5. Sekarang sudah jam 8 pagi pak. Lah, bapak sendiri kenapa baru mau turun ke kelas pak?", Ucap Danny dengan santainya.
Aku dan Adnan langsung terkejut dan Adnan langsung memukul lengan Danny untuk hati-hati saat bicara.
"KAMU... KAMU SAYA LARANG MASUK KE KELAS SAYA HARI INI", Teriak Pak Hendra lagi.
"Kalau saya sampai duluan ke kelas sebelum bapak, bapak tidak berhak mengeluarkan saya dari kelas. Setuju?", Ucap Danny seketika.
"SAYA DISINI YANG BERHAK BERBICARA, BUKAN KAMU", Teriak Pak Hendra lagi.
"Yasudah, kalau begitu bapak saya larang untuk masuk ke kelas kami hari ini, bapak kan juga telat?", Ujar Danny.
Namun, hal mengejutkan lainnya terjadi.
Aku dan Adnan terdiam beberapa saat menyaksikan kejadian barusan.
Mereka sedang ngapain?? Astaga, aku sampai hampir tidak percaya seorang Danny bisa membuat guru killer seperti Pak Hendra berlari melaju untuk memenuhi tantangannya.
Aku segera tersadar dan membantu Adnan untuk berdiri, kami harus segera berjalan menuju kelas juga, jika tidak, bisa-bisa malah kami yang dikeluarkan gara-gara telat mengantar buku.
Kami berjalan hingga akhirnya kami melewati gedung kelas 11.
Sepanjang jalan, kami melihat kakak-kakak kelas 11 sedang bergerombol didepan kelas dengan guru mengajar yang juga ikut keluar melihat situasi yang terjadi.
Aku dan Adnan yang paham apa alasan mereka semua bergerombol hanya bisa menundukkan kepala meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi sehingga mengganggu jam mengajar.
Aku dan Adnan sudah tidak melihat keberadaan Pak Hendra dan Danny disepanjang jalan lorong kelas 11. Kemungkinan mereka sudah hampir sampai menuju gedung kelas 10.
Kurasa benar, tidak akan ada kedamaian yang terjadi di sekolah saat semuanya berpapasan dengan Danny.
__ADS_1
...****...
Akhirnya setelah melalui jalan yang panjang, Aku dan Adnan sampai ke kelas.
Kulihat disana Pak Hendra dan Danny terduduk lemas dilantai kelas.
Kulihat anak-anak dikelasku semua terdiam mematung memandangi mereka berdua. Kurasa mereka semua bingung dan bertanya apa yang terjadi?
Aku dan Adnan berjalan melewati mereka berdua dan meletakkan buku paket yang kami bawa.
Aku segera kembali ke kursiku, dan Adnan mencoba mendekat untuk menanyakan keadaan mereka.
Aku segera menarik lengan Jamil perlahan.
"Siapa yang duluan sampai kelas? Pak Hendra atau Danny?", Tanyaku sambil memelankan suaraku.
"Danny, tapi ini ada apasih?", Bisik Jamil kemudian.
Aku kemudian berbisik dan menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Jamil. Jamil pun mengangguk dan menahan tawanya.
Tidak lama kemudian, Danny berdiri dan meletakkan kedua tangannya ke bagian pinggangnya. Kemudian, mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat
Kupikir mereka berdua benar-benar mengeluarkan tenaga ekstra tadi.
Pak Hendra akhirnya berdiri dan menatap sinis kearah Danny.
"Baiklah kamu menang, silakan duduk dikursimu sana", Ujar Pak Hendra mengakui kekalahannya.
Danny tersenyum puas dan melenggang jalan menuju mejanya. Aku menoleh kebelakang, terlihat Johan sedang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Danny.
Gara-gara hari itu. Gara-gara Danny mencetuskan ide untuk lomba lari dengan Pak Hendra.
Banyak anak yang akhirnya bernasib serupa. Bahkan dari jarak jauh pun Pak Hendra mampu mengenali murid yang telat itu adalah murid dikelas yang akan ia ajar. Sehingga dengan begitu, Pak Hendra akan segera berlari sekuat tenaga untuk mencuri start dan saat ia sampai dikelas maka tidak akan ada celah luang untuk murid tersebut bisa mengikuti sesi pelajaran matematika dengannya.
Setiap pelajaran matematika bersama beliau, hampir jarang ditemukan siswa yang telat.
Berkat Danny kami semua bingung, entah harus berterima kasih pada Danny atau mengutuk dirinya.
__ADS_1
...****...