
Aku hanya ingin hari ini segera berakhir.
Kulihat jam yang tertampak dilayar ponselku, menunjukkan pukul 9:56 pagi. Sebentar lagi adalah jam istirahat, kurasa wali kelas kami akan masuk saat sesi 2. Aku meletakkan kepalaku diatas tas sambil menatap seisi kelasku yang riuh.
Kulihat Jamil tengah asyik bermain video game dihpnya dengan 2 anak dibelakang meja kami. Aku tidak suka bermain game mobile, karena bermain game diponsel itu menurutku tidak seseru bermain game dipc ataupun di Playstation.
Aku memutar posisi kepalaku menghadap ke tembok disampingku dan memejamkan mataku. Namun, tiba-tiba...
Disela-sela suara riuh anak kelasku, kudengar ada suara dentuman yang keras dan membuat tembok disebelahku ikut bergetar. Aku mengangkat kepalaku dan menatap tembok sebelahku.
Gempa bumi, ya? Pikirku.
Kutengok Jamil yang juga sama denganku memperhatikan tembok kami yang bergetar.
Saat kualihkan pandanganku, kulihat Danny tengah berdiri dan memegang handle jendela. Ternyata asal dentuman keras itu berasal dari Danny yang tengah mengerahkan tenaganya untuk mendorong jendelanya agar terbuka.
Sepertinya macet, kupikir jendela ini sudah lama tidak pernah dibuka sehingga membuat engsel jendelanya berkarat dan mungkin dipenuhi debu disetiap sudut-sudutnya.
...****...
Kulihat Danny mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong jendelanya, itu terlihat jelas karena semua urat-urat ditangan dan sekitar lehernya tertampak.
Kupikir jika ia terus mendorong jendelanya, pastinya jendela itu akan terbuka beserta engsel-engselnya dan membuat lubang besar tanpa kaca disekitarnya.
Atau bahkan membuat tembok sisi kanan ini akan roboh karena saking kuatnya ia mendorong jendela tersebut.
Kemudian akhirnya, perjuangan Danny mendorong jendela tersebut membuahkan hasil, ia segera menaikkan sanggahan jendela untuk membuat jendela tetap terbuka.
Ia kemudian menyandarkan kepalanya ke sisi kusen jendela sebelah kiri. Menghela nafas dengan cepat.
Ia ngos-ngosan, jelas saja dia ngos-ngosan sebegitu kerasnya ia berjuang membuka jendelanya. Hampir-hampir kurasa sebentar lagi ia akan berubah jadi Hulk, saking semangatnya ia.
Namun, tidak lama kemudian, Danny mengangkat kepalanya dari kusen jendela. Ia terperangah melihat ke luar jendela, dan kulihat ada sesuatu yang melayang kebawah begitu cepat dan terdengar bunyi bug.
Seperti suara bola yang terjun kebawah dan mengeluarkan bunyi bug diakhir.
Danny terdiam beberapa saat menatap ke arah luar dan mulai mundur kebelakang. Ia menyuruh Johan untuk segera berdiri dan menjauh dari sana.
Aku pun juga sama kagetnya saat melihat sesuatu yang begitu banyak terbang naik ke atas.
Danny dan Johan segera berlari menjauh dan berteriak,
__ADS_1
"Tawonnnnn, lariii, selamatkan jiwa dan raga kalian, arghhhhh". Teriak Danny. Kulihat mereka lari secepat kilat meninggalkan kelas.
Aku segera mundur teratur saat Jamil sudah berhasil berdiri dan berlari keluar.
Tawon-tawon itu mulai beterbangan masuk kedalam kelas. Jumlahnya begitu banyak hingga ruang kelas kami seketika menjadi remang-remang karena tawon-tawon itu menutup akses masuk cahaya kedalam ruangan.
Aku dan teman sekelas lain berlari keluar kelas dan seorang anak laki-laki dari kelasku menutup pintu kelas. Tapi sayangnya ternyata tawon-tawon itu berhasil keluar melalui ventilasi jendela kelas dan terbang menuju kearah kami.
Suasana saat itu begitu chaos, hingga mengganggu kelas-kelas lainnya.
Kami berlari sekuat tenaga menjauhi kelas kami dan naik ke atas melewati semua yang bisa kami lewati.
...****...
Hingga akhirnya pelarian kami semua terhenti saat kami melewati ruang guru. Guru-guru panik melihat kami semua berlarian.
Kami berhenti sejenak karena ditahan oleh beberapa orang guru, seseorang dari kami menjelaskan duduk permasalahannya. Tapi, tiba-tiba, ada kerumunan siswa kelas 10 lainnya yang ikut berlarian kemari.
Kerumunan tawon itu masih mengejar, hingga membuat kami yang melihat itu langsung segera berlari menjauh. Guru-guru pun ikut panik dan berlari, hanya ada beberapa guru laki-laki yang mencoba untuk menangani serangan liar tawon-tawon ini.
Kami semua berlari menuju keluar sekolah, satpam dan beberapa warga yang melihat kami, langsung mencoba untuk ikut membantu.
Kami semua duduk dan mengatur nafas diteras-teras rumah warga dan sebagian duduk didekat parkiran motor.
Hari ini begitu chaos dan menyebabkan beberapa mata pelajaran ditiadakan. Waktu tidak terasa sudah menunjukkan pukul 10.50 pagi. Gagal menikmati bekal hari ini saat jam istirahat. Haaaah...
...****...
Saat semua telah selesai ditangani, semua guru mengarahkan kami untuk kembali masuk kedalam kelas kami masing-masing.
Kulihat beberapa siswa kelasku ditahan untuk dimintai keterangan.
Saat aku telah sampai dikelas, kulihat Danny sedang berdiri memandang keluar jendela. Ia terus menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada sarang tawon lagi disekitaran kelas kami.
Aku yang sudah sangat lelah mencoba untuk tidak mempedulikan Danny, aku segera memposisikan diri untuk duduk dan meletakkan kepalaku diatas tas dan mengatur nafas.
Tiba-tiba kudengar, Adnan, salah seorang murid kelasku, memanggil Danny. Ia menyuruh Danny untuk ke ruang guru segera.
Kuangkat kepalaku dan melihat ke arah Danny, Danny segera berjalan keluar kelas.
Kasihan, padahal ini bukan kesalahannya. Ia hanya tak sengaja, hukuman apalagi yang akan ia dapatkan hari ini.
__ADS_1
Kuperhatikan Danny hingga tubuhnya tidak terlihat lagi, aku menghela nafasku dan meletakkan kepalaku kembali keatas tas.
Mencoba untuk melupakan semua yang terjadi hari ini.
...****...
Wali kelasku kini sudah selesai menjelaskan rules dan menentukan siapa saja yang akan menjadi pengurus kelas.
Adnan, akhirnya menjadi ketua kelas kami. Deya menjadi sekretaris kelas, Agung menjadi Wakil ketua kelas, Laras menjadi bendahara, Aku sendiri menjadi seksi kebersihan, dan Maria menjadi seksi keamanan kelas.
Kupikir, Maria dipilih menjadi seksi keamanan karena wajahnya yang garang. Ia keturunan orang timur, aku pernah dengar bahwa orang-orang timur memiliki sikap yang keras dan tegas. Tapi, saat aku mengobrol dengan Maria tempo hari, ia sangat baik dan ramah. Apapun itu, tapi kalau seseorang kesal sebaik apapun ia pasti akan mengerikan kan jika marah.
Mau orang timur, orang barat, orang selatan, bahkan hingga orang barat daya dan barat laut. Pasti akan marah jika disenggol bacok.
...****...
Jam pelajaran pun akhirnya selesai, wali kelasku pamit dan kelas pun akhirnya bubar.
Saat perjalanan menuju gerbang sekolah.
Kulihat Danny sedang push up ditengah lapangan sekolah, dan dipantau oleh guru olahraga dan wakil kepala sekolah. Entah sudah hitungan keberapa ia push up.
Wajah Danny terlihat begitu memerah dibalik kulit sawo matangnya. Peluh bercucuran dari wajahnya.
Kasihan, mungkin memang kerusuhan di sekolah hari ini adalah penyebab dirinya yang hanya ingin membuka jendela kelas. Tanpa ia tahu dan bahkan kami dikelas pun tidak tahu, kalau ada sarang tawon besar diatas tembok kelas kami.
Ia kini harus menanggung hukuman yang bahkan bukan benar-benar kesalahannya.
Tapi, setelah kulihat-lihat. Sepertinya Danny sering berolahraga, fisiknya sangat kuat dan bagus. Atau mungkin karena ia anak tentara? Pasti secara tidak langsung ia akan ikut latihan fisik bersama ayahnya. Atau ikut latihan fisik secara kasar dengan teman-teman sebayanya di perumahan tentara.
Mengapa kubilang fisiknya bagus? Karena memang benar fisiknya bagus. Ia punya badan yang tegap dengan tinggi badan kalau kutaksir sekitar 170an keatas. Mungkin 176? Atau 178? Seperti tubuh para Taruna.
Sudah jelaskan tubuh seperti itu bisa didapatkan jika ia rajin berolahraga, kalau kaum mageran yang ada badannya melar kanan kiri.
Aku? Badanku cukup bagus, aku suka olahraga juga. Jadi, jangan mengira aku ini punya badan yang melar kanan kiri, ya. Catat!!!!.
Aku melanjutkan perjalananku untuk menuju gerbang sekolah. Aku hanya bisa berharap semoga ini terakhir kalinya ia dihukum.
Kuharap, ya hanya.... Harapan.
...****...
__ADS_1