
Tidak terasa hari pertama masa orientasiku berlalu begitu saja, sudah masuk ke hari kedua, drama antar si siswa aneh dan para guru masih berlanjut. Hari ini kulihat Ia datang ke sekolah dan sedang berada diruang guru. Jelas, pasti dia sedang dihukum karena kabur begitu saja secara terang-terangan. Jika ingin kabur kan, Ia bisa secara diam-diam lewat belakang sekolah. Memang aneh.
Aku seketika sadar dari lamunan sekilasku saat seseorang disebelahku menepuk pundakku untuk memberikan bolpoin yang harus kuberikan ke orang diseberangku. Hari ini kami sedang bermain game oper bolpoin dan kakak pembina memutarkan musik, saat musik berhenti, salah satu siswa yang memegang bolpoin akan disuruh maju untuk diberikan hukuman. Waktu terus berlalu begitu cepat.
Jam istirahat pun tidak terasa tiba, siswa-siswa lain mulai berlari keluar kelas dan menuju kantin. Aku memutuskan untuk keluar dan makan dibawah pohon di taman sekolah, disana sangat sejuk, aku senang berada ditempat yang sunyi dan asri pada saat seharian melakukan kegiatan yang menguras energi. Untuk jajan? Ya, aku memang lebih suka membawa bekal saat ke sekolah untuk menghemat uang jajanku.
Aku berjalan berlalu melalui lorong kelas menuju taman. Namun, tiba-tiba aku berpapasan dengan siswa aneh itu yang baru saja keluar dari ruang guru. Ia berjalan dengan santainya sambil mendengarkan musik dihpnya dengan headset putih menjuntai ditelinganya. Aku sekilas menatapnya melalui sudut mataku. Namun, sepertinya Ia sadar dan akhirnya menoleh menghadapku dan memberikan senyuman. Kemudian, Ia berlalu begitu saja kembali masuk ke kelas.
"Apaan, sih?". Ujarku.
Aku melanjutkan perjalananku menuju taman sembari membawa bekal ditangan kananku.
...****...
Aku mulai menyantap bekalku sambil sesekali menatap pemandangan hutan buatan sekolahku. Ada beberapa kebun juga disana. Dibawah perbukitan sekolahku, kulihat banyak anak-anak bergerombol mengantri disetiap warung makanan yang ada di kantin. Benar, semua ruang kelas di sekolah ini ada diatas, sedangkan kantinnya. Kalian harus bersusah payah untuk turun kebawah sana kemudian kalian harus bersusah payah lagi untuk naik keatas sini. Anak tangganya lumayan banyak, buat kalian yang jarang olahraga sudah bisa dipastikan akan habis nafas.
Aku melanjutkan memasukkan sendok makanku kedalam mulutku. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki bergesekan dengan rumput hias ditaman. Ada seseorang yang datang, tentu saja ini kan tempat umum semua bisa kesini kapan pun mereka mau.
Namun, sesaat kemudian aku bisa melihat siapa orang yang sedang menuju kemari. Si siswa aneh. Ia sedang berjalan selangkah lebih kedepan dari posisiku duduk, tidak lama Ia duduk dirumput dan kemudian memposisikan kedua tangannya terlipat dibelakang kepala untuk Ia jadikan sandaran kepala. Ia rebahan dirumput sembari menatap langit biru dan mendengarkan musik dari hp bututnya.
"Anak ini tidak banyak bicara, apa dia sepertiku?", Ujarku sambil terus memasukkan sendok berisi makanan penuh kedalam mulutku.
Tidak lama kemudian, kudengar ada seseorang yang berteriak begitu kencangnya. Ia meneriaki Siswa aneh ini dan mengajaknya ke kantin. Kulihat siswa aneh ini menoleh kearah sumber suara dan beranjak dari posisinya. Ia berjalan melaluiku begitu saja dan turun kebawah menuju kantin.
__ADS_1
"Baiklah, kutarik ucapanku yang tadi, Ia tidak sepertiku yang malas bergaul". Ucapku kemudian sambil terus menatap kepergiannya.
...****...
Tidak terasa waktu istirahat telah selesai, aku dan semua siswa lain berjalan menuju ke kelas masing-masing. Sesampainya di kelas. Kulihat teman-teman dikelasku masih sibuk dengan aktifitas mereka, ada yang mengobrol, bermain lempar tangkap bola kertas, dan tidur.
Tidak lama kemudian, mereka mulai bergerak kembali kebangku mereka masing-masing. Setelah seorang guru pemateri memasuki kelas. Aku menoleh kebelakang dan kulihat bangku siswa aneh itu kosong, padahal saat menuju kelas aku melihat Ia berjalan naik ke atas menuju kelas, bersama teman-temannya yang kemungkinan beda kelas. Tapi, mengapa Ia tidak ada dikelas? Kemana perginya anak itu.
Tidak lama, guru pemateri mulai mengeluarkan absen, guru mulai memanggil nama kami satu per satu hingga tiba siswa aneh itu dipanggil. Guru mulai menyadari siswa aneh ini tidak ada ditempat.
"Kemana, Danny?", Ucap guruku.
"Kurang tahu, bu. Tadi Saya masih papasan dengannya dikantin", Ujar Ketua kelas kami.
Setelah semua selesai diabsen, guru mulai membuka kelas dengan materi 'pentingnya menjadi warga negara yang baik'. Kami menyimak materi yang beliau sampaikan. Hingga tiba-tiba, Pak Waluyo, Wali kelas kami datang. Mengatakan pada guru materi bahwa Danny sudah kabur dari sekolah melalui gerbang depan.
"Kabur lagi????!! Orang ini benar-benar tidak niat sekolah ya?", Ujarku dalam hati sambil menggelengkan kepala.
Kulihat guru pemateri kelas kami juga menggelengkan kepala sambil menghela nafas. Kurasa guru pun mulai kesal dengan pola tingkah Danny.
Guru pemateri kemudian, menghadap ke Wali kelas kami lagi dan memberikan senyuman. Pak Waluyo seakan mengerti isyarat dari guru pemateri, beliau langsung beranjak meninggalkan kelas kami. Kemudian, guru pemateri melanjutkan materi yang terpotong ditengah-tengah tadi.
Tidak terasa waktu kelas sudah berakhir. Kulihat guru pemateri berjalan menuju ke meja belakang. Beliau rupanya menuju ke meja Danny dan Johan teman sebangku Danny. "Mana tas Danny?", Ujar guruku.
__ADS_1
"Tas? Danny gak pernah bawa tas, Bu". Ujar Johan.
"HAAAH???! Dia beneran gak niat sekolah ternyata, bagaimana bisa sekolah tidak bawa tas", ujarku dalam hati sambil menepuk jidatku dengan telapak tangan. Tapi setelah kuingat-ingat lagi. Dia memang tidak pernah membawa tas setiap kali ke sekolah. Begitu pun dengan kabur, dia tidak membawa tas juga saat kabur.
Kulihat guru pemateri berjalan kembali kedepan dan mengambil buku materinya. Beliau berpamitan pada kami dan berpesan untuk pulang dengan hati-hati. Aku memasukkan barangku kedalam tas dan beranjak meninggalkan kelas.
Aku berjalan meninggalkan kelas dan mulai melewati ruang guru, disana kulihat, Danny. Aku kaget dan mengusap mataku kembali, benar yang kulihat adalah Danny. Kulihat Pak Kepala Sekolah tengah memarahi Danny diruang guru. "Kalau sudah kabur, ngapain kembali ke sekolah saat sudah habis jam pelajaran?", ujarku. Aku terus berlalu meninggalkan ruang guru. Namun, tidak sengaja kulihat Danny juga tengah menatapku balik dan memberikan senyuman kepadaku. Jujur, aku takut saat melihatnya, kenapa dia sering memberikan senyuman kepadaku. Dia bukan seorang gay, kan?. Aku langsung berlari meninggalkan lorong ruang guru secepat mungkin.
...****...
Saat aku berjalan kaki dengan santainya meninggalkan sekolah untuk menuju ke rumah. Kudengar ada suara motor yang tiba-tiba menurunkan gas motornya dan mulai mendekat ke arahku. Kalian jangan berpikir ini cerita Dilan dan Milea ya? Jangan berpikir begitu.
Kualihkan pandanganku ke arah kanan, kulihat Danny tengah memelankan gas motornya dan kemudian berkata, "Mau nebeng gak?", Ucapnya. Jujur itu pertama kalinya aku mendengar suaranya. Suaranya begitu berat.
"Gak, rumahku sudah dekat". Ucapku sambil memalingkan wajahku kedepan.
"Oh, yasudah deh, hati-hati ya". Ucapnya dan berlalu meninggalkanku.
Kulihat Ia pergi perlahan, namun tiba-tiba Ia berhenti kembali dan melipir ke warung kopi yang kini disinggahi anak-anak untuk nongkrong. Aku menggelengkan kepalaku setelah melihatnya disana. Aku terus berjalan melewati tongkrongan mereka, kulihat sekilas Danny tengah mengisap rokok yang Ia pegang.
Ia kemudian menoleh ke arahku lagi dan berteriak, "Mampir, Ran". Teriaknya. Aku terkejut Ia tahu namaku. Tahu darimana? Sedangkan Ia tidak pernah ada saat sesi absen.
Kuarahkan pandanganku ke arahnya dan memasang muka datar. Kualihkan kembali pandanganku kedepan. Terus berjalan melewatinya hingga sampai rumah dengan selamat.
__ADS_1
...****...