Hai, Danny — Apa Kabar Hari Ini?

Hai, Danny — Apa Kabar Hari Ini?
Hari Terakhir MOS


__ADS_3

Tidak terasa kegiatan orientasi siswa akan berakhir. Aku senang karena akhirnya lepas dari semua kegiatan menyusahkan ini, namun disatu sisi aku merasa sedih juga karena sebentar lagi orang-orang yang sudah kukenal dikelas ini akan dipecah untuk menentukan kelas tetapnya.


Aku berjalan mengikuti rombongan siswa kelas 10 lainnya untuk menuju lapangan upacara. Hari ini merupakan upacara perpisahan MOS, sekaligus acara peresmian kami sebagai siswa baru di SMA Negeri X.


Mataku segera menatap seseorang yang sedang berdiri dipertengahan barisan antara guru dan murid. Danny. Ngapain ia berdiri disana? Kulihat ia sedang berdiri tegak dengan sedikit keringat yang mengalir dari dahinya.


Aku terus berjalan menuju barisan kelasku dengan sesekali menatap kearah Danny. Apa ia dihukum ya? Karena sudah tidak kooperatif dengan mengikuti rangkaian acara MOS. Entahlah, aku malas berpikir mengenai orang aneh ini, jika ia dihukum ya itu karena memang kesalahannya. Kenapa juga mesti kabur, bahkan sebelum kelas normal dimulai.


Setelah kami semua sudah berbaris memenuhi lapangan upacara, Kepala sekolahku mulai menaiki podium untuk memberikan sepatah dua patah kalimat pembuka dan wejangan. Sesi kata sambutan dan pemaparan sedikit materi dari Bapak Kepala sekolah berlangsung cukup lama sekitar setengah jam.


...****...


Waktu terus berlalu, kulihat Bapak Kepala sekolahku ini tidak ada hilalnya untuk mengakhiri wejangan. Aku sudah mulai lelah mendengarkan wejangannya, aku ingin segera mengakhiri sesi rangkaian acara seperti ini, ketika pemateri sudah terlalu lama menyampaikan materinya.


Tidak lama kemudian, Kepala sekolah mulai hening dan menatap ke arah Danny. Ada hal yang membuatku terkejut saat Kepala sekolah tengah berpidato.


Beliau mengatakan hal-hal yang begitu kasar bagiku, ya, beliau saat ini sedang memberi wejangan kepada Danny. Menurutku wejangan yang beliau sampaikan lebih mengarah ke perundungan. Beliau mengatakan Danny merupakan salah satu contoh manusia gagal dimasa depan, ia sering kabur dan masuk kesini hanya bermodalkan Ayahnya yang merupakan seorang tentara.


Kulihat, Danny begitu tenang mendengarkan semua cacian yang dilimpahkan oleh Kepala sekolah kepada dirinya dan disaksikan oleh semua orang yang berada di sekolah.


Setelah sesi wejangan Kepala sekolah berakhir, kulihat Danny tengah menatap jam ditangannya. Entah, mungkin ia merasa sesi pidato ini begitu lama juga. Sama seperti yang kurasa.


...****...


Disaat acara upacara dan peresmian telah selesai dilaksanakan. Kulihat Danny berjalan melawan arus barisan siswa kelas 10 yang akan kembali ke kelas masing-masing, dan sampailah ia berjalan melaluiku. Seperti biasa, saat kami berpapasan ia akan menoleh kearahku dan memberikan senyuman.


Ketika ia menoleh dan memberikan senyuman kearahku, ia langsung segera berlari secepat mungkin meninggalkan kerumunan siswa kelas 10. Berlari menjauh dan memanjat pagar kemudian mendarat dengan sempurna diluar sekolah.


Aku terkejut melihat pemandangan itu dan para guru yang tersadar segera berlari menuju pagar sekolah untuk mencegah Danny pergi, namun sayang Danny sudah melaju dengan kencang pergi bersama motor kesayangannya, sambil sesekali ia melambaikan tangan ke arah guru.

__ADS_1


"Wong, edan". Ujarku sambil menepuk jidat.


...****...


Akhirnya kami semua kembali keaktifitas kami masing-masing, agenda selanjutnya adalah pembagian kelas baru. Kelas tetap, teman tetap, wali kelas tetap. Akan berubah lagi pada saat kami naik ke kelas 11.


Kulihat seorang guru menempelkan sesuatu dipapan mading sekolah, setelah guru tersebut selesai memasang pengumuman tersebut, kami semua berlarian memenuhi mading sekolah.


Ternyata pengumuman tersebut berisikan daftar nama siswa dan kelas yang akan mereka tempati. Aku mencari namaku dideretan nama siswa yang terpajang disana.


Ketemu


Kelas 10-5, yesss, dekat kantin dan taman bawah. Aku senang sekali hari itu. Mendapatkan kelas strategis dan jauh dari kelas 10 lainnya. Terasa menenangkan tanpa harus mendengar suara gaduhan dari kelas sebelah. Batinku.


Saat aku tengah bergirang ria, aku kepikiran seseorang. Aku segera mencari namanya disemua daftar siswa kelas 10. Pikirku jika tidak ada namanya berarti ia dikeluarkan dari sekolah. Ternyata tidak, namanya tercantum didaftar bersama denganku. Ya, Danny sekelas denganku, lagi.


Terlebih, terdengar rumor bahwa ibu Danny pun adalah seorang polisi. Keluarga berpangkat dan memiliki anak yang bahkan disiplin dan mematuhi peraturan pun tidak. Kuakui ia sepertinya adalah seseorang yang tepat waktu, karena segera langsung berlari meninggalkan sekolah sehabis ia melihat jam ditangannya.


Apa ada sesuatu yang harus ia kerjakan? Hingga ia terlihat begitu buru-buru untuk segera meninggalkan sekolah.


Entahlah, aku tidak peduli.


...****...


Kini aku telah sampai dikelas baruku, kulihat ternyata ada beberapa orang dari kelas 10-1 yang masih sekelas denganku. Bahkan, Jamil teman sebangkuku pun juga berada dikelas ini.


Jangan menghujatku karena telah bersikap dingin padanya dihari perkenalan kami, tapi, hmmm... ya aku duduk dengan Jamil kembali.


Aku sudah terbiasa duduk dengannya, dan lagi kupikir ia juga tidak terlalu banyak bicara sama sepertiku. Aku tidak suka duduk dengan seseorang yang terlalu berisik dan cerewet.

__ADS_1


Aku kini duduk dimeja barisan pojok sebelah kanan, ya masih didepan sih. Tapi, aku kurang suka duduk disini papan tulisnya akan silau terkena cahaya dari jendela kelas.


Saat aku berjalan ke mejaku, kulihat dibelakang barisan mejaku ada Johan juga yang sedang memakan permen. Ia menatapku dan memberikan senyuman. Aku membalas sapaannya sekilas. Jujur bukan karena beramah tamah, tapi lebih tepatnya aku malas berurusan dengan orang seperti Johan dkk. Mereka memiliki aura pembully.


Aku segera duduk dikursiku dan tak lama kemudian kulihat ada seseorang yang masuk ke kelasku dan berjalan menuju kursi belakang.


Danny


Ia nampak santai berjalan melewati barisan meja, sambil menggigit sehelai rumput hijau.


Ini anak ngapain habis kabur kemudian kembali datang ke sekolah dengan santainya. Setauku orang kabur dari sekolah sampai jam kelas berakhir ia tidak akan kembali. Yang ini tipe bolosnya agak berbeda.


Pantas saja memang ia dijuluki siswa aneh.


Ia berdiri dan menjabat tangan Johan, kemudian menduduki tempat duduknya dipojok dekat jendela seperti dikelas 10-1.


Ia mengambil ponsel bututnya itu dan memasang headset ke audio jack ponselnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil melipat kedua tangannya didada. Kaki kirinya ia lipat keatas kaki kanannya.


Kemudian, ia memejamkan matanya sambil menikmati cahaya matahari pagi yang menyeruak masuk melalui jendela didepan wajahnya.


Bagaimana bisa ia setenang itu, setelah melompat pagar sekolah terang-terangan, dan mungkin ia habis kembali dari ruang guru, dimarahi, dihukum, dll. Dan ia kembali ke kelas seakan itu semua tidak pernah terjadi.


Aku penasaran apa yang ia pikirkan tentang semua pola tingkahnya ini. Apakah ia sudah sering seperti ini sebelumnya?


Aku memutar tubuhku menghadap kedepan lagi dan memainkan ponselku.


Aku hanya ingin hari ini segera berakhir.


...****...

__ADS_1


__ADS_2