
"Haidar, bangun kamu." Ucap Sean membangunkan Haidar, Rasanya baru kemarin anak-anaknya ini dia gendong tapi waktu berputar begitu cepat.
Kini anak-anak sudah dewasa, Haiman sudah kuliah.
Dan Haidar sudah mencapai kelulusannya di sekolah menengah.
"Astaghfirullah," Dengusnya sebal, karena dari ketiga anaknya hanya Haidar yang susah bangun, dengan kesal Sean mengambil air di kamar mandi.
Byurrrr..
"Aaaaa Tsunami." Teriak Haidar gelagapan karena menelan air yang Ayahnya sirem ke wajahnya.
Sean sudah berdecak pinggang, dengan sorot mata yang tajam membuat Haidar cengegesan tak jelas dan langsung berlari ke kamar mandi.
Sean menggeleng-gelengkan kepalanya, dia pun keluar dari kamar Haidar menuju meja makan.
"Udah bangun, Yah." Tanya Ira..
"Sudah,"
"Abang, Hanna berangkat bareng Abang ya." Ucap Hanna sambil mengunyah sarapannya.
"Hmmm"
Tak lama setelah sarapan, Haiman dan Hanna pamit berangkat ke sekolah dan Haiman ke kampus.
Begitu pun dengan Sean yang pamit kekantornya, Ira melirik jam dinding yang sudah jam delapan, tapi anak keduanya itu tak kunjung turun juga.
Ira menaiki tangga untuk kembali melihat Haidar.
Tok
Tok
"Kak, kamu sudah bangun belum?" Ira menempelkan telinganya di daun pintu, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Krekkk
Kamar Haidar kosong tak ada siapa pun, hanya ranjang yang basah.
Ira mendekati kamar mandi, tidak ada suara gemercik air setetes pun.
Ira kembali mendorong pintu kamar mandi, matanya membulat melihat Haidar malah tidur dengan nyenyak di Bathtub.
"Haidar!!'
" Ahhh iyaa." Haidar langsung bangun mendengar teriakan ibunya.
"Cepet mandi, jam berapa sekarang."
"Hehe Iya bun"
Ira meninggalkan Haidar, tapi tetep suaranya terus berteriak agar Haidar tidak lagi tidur dikamar mandi.
Ira bingung, sikap Haidar ini menurun ke siapa, melihat suami. Suaminya sepertinya tidak senakal Haidar.
Astaghfirullah, Ira rasanya sangat pusing.
***
__ADS_1
Sorot tajam kini menghunus Haidar yang duduk dengan tenang, seperti tidak punya salah sedikitpun.
Bahkan dia meminum air yang di sediakan di meja untuk Pak Agus, guru BK BHAKTI KENCANA.
Haidar yang turun dari dinding tinggi pembatas itu tak menyadari kalau pak Agus menunggunya dibawah, dan sekarang dia harus di straf diruangan ini.
"Haidar!!" Haidar langsung melonjak kaget mendengar bentakan Pak Agus.
Pak Agus menghela nafasnya, rasanya dia sangat bosan menghukum murid satu ini yang entah tak tau apa kapan insyaf nya.
"Alasan apa lagi kamu manjat tembok?"
"Telat pak." Jawabnya santai.
"Telat?"
"Iya."
"BAGAIMANA BISA,HAH.APA KAMU TIDAK MEMASANG ALARM, ATAU ORANG TUAMU TIDAK MEMBANGUNKANMMU?"
Haidar mengelap wajahnya yang basah karena air hujan Pak Agus.
"Bangunin ko pak, Sayanya aja ngantuk.!!"
"Astaghfirullah" Pak Agus mengusap wajahnya frustasi.
"BERDIRI DI DEPAN BENDERA SAMPAI ISTIRAHAT."
**
HaidarMuhammad Yusuf, nama yang sangat indah tapi berbanding kebalik dengan sifatnya.
Laki-laki yang akan lulus sekolah menengah iini berdiri didepan tiang bendera dengan tangan di angkat menghormat.
"Cantik." Goda Haidar saat melihat adik kelasnya lewat, bahkan dengan genitnya matanya berkedip sebelah membuat si empu tersipu malu.
Haidar bersiul sambil berdiri dibawah terik matahari, matanya mengedar ke sekeliling, tidak ada siswa atau siswi yang berkeliaran karena jam pelajaran.
Haidar terkesima melihat wanita cantik berhijab melewatinya begitu saja.
"Apa murid baru ya?" Tanyanya pada diri sendiri. Mata Haidar terus saja mengikuti arah wanita itu, yang ternyata masuk ke dalam kelasnya.
***
kring kring..
Tak terasa bell istirahat terdengar, Haidar langsung pergi ke kantin tanpa masuk kedalam kelasnya dulu.
"Ehh"
Haidar langsung menatap wanita yang tak sengaja masuk berbarengan dengannya hingga menitipkan jarak di antara keduanya.
"Maaf," Ujarnya..
Haidar masih diam mematung, satu kata yang Haidar sebut dalam hatinya.Perfect.
Haidar pun masuk ke kantin, dia langsung memesan makanannya.
"Kemana aja lo, gue cariin dari tadi juga." Ujar Jono yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi depan Haidar.
__ADS_1
"Abis menatap dunia." Sahutnya.
Jono mendelik malas, mendengar jawaban Haidar.
"Eh, Wali kelas kita di ganti sementara katanya, Bu Metta lahiran jadi di ganti."
"Oh." Haidar kembali memakan basonya tanpa memperdulikan Jono yang sedang bercerita.
"Sayang." Pekik wanita yang baru saja datang memeluk Haidar, Haidar yang sedang makan baso pun seketika tersendak.
Uhukk uhukkkk...
Meli langsung memberikan air pada Haidar.
Haidar langsung meminum habis air yang di berikan Meli.
Haidar mendengus sebal pada wanita di sampingnya, selain suka telat datang ke sekolah. Haidar juga playboy kelas gajah..
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al Isra: 32)" Ucap Hanan yang baru saja mendudukkan bokongnya.
"Siapa juga yang Zina, Iya gak beb." Ucap Meli.
Hanan Menggeleng-gelengkan kepalanya, mulutnya kembali berucap.
"Barang siapa berjabat tangan dengan seorang perempuan, maka kelak di hari akhir ia akan dirantai dengan rantai api neraka. Dan jika ia menciumnya, maka di hari akhir akan digunting kedua bibirnya dengan gunting api neraka. Dan jika ia berzina dengannya, maka kedua pahanya akan menyaksikan kelak di hari akhir tentang perbuatannya yang keji itu dan Allah murka kepadanya.”
Seketika Meli melepaskan tangannya yang memegang lengan Haidar, dia begitu ngeri mendengar ucapan Hanan.
"Tuh dengerin, sekarang lo pergi. Gue mau makan." Ucap Haidar mengusir Meli.
"Ya sudah deh, tapi pulang bareng ya beb." Ucapnya sebelum ngacir.
Setelah kepergian Meli, Haidar mengacungkan jempol pada Hanan.
"The best, Lo."
"Lo juga, kalau gak suka jangan ngebaperin anak orang, numpukin dosa aja. Kalau mau serius ya halalin."
Haidar menggaruk hidung mancungnya, begini nih kalau punya temen anak ustadz tiap hari pasti ada aja ceramah yang keluar dari mulut laki-laki ini.
"Siap Pak Ustadz."
Haidar kembali memakan basonya, begitu pun dengan teman-temannya.
"Ehh, Jon. Cewe yang masuk ke kelas kita siapa?"
"Cewe? cewe siapa?" Tanya balik Jono bingung.
Haidar mengedarkan pandangannya mencari yang di maksudnya.
Puk pukkk Haidar menepuk bahu Jono yang sedang makan.
"itu tuhhh," Tunjuk Haidar.
Hanan dan Jono mengikuti arah tunjuk Haidar.
"Itu Wali kelas kita yang baru, yang gantiin bu Metta." Ujar Jono.
"Serius lo." Ucap Haidar tanpa menolehkan tatapannya pada Wanita yang duduk di sebrang mejanya.
__ADS_1
"Inget!! Zina mata." Ujar Hanan cuek.
"Ganggu aja lo, Nan." Dengus Haidar kembali pada posisi duduknya.