
Hari ini malam minggu, semua anggota keluarga Sean sudah berkumpul diruang tamu seperti biasa.
Bukan sedang rapat keluarga atau apalah, tapi mereka memang selalu menghabiskan weekend dengan keluarga.
Haiman sibuk dengan cemilannya seperti yang Hanna lakukan, dan juga Haidar yang sedang bermain game dengan kepala dibawah sopa sedangkan kakinya mengacung.
"Bang, gimana hubungan kamu?" Tanya Sean.
Haiman yang sedang nyemil pun menghentikan aktivitasnya.
"Lancar Yah, kalau Ayah restuin setelah semester tahun ini selesai aku mau lamar dia."
Sean manggut-manggut mendengar penuturan Haiman.
"Iya Bang, kata si Hanan mah jangan lama-lama macarin anak orang kalau gak mau serius, bikin dosa aja." timpal Haidar
Haiman mengerutkan keningnya, dia melemparkan cangkang kacang yang di pegangannya.
"Kaya, lo gak gitu aja!! Cewe lo tuh bikin rusuh di depan gerbang kemarin!!"
"Cewe yang mana, Jodoh gue mah gak tau rumah gue kali!!"
"Jodoh-jodoh mata lo picek!! emang lo lagi suka sama siapa sih Dar?" Tanya Haiman.
"Ada deh, yang pasti cocoklah buat ibu anak-anak gue.' Ucap Haidar tanpa mengalihkan matanya dari Game.
"Sekolah yang bener kamu Haidar, masih suka di panggil keruang BK aja sok sokan.!!!" Tegur Sean.
"Iya, Yah."
***
Karena sekarang wekeend Haidar yang bosan pun memutuskan untuk main kerumah Hanan.
Sesampainya dirumah Hanan, Haidar tak langsung masuk, dia menunggu di teras rumahnya karena kata orang tua Hanan, kalau laki-laki itu sedang mengajari ngaji anak-anak di mushola.
Sambil menunggu Haidar memainkan hpnya, tumben sekali hpnya sepi padahal biasanya banyak chat masuk dari pacarnya.
Haidar memicingkan matanya saat menoleh tak sengaja melihat wanita yang di kejar-kejarnya sedang membawa belanjaan.
Greppp...
Haidar mengambil alih belanjaan itu membuat sang empu hampir berteriak maling.
"KAMU!!" kesalnya saat tau ternyata tersangkanya itu adalah Haidar, murid yang selalu menganggunya.
"Ibu anak-anak gak boleh cape-cape, nanti prosesnya lama jadinya." Ucap Haidar ambigu.
"Ayo Bu, saya anterin sampai rumah." Ucapnya berjalan duluan, namun baru beberapa langkah dia berhenti.
"Ada apa?" Tanya Salma bingung.
__ADS_1
Haidar pun menoleh, menampilkan cengengesan yang tidak jelas.
"Rumahnya dimana, Bu?" Tanyanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hemm, makannya jangan sok tau kamu." Salma pun berjalan mendahului Haidar, ternyata rumah Salma tidak jauh dari rumah Hanan, Haidar mengutuk temannya itu dalam hati karena tidak pernah cerita.
"Sialan emang si Hanan, kenapa gak pernah cerita sih rumahnya dekat Bu Salma. Kan gue bisa sering main ke sini." Gerutu Haidar pelan.
"Kamu ngomong apa?"
"Hah, nggak ko" Haidar melihat sekeliling, rumah Salma tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil sangat nyaman dan asri dengan pepohonan yang meneduhkan halaman rumah.
"Simpen saja di teras belanjaannya, biar nanti saya bawa masuk ke dalam."
Haidar pun menurut, dia menyimpan barang-barang itu di teras.
Dia duduk di kursi yang sudah tersedia di luar, menunggu Salma yang sedang membuka kunci rumahnya, sepertinya tidak ada orang dirumah ini.
"Makasih ya." Ucapnya setelah pintu rumah itu terbuka.
"Makasih doang,?"
"Iya, terus kamu maunya apa, kamu gak ikhlas bantuin saya." Ucapnya sedikit ketus.
"Ya, kasih minum kek, atau ajak makan siang kek."
Tanpa banyak bicara Salma pun masuk kedalam rumahnya, tak lama dia membawa sepiring makanan dan segelas air.
Salma pun masuk kedalam rumahnya saat Haidar sedang makan dengan lahap di terasnya, seperti orang yang sudah satu minggu gak makan.
Salma merapihkan sayuran yang dibelinya dipasar, dia memasukannya kedalam kulkas agar tetap segar.
Saat sedang merapihkan sayuran Hpnya berdering, senyumannya mengembang saat tau siapa orang yang menelponnya.
"Assalamu'alaikum bidadariku." Senyum Salma mengembang mendengar suara laki-laki disebrang telpon sana.
"Walaikumsalam Mas,"
"Sedang apa?"Tanya seseorang di sebrang telpon sana.
"Sedang merapihkan sayuran."
"Abis belanja?"
"Iya Mas."
"Oh ya sudah lanjutkan saja, nanti kalau sudah selesai Mas telpon lagi."
"Iya, Mas."
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Walaikumsalam" Sahut Salma menutup sambungan telepon, dia kembali merapihkan sayuran yang sempat tertunda tadi.
Haidar yang mau memberikan piring kosong pun mematung di ambang pintu, pikiranya berkelana pujaan hatinya sudah jadi milik orang.
Tidak!! sebelum janur kuning melengkung pepet terus.
Iyaa.. Lagian setau Haidar kalau guru cantiknya ini belum menikah.
"Haidar." Salma menarik piring kosong di tangan Haidar, tapi laki-laki tak kunjung melepaskannya.
"Haidar!!" Bocah menyebalkan ini malah senyum-senyum sendiri membuat bulu kuduk Salma berdiri.
"HAIDAR." teriak Salma keras.
"Hah!!" Haidar langsung mengarah kearah piring yang sedang di tarik seseorang.
"Hehe." Dia pun melepaskan tangannya dari piring itu.
"Sekarang kamu sudah boleh pulang." Usir Salma halus, saat piring bekas makan Haidar mendarat ditangannya.
"Habis manis sepah di buang." Gumam Haidar pelan.
"Bilang apa kamu!!"
"Ah, ngak saya pamit dulu Ibu anak-anak.
"Assalamualaikum." Pamit Haidar pergi dari rumah Salma.
Salma pun langsung menutup pintu dengan sebal, bagaimana bisa dia memiliki murid yang nauzubillah seperti Haidar, bahkan tidak ada sopan-sopannya saat bicara padanya dan juga siapa juga yang mau jadi ibu dari anak-anak bocah ingusan itu.
***
Setelah pulang dari rumah Salma, Haidar langsung kerumah Hanan, kening Hanan mengkerut saat Haidar berjalan kaki entah dari mana.
"Abis dari mana Lo?" Tanya Hanan.
"Lo ko gak pernah cerita sih kalau jodoh gue tinggal disini?"
Hanan mengkerutkan keningnya tak mengerti.
"Jodoh lo yang mana? Si Meli?" Ujar Hanan karena rumah Meli tak jauh dari rumahnya.
"Bukan Pea, itu bu Guru cantik!!" ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Ngapain juga gue ngasih tau, yang ada lo kerumah gue tiap hari." Ucap Hanan seperti tau isi otak Haidar.
"Ya iyalah, jodoh gue harus di jagain tiap hari."
Hanan mendelik malas temannya ini, dia pun pergi meninggalkan Haidar di teras, bagaimana bisa dia punya teman seperti Haidar.
_______
__ADS_1
Note: Ramaikan dong komentar, like dan votenya.😂😂