Hai, Jodoh!!

Hai, Jodoh!!
Haidar (Enam belas)


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Haidar sudah menggedor-gedor rumah Salma.


Gunawan yang sedang menonton berita pagi pun langsung terjungkel karena kaget. Gunawan pun berdiri sambil membenarkan sarungnya.


"Siapa sih pagi-pagi berisik." Gunawan pun membukakan pintu dengan sangat kesal.


Haidar sudah nyengir kuda melihat Ayah dari jodohnya itu membukakan pintu.


"Dasar bocah semprul, ngapain kamu kesini. Mau minta sarapan." Ucap Gunawan garang, karena kesal.


"Hehe, tenang Pak. Saya bawa nasi uduk sama goreng pisang." Sahut Haidar sambil mengangkat jinjingannya.


"Wihh tau aja Bapak belum sarapan, bentar tunggu disitu. Bapak ambil teh hangat sama catur dulu." Gunawan pun kembali masuk kedalam untuk mengambil catur dan teh hangat.


"Siapa Pak?" Tanya Salma yang sedang masak.


"Si Dadar, Sal tuangin teh hangat dua gelas, bawa piring juga. Bapak mau sarapan sama si Dadar didepan." Ucap Gunawan sambil masuk kedalam kamarnya.


"Dadar siapa sih pak?" Tanya Salma Bingung. Namun Gunawan sudah masuk kedalam kamarnya membuat Salma jadi kepo.


Salma pun berjalan menuju teras, melihat siapa yang datang.


"Haidar?"


"Selamat pagi Jodohku, Ibu anak-anakku." Sapa Haidar dengan senyuman usilnya.


"Kamu ngapain pagi-pagi kesini?"


"Mau ngajak bapak sarapan bareng, terus maen catur mumpung sekarang hari minggu." Jelas.


"Oh iya, ini sarapan buat Bu Salma. Ibu belum makan kan." Haidar pun menyodorkan satu bungkus nasi uduk untuk Salma, Salma pun menerima nasi uduk itu.


"Sal, udah bawa belum teh hangatnya. Bapak mau sarapan bareng sama tanding catur sama si Dadar." Ucap Gunawan yang baru saja datang.


"Iya Pak." Salma pun kembali masuk untuk mengambil minum dan piring.


"Sarapan dulu, setelah sarapan baru kita tanding. Saya masih penasaran kenapa kalah terus kalau main dengan kau."


Salma pun membawa teh hangat dan dua piring kosong. Salma juga menyiapkan nasi uduk itu diatas piring, seperti seorang istri yang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Terimakasih Ibu Anak-anak." Ucap Haidar membuat wajah Salma sedikit memanas, bocah laki-laki itu seperti tidak punya urat malu. Padahal ada Ayahnya tapi bisa-bisanya menggoda anaknya.


"Cepat makan, Saya tidak sabar untuk mengalahkanmu."


Salma pun pamit masuk kedalam rumahnya meninggalkan dua laki-laki beda generasi itu sarapan diluar, Salma membuka nasi uduk itu dengan senyuman.


Dia mulai menyuapi nasi uduk itu yang terasa sangat nikmat, padahal hanya nasi uduk biasa.


***


Haidar dan Gunawan seperti sepasang anak yang begitu asik bermain catur.

__ADS_1


Apalagi Haidar terus saja mengoleskan tepung di wajah Gunawan, hingga Gunawan tidak bisa lagi dikenali saking sudah putih.


"Kau curang, pasti kau curang." Ucap Gunawan tak Terima, karena wajahnya jadi cemong.


Salma yang mengambil kursi menonton pun terus saja tertawa melihat kekalahan Ayahnya.


"Curang apaan, kan ada wasitnya ini duduk." Bela Haidar sambil menunjuk Salma.


"Apa, Aku cuman penonton." Bantah Salma tak mau ikut-ikutan.


"Sekali lagi, Saya pasti bisa mengalahkan kamu." Ucap Gunawan tak terima dikalahkan oleh bocah ingusan.


Haidar dan Gunawan pun kembali tanding, tapi kali ini kecurangan Haidar diketahui Gunawan.


Dengan penuh dendam Gunawan membuat wajah tampan Haidar berlumuran tepung membuat Salma yang menontonnya pun tertawa terbahak-bahak.


"Jam berapa sekarang ,Salma?" Tanya Gunawan saat mereka sudah selesai bermain catur.


"Jam 8 pak." Sahut Gunawan.


"Heh, kau jangan dulu pulang." Ucapnya pada Haidar.


"Kenapa memangnya pak?" Tanya Haidar sambil membersihkan wajahnya.


Gunawan pun merangkul Haidar,menyeret laki-laki itu masuk. Membuat Haidar memekik kaget.


Salma pun membereskan kekacauan yang diciptakan dua manusia beda generasi itu.


Baru saja akan masuk, Haiman datang. Dia turun dari mobilnya.


"Walaikumsalam, Mas Yusuf."


"Berantakan banget,"


"Iya, bapak habis main catur." Kekehnya saat melihat kejadian tadi.


"Sama siapa?" Tanya Haiman sambil menaikan sebelah alisnya.


"Sama murid aku itu."


"Dia ada di sini?" Tanya Haiman masam, bahkan raut wajahnya sudah berubah. Salma yang melihat perubahan itu pun langsung menghentikan kekehannya.


"Cuman maen catur aja ko, Mas." Jelas Salma tak mau membuat Haiman cemburu. Haiman pun hanya mengangguk.


"Ada apa Mas, Tumben pagi-pagi kesini?" Tanya Salma.


"Oh iya, Hari ini kita fitting baju. Makannya aku kesini buat jemput kamu." Jawab Haiman dengan senyuman.


"Sekarang?"


"Iya, Bapak mana. Aku mau minta ijin dulu." ucap Haiman.

__ADS_1


"Bentar ya, Salma panggilkan dulu sekalian siap-siap."


Salma pun masuk memanggil Ayahnya yang sedang siap-siap entah mau kemana, karena penampilan menggunakan baju yang lusuh.


"Pak, Ada Mas Yusuf." Ucap Salma pada Gunawan yang sedang di dapur bersama Haidar.


"Yusuf ke sini?"


"Iya, mau minta ijin. Kita mau fitting baju." Ucap Salma pelan.


Haidar yang sedang memilih baju pun menoleh, benarkah jodohnya itu mau menikah.


Haidar harus melihat seperti apa calon suami Salma, dia tak rela memberikan wanita sebaik Salma pada laki-laki tak jelas dan bertanggung jawab.


"Bentar ya, kau jangan kemana-mana. Bapak mau nemuin mantu dulu."


Salma pun bersiap-siap saat Ayahnya menghampiri Haiman yang duduk didepan.


"Assalamu'alaikum, Mantu."


Haiman pun menoleh, dia pun menyalami Gunawan sambil menjawab salamnya.


"Pak, Saya mau minta ijin buat ngajak Salma fitting baju." Ucap Haiman membuka suara.


"Ya bolehlah, lagian pernikahan kalian juga sebentar lagi."


"Terima kasih,Pak."


"Ayo Mas," Ajak Salma yang baru saja datang.


"Kami pamit dulu Pak." Ucap Haiman menyalami Gunawan buat pamit.


Haiman pun membukakan pintu mobil untuk Salma, sedang laki-laki yang didalam menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Hancur, sakit. Itu yang dia rasakan.


Dunia Haidar terasa berhenti berputar, bahkan dadanya terasa sesak hanya sekedar untuk menghirup udara, tubuhnya seakan membeku menatap tak percaya kalau kekasih Wanita pujaannya adalah kakaknya sendiri, jadi selama ini dia terus saja menggoda calon kakak iparnya, dan sejak kapan mereka pacaran?


Kenapa Haidar tidak pernah ketemu jika kakaknya membawa Salma kerumah?


Ohh astaga, dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri setiap kali Bundanya memanggil setiap ada kekasih kakaknya karena menurutnya tidak penting dan sekarang dia sangat menyesal!!..


Dia terus saja bicara kalau dia akan menikung Salma sebelum ijab kabul, apakah Haidar akan yakin dengan ucapannya itu. Sepertinya tidak, dia menarik semua kata-katanya..


Ingatan Haidar berputar dengan setiap kenangan yang dia lewatkan dengan Salma, bagaimana dia berubah jadi rajin setelah mengenal wanita itu.


Bagaimana ucapan terimakasih Haiman saat dia mengurus semua acara lamarannya bahkan kakaknya itu terus saja mendoakan dia berjodoh dengan wanita incaran Haidar, siapa sangka kalau wanita itu kekasih, Haiman. Kakaknya sendiri.


"Dar, ayo.."


"Maaf pak, Saya tidak bisa. Bunda saya telpon nyuruh pulang." Pamit Haidar meninggalkan Gunawan dengan raut wajah yang bingung, karena melihat perubahan wajah Haidar.

__ADS_1


_______


Likenya kencengin, Bunganya juga dibanyakin okeeee☺☺☺


__ADS_2