Hai, Jodoh!!

Hai, Jodoh!!
Haidar (Dua puluh)


__ADS_3

brakk


brukkk


Kapan mobil Haiman ringsek begitu saja, bahkan karena benturan yang sangat keras, kini keningnya mengeluarkan darah.


Namun Haiman tak berniat keluar dari mobilnya, dia memegang stir dengan sangat kuat, bahkan sekarang Haiman hanya menunduk di atas stir, bukan kecelakaan ini yang membuatnya sakit, tapi hati.


Hatinya sakit!!


"Ya Allah, apapun yang terjadi hari ini, lapangan hatiku untuk menerimanya. Cukup kan diri ini untuk tidak menyalahkan orang lain. Aku percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi atas campur tanganmu"


Haiman mendorong pintu mobil dan keluar dari mobilnya.


Kakinya tertatih-tatih berjalan menelusuri jalan yang memang begitu sepi.


"Ya Allah, Nak. Kamu tidak apa-apa?' Tanya panik seseorang yang baru saja menghampiri dirinya, dan Haiman yakin kalau laki-laki itu yang hampir dia tabrak.


" Tidak apa-apa pak, Bapak sendiri gimana ke adaannya?" Tanya balik Haiman .


"Saya mah gapapa, tapi itu." Tujuknya pada luka di kening Haiman.


"Saya, gapapa pak." Haiman merogoh sakunya mengambil beberapa lembar uang untuk ganti rugi karena ulahnya.


"Saya minta maaf, Pak."


"Apa ini."


"Ini buat ganti rugi, bapak harus periksa ke rumah sakit."


"Tidak, Saya tidak apa-apa. Mending uangnya kamu pakai untuk mengobati luka kamu ini."


"Ayo, saya anter ke klinik terdekat. Sepertinya luka kamu lumayan parah."


Haiman pun mengikuti bapak-bapak itu, karena dia juga sudah mulai merasa pusing karena benturan dan badannya sudah mulai terasa ngilu.


****


Haidar memasukki rumahnya dengan sangat lesu.


Rumah ini sebentar lagi akan bertambah penghuninya karena Abangnya akan menikah sebentar lagi.


"Kak, Kamu gak ketemu Abang dijalan?"


"Emang Abang kemana, Bun."


"Abangmu keluar dari tadi katanya pamit mau kerumah Mbak Salma, tapi udah malem begini belum juga pulang." Jelas Ira khawatir.


"Dari tadi?"


"Iya, Bunda kira kamu ketemu gitu dijalan sama mobilnya."


Deg


deg


Jantung Haidar terasa berdetak dengan sangat cepat saat mendengar penuturan sang ibu, Dia baru saja pulang dari rumah Bu Salma, dan Bundanya berkata kalau Abangnya juga pergi dari tadi.


Itu artinya, Saat dia dirumah Bu Salma.


Abangnya juga ada di situ.

__ADS_1


"Kak." Panggil Hanna.


"Hanna, Mau ngomong." Hanna langsung menarik tangan Haidar.


"Ada apa sih, dek. Kakak mau nyari Abang!!"


"Abang tau, dia liat semuanya."


"Hah, maksud kamu apa sih."


"Abang liat foto-foto kakak sama Mbak Salma."


"Hah!!" Tubuh Haidar seakan tambah lemas mendengar ucapan adiknya.


"Setelah itu, Abang pergi."


Dengan cepat, Haidar pergi meninggalkan Hanna tapi baru saja kakinya beberapa langkah.


Abangnya sudah pulang dengan perban di kening, bahkan Bundanya menangis sambil memeluk abangnya.


"Abang, Gimana bisa kamu pulang-pulang jadi begini?" Tanya Ira khawatir, bahkan Ira terus saja memeriksa luka pada tubuh Haiman.


"Mobil Abang, Slip ban. Jadi gini." Bohongnya.


"Jadi kamu gak jadi kerumah Salma?"


"Nggak bun, Pas mau kerumah Salma. Ban mobil Abang malah slip, karena menghindari kecelakaan Abang banting setir. Bunda jangan khawatir ya, Abang gapapa ko." Ucap Haiman sambil mengecup ibunya, dia begitu tak tega melihat ke khawatiran yang tercetak jelas di wajah ibunya.


"Gimana gak Khawatir, kamu tuh mau nikah. Eh malah kecelakaan."


"Nggak papa ko bun, besok juga sembuh."


"Ya sudah, kamu istirahat."


Dia menatap langit-langit kamarnya, Haiman mengusap keningnya yang mulai terasa berdenyut.


"Jika cintamu sudah bergeser untukku, maka biarkan aku memulai dari apa yang kamu inginkan."


Krekkk


Haiman menoleh ke arah pintu yang terdorong dari luar.


"Bang" Panggil Haidar yang memasuki kamarnya, Haiman menyambut Haidar dengan senyuman.


"Ada apa, Dari."


"Bang, Maafin gue."


Haiman melirik Haidar, dia pun beranjak dari tidurnya.


"Maaf buat apa, Dar? Maaf udah deketin cewe Abang." Kekeh Haiman, namun mampu membuat Haidar tertunduk.


"Duduk, Dar." Titah Haiman sambil menepuk kasur di sampingnya.


Haidar mengikuti titah Haiman.


"Lo suka sama Salma?" Tanya Haiman.


"Gimana, kalau lo yang gantiin gue nikahin dia." Ujar Haiman serius, dan mampu membuat Haidar menatap tajam Haidar.


"Bang." Ujar Haidar penuh penekanan. Dia benar-benar tidak suka mendengar penuturan Abangnya. Meskipun Haidar menyukai Salma, tapi dia juga tak mau harus bersaing dengan Abangnya sendiri.

__ADS_1


"Gue putus asa, Dar. Gue bingung harus lanjutkan pernikahan ini atau tidak. Bahkan gara-gara itu nyawa gue hampir melayang, dan bahkan hampir nabrak orang." Ujar Haiman jujur.


"Bukan tubuh gue doang yang sakit, tapi hati gue juga. Kenapa harus lo, Dar?" Tanya Haiman di akhir kalimatnya, bahkan sambil menatap Haidar yang duduk disampingnya.


"Kalau orang lain, mungkin gue bisa terima. Tapi ini elo, adik gue sendiri." Kekeh Haiman.


"Maafin gue bang." Ucap Haidar sambil tertunduk.


"Nggak, Dar. Lo gak salah, mungkin ini memang salah gue yang terlalu cuek sama Salma."


"Hal yang tidak dia dapatkan dari gue, tapi dia terima dari lu."


"Awalnya sakit banget, tapi gue harus terima. Jadi apapun yang terjadi__."


"Gue, gak bakalan nyerah sama lo." Ujar Haiman sambil tersenyum ke arah Haidar.


"Gue udah maafin lo, Dar." Dengan lapang dadanya Haiman yang sudah berperang dengan hatinya, kini dia memutuskan tetap melanjutkan pernikahannya.


"Makasih, Bang." Haidar membalas pelukan Haiman. Bahkan air matanya menetes begitu saja, dia begitu sangat bersalah pada Abangnya.


"Wah, acara apa ini? pake peluk-pelukan segala."


"Bunda." Jawab Haidar dan Haiman berbarengan, bahkan kini dua laki-laki itu memeluknya.


"Kita sayang sama Bunda. Liat perjuangan kita ya bun, mencari Menantu buat bunda." Ujar Haidar.


Ira mengusap kepala dua jagoannya dengan gemas.


"Kalian ini kenapa sih, bikin bunda meringding."


****


"Saya Terima Nikah dan kawinnya Deffina Salma Binti Gunawan dengan mas kawin tersebut, Tunai!!"


"Bagaimana para saksi."


"SAH!!"


"alhamdulillah"


Haidar menarik nafasnya dalam-dalam saat ijab kabul berhasil, Abangnya ucapkan dengan sangat lancar.


Haidar mengikuti arah tamu undangan, dimana Salma tampil dengan sangat cantiknya.


Bahkan bisa Haidar tangkap aura kebahagiaan di wajah wanita yang disukainya itu.


Benar apa kata Abangnya, Salma mencintai abangnya tapi Haiman tak bisa memberikan perhatian seperti yang sering Haidar lakukan.


Haidar tersenyum bahagia melihat sepasang pengantin yang sedang bertukar cincin.


Hatinya selalu mendoakan yang terbaik untuk sang Abang, dan istrinya.


Semoga mereka segera diberi momongan, dan hidup bahagia sampai mau memisahkan.


***Kita semua memiliki jalan tersendiri untuk mengarungi hidup ini.


Terima kasih telah mengajariku banyak hal dalam jangka panjang. Aku ingin menyimpan semua kenangan indah ini di hatiku dan melihat ke depan.


Terima kasih telah membuat hari-hariku yang melelahkan menjadi hari yang menyenangkan.terima kasih atas semua kenangan indah yang kita bagikan bersama.


Selamat tinggal, jodohku.

__ADS_1


Jodoh yang aku harapkan hadirnya tapi ternyata hanya singgah saja***.!!


__ADS_2