
Agille dan Alex sampai di depan kelas 1A.
"Permisi.."
"Ohh.. kalian berdua. Masuklah! Kalian berdiri dulu disampingku, " kata Azris
"Ha.. serius. Dia sekelas denganku? " bisik seisi kelas
Kesan pertama, ya? batin Agille
"Jadi bapak wali kelasnya? " tanya Alex
"Begitulah.. karena aku guru olahraga, kuambil saja pekerjaan penjaga gerbang."
"Baiklah.. lanjutkan perkenalannya."
"Ba-baiklah.. nama sa-saya Rumi Geuvani. Biasa dipanggil Ru-Rumi.. mohon bantuannya. "
Terlihat gadis biasa bersifat feminin. Agille yang berbincang-bincang dengan Alex dan Azris, melirik Rumi.
"Apa kau tertarik padanya?" tanya Alex
"Tidak. Hanya saja.. dia seperti menyembunyikan sifat aslinya. "
"Bukannya kamu tidak punya hak untuk bilang begitu?"
"Apa maksudmu? "
"Baiklah.. giliranku. Fiza Pharsuzi, bisa kalian panggil Fiza. Dan.. jangan melihatku terlalu lama. "
"Gadis itu cantik sekali. "
"Dia mau berteman denganku tidak, ya? "
"Tapi.. lihat dia tampak kesal. "
Seketika Fiza langsung menoleh, dan kembali duduk.
"Baiklah. Sekarang tinggal dia dan sampah. Kuperkenalkan bocah sampah ini.. siapa, ya? "
"Jangan bilang anda susah dalam mengingat nama, " kata Alex
"Mau bagaimana lagi?"
"Biar saya aja. Namaku Alexsio Endraino. Dan dia temanku Agille Pendacsia. Sebagai teman baru.. aku ingin kalian tidak terlalu menjauhi Agille. "
"Seharusnya kau tidak menambahkan yang terakhir. "
"Aku ingin bicara satu hal. Aku tau.. kalian menganggap bocah seperti apa. Tapi kalian tidak perlu takut padanya, " ujar Azris
"Apa yang ingin anda bicarakan? " tanya Agille
"Sini ponselmu!"
"Sudah aku tambahkan nomorku disitu. Jika kau ingin memukul seseorang.. hubungi aku."
__ADS_1
"Apa yang kamu rencanakan?"
"Yang kurencanakan? Jika kamu berkelahi dengan seseorang.. dengan cepat aku akan menekuk lututmu kesekian kalinya, " ujar Azris dengan serius. "Baiklah.. kalian boleh duduk di tempat yang kosong. "
Agille dan Alex berjalan melewati Fiza. Namun tak sedikitpun Alex melirik padanya, karena berbincang-bincang dengan Agille.
"Sepertinya dia tertarik padamu. "
"Benarkah? " sambil duduk.
"Karena awal sekolah.. hari ini kalian akan pulang lebih awal. Sambil menunggu bel kita akan menunjuk seseorang sebagai perwakilan kelas. Siapa yang mau silahkan angkat tangannya. "
Dengan cepat, terdapat dua kandidat. Salah satunya adalah Fiza.
"Ee.. kamu duluan, " menunjuk Fiza. "Siapa, ya?"
"Fiza.. anda buruk sekali dalam mengingat nama, " ujar Fiza
"Ya itu. Kenapa kamu ingin menjadi perwakilan? "
"Tidak ada alasan khusus. Hanya saya selalu menjadi perwakilan kelas. "
"Dan kamu?"
"Petra, pak. Alasan saya hanya.. saya ingin saja. "
"Hmbb.. kamu kupilih sebagai perwakilannya. "
"Ha..?!" teriak seisi kelas
"Aku yakin dalam ini. Dan.. kalau melalui pemilihan. Yang memilih Peta hanya aku saja. "
"Petra, pak. "
"Baiklah.. untuk tugas yang lain, biar Peta yang memilih. Aku mau kembali ke ruanganku. Tunggu hinggal bel baru boleh pulang, " sambil berjalan keluar
"Bisakah kita percaya padanya? " ujar Fiza
"Baiklah, teman-teman. Sekali lagi, aku diangkat sebagai perkalian kelas. Aku tau pasti kalian ragu terhadapku, " kata Petra. "Sebelum memilih sisanya. Bagaimana kalau pulang kita mampir ke suatu tempat untuk merayakan hari jadinya kelas 1A?" tambahnya
"Boleh! Aku setuju,"
"Ide bagus, teman. "
"Berkumpul dimana? "
"Menurutku.. jika kita pergi ke tempat makan atau cafe, jika bertemu dengan pengurus OSIS kita akan terkena masalah. Bagaimana kalau karaoke? "
Dan seisi kelas menyetujui untuk pergi ke karaoke.
"Bagaimana menurutmu, Gill?" tanya Alex
"Boleh saja. Tapi aku enggan untuk bernyanyi.
Aku akan menghubungi rumah dulu untuk absen latihan. "
__ADS_1
"Mahh.. setidaknya kamu punya waktu untuk bertemu teman baru. "
Tung tung tung.. tet.. bel pulang sekolah.
"Baiklah semuanya. Aku tau tempat karaoke terdekat. "
Di tempat karaoke belakang halte..
Agille dan Alex sibuk bermain ponsel, sedangkan yang lain asyik berbincang-bincang.
"Kalian tidak menyanyi? " tanya Petra
"Maaf. Aku tak biasa menyanyi. Dan bagiku untuk bernyanyi membutuhkan sesuatu selain suara. Sangat merepotkan. "
"Haha.. tenang saja aku tidak akan memaksa."
"Kalau Alex sendiri? "
"Maaf.. aku sedang menaikkan level karakterku untuk mengalahkan Agille. "
"Baiklah.. setidaknya kalian bersenang-senang. "
"Tentu saja. "
"Kalau begitu.. aku akan bertanya pada yang lain. Dah.. "
"Jadi dia bertanya-tanya untuk pemilihan? " tanya Alex
"Menurutku. Dan aku ingin meninggalkan kesan buruk padanya. "
"Rupanya kamu memikirkan itu juga. "
Rumi berdiri, akan bernyanyi. Agille yang memiliki kesibukan tersendiri, meliriknya.
"Sebaiknya kita keluar sebentar. "
"Bo-boleh. " jawab Alex
Melihat Agille dan Alex keluar ruangan, Fiza menghabiskan minumannya dan mengikuti mereka.
Mereka duduk di tangga, melanjutkan bermain game.
"Ada apa? " tanya Alex
"Mungkin kita akan selamat. "
"Halo.. " sapa Fiza. "Kalau gk salah Agille? bisa kita bicara sebentar? Di luar?" lanjutnya
Agille menatap Fiza,
"Jangan terlalu lama. Tunggu sebentar.. jangan masuk ruangan dulu sebelum ada keributan. "
"Apa maksudmu?"
Agille dan Fiza berjalan menuruni tangga. Tak lama kemudian, seorang membuka tempat kelas 1A. Terdengar suara serak dan lagu metal.
__ADS_1