Hard To Express

Hard To Express
Kelas 1A


__ADS_3

Agille dan Alex sampai di depan kelas 1A.


"Permisi.."


"Ohh.. kalian berdua. Masuklah! Kalian berdiri dulu disampingku, " kata Azris


"Ha.. serius. Dia sekelas denganku? " bisik seisi kelas


Kesan pertama, ya? batin Agille


"Jadi bapak wali kelasnya? " tanya Alex


"Begitulah.. karena aku guru olahraga, kuambil saja pekerjaan penjaga gerbang."


"Baiklah.. lanjutkan perkenalannya."


"Ba-baiklah.. nama sa-saya Rumi Geuvani. Biasa dipanggil Ru-Rumi.. mohon bantuannya. "


Terlihat gadis biasa bersifat feminin. Agille yang berbincang-bincang dengan Alex dan Azris, melirik Rumi.


"Apa kau tertarik padanya?" tanya Alex


"Tidak. Hanya saja.. dia seperti menyembunyikan sifat aslinya. "


"Bukannya kamu tidak punya hak untuk bilang begitu?"


"Apa maksudmu? "


"Baiklah.. giliranku. Fiza Pharsuzi, bisa kalian panggil Fiza. Dan.. jangan melihatku terlalu lama. "


"Gadis itu cantik sekali. "


"Dia mau berteman denganku tidak, ya? "


"Tapi.. lihat dia tampak kesal. "


Seketika Fiza langsung menoleh, dan kembali duduk.


"Baiklah. Sekarang tinggal dia dan sampah. Kuperkenalkan bocah sampah ini.. siapa, ya? "


"Jangan bilang anda susah dalam mengingat nama, " kata Alex


"Mau bagaimana lagi?"


"Biar saya aja. Namaku Alexsio Endraino. Dan dia temanku Agille Pendacsia. Sebagai teman baru.. aku ingin kalian tidak terlalu menjauhi Agille. "


"Seharusnya kau tidak menambahkan yang terakhir. "


"Aku ingin bicara satu hal. Aku tau.. kalian menganggap bocah seperti apa. Tapi kalian tidak perlu takut padanya, " ujar Azris


"Apa yang ingin anda bicarakan? " tanya Agille


"Sini ponselmu!"


"Sudah aku tambahkan nomorku disitu. Jika kau ingin memukul seseorang.. hubungi aku."

__ADS_1


"Apa yang kamu rencanakan?"


"Yang kurencanakan? Jika kamu berkelahi dengan seseorang.. dengan cepat aku akan menekuk lututmu kesekian kalinya, " ujar Azris dengan serius. "Baiklah.. kalian boleh duduk di tempat yang kosong. "


Agille dan Alex berjalan melewati Fiza. Namun tak sedikitpun Alex melirik padanya, karena berbincang-bincang dengan Agille.


"Sepertinya dia tertarik padamu. "


"Benarkah? " sambil duduk.


"Karena awal sekolah.. hari ini kalian akan pulang lebih awal. Sambil menunggu bel kita akan menunjuk seseorang sebagai perwakilan kelas. Siapa yang mau silahkan angkat tangannya. "


Dengan cepat, terdapat dua kandidat. Salah satunya adalah Fiza.


"Ee.. kamu duluan, " menunjuk Fiza. "Siapa, ya?"


"Fiza.. anda buruk sekali dalam mengingat nama, " ujar Fiza


"Ya itu. Kenapa kamu ingin menjadi perwakilan? "


"Tidak ada alasan khusus. Hanya saya selalu menjadi perwakilan kelas. "


"Dan kamu?"


"Petra, pak. Alasan saya hanya.. saya ingin saja. "


"Hmbb.. kamu kupilih sebagai perwakilannya. "


"Ha..?!" teriak seisi kelas


"Aku yakin dalam ini. Dan.. kalau melalui pemilihan. Yang memilih Peta hanya aku saja. "


"Petra, pak. "


"Baiklah.. untuk tugas yang lain, biar Peta yang memilih. Aku mau kembali ke ruanganku. Tunggu hinggal bel baru boleh pulang, " sambil berjalan keluar


"Bisakah kita percaya padanya? " ujar Fiza


"Baiklah, teman-teman. Sekali lagi, aku diangkat sebagai perkalian kelas. Aku tau pasti kalian ragu terhadapku, " kata Petra. "Sebelum memilih sisanya. Bagaimana kalau pulang kita mampir ke suatu tempat untuk merayakan hari jadinya kelas 1A?" tambahnya


"Boleh! Aku setuju,"


"Ide bagus, teman. "


"Berkumpul dimana? "


"Menurutku.. jika kita pergi ke tempat makan atau cafe, jika bertemu dengan pengurus OSIS kita akan terkena masalah. Bagaimana kalau karaoke? "


Dan seisi kelas menyetujui untuk pergi ke karaoke.


"Bagaimana menurutmu, Gill?" tanya Alex


"Boleh saja. Tapi aku enggan untuk bernyanyi.


Aku akan menghubungi rumah dulu untuk absen latihan. "

__ADS_1


"Mahh.. setidaknya kamu punya waktu untuk bertemu teman baru. "


Tung tung tung.. tet.. bel pulang sekolah.


"Baiklah semuanya. Aku tau tempat karaoke terdekat. "


Di tempat karaoke belakang halte..


Agille dan Alex sibuk bermain ponsel, sedangkan yang lain asyik berbincang-bincang.


"Kalian tidak menyanyi? " tanya Petra


"Maaf. Aku tak biasa menyanyi. Dan bagiku untuk bernyanyi membutuhkan sesuatu selain suara. Sangat merepotkan. "


"Haha.. tenang saja aku tidak akan memaksa."


"Kalau Alex sendiri? "


"Maaf.. aku sedang menaikkan level karakterku untuk mengalahkan Agille. "


"Baiklah.. setidaknya kalian bersenang-senang. "


"Tentu saja. "


"Kalau begitu.. aku akan bertanya pada yang lain. Dah.. "


"Jadi dia bertanya-tanya untuk pemilihan? " tanya Alex


"Menurutku. Dan aku ingin meninggalkan kesan buruk padanya. "


"Rupanya kamu memikirkan itu juga. "


Rumi berdiri, akan bernyanyi. Agille yang memiliki kesibukan tersendiri, meliriknya.


"Sebaiknya kita keluar sebentar. "


"Bo-boleh. " jawab Alex


Melihat Agille dan Alex keluar ruangan, Fiza menghabiskan minumannya dan mengikuti mereka.


Mereka duduk di tangga, melanjutkan bermain game.


"Ada apa? " tanya Alex


"Mungkin kita akan selamat. "


"Halo.. " sapa Fiza. "Kalau gk salah Agille? bisa kita bicara sebentar? Di luar?" lanjutnya


Agille menatap Fiza,


"Jangan terlalu lama. Tunggu sebentar.. jangan masuk ruangan dulu sebelum ada keributan. "


"Apa maksudmu?"


Agille dan Fiza berjalan menuruni tangga. Tak lama kemudian, seorang membuka tempat kelas 1A. Terdengar suara serak dan lagu metal.

__ADS_1


__ADS_2