
Namaku Alex. Agille berkata bahwa aku populer. Namun kalau ada yang bertanya.. siapa temanku. Aku akan menjawab hanya ada satu. Karena dia adalah teman yang tidak pernah mengatakan keluargaku. Aku akui.. memang keluargaku tidak mampu. Pernah sekali aku meminta izin untuk bekerja sambil bersekolah.
"Tidak.. " jawab ayahku
"Tenang saja. Aku akan tetap mendapat nilai bagus. "
"Nak.. kau sebenarnya sudah tau tentang masalah ekonomi kita. Tapi, setidaknya serahkan saja kepadaku dan ibumu tentang uang. Dan kamu hanya perlu sekolah sampai setinggi-tingginya. "
"Percayakan pada kami, nak. " sela ibuku
*Mungkin terlihat sepele. Bahkan terlihat seperti anak yang manja. Tapi.. itulah yang terjadi. Dan aku tidak pernah mengeluh soal itu. Jika aku mengeluh, maka aku akan malu kepada Agille.. yang tak pernah menghina keluargaku. Bahkan dia tidak pernah meragukan jika aku berteman dengannya.
Mungkin menurut orang lain dia berteman denganku karena terpaksa. Tapi, menurutku tidak begitu. Bahkan ada yang berpikir kalau Agille berteman denganku karena kasihan padaku. Tentu akupun tidak menganggapnya begitu.
Meskipun Agille selalu terkena masalah, dan dia selalu dimarahi oleh ibunya. Dia tidak pernah menganggap jika yang dikatakan ibunya itu salah.
Meskipun dia selalu salah dimata ibunya.. Agille tidak pernah membantah kepada ibunya.
Sifatnya terhadap ibunya itulah, yang membuatku berpikir dia anak yang baik.
Pembicaraanku dengan Agille untuk pertama kalinya.. keadaannya berbalikan dengan keadaanku. Hal itulah yang membuatku tidak tertarik dengannya. Tapi hal itulah yang membuatku merasa bersalah padanya.
Sejujurnya aku tidak terlalu dekat dengannya sewaktu SD. Aku hanya senang bermain game dirumahnya. Dan merasa iri padanya. Tapi semenjak dia menghajar seseorang karena menghina keluargaku.. aku merubah pemikiranku terhadapnya. Mungkin aku harus bersyukur untuk itu.
..
Keesokan harinya.. seperti biasa aku naik kendaraan umum dengan Agille. Sebenarnya aku tau bahwa dirumah Agille terdapat kendaraan pribadi dan sopir pribadi. Tapi aku tidak pernah menanyakan kenapa dia memilih naik bus.
"Kenapa kamu tidak bermain game lagi?"
"Sekarang jadwal bermainku harus
dikurangi. "
"Kenapa?"
"Ibuku berkata.. bahwa hari ini Hayasaka pulang. "
"Benarkah? kalau tidak salah.. dia memilih untuk mendalami karate di Korea. "
"Iya. Sejujurnya aku merasa terganggu olehnya. Belum lagi aku diberi pekerjaan penting oleh ibu bersamanya. "
"Pekerjaan apa itu?"
__ADS_1
..
Di kelas, aku mulai khawatir pada Agille. Karena dia diajak berbicara oleh Fiza. Entah apa yang dibicarakan kemarin, tapi aku berpikir bahwa suatu saat nanti.. kedekatan mereka akan berakhir menyedihkan. Karena Agille..
..
"Baiklah semuanya. Pelajaran pertama hari ini adalah olahraga. Ohh.. sekarang kamu memakai seragam SMA-mu ya, bocah? Kalau begitu silahkan ganti seragam. Aku beri waktu 10 menit. Setelah itu segaralah menuju ke gedung olahraga. " ucap Azris
"Apa yang kaubicarakan dengan Fiza kemarin? Entah mengapa.. hari ini dia dekat sekali denganmu. " aku bertanya pada Agille
"Bukan apa-apa. Dia hanya menceritakan tentang hidupnya. " sambil menggenggam tangannya
Aku tau, jika Agille berbohong. Mungkin dia tidak ingin membicarakan hal ini.. atau dia disuruh diam oleh Fiza.
"Kalaupun itu tidak mengganggumu..
baiklah. "
"Maaf.. "
"Untuk sekarang, lakukan pemanasan terlebih dahulu. Dan, bocah. Kemarilah.. aku punya hukuman untukmu. "
"Kenapa anda bisa ingat?"
"Baik, pak. "
"Ohh iya.. apakah pembagian perwakilan kelas sudah selesai? "
"Sudah, pak. "
"Baiklah.. nanti 10 menit sebelum bel istirahat, kamu tulis di papan kelas. Bocah.. ikut aku. "
Aku masih bingung terhadap perintah ibu Agille. Kenapa beliau tega menyuruh anaknya untuk bermusuhan dengan geng besar.
..
"Pekerjaan apa, itu?"
"Murid dojo ibuku, kemarin entah mengapa keluar secara masal. Ibu mendapat info dari temannya bahwa dia melihat anak didik ibu sedang dikeroyok oleh mafia. Aku diberi tugas untuk mencari tau tentang geng tersebut. Dan mencari cara untuk membawa kembali orang-orang dojo. Karena aku berkata kepada ibu bahwa aku tidak akan sanggup. Dia juga menyuruh Hayasaka untuk menemaniku. "
Aku tidak berani untuk bertanya lagi. Sepertinya Agille juga kesal terhadap suatu hal. Dan itu yang membuatku ragu.
..
__ADS_1
Setelah pelajaran olahraga, aku dan Agille kembali ke kelas untuk mengambil seragam. Betapa beruntungnya, Agille dan aku tidak menjadi perwakilan kelas.
"Syukurlah. Aktingmu kemarin berhasil. "
"Begitulah. Pemikiran orang pintar lebih mudah untuk ditebak daripada pemikiran orang bodoh. "
"Begitu? menurutku itu akan berhasil jika kamu jenius juga. "
"Jenius? aku tidak tau definisi dari jenius itu apa. "
"Hahaha.. "
Sepulang sekolah, dari kejauhan aku melihat perempuan berlari menujuku dan Agille. Tepat di depan gerbang. Dia berlari menuju Agille, dan melompat.
Agille yang asyik bermain game, dikejutkan oleh teriakan Fiza.
"Agille.. Awas!"
Agille menangkis tendangannya.
"Boleh juga kau, Gill. "
"Hayaa.. Hayasaka?"
"Tapi.. Asal kau tau, aku telah berubah. "
Sambil menarik kaki kirinya.. dia menggunakan teknik gunting untuk menjatuhkan Agille.
"Jadi.. ini salammu?" tanya Agille
"Perlu bantuan?" Hayasaka mengulurkan tangannya. "
"Dia siapa, Gill?"
"Ohh.. perkenalkan, dia Hayasaka Arzu. "
"Hai, Hayasaka. Lama tidak bertemu. "
"Wahh.. Kamu Alex, kan? hanya 3 tahun tidak bertemu.. kamu sudah setinggi ini?"
"Anuu.. Hayasaka teman SMP Agille?" tanya Fiza
"Begitulah.. Dan dia juga pacarku. " ujar Hayasaka.
__ADS_1
Benar.. Agille memiliki rasa pada Hayasaka Arzu.