
Namaku Agille Pendacsia. Sekarang, aku melanjutkan sekolah di SMA Kei atas rekomendasi dari Alex. Sejujurnya, aku tidak ingin melanjutkan sekolah SMA. Sudah kupikirkan dimana aku bekerja. Ibuku juga setuju tentang hal itu. Malah beliau menyuruhku untuk menekuni bidang seni bela diri untuk penerus dojo keluarga.
*Sudah sepuluh tahun sejak aku bertemu dengan Alex. Berbeda dari Alex, yang menganggapku sahabatnya. Bagiku dia seperti angin atau air yang mengalir, membawaku mengikuti arus untuk menikmati masa-masa hidup. Artinya dia orang yang berharga bagiku.
Entah apa yang ada dipikiran Alex, tapi menurutku aku yang sekarang tengah menikmati hidup.
Saat aku masuk sekolah anak-anak, aku tak berpikir untuk mempunyai teman sekalipun. Setiap hari, aku selalu membawa konsol yang dibelikan oleh ayah di sekolah. Berbeda dengan anak yang lain, aku tak pernah bermain-main selayaknya anak pada umumnya. Lebih baik kuhabiskan bermain game.
Aku ingat, seminggu setelah masuk sekolah, dia datang menanyakan namaku*.
"Perkenalkan, namaku Alexsio Endraino. Kalau kamu?"
Aku menoleh. "Agille. "
"Hei, Agille. Boleh kutahu, apa nama yang kamu mainkan itu?"
"Aku tidak tau. Tapi kalau kamu mau, besok akan aku bawakan. Karena aku punya dua. "
"Sungguh? kalau kamu mau saja. Tapi.. aku tidak pernah bermain itu.."
"Tenang saja. Dan juga.. cara bicaramu aneh."
"Benarkah? "
Karena sudah berjanji, aku bersemangat membawa dua konsol. Tapi hari itu, Alex tengah bermain dengan teman-temannya. Seharusnya aku tidak peduli dia mau bermain dengan siapa. Tapi entah mengapa, seperti air mata ingin keluar. Saat pulang pun, dia tidak berbicara denganku.
Aku terbiasa sendiri. Tapi, dalam perjalanan pulang.. aku berpikir untuk berhenti sekolah. Atau pindah.
"Gill.. Agille!"
Aku sedikit terkejut. Alex berlari sambil berteriak.
"Maaf.. aku lupa kalau hari ini akan bermain denganmu. Aku baru ingat setelah melihat konsol yang mirip di toko. "
"Kenapa kamu tau.. "
"Apanya? "
"Jalan menuju rumahku. "
"Kalau itu.. sebenarnya keluargaku pindah rumah di dekat rumahmu. Aku tau kalau nama margamu Pendacsia. Jadi kutebak saja. Hehe.. "
Kusangka, esoknya dia lupa dan dengan tenang mengajakku berbicara seperti kemarin. Entah mengapa, aku merasa senang.
"Sebaiknya kamu pulang hari ini. Karena setibanya di rumah, aku memiliki jadwal untuk latihan karate. "
"Setidaknya! biarkan aku menunggumu sampai selesai! setelah itu kita akan bermain. Anggap saja permintaan maaf dariku. "
"Sudahlah. Aku tak terlalu memikirkannya. "
Alex memohon kepadaku, sambil merapatkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku mohon. Setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan. "
"Aku tak mengerti cara berpikirmu. Tapi.. baiklah. "
"Hee.. " sambil tertawa.
"Tapi.. hanya untuk kali ini saja. "
"Apa maksudmu?"
"Ingat saja.. "
"Heii.. aku tak mengerti. "
Setibanya di rumahku.
"Wahh.. rumahmu luas sekali. "
"Masuklah. Sebelum berlatih, aku mau makan siang. Ikutlah. "
"Permisi.. "
"Ibu. Ada temanku. "
"Waahh.. masuk saja! Ikutlah dengan kami untuk makan siang. "
"Maaf mengganggu. "
"Mendengar itu saya merasa senang. "
"Jangan terlalu berharap. Aku tidak seperti anak-anak umumnya. "
"Apa yang kamu bicarakan, Gill. Setelah makan, ajak dia bermain. "
"Ehh? Benarkah, ibu? "
"Tentu!"
"Masuklah.. kamu bebas mau bermain apa. "
"Hebat! kamarmu penuh dengan konsol game. Baru pertama kali ini aku lihat, dan tidak pernah bermain juga. Sepertinya aku akan betah. "
"Sepertinya akan merepotkan. "
"Mahh.. tidak salah mencoba hal baru. "
"Mahh?"
"Ohh? itu kalimat yang biasa kukatakan. Jangan dipikirkan. Dan.. aku punya permintaan. "
"Permintaan? apa itu?"
__ADS_1
"Aku akan menemanimu bermain game. Tapi.. kamu harus bergaul dengan anak-anak lain. Dan berteman dengan mereka. "
"Apa-apaan itu? sudahlah. Itu bisa membuatku repot. "
"Ayolah.. setidaknya kamu mencari teman selain aku. "
"Apa maksudmu?"
"Jadi kamu harus mencari-"
"Bukan itu.. aku temanmu?"
"Ohh, iya. Mulai sekarang kamu temanku. Mohon bantuannya, " sambil mengulurkan tangan
"Asalkan kamu tidak terlalu memaksaku. Itu bisa membuatku repot. "
*Sejak saat itu, Alex selalu datang ke rumah untuk bermain game. Karena hal itu, latihanku jadi menumpuk saat pagi. Sebenarnya aku tidak keberatan, asal dia senang dengan apa yang kulakukan. Tapi, aku membuat kesepakatan dengannya untuk bermain dengan teman-temannya. Sekali-kali aku bermain keluar rumah dengannya.
Aku mulai menikmatinya, tapi selalu saja ada anak yang mencoba untuk menjauhkanku dari mereka. Pertamanya aku menganggap hal itu sepele. Tapi entah mengapa, lama-lama mereka mulai menganggapku sebagai anak yang membosankan. Padahal aku tidak pernah bermain dengan mereka. Begitupun dengan Alex, saat bermain dengan yang lain, dia tidak pernah mengomentari tentang perlakuan mereka terhadapku.
Hingga aku naik ke kelas 1 SD, kebanyakan teman sekelasku dari Taman Kanak-kanak yang sama denganku. Jadi perlakuan mereka tetap sama.
Aku tidak terlalu serius terhadap mereka. Hingga suatu saat*..
"Heii, Agille. Kenapa hari ini kamu masih masuk sekolah?"
"Karena aku disuruh. Dan juga.. kurasa itu tidak mengganggu kalian, kan? "
"Seharusnya kamu tidak perlu masuk sekolah. Karena hanya adanya kamu.. suasana kelas ini menjadi sangat membosankan. "
"Ha.. jangan membuatku tertawa akan hal itu. Lakukan saja apa yang kalian lakukan biasanya. Atau hal yang bodoh sekalipun. "
"Apa kaubilang?"
Aku memasang earphone dan berniat tidak mendengar perkataan-perkataan bodoh. Tapi, Alex menyangkal semua perkataan mereka. Dan tangannya memegang tanganku, melarang memakai earphone yang kubawa.
"Hei.. kalian! bisakah kalian diam! Sebelum membual tenang hidup Agille, coba koreksi hidup kalian dulu. "
"Apa kaubilang?! Alex. Sejujurnya aku dari dulu ingin mengatakan ini. Kamu dari keluarga susah seharusnya diam saja.
Jangan coba-coba untuk mengomentari tentang hidupku yang sempurna ini. Ingat, keluargamu itu bersusah payah untuk memasukkanmu ke sekolah ayahku ini. Lagian hampir setiap dua tahun kamu pindah rumah karena keluargamu tidak bisa memba-
Aku yang tidak bisa diam, memukul wajahnya. Dan memberinya pukuluan lagi, lagi, dan lagi.
"Seharusnya kamu tidak perlu menyentuh nama keluarga seseorang. Jika kamu ingin menghinaku, lakukan sepuasmu karena itu tidak akan memengaruhi hidupku. Tapi kalau kalian sampai menyentuh nama keluargaku ataupun temanku, disitulah kalian akan kuhajar. "
..
*Sebenarnya aku menceritakan hal ini kepada Fiza. Dia bertanya kepadaku, sejak kapan aku bertemu dengan Alex dan bisa begitu akrab dengannya. Seperti apa Alex bagiku.
Ya. Dia hanyalah orang bodoh yang terlalu memikirkanku hingga membiarkan orang lain menghina namanya. Sebenarnya aku juga orang bodoh yang menganggap jika aku dihina oleh orang lain, tidak apa-apa asalkan bukan kerabat dekatku. Mungkin*..
__ADS_1