Hari Jum'At

Hari Jum'At
1


__ADS_3

07.00 WIB


Suatu pagi di rumah Airin.


"Ini undangan pernikahan siapa bu?" tanya Airin sambil melihat undangan di atas meja makan.


"Dari Fatimah anak teman ibu, Fatimah seumuran sama kamu lo nak, alhamdulillah sebentar lagi mau menikah" jawab ibu Airin dengan lembut dan tersenyum.


"oh.. alhamdulillah" sambil menarik kursi dan segera duduk untuk sarapan.


Kemudian Airin mengambil piring, mengisinya dengan sayur bayam dan lauk ikan nila goreng di meja makan.


"Kamu gak makan nasi lagi hari ini?" tanya ibu Airin.


"Airin masih pengen diet bu" sambil menyantap masakan ibunya dengan lahap.


Kemudian ibu Airin menarik kursi dan duduk di samping putrinya itu, kemudian bertanya


"kamu, belum ada rencana menikah ya nak?"


"eh.. eee" jawab Airin kaget dan menghentikan makannya.

__ADS_1


"Airin berangkat kerja dulu ya bu, sudah siang" langsung berdiri dan berjalan terburu-buru keluar dari rumahnya.


"Airiiin, habiskan dulu sarapanmu nak!!!" teriak ibu Airin.


"Airin sudah kesiangan bu, Assalamualaikum" sahut Airin dari depan rumah.


"Waalaikumsalam. Airin selalu begitu kalau ditanya masalah pernikahan, usianya kan sudah makin bertambah."


Ibu Airin memang sangat menginginkan Airin untuk segera menikah, namun hingga usianya menginjak 22 tahun belum ada satu pun laki - laki serius yang datang ke rumah menemui ke dua orang tua Airin.


"Sudahlah bu Airin sudah dewasa, dia tahu apa yang terbaik untuk masa depannya. Biarkan sekarang ini Airin kerja dulu, berkarir dulu dan meraih cita-citanya" sahut bapak Airin yang tiba-tiba muncul dari dapur membawa panci berisi cilok.


"Bapak ini bagaimana? anak gadis kita satu-satunya ini sudah dewasa pak, sudah waktunya menikah loh!"


"Terima kasih ya bu, langsung taruh di gerobak bapak saja pancinya" sambil menunjuk gerobak cilok miliknya.


Kemudian ibu Airin bergegas mengangkat dan membawa panci berisi cilok tersebut ke gerobak bapak yang berada di teras rumah.


Bapak Airin adalah pedagang cilok keliling, yang penghasilannya pun tidak menentu setiap harinya. Maka dari itu, Airin sangat gigih dan bersemangat dalam bekerja agar dapat membantu perekonomian dikeluarganya.


Airin anak perempuan pertama dikeluarganya. Satu-satunya adik laki - laki Airin masih duduk di bangku SMP dan ibunya hanyalah ibu rumah tangga.

__ADS_1


Setiap harinya, Airin bekerja di sebuah kantor di daerah Surabaya. Malamnya mengajar ngaji di musholla dekat rumahnya. Airin memang terkenal sebagai wanita yang solehah, cantik, pandai membaca Al Qur'an dan penyayang terhadap anak-anak.


"Bu, jangan ditanya terus Airin masalah pernikahan, kasian dia. Yasudah ya bu, bapak berangkat jualan cilok dulu! Doakan hari ini laris dagangan bapak"


"iya pak, aamiin. semoga lancar ya pak". Jawab ibu Airin sambil tersenyum.


Kemudian bapak Airin bergegas mendorong gerobak ciloknya sambil menatap ke arah langit melihat matahari sudah semakin naik, pertanda sudah semakin siang.


Ibu Airin pun juga segera kembali masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumahnya. Tak lama kemudian terdengar suara motor yang tiba - tiba berhenti di depan rumahnya.


"Siapa yang datang?" tanya ibu Airin penasaran.


tok .. tok .. tok ..


"Assalamualaikum!!!"


terdengar suara seorang laki - laki dari depan pintu rumahnya.


"Assalamualaikum" ulang laki - laki tersebut.


"Waalaikumsalam, tunggu sebentar" sahut ibu Airin dari dalam rumah.

__ADS_1


Bergegas menuju pintu dan segera membukakan pintu untuk tamu tersebut.


Klek..


__ADS_2