Hari Jum'At

Hari Jum'At
3


__ADS_3

Mas Adam melihat Airin dari belakang meja kasirnya. Menatap malu, tersenyum dan kemudian menundukkan kepalanya. Mas Adam memang sudah lama menyukai Airin, sejak 1 tahun yang lalu saat hari pertama Airin bekerja di kantor itu.


Namun, Mas Adam merasa bahwa dia tidak pantas jika bersanding dengan Airin, karena bagi Mas Adam Airin adalah wanita yang sangat baik, solehah, karirnya bagus dan pasti akan sangat banyak laki - laki yang jauh lebih baik dan tampan yang juga menyukai Airin.


Mas Adam masih dalam lamunannya, memikirkan cara bagaimana agar Airin dapat mengetahui isi hatinya. Tak bisa dipungkiri, setiap melihat Airin, sesungguhnya ia sangat ingin mengutarakan perasaannya, namun lagi - lagi rasa tidak percaya dirinya selalu menghantui, belum lagi Airin adalah wanita yang memilih untuk tidak berpacaran, ia semakin ragu, karena saat ini dia masih berada dalam kondisi belum siap untuk menikah.


Tiba - tiba Zahra datang dan membuyarkan lamunannya.


"Mas Adam!!" panggil Zahra yang mengagetkan Mas Adam


"Eh Mbak Zahra, mau pesan makan siang mbak?" tanya Mas Adam kaget, sambil menoleh ke arah Zahra.


"Oh enggak mas, hehe.. emmm.. Mas Adam masih suka ya sama Airin?" tanya Zahra bercanda


Zahra, merupakan sahabat Airin di kantor. Dia juga bahkan mengetahui perasaan Mas Adam kepada sahabatnya itu.


"Mbak Zahra kan sudah tahu sejak lama perasaan saya sama Mbak Airin" sahut Mas Adam menjawab pertanyaan Zahra


"Mas Adam sudah siap menikah belum? "


"Maaf Mbak Zahra, saya permisi ke dapur dulu ya!" Mas Adam pergi seolah tak ingin menjawab pertanyaan dari Zahra.

__ADS_1


***


Sore ini langit tampak sangat mendung pertanda akan segera turun hujan. Jam yang sudah menunjukkan pukul 17.20 pun membuat langit juga semakin terlihat gelap. Saat itu Airin masih berdiri di halte bus dekat kantor ia bekerja, ia sedang menunggu bus untuk pulang. Namun bus yang mengarah ke arah rumahnya tak kunjung datang. Mas Adam yang melihat Airin dari sebrang jalan, tiba - tiba menyebrang dan menghampiri Airin.


"Mbak Airin" sapa Mas Adam


"Mas Adam" sahut Airin


"Mbak Airin kok belum pulang? langitnya mendung banget lo mbak, sebentar lagi turun hujan" sambil menunjuk ke arah langit yang semakin mendung


"iya mas, saya lagi nunggu bus tapi kok sudah jam segini gak ada yang lewat ya mas? " jawab Airin cemas, sambil melihat jam tangannya.


"maaf mbak, Mbak Airin mau saya antar pulang aja? ini selain mendung, sebentar lagi juga mau adzan maghrib lo mbak" Mas Adam mencoba menawarkan tumpangan


"Kalau begitu saya temenin aja ya mbak" kemudian berdiri tepat di samping Airin


Sesekali sambil menoleh ke arah kanan dan kiri mengamati keadaan sekitar yang semakin sepi, hanya ada beberapa orang berteduh di halte dan mereka berdua yang masih berada disitu.


"Saya antar saja ya mbak, makin sepi disini. .udah gelap juga" bujuk Mas Adam sekali lagi


Airin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kini ia mulai nampak cemas, sudah lama ia berdiri disana, namun bus tetap tak datang

__ADS_1


Hujan semakin lebat dan langit pun semakin gelap. Terdengar suara adzan maghrib dari masjid dan musolla saling bersahutan. Namun tak ada satupun bus yang melintas di depan halte tersebut.


Dari sebrang jalan nampak Ridwan sedang duduk diatas motornya dan sedang melihat Airin bersama Mas Adam. Tujuan Ridwan datang kesana tidak lain adalah untuk menjemput Airin.


"Sedang bersama siapa Airin? kenapa mereka begitu akrab? apa laki - laki itu teman kantor Airin?" gumam Ridwan sambil terus melihat ke arah Airin dan Mas Adam.


Entah, hatinya merasa cemburu melihat kebersaman Airin dan Mas Adam. Badannya pun basah kuyup karena terguyur hujan sedari tadi. Namun, seakan dia tidak memperdulikan hal itu, dia tetap berada disana menunggu hingga laki - laki itu pergi dan dia bisa menemui Airin di halte itu.


Namun apa yang terjadi? tiba - tiba Airin dan Mas Adam berlari menerjang lebatnya hujan menuju ke masjid.


"Mbak Airin pakai jaket saya aja ya?" kata Mas Adam sambil memberikan jaket warna hitam miliknya.


"Gak usah mas makasih, saya gak apa - apa kok" tolak Airin


"Saya mau ajak Mbak Airin ke masjid dulu, kita sholat dulu sebentar. Tapi saya gak punya payung mbak, makanya Mbak Airin pakai jaket saya aja ya!" sambil kembali menyodorkan jaketnya


"Lalu Mas Adam gimana kalau jaketnya saya pakai?" tanya Airin bingung


"Saya ya lari saja.."


Spontan Mas Adam langsung berlari menerjang lebatnya hujan dan tak memperdulikan pakaiannya yang basah dan juga sepatunya yang basah karena genangan air.

__ADS_1


Airin pun bergegas mengenakan jaket itu dan ikut berlari menyusul Mas Adam.


bersambung...


__ADS_2