
Terlihat hujan mulai reda, genangan air dimana mana dan udaranya terasa sangat dingin. Mas Adam dan Airin merasa sangat kedinginan karena baju mereka yang sama - sama basah.
Hari sudah semakin malam, Airin pun masih tidak mau menerima tawaran dari Mas Adam untuk mengantarnya pulang, Airin langsung mencoba menghubungi ibunya dan meminta untuk di jemput disana. Dia menceritakan bahwa akibat hujan lebat, jalanan menjadi sepi dan bus tidak ada yang melintas.
Airin menunggu ibunya di halaman masjid itu, masih dengan Mas Adam yang setia menemani Airin disana, Mas Adam merasa khawatir dan tak ingin meninggalkan Airin sendirian.
Di tempat lain, Ridwan masih mengawasi mereka berdua, tak mau meninggalkan tempat itu dan memastikan bahwa Airin akan pulang dengan selamat.
"apa aku kesana saja dan ajak Airin pulang?" pikir Ridwan sambil terus mengawasi mereka.
Tak lama kemudian terlihat ibu Airin tiba di depan masjid. Mengajak putrinya pulang dan meninggalkan Mas Adam disana.
Kemudian Mas Adam juga langsung bergegas pulang ke kost nya, berharap segera tiba disana dan mengganti pakaiannya yang basah. Tak sampai jauh Mas Adam melangkah, Ridwan menghalangi jalan Mas Adam.
"Maaf mas, ada apa ya?" tanya Mas Adam bingung
Ridwan terdiam dan merasa bingung dengan apa yang akan ia lakukan.
"Ah mengapa aku begini? apa yang kulakukan? apa yang harus aku bicarakan dengan laki - laki ini? apakah harus ku tanyakan, apa sebenarnya hubungan dia dengan Airin? ah sudahlah, aku tak boleh begini". gumam Ridwan
"Mas? maaf, ada apa ya menghalangi jalan saya?" tanya Mas Adam sekali lagi
"Oh maaf mas, eee saya sedikit melamun, gak fokus lihat jalan. sekali lagi maaf ya mas"
"Oh iya mas gak apa apa kok, saya permisi dulu mas" jawab Mas Adam ramah dan berlalu meninggalkan Ridwan
***
Keesokan harinya, pagi - pagi sekali Ridwan sudah nampak buru - buru menaiki motornya dan segera pergi ke rumah Airin, ia tidak mau terlambat lagi. Kali ini ia ingin benar - benar bisa mengantar Airin berangkat kerja, sambil ingin memastikan kepada Airin ada kedekatan hubungan apa dengan laki - laki yang dilihatnya di halte itu.
Udara pagi pun masih terasa segar, jalanan kota pun masih tampak sepi pengendara, benar saja ini masih terlalu pagi. Dia benar - benar penasaran, sejak semalam bayangan Airin tak bisa hilang dari pikirannya. Semalaman pula ia tak bisa tidur. Selama di perjalanan, hatinya sungguh tidak tenang.
"Mengapa aku begini? apa benar jika aku cemburu?" rasa tak nyaman itu terus menyelimuti hati Ridwan.
__ADS_1
"Tapi untuk apa aku cemburu? aku tak mungkin cemburu, laki - laki itu tampak memperlakukan Airin dengan baik dan sangat sopan, aku ini sahabat Airin, seharusnya aku mendukung dia jika memang benar mereka memiliki kedekatan". Ridwan berusaha meyakinkan dirinya dan berusaha menolak perasaan cemburu itu.
Sudah setengah jam ia berada diperjalanan namun belum juga sampai di rumah Airin. Jarak antara rumah Ridwan dan Airin memang lumayan cukup jauh, memerlukan waktu sekitar 40 menit perjalanan untuk sampai disana. Beberapa kali ia tampak bolak balik melihat jam tangannya.
"duh, cepet banget sudah jam segini, keburu telat lagi ini" gerutu Ridwan sambil mempercepat laju motornya.
***
Sedangkan Mas Adam, pagi ini sudah tampak sibuk di dalam dapur kantin. Terlihat ia sedang memasak sesuatu dengan raut wajah yang tampak senang dan berseri - seri.
"mie ayam gak pake mie kesukaan Mbak Airin sudah jadi" kata Mas Adam sambil menuang makanan yang masih panas itu ke dalam mangkuk.
"Mbak Airin pagi - pagi begini apa mau ya makan mie ayam? atau aku buatkan yang lain?" pikir Mas Adam
"Tapi bukankah Mbak Airin gak pernah sarapan di kantor? ah sudahlah,jika makanan ini ditolak pun juga tak apa" lanjut Mas Adam sambil tersenyum dan kemudian berjalan ke arah meja kasir.
Ia sudah beberapa menit duduk disana, matanya tak henti mencari wanita yang ia tunggu kehadirannya sejak tadi. Mas Adam melihat banyak pegawai kantor yang datang dan pergi silih berganti untuk sarapan di kantin. Ia pun sesekali berdiri dan menoleh ke arah kanan dan kiri, namun yang ditunggu tunggu tak kunjung terlihat. Kemudian dia melihat Zahra sedang berjalan sangat cepat menuju kantinnya.
"Mbak Zahra" panggil Mas Adam kepada Zahra yang sedang berjalan menuju kantin
"Ini mbak rotinya, o ya mbak saya mau tanya sama Mbak Zahra" sambil memberikan roti coklat kepada Zahra
"Mas Adam mau tanya soal Airin kan? Airin gak masuk kerja hari ini mas, dia lagi sakit" jawab Zahra dengan cepat seolah mengetahui isi pikiran Mas Adam
"Udah ya mas, uangnya nanti siang aja ya! saya buru - buru mau meeting" lanjut Zahra sambil merapikan beberapa berkasnya dan kemudian berjalan sangat cepat dan sedikit berlari.
***
Matahari sudah mulai naik, jalanan kota mulai ramai, banyak pengendara lalu lalang berpakaian rapi, ada yang mempercepat laju kendaraannya, ada juga yang tetap tenang di balik kemudi. Ridwan mulai merasa cemas, ia berfikir bahwa Airin pasti juga sudah berangkat kerja, terlihat dari jalan raya yang mulai padat dengan para pekerja yang sedang melakukan perjalanan untuk tiba di tempat kerja mereka masing - masing.
Tak lama kemudian ia sampai dan menghentikan motornya di depan rumah Airin. Namun Ridwan pun tak segera masuk kesana, ia melihat ke arah rumah Airin dan dari sana terlihat seperti sedang ada tamu di rumah itu, nampak ada motor bewarna hitam yang sangat asing bagi Ridwan ada di halaman rumah Airin yang luas.
"Apakah sedang ada tamu? sebaiknya aku tunggu disini dulu sampai tamu itu pulang" gumam Ridwan sambil membuka helm dan menyeka keringat di dahinya.
__ADS_1
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya tamu itu keluar juga dari rumah Airin dan di susul Airin beserta ibunya dari belakang. Terlihat seorang laki - laki dengan gaya bicara yang sangat santun dan pakaian yang sederhana.
"Hati - hati ya nak Adam, terima kasih sudah menjenguk Airin" tutur ibu Airin kepada tamu itu.
Ridwan mendengar perkataan ibu Airin kepada laki - laki itu. Ia nampak bingung, namun ia menyadari sesuatu, merasa bahwa ia pernah bertemu laki - laki itu sebelumnya.
"Adam? siapa dia? sepertinya aku pernah bertemu laki - laki itu" pikir Ridwan
"Sama - sama, semoga Mbak Airin lekas sembuh, saya permisi pulang dulu ya mbak.. bu.. assalamualaikum" jawab Mas Adam kepada ibu Airin sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Aahhhh dia kan laki - laki kemarin yang kulihat bersama Airin di halte! Mau apa dia datang kemari?." gumam Ridwan dengan sedikit kesal.
"Waalaikumsalam Mas Adam, hati - hati di jalan mas" jawab Airin sambil tersenyum
"Huh!!, kenapa ia senyum manis seperti itu kepada Adam? aku iri melihatnya" ucap Ridwan jengkel
Ridwan merasa kesal sekali, lagi - lagi laki - laki itu mendahuluinya. Ia semakin penasaran dengan hubungan antara Airin dengan laki - laki tersebut. Dia pun dibuat semakin bingung, lantaran Airin terlihat sedang tidak pergi bekerja, nampak tadi ia juga mengenakan pakaian rumah dengan warna tak senada dan jilbab seadanya.
Terlihat ibu Airin dan Airin mulai masuk ke dalam rumah, sontak Ridwan lansung memanggil Airin
"Airin" panggil Ridwan dari depan pagar
Airin dan ibunya pun menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Ridwan berdiri di depan pagar samping motornya.
"Iya Ridwan, masuk aja" ucap Airin kepada Ridwan.
Ridwan pun masuk ke halaman rumah Airin sambil mendorong motornya. Nampak disitu Ridwan wajahnya sudah di kucuri dengan keringat. Benar saja, dia sedari tadi menunggu di depan pagar tanpa berteduh.
"Assalamualaikum bu" ucap Ridwan pada ibu Airin
"Waalaikumsalam nak, kenapa kamu berkeringat begitu? ooh ibu tahu, pasti karena kamu lelah kan perjalanan kemari? masuk yuk ibu buatkan minum" ajak ibu Airin dengan lembut dan tersenyum
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Ibu Airin langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Ridwan. Kemudian Ridwan pun mulai membuka pembicaraan dengan Airin
__ADS_1
bersambung...