
BRAKKK!!!
Suara dobrakan pintu yang membuat sepasang kekasih terkejut. Perlahan air mata seorang gadis jatuh ke wajahnya yang puncat, Gadis itu sangat benci dengan pemandangan di depan matanya yang setiap hari selalu di lihatnya. Besok gadis itu bisa melupakan wajah wanita itu seperti wanita lainnya, Namun bagaimana dengan pria di depannya. Sosok yang selalu manemaninya saat kecil, selalu membuat Aria bahagia, dan orang pertama yang wajahnya selalu Aria ingat setiap detik tanpa hubungan darah
Bagaimana mungkin Aria melupakan wajahnya? walau Aria sangat ingin melupakan wajahnya. Apa belum cukupkah penderitaan Aria selama bertahun-tahun ini? sehingga harus di tambah dengan pemandangan ini, pria yang gadis itu cintai sedang bersama wanita lain. Kehidupan yang sangat pahit
"Aria!! apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya pria itu mendekati Aria
"Apa yang aku lakukan di sini? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu!! Apa yang kalian berdua lakukan di sini?!!" Marah Aria dengan air mata yang terus mengalir
"Itu bukan urusanmu" Ucap pria itu dingin
"Bagaimana bisa kau, bersenang-senang dengan wanita lain. Sementara aku?" Ucap Aria kecewa
"Hay, seharusnya kau sadar diri. Perempuan penyakitan sepertimu tidak pantas menjadi istri Azra bahkan orang lain, yang pantas bersama Azra hanyalah aku. Hidupmu juga tidak akan lama lagi, tunggu berapa tahun lagi, kamu akan,,,," wanita itu menjeda kalimatnya kemudian mendekati Aria
",,mati"lanjut wanita itu berbisik di telinga Aria
Seketika Aria terdiam, yang di ucapkan wanita itu memang benar. Tunggu 4 tahun lagi, maka Aria akan menghilang dari dunia ini. Tapi bagaimana bisa wanita di depannya tahu penyakitnya? Aria menatap Azra tajam lalu mendekatinya dan menampar pipi Azra sekuat tenaga
"Apa yang kau lakukan?! Beraninya kamu menampar Azra!" Marah wanita itu memegang pipi Azra
"Aku memang tidak pantas bersama pria brengsek ini. Dirimu yang wanita pengoda memang sangat cocok dengan Azra, beda denganku yang masih memiliki harga diri" Ucap Aria tersenyum sinis, terlihat wajah ke dua orang di depannya yang kesal
"Aku sudah cukup bertahan karena mama dan orang tuamu, jika bukan karena mereka aku sudah lama pergi jauh darimu" lanjut Aria menekan kalimat terakhir dan menatap Azra tajam
__ADS_1
"Aku juga begitu, aku harap kamu cepat mati" ujar Azra yang juga menekan kalimat terakhir
Aria menggepalkan tangannya kuat-kuat, kukunya yang panjang karena tidak sempat ia potong selama beberapa minggu, hampir melukai telapak tangannya
"seharusnya kita tidak pernah Bertemu. Tunggu saja aku pasti akan meninggalkanmu" ucap Aria menatap dingin Azra
"baguslah jika kamu pergi, aku tidak perlu merawatmu lagi" ujar Azra tersenyum
Dengan cepat Aria membalikkan badannya, melangkahkan kakinya keluar ruangan itu, tak lupa Aria juga menutup kembali pintu itu dengan kasar. Hatinya benar-benar sakit, Azra yang dulu dia kenal bukanlah yang sekarang. Dia dulu sangat baik dan peduli dengan Aria
'perasaan bodoh apa ini? kenapa aku tidak bisa berhenti untuk mencintaimu. Kamu memang tidak pantas untukku dan begitu juga sebaliknya aku tidak pantas untukmu' batin Aria berjalan keluar apartment
"Nona, apa nona baik- baik saja? wajah nona terlihat pucat? apa perlu saya antar ke rumah sakit?" Tanya pak supir khawatir saat Aria datang
"apa nona sungguh ingin pulang? katanya nyonya tadi saya harus mengantar nona kemana pun yang nona mau. Karena tuan muda Azra sedang pergi ada acara reunian SMA dengan teman-temannya"
'Reunian apaan? Tuan mudamu sedang sibuk bersenang-senang dengan wanita lain di apartment ini' Batin Aria
"Jadi nona tidak perlu merasa sungkan dan katakan saja nona ingin ke mana? pasti akan saya antar" Lanjut pak supir
Merasa tidak enak dengan ucapan pak supir, Aria berpikir sebentar, jika di rumah pasti Aria akan sangat bosan. Di tambah lagi barusan Aria bertengkar dengan Azra, ingin rasanya Aria
"saya ingin ke taman hiburan pak, mungkin kondisi dan perasaan saya akan membaik ketika ke sana" ucap Aria, karena terakhir kali Aria pergi ke taman bermain saat usianya masih 16 tahun
"baik non" Ujar supir mulai mengemudikan mobil
__ADS_1
'semoga perasaanku membaik saat ke sana, kira-kira sudah sekitar 3 tahun aku tidak ke taman hiburan. Dan di sana juga banyak kenangan bahagia antara aku dan,,,, Azra'
Sementara di tempat lain, terdapat bus yang membawa beberapa anak-anak keluar dari dalam bus, wajah anak-anak itu terlihat gembira dan bola matanya bersinar seperti baru pertama kali pergi ke tempat ini. Tidak lama kemudian datang sebuah mobil mewah, seorang pria keluar dari mobil itu menuju anak-anak
"tuan, di dalam masih ada 1 orang anak tapi dia tidak ingin turun" bisik supir bus pada pria itu saat melihatnya turun dari mobil
"biarkan saja, nanti saya akan membujuknya. Kamu pergi duluan saja dengan anak-anak" ucap pria itu yang hanya di anggukkan supir bus
"kakak apa kita boleh bebas memilih permainan yang ingin kita naiki?" Tanya salah satu anak kepada pria itu
"tentu saja boleh, tapi kalian jangan berpisah. mengerti? kedua paman ini akan menemani kalian, kakak nanti akan menyusul" ujar pria itu
"ya" jawab seluruh anak-anak semangat, mereka pun pergi
Pria itu berjalan ke dalam bus, mencari seorang anak yang tidak ingin turun bus. Anak itu duduk sembari menundukkan kepalanya sedih, dengan cepat pria itu menghamprinya
"Ray, kenapa kamu tidak ikut turun bersama teman-temanmu? apa kamu tidak suka tempat ini?" Tanya pria itu yang di gelengkan kepala cepat oleh Ray
"Tidak, Ray senang kak Brian mengajak Ray dan teman-teman ke sini. Hanya saja,,,, Ray kan lemah, jika lelah sedikit Ray pasti akan pingsan. Bagaimana jika Ray tiba-tiba saja pingsan di taman hiburan?" ucap Ray terlihat di wajahnya yang penuh ke khawatiran
"Jika begini Ray tidak akan lelahkan?" ujar Brian mengendong Ray di belakang punggungnya
"Ah, i-iya, Apa tidak apa-apa?" Tanya Ray
"Tidak, baiklah ayo kita naik bianglala karena hari makin sore sepertinya Matahari akan tenggelam. Pemandangannya juga indah" ujar Brian pergi membeli tiket
__ADS_1