
Suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring menghasilkan sebuah suara. Ya, Azra dan Aria sudah pulang ke rumah Azra, hening tidak ada yang berbicara sama sekali, semua sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Aria tapi di hatinya Aria ingin berbicara namun sangat gugup
'Apa aku ngomong sekarang?Jangan, tunggu saja dulu selama tidak ada yang membahas perni,,' batin Aria terpotong saat mamanya Azra memanggilnya
"Aria" panggil Sita
"I,iya tante" sahut Aria gugup
"Kenapa gugup gitu? Apa karena sebentar lagi Aria mau jadi menantu tante?" Tanya Sita tersenyum
"Bukan tante" Jawab Aria
"Oh begitu, bagaimana mana tadi jalan-jalannya? Menyenangkan?"
"Iya, sangat menyenangkan" Jawab Aria tersenyum kaku
"Syukurlah, memang Azra mengajakmu kemana?" Tanya Sita lagi melirik Aria dan Azra bergiliran
"Mama berhenti memberikan pertanyaan" Ujar Azra malas
__ADS_1
"Baiklah, tapi jawab dulu pertanyaan mama yang barusan"
"Pantai" Ucap Azra singkat
Semua tersenyum kecuali Aria,
mendengar perkataan singkat Azra mereka senang ternyata Azra begitu peduli dengan Aria sampai mengajaknya ke tempat yang dia benci namun merupakan tempat kesukaan Aria. Ingin sekali mereka pernikahan anaknya segera berlangsung dan memiliki cucu dari rahim Aria tapi Azra maupun Aria selalu menunda pernikahan mereka, tapi tidak masalah karena pernikahan mereka berdua akan berlangsung 1 Bulan lagi
"Azra tante bangga padamu, kamu sangat memperhatikan Aria" Azra yang mendengar pujian dari Lina hanya tersenyum paksa
"Pernikahan kalian tinggal sebulan lagi, aku benar-benar menantikan" Ucap Sita senang
"Di undur? Kenapa? Ini sudah ke tigat kalinya pernikahan kalian di tunda. Nak, menunda-nunda pernikahan itu tidak baik" Nasehat Lina yang berada di samping Aria
"Tapi aku mau ke luar negri untuk perawatan jantungku" ujar Aria
"Aria,," panggil Azra tapi Aria hanya menatap tajam Azra sekilas
'Aria, aku tahu kamu sangat membenciku. Kamu sebenarnya hanya menjadikan alasan ke luar negeri untuk menghindari pernikahan ini' batin Azra
__ADS_1
"Ke luar negeri?" Tanya Lina
"Ya ma, aku selalu menolak untuk perawatan di luar negri, tapi tiba-tiba Aku ingin mendapatkan perawatan di sana. Jika tidak dapat sembuh juga setidaknya umurku bertambah sedikit. Tapi,,, jika paman dan tante setuju" ujar Aria panjang lebar
"Tentu saja paman dan bibi setuju, itu keputusan yang bagus Aria" ucap Rudi bangga yaitu Ayah Azra
"Akhirnya kamu ingin ke luar negri, tante senang walaupun pernikahan kalian di tunda lagi" ujar Sita
"Aku akan menemanimu selama ke luar negri" Aria menatap Azra kesal
"Tidak usah, Aku sama mama saja. Kamu harus belajar untuk melanjutkan karir paman karena kamu adalah satu-satunya penerus keluarga ini" ucap Aria tersenyum palsu
Kecewa itu lah yang Azra rasakan saat Aria selalu saja mencari alasan agar tidak di dekatnya, seharunya Azra bahagia tapi kenapa terasa sakit. Tanpa berpamit Azra meninggalkan meja makan, bahkan saat di panggil mamanya Azra tidak menoleh sedikit pun apa lagi menyahut
"Ada apa dengan anak itu" Ucap Rudi
"Seperti Azra begitu karena kamu tolak nak" Ucap Lina
"Aku akan berbicara dengan Azra. Mama, tante, dan paman tidak perlu khwatir" Ujar Aria mengejar Azra
__ADS_1