Hatiku Hanya Milikmu

Hatiku Hanya Milikmu
Pingsan?


__ADS_3

Bunga-bunga yang indah berbagai warna, terawat dengan sangat baik. Di sini lah Aria di taman rumah Azra, melihat orang yang Aria kejar sedang duduk di kursi taman bercat warna putih


"Kenapa kamu langsung pergi begitu saja?" Tanya Aria berdiri di depan Azra


"Kenapa? Aku sudah kenyang, jadi aku pergi" Aria tau Azra sedang berbohong


"Bohong, kamu kecewa karena aku menolakmu kan?" Tidak ada jawaban dari Azra


"Melihatmu diam begini, dugaanku benar. Apa sebenarnya mau mu? Bukan kah ini yang kamu harapkan? Aku sudah menjauh darimu seharunya kamu senang dan berpesta. Tapi,,," Jeda Aria mengepalkan tangannya kuat-kuat


"Tapi kenapa kamu terlihat begitu! Apa maumu, jika kamu sedih bagaimana bisa aku meninggalkanmu. Aku tidak mengerti perasaanmu, kamu sangat aneh" ucap Aria Marah


"Aku juga tidak tau perasaaanku sendiri" gumam Azra yang  terdengar Aria


"Kamu saja tidak tau penasaran mu sendiri apa lagi aku atau orang lain. Cepatlah kembali ke ruang makan, aku duluan" ujar Aria meninggalkan Azra yang menundukkan kepalanya ke bawah tanah


Tidak! Aria bukan kembali ke meja makan, melainkan pergi ke balik pohon yang besar di belakang rumah Azra. Begitu sakit hatinya mengingat semua prilaku buruk Azra, semua kata-kata berharap dirinya cepat mati. Apa Azra kecewa karena dirinya pergi bukan karena mati? Pikir Aria yang membuat hatinya tambah sakit, semua hancur dalam sekejap mata. Tawa bahagia Aria yang di buat Azra kini menjadi air mata yang tidak ada hentinya


Sadar jika mama, tante, dan pamannya masih menuggunya, Aria dengan cepat menghapus air matanya dan mengibaskan tangannya ke depan wajahnya untuk menormalkan matanya yang agak memerah. Ketika wajahnya sudah tidak terlihat seperti habis menangis, Aria kembali ke meja makan


"Kenapa sangat lama? Apa semuanya baik-baik saja?" Terlihat rasa khwatir yang tergambar di wajah Sita

__ADS_1


"Sangat baik, Tante jangan khwatir" jawab Aria bohong  membuat semua lega


"Lalu, dimana Azra?" Aria terkejut dengan pertanyaan mamanya


'Dimana bocah itu? Tidak mungkin aku bilang ada di taman. Jika aku bilang ada di taman, mama akan bertanya lagi'


"Itu, emm Azra,,,," gugup Aria


"Tante maaf tadi aku lagi angkat telpon jadi aku suruh Aria duluan ke sini" Aria menghela nafas lega, hampir saja Aria berbohong lagi pada mamanya


"Oh, syukurlah tante kira Aria berbohong kalau kamu dan Aria sudah baikan" kedua tersenyum kecut baik Aria mau pun Azra


'Mama maafin aku karena sudah banyak berbohong, tapi Aria melakukan ini agar mama tidak terlalu menkhwatir aku'


"Iya tante, mungkin Aria akan pulang setelah 1 tahun" ucap Aria meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan mama Azra


"Tapi bukannya lebih baik dengan Azra?" Tanya Rudi


"Tidak, Aria berdua aja sama mama" jawab Aria tersenyum kecil


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Paman akan segera membelikan tiketmu" Ujar Rudi mengelus puncak kepala Aria

__ADS_1


"Hmm, terima kasih paman, kalau begitu aku pula,,,"


Deg!


Deg!


Deg!


Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat, rasa sakit terasa sampai ke seluruh badan. Kaki Aria begitu lemas membuat terduduk ke lantai, tangannya meraih dada atas sebelah kiri, memukul dan terus memukulnya dengan kuat, keringat bercucuran di plipisnya. Teriakan khwatir tidak dapat Aria pedulikan


"Aria! Berhenti! Jangan terus memukulnya. Itu menyakitimu" teriak Lina, air matanya mengalir deras melihat putrinya tersiksa


"Ambulan cepat panggil ambulan!" Teriak papa Azra kepada pembantunya


"Aria sayang bertahanlah sebentar" ujar mama Azra yang terisak juga


Semua orang cemas kecuali Azra, Azra hanya berdiri di tempat dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan. Pemandangan di depanya sudah biasa Azra lihat, Dirinya peduli tapi Azra selalu menyangkalnya agar tidak peduli dengan kondisi Aria yang kesakitan. Tangannya mengepal Azra sangat tidak suka Pemandangan yang penuh dramatis ini, ingin sekali rasanya Azra pergi tapi tidak bisa, bagaimana pun Azra harus mendekati Aria


"Aria berhenti menyakiti dirimu sendiri" sentak Azra mengambil tangan Aria


"Kenapa ambulannya belum datang juga? Putriku maafkan mama" getir Lina memeluk Aria

__ADS_1


"Tuan, nyonya ambulannya sudah datang" lapor salah satu pembantunya


Dengan sigap Azra mengangkat tubuh Aria dan membawanya ke ambulance, Azra dan orang tuanya menyusul Aria dengan mobil mereka sendiri. Sementara  Lina pergi naik ambulan bersama Aria


__ADS_2