
Aria membuka dan menutup pintu mobil dengan sangat kasar membuat Azra geram dengan kelakuan Aria yang selalu seperti itu, jika di hitung mungkin sudah lebih dari lima kali Aria menutup pintu mobil dengan kasar
"Tidak bisakah kamu, tidak menutupnya dengan kasar? Jika rusak apa kamu bisa menggantinya? Tenang-tenanglah jangan sampai penyakit jatungmu kambuh hanya karena emosi. Nanti aku yang kerepotan mengurusmu" ucap Azra menjalankan mobil, namun Aria memutar bola matanya malas mendengar celontehan Azra
"Kalau kambuhnya di depanmu dan tidak ada orang lain, kamu tidak perlu bawa aku ke rumah sakit, tunggu sampai aku mati tersiksa baru kamu bawa ke rumah sakit. Dengan begini kamu tidak akan di curigai siapa pun dan bebas dariku" ucap Aria melihat keluar jendela
Matanya mulai berkaca-kaca, mungkin itu ide yang bagus untuk menyingkirkan dirinya sendiri. Walau terlihat sangat bodoh
"Lagi pula aku bosan dengan ingatan yang hancur ini, selalu saja wajahmu yang selalu terlintas di ingatanku. Tidak ada yang lain, sangat menyakitkan" lanjut Aria, air mata jatuh. Aria memang lemah
"Jangan berbicara hal bodoh seperti itu lagi, aku tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu" ujar Azra fokus menyetir
"Benarkah? Lalu bagaimana bisa kamu membuat luka baru di hatiku?" Tanya Aria
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Azra. Suasana dalam mobil menjadi hening tidak ada lagi yang bersuara, sampai mereka berdua tiba di suatu tempat
"Pantai? Kenapa kamu ke sini?" Tanya Aria melihat Azra
"Karena aku ingin ke pantai" jawab Azra santai
"Bukannya kamu benci tempat ini? Aku kira kamu ke sini karena aku menyukai pantai" ujar Aria sedih keluar mobil
'Kemungkinan aku ke sini karena dirimu' Batin Azra
"Ck, baru juga aku ingin keluar" decak Azra
"Lama" ujar Aria meninggalkan Azra
__ADS_1
Dengan santai Azra mengikuti langkah Aria yang sedikit berlari. Senyum kecut terukir di bibirnya, Azra bahagia tapi hatinya sakit
"Anginnya sangat kencang, tubuhku seperti terbawa angin" ucap Aria berdiri di depan laut, membiarkan kakinya terkena air laut obak kecil
"Apa kamu menikmati pemandangannya?" Tanya Azra berdiri di samping Aria
"Apa maksudmu? Dari dulu aku memang menyukai pantai, anginnya sejuk dan pemandangannya sangat indah" ucap Aria
"Aku dulu sering ke sini dengan mama karena kamu selalu menolak ajakkanku. 'Pantai sangat membosankan, hanya ada lautan dan pasir putih. Taman hiburan lebih baik karena begitu banyak permainan' itu yang selalu kamu ucapkan saat menolak" lanjut Aria sembari tertawa
Melihat Aria yang tertawa mengingat masa lalu, Azra tersenyum masam dirinya bahagia bisa melihat tawa tulus Aria seperti dulu karena Aria hanya tersenyum kepadanya jika di depan ibunya sendiri dan orangtuanya. Namun Azra membuang jauh-jauh rasa bahagianya dan mengatakan sesuatu yang membuat Aria terkejut
"Itu hanya masa lalu, tidak ada hubungan dengan sekarang" Velika menoleh ke arah Azra sebentar lalu berpindah menatap ke bawah
__ADS_1
"Kau benar. Semua hanya masa lalu yang seharusnya,,, tidak ku kenang" Ujar Aria pergi ke sisi lain pantai untuk menjauh dari Azra
"Dan seharusnya di masa lalu aku lebih baik tidak bertemu denganmu" Gumam Azra melihat punggung kecil Aria yang mulai menjauh dari dirinya