
Keduanya kini duduk di sebuah tempat yang begitu nyaman untuk berbicara dari hati ke hati.
Aya yang tetap memilih diam membuat Haikal akhirnya membuka percakapan mereka.
...View tempat Aya dan Haikal ...
"Sayang, maafin Abang ya."Haikal mendekat pada Aya sambil menatap wajah kekasihnya yang cemberut.
"Ga perlu minta maaf Bang."Aya dengan singkat.
"Abang tahu kamu cemburu waktu Cecilia..."ucapan Haikal terputus dan langsung dijawab Aya.
"Siapa yang cemburu? Abang seneng kan di tempelin Si Ulet Bulu?"Aya kesal dengan perkataan Haikal menyebut nama si Ulet Bulu.
"Abang seneng deh kalo Aya cemburu sama Abang, tandanya Aya cinta zama Abang."Haikal tersenyum dengan respon Aya.
"Ga ada ya cemburu. Lagi pula Abang juga seneng kan digandeng-gandeng dia, atau memang udah terbiasa? maklum gaya luar negeri. Living together aja biasa kan kalo disana."Aya memalingkan wajahnya dan nada bicaranya mulas ngegas.
"Astagfirullah Sayang, Abang ga sekotor dan sebebas yang kamu pikir. Maaf kalau memang Abang salah karena Abang ga bisa jaga diri Abang dari sentuhan perempuan lain. Tapi tidak ada maksud Abang untuk genit atau senang dengan perbuatan Cecilia seperti itu."Haikal menjelaskan dengan penuh kesungguhan pada Aya.
"Kalau memang Abang dan dia ga pernah ada hubungan apapun, kenapa Abang ga punya rasa malu digandeng seperti itu setiap bertemu dan di kampus dimana banyak orang melihat dan mengetahui hubungan kita? Atau memang Abang sebenarnya sedang ragu dan mempertimbangkan antara Aya dan Cecilia. Aya akan buat Abang mudah dan tak usah lagi bingung. Abang pilih saja dia dan lepaskan Aya!" Aya masih dengan emosi tinggi berbicara dengan Haikal.
"Ay, harus dengan kata-kata atau perbuatan apa agar kamu percaya sama Abang. Abang dan Cecilia tidak pernah menjalin hubungan apapun. Abang juga tidak pernah ragu memilih kamu menjadi istri Abang. Abang mencintaimu Aya."Haikal memegang jemari tangan Aya.
__ADS_1
"Maaf Bang lepas tanganku, aku bukan dia yang mudah nempel dengan sembarang orang. Maaf pula jika aku tidak pernah membelaimu seperti dia yang mampu memenuhi naluri seorang pria" Aya melepaskan tangan Haikal dan beranjak pergi meninggalkan Haikal.
Haikal juga manusia biasa, yang bisa kehilangan kesabaran. Namun selama ini Haikal menjaga hubungan mereka dengan baik dan menahan dirinya.
Saat Aya bangun dan bergegas pergi meninggalkan Haikal, dengan sigap Haikal menarik tangan Aya dan membuat Aya kini berada dipangkuannya.
"Haikal! Lepasin Ga! Aku bukan perempuan rendah seperti si Ulet Bulu!"Aya dengan marah dan mencoba bangin dan lepas dari Haikal namun tangan Haikal begitu kuat menahan tubuh Aya.
"Kalaupun aku memang mau menyetuh wanita bukan Cecilia yang aku inginkan, tapi Kamu Hayati! Mudah bagiku untuk melakukan apapun terhadap kamu karena aku adalah pria normal. Tapi karena aku mencintaimu, aku menahan diriku hingga kamu halal untukku. Tapi jika hari ini kamu tetap tidak mempercayai segala kata-kataku, aku tak akan menahan diriku untuk mencium bibirmu yang begitu menggoda."Haikal sambil mendekatkan wajahnya pada Aya.
Aya panik melihat wajah Haikal yang semakin mendekat, reflek Aya menutup wajahnya dan suara parau Aya terdengar.
"Haikal, jangan lakukan."Aya menutup wajahnya kaget dan takut terhadap apa yang akan Haikal lakukan.
Haikal membuka kuncian tangannya pada Aya. Haikal tersenyum melihat Aya yang masih menutup wajahnya. Haikal sebetulnya tidak mau melakukan hal buruk pada Aya. Haikal begitu menjaga diri terhadap hubungannya dengan Aya. Haikal hanya sedikit memberikan efek kejut pada Aya yang terlalu keras kepala.
"Aya membuka tangannya yang menutupi wajah, perlahan ia menatap wajah Haikal. Ada rasa malu, takut dan salah tingkah.
"Sayangnya Abang betah banget dipangkuan Abang. Kalau Abang sih seneng aja." Haikal meledek Aya yang masih duduk dipangkuannya.
Aya menyadari tangan Haikal sudah tak mengunci dirinya lagi, Aya malu dan salting, Aya langsung bangun dari pangkuan Haikal dan duduk disebelah Haikal namun agak jauh.
"Enak aja! Siapa juga tadi yang narik tangan Aya terus ngunci begitu. Untung tadi Aya ga reflek mukul Abang, Lain kali kalo Abang macem-macem jangan salahin Aya Abang bakal Aya bikin babak belur!"Aya yang tidak mau kehilangan muka berkata demikian pada Haikal.
"Lain kali? Oh jadi Sayangnya Abang suka dipangku? Sini, Sini!"Haikal tersenyum mengetahui kemarahan kekasihnya telah mereda.
__ADS_1
"Dasar ganjen! Cocok sama si Ulet Bulu gatel!"Aya kesal denhan wajah cemberut dan bibir yang manyun menggerutu.
"Bibir kamu manyun-manyun gitu bikin Abang tambah gemes. Saking belum muhrim, Kalo udah Halal, jangan harap Abang bakal lepasin kamu Ay."Haikal tertawal sambil mengedipkan mata.
"Dasar Rektor mesum!"Aya mengumpat Haikal.
"Tapi cinta kan?"Haikal masih meledek.
"Enggak!"Aya memalingkan wajahnya.
"Bener ga cinta? Kalo gitu Boleh Abang terima Cinta Cecilia?"Haikal memanasi Aya.
"Oh jadi gitu? Aya juga bisa terima cinta Micheal! Biar Abang aama si Ulet Bulu!"Aya ga mau kalah.
"Ga boleh!Kamu coba boleh terima cinta dari Abang, karena cinta Abang cuma buat kamu. Hayati Nur Amalia, calon istri Haikal Hasan Basri."jawab Haikal lugas.
"Tapi digandeng si Ulet Bulu menikmati ga dilepas. Emang Gatel!"Aya masih mode cembokur.
Haikal menyadari kesalahannya. Haikal memandang wajah wanita yang begitu dicintainya.
"Sayang maafin Abang ya, sungguh. Abang tidak akan membiarkan perempuan manapun boleh menyentuh Abang lagi. Kalau kamu masih belum percaya, perlu Abang tulis di kening Abang "Milik Aya jangan disentuh!" Haikal kembali berusaha berbaikan dengan kekasihnya yang masih merajuk.
"Ih apa sih norak Abang! Oke tapi Aya ga mau lihat lagi pemandangan seperti kemaren baik ai Ulet Bulu atau perempuan lain."Aya mengacungkan kelingkingnya.
Haikal tersenyum melihat kelakuan kekasih pujaannya. Haikal pun mengaitkan kelilingkingnya pada kelingking Aya.
__ADS_1
Aya tersenyum senang. Begitu pula Haikal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...