
Elsa mengorbankan nama baiknya sujud-terduduk dengan harapan dapat diberikan belas kasih an.
"tolong selamat kan teman ku dulu, setelah itu akan aku pikirkan......"
ucap Elisa memelas.
jendral Keistanaa tersenyum, menahan diri nya untuk bersabar.
"baik, ajudan.... !! " suara memerintah terdengar sangat menakutkan bagi orang yang mendengarkan nya.
sebentar sekali kejadian itu.
pagi hari adam bangun, menangis di dalam hati hanya mengeluarkan air mata tanpa suara. jendral tersenyum dan menghampiri adam yang tergeletak di kamar pasien. membuka korden yang menghalangi kecerahan alam.
"tak ku sangka kau ternyata hanya seorang anak peternakan domba. tekat mu terlalu besar kau tidak akan mampu menandingi nya"
"bajingan, di mana Elisa.... kembali kan dia pada kakeknya! " teriak adam memberanikan diri menghadapi sosok jendral.
tongkat bermata berlian mendarat di jidat adam. dengan pandangan jijik, jendral menarik kembali tongkat nya.
"bahkan kau tidak sebanding dengan tongkat ini.... ha.. ha.. ha... aaaa"
jendral menyeka air matanya.
"kau adam! kalah lah. aku tidak peduli lagi... aku pergi.. " kata si jendral pergi lagi.....
"hei.....!!! kemana kalian membawa Elisa" teriak adam.
pintu tertutup berlahan menandakan bahwa ini suatu hal yang tidak akan di temui lagi. tangan lemah adam memanggil nya untuk kembali apa lah daya, samar-samar adam kembali pingsan.
di ibu kota, setelah 3 hari kejadian di desa.
jendral memasuki kamar indah yang menjadi tempat tinggal Elisa. Elisa duduk termenung di beranda. jendral yang merasa kasihan menghampiri nya bersama pelayan muda.
"kau sudah tiga hari tidak makan. kenapa? "
tanya sang jendral.
Elisa tidak mau membalikkan kepalanya, bahkan merasa jijik, benci dengan suaranya.
"jangan menyiksa diri mu. jika kau mau. aku akan mempertemukan kau dengan kakekmu" tawar si jendral agar Elisa mau makan.
Elisa berdiri dan mengengam baju sang Jendral.
__ADS_1
"pertemukan kami. kau terlalu menyita waktu ku. "
"tenang kan dirimu"
Elisa menahan diri dan melepaskan gengam annya.
"setidaknya kalian harus bertemu, pelayan layani nona Elisa" perintah jendral pada pelayan muda.
"jangan sampai ia terluka. nyawanya ada di tangan kalian" ancam jendral.
seluruh pelayan mematuhi perintah jendral, sepeninggal jendral pelayan muda memperkenalkan diri sebagai asisten terpercaya Elisa.
"namaku Noah, umur ku 17th.jangan mengira aku perempuan, aku sebenarnya laki-laki".
" tidak apa-apa "
Noah terkejut dengan jawaban Elisa segera mengetuk kepala nya mengunakan tongkat kecil.
"apa! " tanya Elisa.
wajah noah makin terkejut dan tidak percaya jika Elisa belum memahami etika kerajaan.
"nona, anda akan menjadi tuan di tempat ini.apa nona belum mengetahui etika dan peraturan kerajaan? " tanya noah.
"nona, setidaknya anda menjawab pertanyaan ku" kata noah malu-malu.
"bukannya aku belum mengetahui etika di sini. kebetulan aku juga tidak ingin tinggal di sini"
noah makin rasa ini mustahil untuk melaksanakan perintah jendral.
"nona dengar kan. aku di sini menjadi teman mu. tetapi pengecualian aku menjadi seorang guru. "
noah mendekati Elisa dan berbisik. Elisa bagaikan di sambar geledek. segera Elisa mematuhi aturan noah.
malam hari, di adakan pertemuan keluarga untuk memperkenalkan Elisa di keluarga kerajaan.
gaun perak dengan bunga yang serasi mengelilingi pinggang nya. noah berdandan seperti biasa.
sesaat kakinya keram seperti tidak akan bisa bergerak. segera jendral membantu ke cemas an Elisa.
di hadapan para tamu jendral mengenal kan Elisa sebagai anak mantan dari menteri Pertahanan kerajaan periode dua tak lupa diri Elisa berasal dari mana.
"wah nona Elisa ternyata tinggal di perdesaan. malang sekali" cemooh mereka yang di sengaja I.
__ADS_1
Elisa sedikit malu. tetapi ini tidak ada apa apanya. di bandingkan peternakan babinya yang sangat ribut di pedesaan.
jendral mengantar Elisa ke lantai atas. sambil menundukkan kepala. jendral berhenti di depan tirai biru berukir naga dan serigala putih.
"pangeran hamba di sini" ucap jendral sambil memberi hormat.
Elisa tidak sudi melakukannya.
tirai terbuka terpampang wajah tampan dan juga cantik seperti lukisan yang duduk di kursi roda dengan dua wanita di samping nya.
"pangeran perkenalkan ini Elisabeth yang akan menjadi istri anda. dia terjamin berkualitas mampu menjaga diri tuan. " ucap jendral.
jari bergerak dari pangeran memerintah kan semua orang di sekitarnya untuk pergi ke bawa untuk menikmati pesta.
dua wanita tadi pergi tanpa suara yang menandakan mereka seorang Assassin.
jari itu bergerak lagi, memerintahkan Elisa untuk mendekat. Elisa yang penasaran mendekati pangeran mengapa seorang pangeran duduk di kursi roda, menyendiri pula.
"apa kau ini. apa kau tidak bisa berbicara! " ucap Elisa.
pangeran malang mengangguk.
Elisa kaget dengan fakta nya. dan menyalahkan diri sendiri.
"tidak masalah menikah dengan pria cacat. lebih cepat mati. maka aku akan pergi dari sini" batin Elisa tertawa.
ekspresi kejam Elisa di perhatian pangeran membuat dirinya tersenyum melihat tingkah Elisa.
pangeran menangkap Elisa dan duduk di pangkuan nya. memasang muka sedih agar Elisa tidak pergi jauh dari dirinya.
Elisa memahami maksud pangeran.
"siapa nama mu"
pangeran keteteran untuk memberitahu nya. tak lama noah masuk, memberi salam kepada pangeran.
"nama pangeran yohan mahesa. "
pangeran mengangguk memberi tanda bahwa itu benar.
noah pamit dan keluar dari kelambu sutra yang mahal dan berharga.
Elisa menatap pangeran dengan cermat. pangeran yang merasa di intimidasi tersenyum paksa, menutupi kekhawatiran nya terhadap kewaspadaan Elisa.
__ADS_1