HIJRAH KITA

HIJRAH KITA
takdir dan nasib


__ADS_3

Takdir dan nasib manusia seperti pohon yang mempunyai banyak cabang, batang pohonnya sendiri adalah takdir dan cabangnya adalah nasib, di setiap cabangnya kita dihadapi pada pilihan, pilihan itulah yang akan membawa kita pada nasib baik atau nasib yang kurang baik. Tinggal bagaimana kita bijak dalam memilih jalannya.


Sama halnya dengan Adeva Afshen Meysha dan Asmaul Husna Aqila Intan Firdaus yang mencoba bertahan hidup dari kerasnya ombak kehidupan, Mungkin nasibnya yang sekarang adalah takdir dalam hidupnya yang harus dijalankannya, terlalu banyak Lika-liku kehidupan yang mereka berdua hadapi.


Adeva Afshen Meysha hidup sebatang kara, orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil disaat orang tuanya pergi bekerja di luar kota, ia dibesarkan oleh neneknya tapi ketika Eva berumur 3 tahun sang nenek tercinta meninggalkannya untuk selamanya, sejak saat itu Eva tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, hingga ia di kejutkan dengan kedatangan pamannya, Eva kira pamannya akan mengurusnya tetapi dugaan Eva salah justru ia di usir dari rumah orang tuanya sendiri bahkan perusahaan orang tuanya di jual oleh pamannya, tetapi nasib baik menghampirinya ia dididik seseorang yang sempat menolongnya di saat ia tak tau arah, dendam membekukan hatinya hingga membuat ia menjadi gadis yang tidak memiliki hati nurani.


Berbeda dengan Asmaul Husna Aqila Intan Firdaus ibunya memilih untuk membuangnya bahkan berfikiran untuk membunuhnya didepan rumah seseorang dengan alasan takut kehilangan apa yang saat ini ia rawat, Saat masih dalam kandungan ia selalu di sayang tetapi setelah di USG dan mendapatkan kabar bahwa yang ia kandung adalah anak perempuan sang ayah tidak lagi peduli terhadap ibunya, saat itulah ibunya berfikir untuk membunuh Intan, bahkan keluarga dari ayahnya tidak pernah memedulikannya, keluarga ibunya sangat berambisi terhadap harta dari menantunya mereka tidak pernah peduli dengan keadaan anaknya saat melahirkan Intan, Ayah Intan menginginkan anak laki-laki tetapi sang istrinya malah mengandung anak perempuan dan di saat itulah suaminya tak peduli lagi padanya.


Disitulah takdir mereka berdua dimulai...


Angin angin yang bercengkrama akrab dengan dedaunan menciptakan tarian indah, burung-burung yang berterbangan membuat langit senja terasa sangat menyejukkan mata.


Dua gadis yang duduk dibawah pohon dengan beralasan batu besar, Dua gadis itu sedang asik memandangi pemandangan alam dari atas bukit dengan sedikit bercerita tentang hari-hari yang mereka lewati, ditangan mereka terdapat setangkai pena yang menyapa kertas halus miliknya terdapat catatan yang berisi perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku .


Back...


*Adeva afshen meysha*


Pagi itu hujan begitu deras seolah-olah merasakan kesedihan yang dialami gadis kecil itu, ya hari ini adalah hari dimana nenek Eva meninggal.


Setelah beberapa hari paman pergi semenjak nenek meninggal kini paman mendatangi Eva dengan surat surat yang entah tentang apa hingga ia menyuruh Eva untuk menandatanganinya.


"Sekarang kamu pergi dari sini" usirnya membawa koper milik Eva dan menyeret Eva untuk keluar.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara Eva pergi meninggalkan rumah milik orang tuanya itu, ia berjalan tak tau arah dengan deraian air mata yang terus keluar hingga ia sampai di depan cafe.


"Ya Tuhan aku lapar, tapi aku tidak punya uang untuk membeli makanan hiks..." Ujarnya memegangi perutnya, ia melihat seseorang yang sedang memakan cake.


Disisi lain sepasang mata memperhatikan Eva karena penampilan Eva yang mencolok seperti orang kaya.


"Halo adek, kenapa adek ada di sini orang tua adek mana?" Tanyanya lalu melihat kekiri dan kekanan mencari orang tua Eva.


"Bunda sama ayah udah meninggal Tante terus Eva juga gak punya rumah Eva juga laper" ujarnya dengan nada sedikit gemetar.


"Nama adek Eva?, kalau begitu ikut Tante yuk kita makan tadi katanya Eva lapar, yuk ikut Tante masuk" ajaknya.


Dengan bimbang Eva pun menyetujuinya walau sebenarnya ia sendiri takut.


"Siapa sayang?" Tanya pria itu


Seorang pramusaji mendatangi meja kita dan memberikan pesanan kita ke atas meja hingga Eva di suruh untuk memakannya


Entah apa yang di bicarakan oleh sepasang manusia itu Eva hanya memilih untuk memakan makanannya saja.


"Eva mau tidak kalau Eva Tante anggap Eva sebagai anak Tante?" Ujar wanita itu dengan tatapan penuh harap "bukannya tadi Eva bilang orang tua Eva sudah meninggal ya, jadi mulai sekarang Eva punya orang tua, mau ya Eva?" Bujuknya agar Eva mengiyakannya.


Dengan pikir panjang Eva pun menyetujuinya.

__ADS_1


*Asmaul Husna Aqila intan firdaus*


Sore itu matahari mengeluarkan cahaya senjanya agar semua orang untuk menghentikan pekerjaannya dan kembali kerumah untuk beristirahat, tapi berbeda dengan wanita satu ini, ia melangkahkan kakinya menuju rumah yang entah ada pemilik siapa dengan membawa peti berisi seorang bayi wanita. wanita itu menaruh peti di depan pintu rumah seseorang dengan hati-hati, ia memandang sekeliling, merasa aman ia melangkah untuk meninggalkan bayi yang sempat ia Bawa itu.


Disisi lain seorang pria melihat tingkah seorang wanita yang berada di depan rumahnya dengan tingkah aneh menurutnya, ia merasa bahwa orang tersebut sangat mencurigakan tetapi setelah di perhatikan dengan seksama ia melihat peti yang di letakkan di depan pintu rumahnya, ia pikir wanita itu membawa alat untuk membakar rumahnya dan tanpa pikir panjang ia berlari untuk mendekatinya.


"Rinjani apa yang kamu lakukan disini?" Ujar pria itu terkejut.


Wanita yang disebut namanya itupun terkejut dengan kedatangan seorang pria.


tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita berjilbab, wanita itupun terkejut dengan adanya wanita dan suaminya didepan pintu.


"Abi kenapa tamunya tidak disuruh masuk?" ujarnya walau masih terkejut ia menormalkan keadaan.


"oh iya Rinjani masuk dulu yuk, kita ngobrol di dalam saja!" ajaknya


"kalau boleh tau apa yang kamu bawa?" tanyanya kembali lalu ia melihat kearah peti, ia terkejut dengan apa yang ia lihat ada bayi perempuan yang sangat cantik yang sedang tertidur didalam peti itu.


Tiba-tiba tangisan bayi itu mengejutkan mereka terutama wanita yang mengunakan jilbab, pria itu langsung mengendong bayi perempuan itu dan hendak memberikannya pada Rinjani tetapi yang membuat dua insan itu terkejut dengan apa yang mereka berdua dengar.


"Menyusahkan sekali, aku menyesal telah mengandungnya, aku ingin kalian membunuh anak itu" ujarnya ,lalu ia pergi begitu saja.


Sepasang suami istri itu masih syok dengan ucapan wanita yang telah mengandungnya, pria itu langsung menimang-nimang agar si bayi terdiam.

__ADS_1


"Dia benar benar wanita gila, bayi secantik ini dan semanis ini ingin dibunuh apa lagi bayi ini anak kandungnya sendiri" ujarnya sedikit kesal dengan tingkah orang tua si bayi. "Lebih baik dia ku jadikan anak saja" lanjutnya dan mendapatkan persetujuan dari suaminya.


__ADS_2