HIJRAH KITA

HIJRAH KITA
informasi dalam kebohongan


__ADS_3

"Sudahlah lupakan saja dia dan lepaskan aku"


Melihat wajah pria itu membuat intan ketakutan dengan tatapannya


"Baiklah aku akan mengatakannya tapi kau harus melepaskanku"


Tak ada jawaban dari pria itu membuat nyali intan menciut


Hingga suara kegaduhan di balik pintu terdengar membuat intan merasa lega, berbeda dengan pria yang berada didepan intan ia merasa telah diganggu membuatnya dengan terpaksa keluar untuk menenangkannya.


"Kalian kenapa sih berantem didepan pintu buat konsentrasi gue buyar saja" menghentikan perdebatan antara Eva dan Arif


"Bagaimana hasil?" Ujar Eva to the point menatap Fikri


"Bagaimana dapat hasil, didalam kerjaannya merayu perempuan itu" ucap Arif yang langsung mendapatkan tatapan membunuh dari Fikri "bahkan wanita itu mengatakan seperti ini ehem..." Arif terus saja membuat Fikri kesal dengan tingkahnya bahkan ia menirukan gaya bicara intan " 'mas aku minta tolong lepasin aku, lagi pula aku tidak punya salah padamu kan tolonglah mas lepaskan aku' " Tawanya pecah


"Tapi aku melakukan itupun ada kemajuan tidak seperti kau bo***doh" ujarnya dengan nada kesal


Mendengar kata kemajuan Eva langsung meminta Fikri untuk mengatakannya, walau kesal Fikri tetap harus menyampaikan apa yang intan ucapkan padanya.


"Apa kau bodoh kau menjanjikannya dia agar dia bisa lepas" tangan Eva memukul pelan kepala Fikri


"Sudahlah aku akan meminta jawaban lainnya dari dia" bisik Fikri lalu memasuki ruangan itu tapi baru dua langkah Eva mengatakan bahwa bos besarnya akan datang besok pagi "akan ku usahakan hari ini selesai"


Dari jarak yang tak begitu jauh dan tak begitu dekat Fikri hanya memperhatikan intan yang menatapnya


"Pembicaraan kita belum selesai, dan sesuai kesepakatan kita, kau memberikan informasi tentang seseorang yang ada di foto tadi dengan sangat jelas dan aku akan membebaskan mu" ujarnya dengan berjalan kearah intan,


Ia langsung mengeluarkan pisau kecil yang sempat ia masukkan ke dalam saku jas hitam miliknya, setelah berada di depan intan ia barjongkok dan memotong tali yang mengikat kaki intan


"Jelaskan sekarang" ujarnya


'tuhan hamba benar-benar minta maaf atas apa yang telah hamba perbuat saat ini ' batin intan "bukan kah Sudah saya katakan, kau telat orang itu tidak akan kembali karena dia sudah bertemu dengan Tuhannya"


"Maksudmu dia sudah meninggal?" Tanya Eva dari balik pintu


Kini Eva dan Arif ikut mengintrogasi intan seakan intan adalah tersangka


"Bagaimana kau tau jika dia sudah meninggal?" Tanya Arif "dan bagaimana kau tau bahwa yang meninggal itu seseorang yang kita cari?"

__ADS_1


"Em... Karena saat itu saya.... Sedangkan ada di tempat kejadian.... dan saya melihat semuanya"


"Jelaskan apa yang kau lihat saat itu?"


"Saat itu saya baru saja keluar dari cafe, disitu saya melihat sebuah motor menghentikan mobil yang sedang melaju, hingga seorang pria keluar menghampiri pengendara motor itu, tak begitu lama pria lain keluar dari mobil mendekat pria pertama yang keluar dari mobil, dari arah lain sebuah sepeda motor melaju dengan kencang hingga pengendara itu hampir menyerempet pria yang keluar dari mobil itu tak lama saya mendengar teriakkan seseorang memanggil nama David, itu saja"


Hening tak ada satupun suara


'aduh aku salah ngomong, pasti mereka tau yang sebenarnya, yang aku omongin hanya sebuah kebohongan yang aku ciptakan' batin intan dengan rasa takut


'apa seperti itu kejadiannya bahkan ayah tak pernah memberikan aku tugas seperti ini, memberi tahu kejadian yang sesungguhnya pun ayah tak pernah menceritakannya padaku' batin Fikri memandang Intan


Berbeda dengan dua sejoli Eva dan Arif, mereka hanya saling pandang dan memberikan pertanyaan lewat mata mereka.


'apa kejadiannya seperti itu?' sorot mata arif


'bagaimana dia tau kejadian itu?" Sorot mata Eva


Tak ada yang ingin mengawali pembicaraan hingga terdengar suara deringan telepon terdengar begitu nyaring di antara mereka.


Eva langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih itu. Tertera nama asbes di benda pipi itu ia langsung menggeser tombol telepon berwarna hijau itu.


"…………………"


"Apa" menunjukkan wajah keterkejutannya


"…………"


"Tidak tidak ada, baiklah aku akan menjemputnya sore ini"


"……………"


"Ya baiklah akan ku tunggu"


Eva pun mematikan sambungan teleponnya dan langsung melihat kearah Arif, intan dan Fikri bergantian.


Arif dan Fikri memperhatikan Eva yang sedang dengan keterkejutannya mendapat panggilan dari seseorang, Fikri pun menatap Arif seakan-akan menanyakan 'eva kenapa?' dari sorot matanya dan sama halnya Arif yang mengerti arti sorotan mata Fikri hanya mengangkat bahunya


"Lo kenapa mis E?" Tanya Arif

__ADS_1


"Selesaikan hari ini juga batas waktunya sore ini" ujar Eva yang langsung pergi dari ruangan itu.


"Batas waktu apa?" Tanya Fikri yang melihat Eva keluar


Kini Arif dan Fikri langsung mengejar Eva tanpa mempedulikan intan yang hanya memperhatikan mereka.


"Va tunggu Va?"


"Aku masih belum paham maksud batas waktu?" Ujar Fikri yang terus mengekori Eva


"Sore ini bos besar mau dateng ke mension" ucapan yang begitu santai yang keluar dari mulut Eva tapi berbeda dengan dua sijoli yang mengekori Eva kalimat itu terdengar sangat mengerikan di telinga.


"Kenapa papah gak pernah bilang ke aku sih, aku ini anaknya atau bukan sih" gumamnya melipat kedua tangan di dada dengan raut wajah kesalnya.


"Kalian berdua bereskan dia, dan harus mendapatkan info sebelum sore, gue pergi dulu" ujar Eva meninggalkan Fikri dan Arif.


Arif pun mengajak Fikri masuk menemui intan yang sedang cemas akan kebohongan yang baru saja ia ucapkan.


Dengan gaya biasa Arif melangkahkan kakinya untuk mendekat ke intan, berbeda dengan Fikri yang hanya memperhatikan Arif dan intan dari pintu.


"Apa bener orang yang kita cari itu udah meninggal, lalu bagaimana kau tau dia sudah tidak ada?, Terus dimana kuburannya?, Jangan coba-coba membohongi kita ya?" Ucap Arif


Intan mendengar ancaman menelan salivanya "ku-kuburannya ada di.... di...." Gugup intan yang langsung menundukkan wajahnya hingga Arif memotong ucapan intan


"Kau membohongi kita!" Ujar Arif menekan kata katanya


"Bisa kau diam dulu Arif biarkan dia memberikan informasinya dulu"


Intan pun menceritakan apa yang ada di pikirannya dengan pandangan yang masih menunduk dan kegugupannya.


Hingga dua pria itu meminta untuk menunjukkan kuburan yang intan ceritakan.


Saat perjalanan menuju kuburan intan terlihat gelisah bukan karena ia takut oleh sesuatu yang akan membuatnya menderita melainkan ia sedang binggung bagaimana untuk menemukan kuburan yang sama persis dengan nama kakaknya yang dua pria itu cari.


******


jangan lupa kasih sajen ya


dukung terus karya author dengan cara like comment

__ADS_1


biar terus update kalau bisa sehari sekali🤗🤗🤗


__ADS_2