Hijrah Seorang Gadis

Hijrah Seorang Gadis
nostalgia


__ADS_3

rian adalah kakak kelas ketika aku sekolah SD sekaligus tetangga rumah dulu kami sering bermain bersama hampir semua permainan masa kecil aku lakukan bersamanya tapi kebersamaan ini berakhir ketika rian masuk smp dia melanjutkan SMP dan sma sambil mondok di pesantren yang jauh dari rumah


6 tahun aku tidak bertemu dengan nya rasanya menjadi asing dan aneh ketika harus menyapanya aku sadar aku bukan lagi anak berusia 10 tahun yang antusias ketika bertemu temen lama


dan yang membuat keadaan menjadi canggung adalah perubahan diri rian yang berubah drastis dari anak anak menjadi remaja menuju dewasa bahkan dari segi penampilan pun berubah jauh sekali


jujur aku merasa rendah diri ketika berpapasan dengan nya terlebih saat pulang dari masjid pasti bertemu atau bahkan pulang nya barengan tanpa sengaja dikarenakan arah rumah yang searah jadi mau tidak mau aku berjalan bareng walaupun aku atau kadang dia yang mendahului didepan


sebenarnya senang ketika tahu rian pulang dari pesantren tapi keadaan yang berubah membuat aku canggung dan ga enak hati menyapanya


karena itu menjadi alasan aku ketus dan tidak betah lama lama ketika bertemu dengan nya dalam lubuk hati aku merasa bersalah memperlakukan rian seperti itu


sampai pada akhir nya aku mencoba berdamai dan menerima segala bentuk keramahan rian padaku seperti sekarang saat aku baru keluar dari dalam masjid aku berpapasan dengannya aku menguatkan diri agar tidak ketus lagi


aku buru buru memakai sendal dan keluar dari halaman masjid tapi tiba tiba rian memanggil namaku


" nara" panggil rian sembari mencoba menyeimbangi langkahku


" iya kak" jawabku mencoba bersikap sopan padanya


" sekarang manggil kakak tadi pas di minimarket manggil nama" ucapnya


" yah gimana lagi terlanjur" jawabku cepat


" jangan cuek ra " pintanya sambil berdiri di depanku


" ada apa kak" tanyaku heran melihat nya


" aku ada salah sama kamu ya ra kok kamu jadi berubah gini dulu kamu ga cuek gini sama aku" tanyanya


" udah aku bilang aku ga pernah berubah kak, aku canggung 6 tahun kita ga pernah ketemu kita udah dewasa sekarang bukan anak SD lagi, maaf kalo aku ga seantusias dulu" jawabku menatap nya


" maaf ya ra bikin kamu ga nyaman gini, kamu jangan sungkan ya kita masih teman kan"


" iya kak ga apa apa, maaf juga aku udah ketus sama kaka"


" kamu apa kabar ra, lama ya kita ga ketemu jujur aku kangen kita yang dulu" ucapnya sambil menatap langit yang gelap tak berbintang


"aku baik kak, kalo rindu pasti tapi waktu ga bisa di putar balik lagi kak " jawabku ikut menatap langit malam


" main ke rumah dong ra, kata ibu kamu ga pernah main ke rumah setelah aku pergi mondok" ajaknya padaku


" kapan kapan ya kak, malu lah aku mampir tapi ga ada tujuan masa ngajak main tante mirna"


" ya ga apa apa lah biar ibu ga kesepian, oh iya kabar tante sarah gimana udah lama juga aku ga pernah kesana"


" bunda baik kak, emang kakak pulang dari pondok kapan sih " tanyaku padanya

__ADS_1


" ya sekitar 2 minggu ini lah, masa kamu ga tau ra kita sering ketemu loh kalo pulang dari masjid" jawabnya


"ya aku ga ngitung hari kak siapa tau juga emang baliknya udah lama tapi baru ketemu pas itu kan bisa aja gitu"


" iya sih masuk akal juga, besok kamu ada kegiatan ga? "


" ya paling bantuin bunda beres beres rumah sama belajar aja sih kak" jawabku dan firasat ku merasa pasti rian bakal ngajak aku jalan nih


" kalo gitu boleh ga aku mampir ke rumah" tanyanya sambil menatapku penuh harap


" boleh aja kak silahkan kalo main, rumah kita deket ini cuma kehalang 4 rumah aja" jawabku menatap nya balik


" besok dandan yang cantik ya ra" pintanya


" lah ngapain dandan orang aku diem aja ga kemana mana" tanyaku padanya dalam hati aku membenarkan firasatku


"ya ga apa apa sih ra, besok aku kesana abis dzuhur ya oh iya aku belum punya no HP kamu ra boleh minta? "


" boleh sini mana HP nya" pintaku


diapun memberikan HP nya kepadaku tanpa banyak tanya langsung saja aku ketik dan tidak lupa aku kasih nama kontak ku di HP nya nara cantik hehe


dia heran melihat aku yang senyum sendiri sesaat kemudian aku mengembalikan HP nya diapun tau penyebab aku senyum sendiri dia hanya tersenyum sambil menatap mataku


" makasih ra, sampe ketemu besok ya" ucapnya


" iya kak"


seketika aku membeku dadaku bergemuruh darahku berdesir hebat entah perasaan apa yang aku rasakan ini rasanya aneh belum pernah aku merasakan sebelumnya rasa aneh itu menjalar keseluruhan tubuhku


aku membisu dan hanya mampu menatapnya yang salah tingkah menyadari perlakuan nya padaku tidak umum dia buru buru minta maaf dan bergegas pergi masuk ke halaman rumah nya yang posisinya lebih dekat dengan masjid


melihat dia pergi aku pun ikut berlalu dari sana sesampainya di rumah aku melihat bunda sedang minum teh sendiri di meja makan sadar aku sudah pulang bunda menyapaku


" ra sini mau teh ga? " ajak bunda


" mau bund tapi bentar ya ini nyimpen mukena dulu, oh iya ayah mana bund kok ga keliatan dari kemarin" tanyaku


" oh iya bunda lupa ngasih tau ayah keluar kota kemarin langsung berangkat ga pulang dulu ke rumah " jawab bunda


" wah bilang sama ayah ya bund nara pengen oleh oleh hehe" pintaku pada bunda


" kamu bilang aja sendiri ra"


" ya udah deh nanti nara telpon ayah" jawabku berlalu ke kamar


hal pertama yang aku lakukan saat sampai di kamar menyimpan mukena lalu mengambil hp yang sedang di charger ada beberapa notifikasi pesan baru salah satunya dari nomor yang tidak di kenal lantas aku buka pesan masuk itu

__ADS_1


ternyata pesan dari rian lantas aku pun membalasnya dan tidak lupa menyimpan nomor nya aku kasih nama kak rian tanpa embel embel apapun


" ra ini rian, soal tadi maaf ya aku lancang" pesannya


" iya kak ga apa apa kok" balasku


" jangan lupa ya besok" pesannya mengingatkan aku


" iya kak nanti kak rian kabarin aja ya" balasku tidak mau banyak basa basi


setelah itu entah apa balasan kak rian aku tidak mengecek HP lalu pergi ke meja makan menghampiri bunda yang masih asik minum teh


" abis ngapain ra lama banget katanya cuma nyimpen mukena" tanya bunda sambil menyodorkan segelas teh hangat bersama cemilan nya


" tadi bales chat dari kak rian bund" jawabku


" rian anaknya bu mirna? " tanya bunda


"iya bund itu loh yang suka main sama aku pas sd" kataku menjelaskan


" kamu deket lagi ternyata sama dia kirain bunda udah ga akrab lagi "


" ya canggung juga sebenarnya bund pas ketemu tuh cuma ga enak kalo nara pura pura ga kenal masa iya temen kecil udah mah tetangga tapi ga deket kan aneh" terangku pada bunda


" iya sih terserah kamu aja ra, yang penting kudu bisa jaga diri kamu sama dia lawan jenis hati hati loh nanti suka haha" ejek bunda


" dih bunda malah ngejek" keluhku


" ngingetin ra bukan ngejek" kilah bunda


" ah bunda ga asik, oh iya bund kata kak rian besok siang abis dzuhur mau mampir ke rumah"


" tuh kan apa kata bunda pasti anak itu suka sama kamu ra" kata bunda sok tahu


" Yaelah bund, masa cuma mau mampir aja di tuduh suka sama aku parah ih" jawabku malu seketika ingat kejadian tadi dijalan pulang dari masjid


" tuh kan merah mukanya bersemu gitu ada cinta bersemi nih" ejek bunda padaku


" duh gusti bunda ini, bunda nyuruh aku cinta cintaan yah"


"bukan gitu ra, suka sama lawan jenis itu normal loh kamu udah puberkan ra" tanya bunda


" ya udah lah bund, masa belum udah 18 tahun ini"


" itu tau udah menuju dewasa kamu tuh ra bukan remaja lagi"


" iya bund, udah nara mau tidur aja makasih tehnya" pamit ku pada bunda cape juga nanti di tanyain udah punya pacar apa belum kan aku malu cerita ke bunda aku abis putus cinta

__ADS_1


__ADS_2