
Seorang laki-laki baru saja menapakkan kakinya di tanah setelah terbang melayang beberapa jam di udara. “akhirnya sampai juga” gumamnya. “Selanjutnya tinggal ke hotel” pikirnya.
Dia melepas sebentar air phonenya saat keluar dari pintu exit bandara. Seorang driver menghampirinya di sana. “Can I halp you sir?” Driver itu mengucapkan bahasa inggris dengan logat medoknya.
“Hotel Alexander” Bayu menyebutkan tujuannya. “yes Sir” Driver itu kembali mengucapkan kalimat berbahasa inggris
“Indonesia saja pak” Driver itu langsung tersenyum dan mengangguk ramah.
“Tuan mengerti bahasa Indonesia?” sang Driver mencoba memastikan.
“saya WNI pak” jawabnya singkat. Meski lebih dari separuh hidupnya dia habiskan di negeri Ratu Elizabet, tapi Bayu tetap tak merubah status kenegaraan dan bahasa percakapannya sehari-hari. Lagi pula orang tuanya di rumah juga selalu membiasakannya menggunakan bahasa Indonesia. Bayu sendiri juga hanya menggunakan bahasa inggris atau bahasa lainnya ketika berkumpul bersama teman atau rekan kerjanya.
“Oh saya kira bule” driver itu terlihat terkejut. Bayu hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia sama sekali tidak merasa tersinggung dengan ucapan Driver itu karena dia rasa hal itu masih wajar. Ya, mungkin karena postur tubuhnya yang tinggi dan lumayan berisi yang membuat Driver itu terkecoh. Secara postur tubuh Bayu memang bukanlah postur tubuh orang Asia pada umumnya.
“Silakan tuan” driver itu membukakan pintu taksinya untuk Bayu. Bayu masuk dan langsung mengenyakkan dirinya di kursi penumpang. Dia langsung memasang airphone kembali untuk menyumpal kedua telinganya. Driver nampaknya paham bahwa pelanggannya tak ingin diganggu jadi dia segera melajukan Taxinya tanpa banyak bicara.
Sambil menikmati lagu kesukaannya Bayu mengarahkan pandangannya ke luar jendela untuk menikmati perjalanannya. Driver di hadapannya hanya diam berkonsentrasi dengan jalanan yang padat waktu itu. Dengan begitu yang tersisa hanya hening yang menemani perjalanan mereka. Sampai saat taxi itu memasuki area tanah lapang dekat hotel tujuan Bayu, laki-laki itu melihat seorang gadis dengan gaun berwarna putih tulang sedang duduk sambil membaca sesuatu di sana. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin mengabadikan pose gadis yang tidak dikenalnya saat itu. “Pak berhenti sebentar” Driver itu menurut. Dia menghentikan Taxinya di bahu jalan dekat tanah lapang itu.
Bayu segera saja membuka jendela, mengarahkan kamera dan mengatur lensanya sebelum menekan tombolnya beberapa kali. “Cantik” Bayu tersenyum mengagumi gadis itu melalui gambar yang ditampilkan kameranya.
“Masnya hobi foto-foto ya?” tanya Driver itu kepo.
“iya” Bayu hanya menjawabnya singkat. Dia memang terbiasa menjawab segala pertanyaan seperlunya, mungkin karena dia terlalu lama hidup di luar, jadi dia sudah terbiasa dengan budaya selfish orang luar. “Kita jalan lagi pak” dia kembali memberi perintah sebelum kembali diam dengan dunianya.
Sesaat setelah sampai, laki-laki itu langsung menghempaskan dirinya ke ranjang. Dia baru mulai menutup matanya saat dia mendengar ketukan dari balik pintu kamarnya. Dia membuka pintu dengan sedikit kesal dan tanpa permisi seorang perempuan mendorong tubuhnya meminta jalan dan langsung merangsak masuk. “Hei nona. Apa yang kau lakukan?” tanyanya pada perempuan yang sudah duduk nyaman di sofa kamar hotelnya.
Gadis itu menoleh cepat dan menatapnya penuh kekesalan. “Hei bung harusnya aku yang bertanya. Aku menjemputmu dan kau malah meninggalkanku. Aku sudah berteriak seperti orang gila memanggilmu dan kau tetap tidak mau menoleh padaku.” Bayu langsung terkekeh mendengar gerutuan sepupunya itu.
Melihat tawa Bayu membuat Alin semakin kesal “Jangan tertawa!” bentaknya kesal sambil mengentakkan kaki kanannya.
“Baiklah nona maafkan aku” pinta Bayu sambil tetap terkekeh.
“Hentikan kekehanmu yang menyebalkan itu tuan Bayu Exelo Alexander dan katakan padaku di mana airphone sialanmu itu” Alin langsung berdiri bergerak menelisik ruangan itu dan Bayu membiarkannya mengacak-kamar hotelnya. “Ini dia” katanya begitu menemukan apa yang dia cari.
“Mau kau apakan itu?” tanya Bayu saat mendapati Alin menatap geram pada airphone di tangannya.
“Aku akan membuang benda terkutuk ini ke laut” Katanya kesal.
“Letakkan itu nona. Dia tidak bersalah” ucap bayu lembut merayunya. Dia mendekat memegang bahu sepupu cantiknya. Dia berusaha mengarahkan Alin kembali duduk di sofa.
Gadis itu sudah merendahkan tubuhnya untuk duduk di sofa, tapi tidak dengan emosinya yang masih setinggi puncak Everest “Enak saja. Gara-gara benda ini menyumpal telingamu. Aku terlihat seperti fans gilamu di bandara” tawa Bayu langsung pecah saat mendengar itu.
“sudah ku katakan berhenti tertawa bung!” Alin kembali bersungut. Dia bahkan melempar airphone itu ke arah Bayu. Bayu sendiri menangkapnya sigap dan segera menjauhkan benda itu dari jangkauan Alin yang sudah mirip singa betiba.
__ADS_1
“tenanglah nona jangan marah. Jika kau jadi fansku, kau tidak akan rugi. Kau akan ku jadikan yang paling spesial” ucap Bayu menggoda dengan menaik turunkan kedua alisnya.
“ihhhh..... Lupakan saja. Aku tidak berniat jadi fansmu” Alin berekting bergidik di depan Bayu, membuat Bayu semakin gemas padanya.
Dreeeet tiga kali bunyi itu mampir di telinga mereka sampai Alin menolong benda yang bergetar itu.
“kau sudah menjemputnya?” seseorang yang pasti masih ada di rumah sakit itu terdengar langsung mengajukan pertanyaan.
“sudah tapi dia malah meninggalkanku” Alin menjawabnya sambil melihat ke arah Bayu yang masih berdiri di hadapannya sambil mengerutkan keningnya. Dia menggerakkan kepalanya seolah bertanya “siapa?”. Alin menyebutkan dengan tanpa suara identitas penelfonnya pada Bayu.
“dia ada di mana sekarang? Apa kau masi bersamanya?” kakak Alin kembali bertanya.
“Dia di hotelnya. Hotel Alexander bersama seorang gadis” jawaban Alin yang asal sukses membuat kedua orang laki-laki itu mengerutkan keningnya. Hanya saja baik Alin maupun Bayu tidak bisa melihat kerutan yang tercetak di kening Dion.
“kak kemarilah. Bantu aku memberinya pelajaran” Alin merengek pada Kakaknya.
“lima belas menit lagi aku akan sampai”
“aku menunggumu kak” Alin menutup sambungan telfonnya.
“Hei nona apa-apaan tadi? Kenapa kau mengatakan aku sedang bersama gadis di sini?” Gerutu Bayu pada Alin yang memasang wajah tanpa dosa padanya.
“lalu apa aku harus mengatakan kau bersama janda berumur sekarang?” Alin menjawab gerutuan Bayu dengan asal.
“Itu balasan karena kau meninggalkanku di bandara” jawaban Alin sukses membuatnya mengangah tidak percaya.
“Dasar pendendam” ejek Bayu pada Alin.
“Biarin wekkkk” Alin menjulurkan lidahnya pada Bayu.
“Anak Kecil” cibir Bayu pada Alin lagi.
Ingin sekali rasanya Alin membalas cibiran Bayu padanya, tapi suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. “Itu pasti kak Dion. Dasar kakak, padahal ini belum ada lima menit” batin Alin. Sedangkan Bayu sudah beranjak dari tempatnya duduk sejak ketukan pertama. Tak lama Alin mendengar suara pintu terbuka yang diikuti suara “hai bro dan bla..bla...bla...”
“Ya dia lumayan merepotkan” itulah kata terakhir yang di dengar Alin dari Bayu. “siapa yang merepotkan?” Alin penasaran siapa yang tengah dibicarakan oleh kedua laki-laki itu. “Gadis yang ada di kamar hotelku” jawab Bayu sambil terkekeh bersama Dion, kakak Alin.
“Kakak.... Bayu mengejekku” rengek Alin pada kakaknya namun kakaknya hanya menanggapinya dengan tawa.
“Bay apa kau mematikan ponselmu?” tanya Dion sesaat setelah dia duduk di sebelah Alin dan mendapati ponselnya kembali bergetar, tanda ada panggilan masuk dari tantenya. Sebenarnya ini sudah kesekian kalinya tantenya itu menelefonnya menanyakan putra kesayangannya, sampai Dion jengah menjawabnya. “Adikmu membuatku melupakannya” jawab Bayu asal.
“Kenapa Aku! Memang apa salahku?” teriak Alin pada Bayu yang berlari ke kamarnya.
“ Hai mom” Bayu keluar dari kamarnya sambil menempelkan ponselnya di telinganya.
__ADS_1
“Kau kemana saja sayang? kenapa ponselmu tidak aktif? Kau membuat mama khawatir!” itulah rentetan kalimat yang langsung memburu Bayu.
“berhentilah kawatir mom, Aku sudah sampai di hotel”
“Kenapa di hotel? Kenapa kau tidak menginap di rumah tantemu?”
“Aku lebih nyaman di sini mom. Lagipula aku juga bisa sekalian mengawasi hotel kan mom”
“Baiklah kalo begitu terserah padamu. Hubungi mama kalo kau perlu sesuatu dan jaga dirimu”
“Baik mom. Love you” Bayu menutup panggilannya.
“Dasar anak mama” ledek Alin tepat saat Bayu mematikan sambungan telefonnya. “Aku heran sebenarnya dia itu anak gadis atau anak laki-lakinya tante sih?” Alin masih saja memberi komentar sambil menunjuk ke arah Bayu.
“Aku rasa, aku juga mulai meragukan gendernya” kali ini Dion juga ikut-ikutan.
“Ayolah.... Jangan bersekutu membuliku. Itu curang” gerutu Bayu.
Melihat tingkah Bayu, Alin lebih bersemangat menggodanya “lihatlah kak, aku rasa kakak perlu memeriksa gender orang ini. takutnya dia ternyata cowok jadi-jadian” Bayu melotot tidak menyangka akan di katai sebagai laki-laki jadi-jadian. Namun, dia tidak kehabisan akal untukmembalik keadaan
karena sekarang ibarat senjata makan tuan Alin kena batunya saat Bayu membalasnya “Hei Alin. Bagaimana jika kamu saja yang memeriksanya di kamar. Aku pastikan kamu akan segera mendapat hasil positif dalam beberapa hari ke depan” tantang Bayu sambil memainkan kedua Alisnya.
“Brengsek kau!” Dion melempar bantal sofa tepat ke wajah Bayu yang terkekeh melihat wajah Alin yang berubah merah.
“jika kau berani melakukannya ku pastikan kamu akan berakhir di pemakaman” ancaman Dion.
“itu terdengar mengerikan” canda Bayu.
“itu lebih dari yang kau bayangkan bung” dua orang itu mulai terkekeh.
“ehemmmm” suara yang di buat Alin mampu menarik perhatian dua laki-laki itu. “ Lanjutkan saja kegilaan kalian. Aku mau pulang”
“sepertinya ada yang marah” cibir Bayu.
“berhentilah Bay sebelum dia benar-benar mengeluarkan taringnya.” Dion mencoba memperingatkan sepupunya itu untuk tidak terus memancing kemarahan adik kesayangannya.
“terserah apa kata kalian. Aku pulang. Dan pastikan kau muncul di rumah nanti malam. Mama mengundangmu makan malam di sana”
“Aku pasti datang” janji Bayu.
“Istirahatlah Bay aku juga pamit” Dion ikut bangkit dari duduknya.
“Baiklah hati-hati”
__ADS_1