Hole The Wind

Hole The Wind
Goodbye Lexion


__ADS_3

“Lelahnya....” Gerutu sang bungsu yang membanting tubuhnya ke sofa empuk ruang tamu.


“Semuanya sudah datang” sapa Lexion yang baru muncul dari ruang tengah.


“Lex kamu di rumah?” tanya sang ibu kaget. Setahunya putra sulungnya tadi berpamit mengurus pekerjaan, tapi sekarang dia sudah ada di rumah.


“iya buk. Alkhamdulillah tadi urusannya cepet selesai” ucapnya sambil menghampiri sang ibu. “ibuk pasti lelah” tanyanya pada sang ibu yang kini tengah dia pijat lembut pundaknya.


“Gak selelah kamu. Kamu sudah berhari-hari menyiapkan pernikahan adikmu sekalian mengurus perusahaan dan rapat sana sini” ucap sang ibu sambil mengelus tangan Lexion yang masih setia memijat. Lexion hanya tersenyum. “Aku hanya ingin yang terbaik untuk pernikahan Mira buk” sang ibu mengangguk dengan wajah sayu.


“Itu sudah kewajibannya sayang. Dia harus memastikan pernikahan ADIKNYA mendapat fasilitas terbaik” Ayah Lexion menandaskan kata adik yang sukses membuat Lexion tertohok, tapi Lexion menutupinya dengan senyum dan anggukannya.


“Lexion baru selsai masak. Apa kalian mau makan malam sekarang?” Lexion mengalihkan topik.


“Aku sudah kenyang” ucap dingin sang ayah sambil meninggalkan sofa. Hubungan mereka memang tidak pernah akur karena sejak awal proses adopsi Lexion beliau memang tidak menginginkannya hanya saja istri beliau terus ngotot ingin melakukannya dan beliau tidak bisa mengatakan tidak pada keinginan istrinya. Jadilah beliau selalu bersikap dingin pada Lexion. Untungnya laki-laki itu tidak pernah mengambil hati sikap ayahnya. Karena sedikit banyak dia juga tahu cerita pengadopsiannya.


“Aku juga kenyang” Lily juga ikut beranjak meninggalkan sofa mengikuti jejak ayahnya pergi ke kamar masing-masing. Sekarang tinggal sang ibu yang masih setia di pijit pundaknya.


“Ibu juga pasti masih kenyang” tebak Lexion.


“Ibu gak kenyang, tapi gak lapar juga” ungkap sang ibu jujur.


“Kok gitu buk?” Lexion bingung dengan jawaban ibunya.


“Ya kan tadi ibu makan dikit di sana” Sang ibu tersenyum sampil mendongak menatap putranya yang masih setia memijat dari belakang sofa.


“Kok cuma dikit? Ibu gak suka hidangan tadi?” tanyanya hawatir bahwa hidangan di pernikahan adiknya terasa tidak enak. Ibunya hanya menggeleng “bukan gak enak. Hidangannya enak, tapi ibu lebih suka masakanmu” Lexion terkikik geli mendengar gombalan sang ibu.


“Ibu mau ngerayu Lexion? Lexion bilangin ayah” canda Lexion dan sang ibu menyambutnya dengan pukulan ringan di tangan Lexion yang memijatnya. “Dasar anak nakal” setelah itu mereka tertawa bersama.


Setelah acara makan mereka berdua Lexion tiba-tiba mendekat dan berlutut di samping kursi ibunya.


“Hei apa yang kau lakukan?” tanya sang ibu sambil memegang pundak Lexion “berdirilah!” Tapi Lexion malah menggeleng.


“Bu Lexion minta izin besok pagi Lexion harus pergi” ibu Lexion terlihat kaget. Tapi sejurus kemudian tatapannya berubah sendu dan nanar


“Apa ini sangat menyakitkan?” dia mengelus pipi putra sulungnya sambil menahan air mata yang berkumpul di kelopak matanya. “Sampai kau harus pergi begini” tambahnya.


“Bukan begitu bu. Aku memang sedikit sakit” akunya yang sukses membuat air mata sang ibu menetes. “Oh ayolah bu jangan menangis” dia menghapus air mata sang ibu dengan lembut. “Aku pergi karena ada urusan penting di cabang”


“benarkah?” sang ibu mencoba mencari kepastian. Dan Lexion mengangguk mengiyakan.


“Jadi berhentilah menangis” Lexion bergerak kembali menghapus air mata sang ibu sebelum memeluknya sayang. “jangan menangis karenaku lagi bu. Itu membuatku sedih” minta Lexion saat memeluk sang ibu.


“kalau begitu kau harus berjanji untuk selalu bahagia nak” ibu Lexion mengusap punggung Lexion dan tersenyum dalam pelukan merekan.

__ADS_1


“Lexion sudah bahagia bu. Sangat bahagia” Lexion tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada sang ibu.


“Ibu percaya. Semoga Tuhan memberimu kebahagiaan yang berlipat setiap harinya” itulah doa tulus yang terucap dari bibir ibu Lexion yang juga diamini oleh Cloud yang dari tadi menyimak percakapan mereka.


“Sudah malam, ibu pasti lelah. Istirahatlah bu biar Lexion yang membereskan ini.” Lexion merujuk pada meja makan yang masih penuh hidangan.


“Ibu bantu” ibu Lexion segera berdiri mengangkat piring dan gelas yang kotor, tapi Lexion segera merebutnya. “Tidak. Ibu pergi saja istirahat” tegasnya.


“Keras kepala” Lexion tersenyum mendengar olokan sang ibu. “ibu tahu itu memang sifat dasarku” kikiknya.


“Jam berapa kau akan berangkat Lex?”


“Pesawatku jam 4 bu, jadi aku berangkat jam 3, tapi aku akan kembali sebelum makan siang, jadi ibu tidak perlu menangis lagi” canda Lexion.


“anak nakal. Kau suka sekali meledek ibu” wanita baya itu melayangkan tangannya memukul ringan pangkal lengan putra sulungnya.


“baiklah ibu ke kamar dulu. Pastikan kau juga segera istirahat” pesan sang ibu.


“ibu” panggil Lexion. Dia meletakkan piring yang tadi sudah dia angkat dan kini berjalan cepat menuju sang ibu yang kembali menoleh padanya di dekat tangga. Dia memeluk ibunya lagi “terimakasi sudah menjadi ibuku. Aku menyayangi ibu” Ucapnya.


“Ibu tahu”


“selamat malam” pungkas Lexion “selamat tinggal” tambahnya dalam hati.


Pagi buta Lexion meninggalkan rumah. Tanpa pamit tentunya karena penghuni rumah itu belum ada yang membuka mata. Mungkin semua orang masih lelah karena pesta kemarin memang menguras tenaga.


Dia melirik ponselnya dan mendapati satu foto masakan kesukaannya yang masih mengepul. Dia kembali tersenyum. Dia segera menekan tombol panggilan. “ibu membuatku lapar” itulah yang dia katakan saat panggilannya terangkat.


“Makanya cepet pulang” balas ibunya.


“Lexion sedang dalam perjalanan bu” balasnya. “Jangan ngebut. Dan hati-hati” belum sampat Lexion menjawab sesuatu terjadi tepat di depan mobilnya. Sebuah truk muatan berat di depannya mengalami pecah ban sampai kehilangan kendali.


“Ya Tuhan” kaget Lexion sambil mencoba menghindari tabrakan dengan menginjak pedal rem, namun terlambat. Muatan truk itu terlepas dan dua kayu utuh berukuran super besar menggelinding bebas di jalan menghantam apa saja yang ada di jalurnya termasuk Mobil Lexion. Bagian depan mobilnya terlindas salah satu kayu dan bagian belakang mobilnya di tabrak mobil lainnya. Dia merasakan beberapa kali hantaman sampai akhirnya berhenti. Setelah beberapa saat dia tersadar, tapi tidak mampu bergerak. Tubuhnya terjepit di dalam kerangka mobilnya yang remuk.


Di lain pihak Sang ibu yang masih ada di panggilannya terdengar histeris memanggil putranya. Dia tahu Lexion sedang mengalami masalah. “Lex... ada apa? Lex... katakan sesuatu... Lex apa kau baik-baik saja nak? Lex.... jangan membuat ibu takut. hiks....hiks...” Tangis ibunya pecah.


Beruntung Lexion menggunakan free hand jadi dia masih bisa mendengarkan suara ibunya “ibu...” suara pelan itu yang mampu Lexion ucapkan untuk menenangkan sang ibu yang histeris di seberang sana. “ja...ngan... Me.. nangis...” ucap Lexion terbata karena dadanya yang terasa sangat sesak. Tak lama dia mulai terbatuk sambil memuntahkan darah.


“hiks... Apa yang terjadi? Hiks... Katakan kau ada di mana nak?” ibu Lexion masih terisak hebat tapi dia berusaha menguasai dirinya.


“Claud... aku... i ingin ber bertemu mereeka” bukannya jawaban atas pertanyaannya yang sang ibu dengar. Beliau malah mendengar ucapan ngelantur putranya yang semakin terdengar lemah. Setelahnya panggilan itu malah terputus. Sontak saja ibu Lexion langsung histeris memanggil putranya itu.


Di sisih lain Lexion masih cukup sadar untuk melihat Cloud yang mendekat. Samar dia melihat wajah Cloud yang terlihat sedih. Baru kali ini dia bisa melihat ekspresi laki-laki misterius itu.


Lexion tersenyum. Mungkin Dia bermaksud mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Namun Claud tahu benar kebenarannya. Bagaimana dan apa yang laki-laki malang itu rasakan. “Aku akan mengeluarkanmu” tanpa menunggu jawaban Lexion, Claud mulai merenggangkan bongkahan body mobil yang menghimpitnya. “Claud... aku... i ingin ber...temu me...mere...kah” Lexion mengucapkannya tepat sebelum dia kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam berlalu keluarga Lexion baru mendapat kabar kepastian keadaan Lexion. Mereka yang dasarnya sudah berkumpul di rumah segera bergerak ke rumah sakit tujuan.


Sampai sana mereka mendapati Lexion yang sedang menjalani operasi darurat. Mereka berkumpul di depan ruang operasi. Menunggu hasil operasi.


Sudah tiga hampir tiga jam mereka menunggu di depan ruangan itu. Tak ada kabar. Hanya ada perawat yang beberapa kali keluar masuk, tapi saat di tanya bagaimana keadaan pasien mereka selalu menjawab dengan jawaban yang sama. “dokter masih berusaha. Mohon doanya.” Selalu saja begitu.


Dalam proses menunggunya ibu Lexion sempat tertidur. Dalam keadaan setengah sadarnya beliau bermimpi bertemu sang putra. Dia sedang duduk santai di bangku taman mengenakan setelan berwarna putih yang terlihat pas.


“Lex...” Lexion menoleh dan tersenyum begitu cerahnya. Sang ibu juga ikut tersenyum lega. Beliau lega putranya baik-baik saja.


“Sedang apa nak?” ibu Lexion ikut duduk di sebelah putranya.


Lexion tidak menjawab. Dia hanya kembali melihat apa yang sebenarnya dia perhatikan. Ibu Lexion ikut memperhatikan. Rupanya putranya sedang memperhatikan Mira putri keduanya yang sedang bermain kejar-kejaran bersama anjing pemberian Lexion. “Mira?” beliau melihat putranya mengangguk sambil tersenyum. Dia terlihat sangat bahagia.


Tanpa kata ibu Lexion hanya memperhatikan sang putra yang selalu tersenyum tanpa henti. “apa kamu bahagia?” Lexion menoleh melihat tepat di kornea sang ibu lalu mengangguk mantap. Dia juga tersenyum. “ibu mengerti” beliau mengangguk. “Asal kamu bahagia ibu juga pasti bahagia. Ibu berjanji” Beliau mengelus sayang rambut sang putra.


“Aku bisa melihat, mengawasi dan mencintainya sepuas hatiku bu” ungkap Lexion tanpa bicara. “aku bebas memilikinya dan menjaganya dari sini” tambahnya yang juga diangguki sang ibu.


“lakukan apa pun yang kamu suka nak, tapi berjanjilah padaku kamu akan selalu bahagia hiks...” Jika kamu butuh sesuatu... Datanglah pada ibu... Hiks... Ibu masih di sini untukmu...” Lexion kembali mengangguk mantap dan mengulurkan tangan menghapus air mata ibunya. Dia menarik sang ibu dalam pelukannya.


Kali ini ibu Lexion paham benar putranya akan pergi darinya karena beliau merasakan pelukan Lexion yang tak lagi hangat seperti biasanya. Sadar akan hal itu, baliau semakin erat memeluk Lexion. “Ibu menyayangimu...hiks... Hiks...” tangis beliau pecah saat merasakan Lexion yang mengangguk.


Lexion tidak membalas ucapan sayang sang ibu. Dia hanya memeluk wanita kesayangannya itu semakin erat sebelum dia melepasnya kembali.


“Ibu...” dia memandang lembut mata sembab sang ibu. “jangan terlalu lama bersedih” dia kembali mengusap air mata wanita paruh baya itu. “Aku tidak suka ibu menangis” ibunya masih terisak. Hanya saja semakin pelan. “Aku lebih bahagia bu. Lalu apa yang ibu tangisi hem...” dia menyatukan keningnya pada kening sang ibu. “Ibu bilang akan bahagia jika aku bahagia, tapi sekarang apa hem...?” Tak ada jawaban.


“apa kamu harus pergi sekarang?” Lexion terkejut dengan pertanyaan itu. Dia menjauhkan keningnya dari sang ibu. Dia tersenyum. Sungguh tak ada hal yang sanggup dia sembunyikan dari wanita paruh baya ini.


“apa ibu keberatan?” dia kembali bertanya. Wanita itu terdiam cukup lama. “ibu izinkan...” Lirihnya beriring isaknya. “Asal kamu bahagia” tambahnya. Kali ini beliau tersenyum. Begitu juga Lexion.


Lexion kembali memeluk sang ibu. Lalu melepasnya pelan. “Aku pergi bu” ibu Lexion mengangguk dan ikut berdiri melihat Lexion yang berjalan semakin menjauh dan menghilang di balik pintu yang entah menuju ke mana. Meski begitu beliau yakin putranya itu menuju tempat yang indah dan akan membuatnya bahagia.


.


.


.


Dalam ruang operasi dokter mendengar bunyi dengungan nyaring dari mesin detektor detak jantung Lexion. Mereka mulai melakukan resistansi bahkan mereka juga menggunakan defibrillator untuk mengembalikan detak jantung Lexion, tapi tetap tidak berhasil. Akhirnya mereka menyerah setelah berusaha lima belas menit lamanya. Mereka menyatakan waktu kepergian pasien sambil tertunduk.


Pintu ruang operasi terbuka. Keluarga Lexion segera berlari mendekat termasuk Mira dan suaminya yang gagal terbang bulan madu karena menerima kabar kecelakaan sang kakak.


“Bagai mana keadaan kakak ipar saya dok?” suami Mira membuka suara. Namun dokter di hadapannya hanya tertunduk.


“Dok katakan sesuatu. Bagai mana hasil operasinya?” kali ini Mira yang ikut bertanya tidak sabar.

__ADS_1


“Maaf kami sudah berusaha, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Dia telah pergi lima menit lalu” rasanya seperti dunia ini runtuh. Berita itu begitu mengguncang keluarga Lexion.


__ADS_2