Hole The Wind

Hole The Wind
Dandelion Lenvina


__ADS_3

Hari yang ku tunggu datang juga. Hari launching karya terbaru penulis favoritku. Aku sudah tidak sabar sampai aku pergi tanpa menyentuh sarapanku. “Dande mau kemana? Sarapan dulu nak” mama berteriak menyusulku yang berlari ke garasi.


“Nanti Ma. Dande buru-buru” ucapku sambil memasuki mobil pribadiku. “Dah... mama. LOVE YOU” aku berteriak mengucapkan kalimat terakhirku. Aku lihat dari sepion mobilku mama tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mungkin pikiran mama sudah mentok menghadapiku.


“hati-hati. Jangan ngebut” mama balas berteriak padaku.


Meski aku mendengar dengan jelas kalimat terakhir mama, tapi aku tetap tidak mau mendengarkannya. Aku langsung menginjak pedal gasku sekencang yang sanggup aku kendalikan.


Hawa dingin khas departemen store langsung membelai kulitku tepat setelah aku memasukinya. Beberapa pegawai yang melihatku langsung tersenyum ramah di sana. Salah satunya bahkan langsung memberiku kode dengan melirik rak buku tempat mangsaku berada. Aku meluncur dengan segera dan mengambil karya yang telah lama aku tunggu terbitnya. “Yes akhirnya... Aku menemukanmu” aku mencium novel itu sebelum akhirnya memeluknya bahagia.


“Segitu senengnya kak?” seorang laki-laki yang tak jauh dariku berkomentar. Mungkin dia merasa weird melihat tingkahku yang terlalu memuja karya di tanganku.


“Hehe... Iya mas abis aku udah nungguin karya ini lama banget” cengirku padanya. Dia hanya mengangguk. Anggap saja dia paham dengan perasaanku.


“mau langsung bayar apa gimana mbak?” tanyanya. “atau mau cari karya lainya dulu?” tawarnya. “mumpung ada beberapa karya romence baru yang bagus-bagus mbak” lanjutnya.


“Rekom dong yang bagus yang mana” aku mencoba meminta sarannya. Dia mengangguk dan segera menggiringku pada deretan rak novel romance di balik rak tempatku mengambil novel tadi.


“coba mbak baca sinopsis yang ini. Mungkin mbak suka” dia menyodorkan novel dengan kover warna biru gelap. Aku menurutinya membaca sekilas sinopsis di bagian belakang.


“Lumayan” batinku sambil menganggukkan kepala.


“ini juga bagus dan ada satu lagi yang ini” pegawai itu kembali menyodorkan dua novel padaku.


“ku jamin kau akan memiliki sudut pandang cerita baru setelah membacanya terutama yang ini” dia menunjuk novel warna kelabu di tanganku.


“meski jalan hidup tokohnya tidak menyedihkan, tapi keseluruhan ceritanya akan menguras emosi” tambahnya.


Aku hanya tersenyum melihatnya memberiku penjelasan dengan menggebu-gebu. Aku merasa menemukan orang yang sejenis denganku. Kami sama-sama mengagumi kisah-kisah tak nyata ini. Hanya bedanya dia laki-laki, jadi sedikit menggelikan saat melihatnya berbinar semangat menjelaskan semua ini.


“Bagaimana apa mbak berminat mengambilnya?” Tanyanya.


“Tentu” aku mengangguk pasti. “terimakasi atas rekommu. Lain kali aku pasti meminta saranmu lagi” tambahku padanya. Dia tampak tersenyum senang.

__ADS_1


“cari saja saya kapanpun mbak mampir lagi. Saya akan dengan senang hati membantu mbak memilih karya terbaik di sini” jawabnya ramah.


“bisa aku membayarnya sekarang? Aku sudah tidak sabar untuk membacanya” aku mengacungkan empat novel di tanganku ke hadapannya.


“tentu” dia kembali tersenyum ramah dan mengarahkanku pada bagian pembayaran.


“apa dia anggota baru kalian?” tanyaku pada Stevy yang tengah sibuk mengurus pembayaranku. Aku sudah mengenal semua pegawai toko ini kecuali orang tadi. Aku sudah sering kemari terhitung sejak SMP sampai sekarang saat usiaku sudah menginjak angka dua puluh dua tahun.


“baru dua minggu” jawab Stevy lengkap dengan senyum ramahnya.


“Bagaimana menurutmu? Apa pelayanannya memuaskan?” kini Stevy bertanya dengan antusias. Mungkin dia ingin mendengar penilaian pelanggan pada pegawai barunya itu sebagai pertimbangan langkah kedepannya.


“Sangat” jawabku pasti dan Stevy tersenyum puas.


“sepertinya aku harus pembuatnya jadi pegawai tetapku mulai bulan depan” ujar Stevy sambil memberikan sebungkus buku yang telahku bayar.


“keputusan bagus dan terimakasi” ujarku sambil menerimanya.


“sama-sama”


Aku memutuskan berhenti di bahu jalan dan memarkirkan mobilku di parkir area deretan Cafe tak jauh dari hotel ternama. Aku mampir sebentar ke dalam salah satunya untuk membeli beberapa camilan dan segelas coklat panas.


Tadinya aku berniat membaca novel di sana, tapi karena suasana yang lumayan ramai, jadi aku mengurungkannya. Aku beralih keluar mencari tempat teduh dan tenang untuk menghayati kisah dari novel-novel di tanganku. “ketemu” akhirnya aku menemukannya. Tak menunggu lama aku menyeberang menghampiri tanah lapang yang diitari pohon-pohon besar dengan ranting yang rindang. Kebetulan letaknya tepat di depan Café.


Aku membuka novel karya penulis favoritku dan mulai membaca di bawah bayang-bayang ranting pohon. Sejuk dan tenang. Rasanya semesta tengah memberiku semangat untuk menyelam dalam kisah yang akan ku baca. Rasanya benar-benar sempurna.


.


.


.


Entah sampai berapa lama aku ada di sini yang jelas saat aku sadar suasana sudah sangat terik. Aku berniat berpindah tempat mencari lokasi yang lebih ramah terhadap kulitku, tapi ponselku sudah bergetar minta tolong. Terpaksa aku mengangkatnya.

__ADS_1


“Dande....!!!!” seseorang di sana langsung berteriak memanggilku. Otomatis aku menjauhkan ponselku dari telinga. Aku tidak ingin suara seseorang di sana menyakiti telingaku. Kini aku meletakkan ponselku tepat di depan mulutku dan memperbesar suaranya. Aku pikir itu jauh lebih aman untuk telingaku.


“Apa?” Tanyaku pada Alin. Ya yang menelfonku kali ini adalah Alin. Sahabat sekaligus partner kerjaku.


“Kamu masih bertanya apa? Kamu tidak lihat ini jam berapa?” tanyanya masih dengan nada kesal yang kental. Aku menurutinya melihat jam yang melingkar di tanganku. “aku beri kamu waktu lima belas menit untuk sampai. Jika kamu berani terlambat, bersiaplah ku pancung!” ancamnya.


Aku baru paham arah pembicaraan Alin dan alasannya marah. Aku melupakan tugas pentingku. Hari ini lebih tepatnya lima belas menit lagi aku harus menjadi pemain piano pengiring dalam acara pernikahan di hall hotel Luxe. “Oh ya tuhan... Matilah aku” gumamku sambil berlari menyeberangi jalan dan memasuki mobilku. Aku segera melajukannya dengan kecepatan tinggi. Sungguh aku tidak ingin terlambat. Bukan karena aku takut pada ancaman Alin, tapi lebih tepatnya aku tidak ingin jadi perusak pernikahan orang.


Sampai di depan Hotel aku meminta seorang penjaga pintu untuk memarkir mobilku atas namaku. Aku bergegas ke aula dan di sana sudah ada Alin yang menungguku dengan wajah garangnya.


Aku mengatupkan kedua tanganku dan meminta maaf padanya, tapi dia segera mendorongku ke tempat rias. Untungnya aku sudah menggunakan gaun putih sederhana sejak dari rumah jadi kaku hanya tinggal memoles sedikit wajahku dengan make up tipis dan semua beres.


“Mainkan lagu yang bagus atau aku akan benar-benar membunuhmu nanti” kini Alin sudah membuka kedua tangannya hendak mencekikku. Aku segera mundur dua langkah agar tangan Alin tidak sampai di leherku.


“aku bantu lin” kali ini Kafa tiba-tiba mencekikku dari belakang. Tentu saja bukan mencekik yang sebenarnya. Dia hanya melingkarkan jarinya pada leherku.


“Kalian kejam” Gerutuku sambil cemberut.


“Hoho... Jangan lempar batu sembunyi tangan nona” Kafa melipat tangannya sambil melihatku dari ujung kaki ke ujung rambutku. “kau yang membuat kami hampir mati berdiri dan kau menuduh kami kejam?” kali ini bahasa Kafa terdengar begitu sarkas. Tapi percayalah itu tidak membuatku tersinggung.


“maaf” ucapku disertai cengiran.


“Kau tahu di antara kami tidak ada yang bisa bermain piano. Kalo sampai kamu gak muncul kita bisa tamat” gerutu Alin.


“Iya aku minta maaf” aku mulai memeluk manja sahabatku itu. Siapa tahu dia bisa berhenti kesal.


“Udah sana acara udah mau mulai” Alin merenggangkan pelukanku lalu mendorongku ke ruang utama.


“Main yang bagus” kini Kafa ikut berpesan.


“Siap bos” aku memberi mereka berdua hormat sambil berjalan mundur menghadap keduanya.


“Heh perhatikan jalanmu” Kafa sedikit berteriak padaku. Aku tersenyum dan segera berbalik. Ups... Aku hampir menabrak seseorang, tapi untunglah aku berhasil menghindar.

__ADS_1


pesan : jangan lupa tinggalkan jejak kalian😊. semoga kalian suka.


__ADS_2