
Bayu menepati janjinya untuk bertandang ke rumah sang tante. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari hotel tempatnya tinggal mempersingkat waktunya untuk sampai di kediaman besar itu.
Dia hanya butuh satu kali memencet bel agar penghuni rumah membukakan pintu untuknya. Tadinya dia kira tantenya yang akan membuka pintu untuknya, namun nyatanya malah Alin yang berdiri di hadapannya. “Hei jelek...” sapanya jahil. Alin sempat tersenyum, namun gadis itu malah kembali menutup pintu dengan keras. Tentu saja sebelum Bayu sempat masuk.
“Galak banget” gerutunya tepat di depan pintu. Meski begitu dia tetap terkikik puas membuat sepupunya kesal. Tawa Bayu bahkan semakin menjadi-jadi saat samar-samar dari dalam Bayu mendengar suara sang tante yang menanyakan tentang siapa yang bertamu barusan, tapi Alin malah menjawabnya dengan orang gila.
Bayu sama sekali tidak tersinggung dengan olokan sepupunya itu. Dia bahkan semakin terkekeh geli mendengar jawaban Alin pada sang bunda yang menyebutnya “orang gila”.
“Ngapain lo di situ senyum-senyum gak jelas?” pertanyaan itu membuat Bayu meredakan kekehannya. Dia menoleh pada sumber suara dan mendapati Dion yang baru keluar dari tunggangannya.
“nungguin lo pulang” jawab Bayu jahil lengkap dengan senyum menggoda ala jablay yang biasa mangkal pinggir jalan.
Dion sontak langsung beringsut menjauh. Dia geli dengan kelakuan sepupunya barusan, karena bagaimanapun dia masih tergolong straight alias lurus. “Njir. Sejak kapan kamu putar haluan?” tanyanya sarkas.
“Sejak terpesona sama wajah gantengmu” jahil Bayu kembali.
“Sinting kamu Bay. Sono jauhan.” keluh Dion mendorong Bayu menjauh. “bikin orang mual aja” gerutunya.
“Hahaha...” Sontak tawa Bayu langsung pecah. “hamil berapa bulan kamu?” candanya yang dibalas Dion pelototan mata tidak terima.
“Kampret” umpat Dion kesal sambil menonjok ringan lengan kekar Bayu.
Merasa mendengar kegaduhan dari luar rumahnya Farah bergegas keluar untuk mengecek. Dia takut ada sesuatu yang terjadi di depan rumahnya. Terlebih tadi Alin sang putri sempat mengadu bertemu orang gila. Namun, saat membuka pintu Farah terkejut mendapati anak sulung dan keponakan gantengnya yang tengah asyik bertegur sapa.
Kedua pemuda itu kompak menoleh bersamaan pada Farah. “Ma... Tante” keduanya saling menyapa Farah dengan sebutan berbeda. Setelah itu keduanya bergantian mencium tangannya.
“Seru banget sih. Pada ngomongin apa sampek lupa masuk hem...?” penasaran Farah melihat keseruan ponakan dan sulungnya.
“urusan cowok te” kilah Bayu. Dia tidak mungkin menjelaskan obrolan beloknya pada sang tante. Bisa panjang urusannya. Terlebih imagenya sebagai laki-laki tulen bisa runtuh total di depan adik mamanya itu.
“Tante apa kabar?” satu lagi usahanya mengalihkan pembicaraan.
“Baik” singkat Farah.
“Ini ada oleh-oleh dari Mama.” Bayu menyerahkan bingkisan yang dari tadi dia tenteng. Jika ditanya apa isinya dia juga tidak tahu apa isi bingkisan itu. Ibunya yang menyiapkannya untuk sang adik. Untungnya dia tidak menaiki pesawat komersil jadi dia tidak perlu pusing menambah fasilitas bagasi.
“Terimakasi” wajah Farah begitu sumringah.
“Sudah ngobrolnya dilanjut di dalam saja. Kasihan Alin gak ada yang bantu” ajak Farah. Keduanya segera mengekor patuh. Farah menggiring keponakannya masuk sampai ruang makan.
“Ma... Mas Dion kok...” kata-kata Alin tak sampai selesai karena dia target yang dia bicarakan sudah sampai di rumah.
“Kenapa dek?” tanya Dion yang merasa tadi nakanya disebut-sebut.
__ADS_1
“Mas Dion...” bukannya menjawab Alin malah langsung menghambur ke pelukan Dion begitu gadis itu melihat sang kakak. “kok lama pulangnya, katanya tadi mau pulang sore” rengeknya manja.
“maaf, tadi ada pasien” Alin memutar bola matanya jengah mendengar alasan sang kakak yang selalu sama, tapi apa mau dikata. Profesi Dion yang sebagai dokter memang menuntutnya untuk lebih mengutamakan pasien dari pada keluarga.
“ehem...” dehem Bayu mengingatkan keberadaannya. “cuman Dion doang nih yang dapat peluk, buatku mana?” Bayu menyela.
“Noh tiang nganggur” balas Alin sewot.
“tiang gak punya lekuk kayak kamu Lin.” Jawab Bayu asal.
Sontak baik Alin atau Dion sama-sama melotot tidak suka. Namun berbeda halnya dengan Farah yang malah tergelak tertawa terpingkal mendengar jawaban asal keponakannya.
“Kamu benar-benar mirip papamu Yu” kenangnya “sama-sama tidak punya saringan saat bicara” Farah kembali terpingkal.
“Itu bukti bahwa aku keturunannya kan te” bangga Bayu.
“Tentu” jawab sang tante masih dengan tawa yang menarik sudut bibirnya.
“sudah... Sudah sekarang duduklah.” Farah mempersilahkan keponakannya untuk duduk di kursi yang telah dia persiapkan. “Dan kamu Alin lepaskan pelukanmu dulu nak. Biarkan kakakmu mengganti bajunya dulu.” Alin menurut melepas pelukannya meski dengan berat hati.
“oh ya” seolah baru mengingat sesuatu, Farah antusias menoleh penuh selidik pada keponakannya. “Kamu tadi di depan gak ketemu orang gila Yu?” Bayu langsung terbatuk begitu mendengar pertanyaan sang tante.
“eh kenapa... Minum dulu gih” Farah buru-buru menuangkan segelas air bening pada gelas Bayu. Bayu sendiri langsung menandaskan setengahnya demi mengurangi rasa kering yang tiba-tiba muncul di tenggorokannya. Setelahnya Bayu melirik Alin yang terkikik di kursinya. “Sial” batinnya.
“gak ada te. Bayu cuma ketemu cewek jelek didepan” kini giliran Alin yang tersedak ludahnya dan Bayu yang tertawa. “Minum dek” Bayu menyodorkan gelas minumnya yang masih terisi setengah. Tapi bukannya meminumnya Alin malah membanting sedikit kencang gelasnya. Sampai beberapa air di dalamnya ikut tercecer keluar.
“1:1” gumamnya yang masih dapat didengar Alin.
“Apanya yang 1:1?” Dion penasaran.
“Mas ... Bayu tuh ngeledikin Alin. Masak Alin dibilang cewek jelek” adunya manja pada sang kakak. Namun dari situ Farah paham siapa orang gila dan cewek jelek yang mereka maksud.
“Tunggu ini maksudnya?” Farah menunjuk Alin dan Bayu bergantian. Dan seolah paham dengan apa yang dimaksud ibunya Alin mengangguk membenarkan. Geram dan tidak habis pikir itulah yang Farah rasakan terhadap kelakuan dua anak yang sudah dewasa itu.
“Kalian tuh ya...” gemas Farah menarik telinga Alin dan Bayu bersamaan. Kebetulan mereka memang duduk bersebelahan.
“Aduh... Du... Du... Du...ampun Te... Ampun Ma” keduanya sama-sama mengaduh dan meminta ampun sambil berjinjit mengikuti telinga mereka yang tertarik.
“Tarik terus Ma” Dion tergelak sambil mengompori sang Mama untuk menyiksa sang adik dan sepupu.
“Mas jangan jadi kompor napa!” Alin bersungut kesal melempar sang kakak dengan kain serbet.
“Bantuin bro. Mau putus nih!” Bayu juga ikut berteriak pada Dion. Namun laki-laki itu hanya tergelak dan mengangkat kedua tangannya tanda dia tidak ingin ikut campur.
__ADS_1
“Hih...” Farah menarik keras telinga keduanya setelahnya baru melepasnya bersamaan. Keduanya langsung menggosok telinga mereka.
“besok ulangin lagi! Biar telinga kalian putus sekalian” kesal Farah. Nadanya seperti meminta mengulanginya, tapi percayalah bahwa risikonya akan sangat mengerikan.
“Ampun... Ma... Te... Gak lagi” keduanya bertingkah lucu persis seperti anak kecil yang kena murka dari bundanya.
“Kesel mama” Farah masih saja mengomel meski dia sudah kembali duduk di tempatnya. Dion tersenyum geli melihat sang mama yang masih sama seperti biasanya. Tidak berhenti mengomel jika sedang kesal.
“Udahlah ma. Kapan makannya nih? Aku udah lapar” Dion berusaha mengalihkan atensi sang mama.
“iya ayo makan” berhasil. Suara Farah kembali normal. Nada bicaranya juga sudah kembali jelas.
Acara makan malam itu berjalan khidmat dan sesekali di selingi percakapan ringan. Kini mereka berpindah ke ruang tengah menikmati potongan buah sambil menonton acara keluarga yang disajikan setasiun TV swasta. “Lin besok kamu sibuk gak?” Bayu bertanya sambil menyamankan dirinya di sofa. Tepat di sebelah sang tante.
“gak ada jadwal WO sih, emang kenapa?” tanyanya sambil mendongak. Kebetulan Alin memang sedang duduk di bawah.
“anterin cari sport hunting dong” pintanya.
“em... Tar aku dapat apaan kalo mau ngantar?” jiwa usaha Alin bangkit. Dia mencoba memberikan penawaran harga untuk jasanya.
“Alin gak boleh gitu lah nak” Farah menegur putrinya.
“bercanda kali ma...” Alin cengingisan.
“Beneran juga gak apa” seloroh Bayu.
“Eh... bukan aku yang maksa lo ya” Alin menunjukkan telunjuknya ke wajah Bayu.
“He.em” Bayu mengangguk.
“Bay gak usah gitu. Nanti Alin jadi kebiasaan pamrih” Farah mencoba menegur.
“Iya Bay. Nih anak kalo di turutin banyak maunya” Dion menambahkan.
Alin melemparkan bantal sofa pada Dion yang malah ikut membujuk sepupunya mengurungkan niat memberinya sesuatu.
“gak papa tante sekali-kali belikan adek kecil gulali gak akan bikin aku bangkrut” kelakar Bayu sambil menaik turunkan alisnya dengan menyebalkan. Sedangkan Farah dan Dion malah tertawa melihat wajah geram Alin.
“Kalo cuma gulali, gak usah nunggu teraktiran bos Alexander Hotel aku juga bisa beli sendiri” kesalnya sambil menghentakkan kaki. Lagi-lagi sepupunya itu menjadikannya bahan bullyan dan kali ini dia tidak akan tinggal diam saja. “Lagian aku baru tahu ternyata CEO Alexander Hotel gak sekaya yang aku kira. traktiran aja pakek jajan anak SD.” sindirnya balik. Setelahnya dia beranjak hendak pergi dari ruangan itu. Baginya tetap di tempat berarti pasrah untuk jadi target bullyan keluarganya dan dia tidak mau melakukannya.
“Mau ke mana dek?” Dion bertanya sambil masih cekikikan mendengar sindiran balik Alin pada Bayu yang ternyata tepat sasaran.
“Cari yang bikin kuping adem, di sini panas” sarkasnya melirik Bayu yang masih nyengir kuda di sebelah sang Mama yang geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Eh besok jadikan? jam berapa?” Bayu setengah berteriak memastikan janji temunya.
“Delapan, Café Oliver depan Hotel” jawab Alin sama setengah teriaknya. pasalnya dia sudah sampek ujung atas tangga. "Awas telat, aku tinggal pulang" ancamnya sebelum memasuki kamar.