Hole The Wind

Hole The Wind
Bertemu


__ADS_3

07:45 a.m jam nakas menunjukkan angka itu ketika Bayu membuka mata. “oh shit....” umpatnya sambil melompat dari ranjang. Dia bergegas ke kamar mandi. Setelahnya menghampiri closet miliknya. Dia mengambil acak pakaian yang paling dekat dari tempatnya berdiri. Kaus oblong berwarna grey dan celana kempol berwarna krem kini dia kenakan dengan tergesa. Setelah keluar dari Closetnya dia sempat melirik jam tangannya. “sial lima menit lagi...” dia menyambar tas kamera yang semalam telah dia siapkan. Keluar menuju lif sambil menyisir rambut setengah basahnya dengan tangan.


Tepat saat dentingan pintu lif terbuka ponsel Bayu juga ikut berdenting. Satu pesan masuk. Dia membukanya setelah menekan tombol lantai dasar.


“Bay ada masalah di kebunku, jadi hari ini aku tidak bisa menemanimu. Maaf ☹️. Tapi, tenang saja aku sudah mengirim utusan terbaikku untuk jadi guidemu. Kamu tinggal menyebutkan tujuanmu dia pasti tahu arahnya. Selamat bersenang-senang dan jangan lupa kembalikan guideku dengan utuh😋.” Bayu terkikik membacanya.


“Kau pikir aku kanibal” dia mengeti cepat balasannya.


“Siapa tahu saja begitu” satu pesan lagi yang muncul saat Bayu melangkah keluar lif.


“shit... kau mengataiku? Kalau begitu hadiahmu batal” itulah teks balasan yang dia kirim pada Alin. Dia tersenyum membayangkan reaksi sepupunya itu.


Beberapa karyawan hotel menunduk hormat saat berpapasan dengannya di lantai dasar. Bayu juga membalas mereka dengan menunduk sopan dan tersenyum ramah. Berbeda dengan para karyawan laki-laki beberapa karyawan wanita tampak menyapa dengan senyum terbaiknya. Bahkan ada juga yang memberinya senyum menggoda, namun dia tidak terlalu menanggapinya. Dia memilih fokus menunggu balasan sepupunya.


Tak lama ponselnya kembali berdenting “Dasar pelit😝” Bayu terkekeh membacanya.


“😏” Bayu memilih emotikon itu sebagai jawaban sebelum meletakkan ponselnya di atas dashboard mobilnya.


Saat dia datang Café itu baru dikunjungi beberapa orang dan belum ada gadis berkemeja putih dan bercelana jeans dark blue seperti yang di gambarkan Alin pada chat yang baru dia terima.


“mungkin dia sedikit terlambat.” Terka Bayu.


.


.


.


Di tempat lain Dande begitu tergesah berlari menghampiri kendaraan yang telah di siapkan asisten rumah tangga tepat di depan pintu ganda rumahnya. Dia melajukan mobilnya sekencang yang bisa dia kendalikan. Ini semua salah Alin yang menghubunginya terlalu mendadak membuatnya tidak punya banyak waktu untuk bersiap.


Dua puluh menit berikutnya dia baru sampai di halaman parkir Café yang kemarin dia kunjungi. Buru-buru dia masuk setelah memarkir kilat mobilnya. Hampir saja dia menabrak bahu seseorang saat melalui pintu geser Cafe. “maaf” katanya sopan sambil berbalik dan menunduk pada orang tersebut. “eh?” dia terkejut karena tidak melihat siapa pun di hadapannya saat kembali mendongak. “perasaan tadi ada orang kok sekarang ilang?” bingungnya. “ya sudah lah” Dande mengerutkan kening lalu mengangkat bahu acuh dan kembali melanjutkan langkahnya.


“kaos oblong grey celana kempol krem” dia mengulang kata itu sambil memperhatikan setiap pengunjung Café. “Ketemu” dia tersenyum puas dengan hasil pencariannya.

__ADS_1


Dia menghampiri laki-laki yang sedang sibuk dengan kameranya. “Permisi” sapa Dande sopan. Laki-laki itu mendongak menatap Dande dengan tatapan seolah terkejut.


“Apa anda yang bernama Bayu?” tak ada jawaban. Laki-laki itu mematung terpaku menatap intens wajah Dande.


Bayu pov


Aku memutuskan membongkar tas kameraku sekedar mengecek persediaan baterai dan menyeleksi beberapa gambar yang kemarin sempat ku ambil. Bibirku melengkung begitu aku menemukan gambar itu. Dia terlihat natural tapi sangat menarik. “Cantik” pujian itu kembali lolos. “Ada juga yang bening di sini” komenku masih tetap sambil melihat gambar gadis kemarin. “Apa dia sering mampir ke tempat itu?” aku masih bicara sendiri. “Mungkin nanti aku harus melihatnya lagi. Siapa tahu dia ada di sana” tambahku. Entah kenapa aku merasa ingin bertemu dengannya lagi. Aneh padahal selama ini aku selalu biasa saja pada orang-orang baru.


“Permisi” suara itu mengalihkan atensiku. Mataku melebar sesaat setelahnya aku kembali melirik layar kameraku. “sama” batiku. Dia gadis kemarin. Reflek ku mematikan kameraku. Aku tidak ingin dia menyadari gambar dirinya di sana. Tidak lucu rasanya jika dia menilaiku sebagai stalker pada pertemuan pertama.


“apa anda yang bernama Bayu?” dia bertanya. Aku berdehem sebentar menetralkan keterkejutanku. “Ya...” niatku kali itu hanya menjawab tapi, sialnya nada yang keluar malah lebih mirip pertanyaan di banding jawaban.


“apa aku salah orang?” dia bergumam tapi masih bisa ku dengar. “Kalau begitu maaf sudah mengganggu wak...”


“oh... tidak” aku berdiri sedikit reflek menyela ucapannya dengan suara nyaring. “Sial ada apa dengan diriku. Kenapa aku melakukan hal-hal bodoh.” Aku merutuk dalam hati.


“Eh?” jelas dia menampilkan wajah terkejut. Bahkan saat aku melirik orang-orang di sekitarku ternyata sama. Mereka menatap ke arahku dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Malu, tentu saja, tapi aku mencoba bersikap acuh. “Kendalikan dirimu bodoh” dikteku dalam hati.


“Tidak perlu” dia menolaknya. Kutebak dia sering kemari. Dan benar dia hanya mengatakan seperti biasa pada pelayan yang mendekat dan pelayan itu mengangguk paham.


“Sepertinya anda sering kemari” aku mencoba membuka pembicaraan normal tepat saat pelayan tadi meninggalkan meja kami. Aku ingin menghilangkan anggapan bahwa aku orang aneh yang mungkin terbersit di pikirannya.


“begitulah.” Singkatnya “Ngomong-ngomong namaku Dande” tanpa ku duga dia malah memperkenalkan dirinya. Aku menyambut uluran tangannya dengan sedikit canggung.


“Bayu” tak ayal aku juga menjawabnya.


“kita sudah saling kenal, jadi tolong jangan memanggilku dengan panggilan forman seperti tadi. Itu terdengar aneh” tambahnya. Aku tersenyum sambil mengangguk setuju.


“panggil saja langsung dengan nama” aku kembali mengangguk tapi kali ini aku menambahkan sedikit senyum “oh ya... boleh tolong lepaskan tanganku?” pertanyaan itu sukses membuatku gelagapan. Aku tidak sadar masih menjabatnya.


“Maaf” ucapku canggung sampil menggosok tengkuk. Ini benar-benar pertama kalinya aku bersikap bodoh saat bertemu orang lain terlebih lawan jenis.


“Tidak masalah. Itu wajar” aku sedikit mengerutkan kening mendengarnya.

__ADS_1


“Apanya yang wajar?” reflekku.


“Bukankah aku cantik?” aku menarik bibirku. Sungguh gadis yang tidak bisa di tebak.


“Haha... Jangan menampilkan wajah seperti itu. Aku hanya bercanda” dia terkekeh sambil mengibaskan tangannya beberapa kali.


“Tapi kamu memang cantik” pujiku dan blussss wajahnya sedikit memerah.


“Hehehe... sepertinya aku tidak salah orang. Kamu persis seperti yang di gambarkan Alin” mendengar nama itu aku sedikit curiga. Penjabaran apa yang diberikan biang kerok itu pada Dande.


“Bagaimana dia menggambarkanku?” aku penasaran.


“Perayu tampan yang suka gonta-ganti pasangan” jawabnya jujur sambil tersenyum melihatku.


“Oh shit... ingatkan aku untuk menyumpal mulut Alin saat pulang” umpatku dan dia tergelak mengangguk.


“Oh ya Alin bilang aku harus menemanimu berkeliling. Memangnya kamu mau ke mana?” dia mulai bertanya saat tawanya sudah reda. Aku bersyukur dia tipe orang yang mudah bergaul. Terbukti dari caranya berbicara. Dia bahkan sudah menggunakan kata aku kamu meski kita belum satu jam bertemu.


Aku sudah bersiap menjawab tapi pesanannya datang. Segelas jus jeruk dan sepotong Sandwich isi ayam dan keju tersaji di depannya. Dia mengucapkan terimakasi pada peramu saji lengkap dengan senyumnya. “Shit senyum itu lagi” rasanya ingin ku bungkus lalu ku sembunyikan khusus untukku.


“kamu belum menjawabku.” Dia berkomentar sambil mengaduk jus jeruknya. “Tempat seperti apa yang ingin kamu kunjungi?”


“tempat dengan sport foto yang bagus” aku menjawab sambil sedikit mengangkat kameraku.


Dia mengangguk. “kamu lebih suka perkotaan atau alam?” dia kembali bertanya sambil menyesap minumannya.


“alam”


“Baguslah” dia mengangguk. “aku tahu beberapa tempatnya” kali ini dia tersenyum.


Setelahnya kami hanya melanjutkan makan dan bergegas pergi. Kebetulan dia kemari dengan sepeda motor. Jadi aku punya alasan untuk mengajaknya satu mobil.


aku terlalu penasaran tempat seperti apa yang akan dia tunjukkan padaku.

__ADS_1


__ADS_2