Hole The Wind

Hole The Wind
Claud and Shadow


__ADS_3

Dari bab 1 sampai bab ini merupakan perkenalan tokoh, tapi tetap nyambungkok. ada adegan yang saling berkaitan antara satu bab dengan bab lainny. Jadi, jangan bingung dan selamat menikmati membaca 😊.


Claud pov


Hampir saja gadis itu menabrakku. Untung dia berhasil menghindar. “Mengehindar?” ada keganjilan dari kata itu. “Bagaimana mungkin dia bisa menghindar? Apa dia bisa melihatku?” pertanyaan itu muncul dan membuatku penasaran, jadi aku menghentikan langkahku dan kembali menoleh padanya. Namun, tidak ada yang ganjil darinya. Dia hanya pemain piano biasa.


Aku mengedikkan bahu acuh dan kembali pada tujuan utamaku. “Memastikan pernikahan ini berjalan lancar”. Meski aku bukan bagian dari Wedding organizernya.


“Cloud R” suara itu menyadarkanku.


Aku segera menghampirinya. “Kenapa? Apa kau membutuhkan sesuatu?” aku mencoba memastikan kebutuhan Shadow ku. Jika kalian ingin tahu apa itu Shadow, maka terpaksa aku menjelaskannya. Shadow adalah sebutan untuk seseorang yang tengah mendapat dampingan Cloud sepertiku. Para Shadow ini adalah orang-orang yang kemungkinan akan jadi arwah penasaran saat mereka meninggal kelak. Penyebabnya adalah ganjalan berupa keinginan yang tidak bisa mereka wujudkan atau tanggungan yang belum mereka selesaikan. Dan para Cloud sepertikulah yang bertugas untuk membantu mereka.


“Apa semuanya akan berjalan lancar?” ini sudah ke sekian kalinya Lexion bertanya dengan pertanyaan yang sama padaku. Aku mengerti dia gusar, tapi ini sudah keterlaluan jadi aku hanya diam. Dan sepertinya dia paham.


“Maaf. Aku sedikit gusar” aku mengangguk. Lalu kami sama-sama diam.


“Cloud R bisakah kau menemaniku?” Dia melihatku penuh harap. Aku mengangguk mengiyakan “Aku ingin menemui Mira” tanpa banyak bicara aku mengarahkannya ke depan ruangan rias pengantin.


Aku memilih berdiam di depan pintu. Bersandar pada tembok di dekatnya. Melihat jam gaib yang tersambung juga dengan yang ada di lengannya. Esok adalah harinya. Hari di mana laki-laki itu akan berpisah dari dunia. Aku tidak tahu penyebab kematiannya. Aku hanya tahu jam dan tanggalnya. Selebihnya itu urusan malaikat pencabut nyawa.


“Cloud R” aku menoleh pada seseorang yang tiba-tiba ada di sebelahku. Sontak mataku terbelalak kaget.


“Sedang apa kau di sini? Bukankah waktunya besok?” tanyaku pada jelmaan malaikat di sebelahku. Tidak seperti kaum Cloud, semua malaikat tidak pernah menampakkan wujud aslinya. Mereka selalu menjelma tiap kali menemui kami. Tapi menjelma seperti apa pun kami para Cloud pasti mengenalinya karena aroma khas yang keluar dari tubuh mereka.


“Aku hanya memastikan kesiapannya” aku menghembuskan nafas lega mendengarnya karena tadinya ku kira dia akan langsung membawanya.


“Ini permintaan terakhirnya. Aku jamin semua lancar” jelasku padanya.


“Bagus. Pastikan semua berjalan dengan baik” dia menepuk bahu kananku. Aku hanya mengangguk.


“Aku akan kembali besok” aku mengangguk lagi sebelum dia menghilang.


“Cloud” suara itu bergetar dan terdengar lemah. Aku menoleh pada pintu yang sudah terbuka. Lexion berdiri di sana dengan wajah sayu. “kita kembali ke dalam” dia bergerak lebih dulu. Aku mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Sepanjang acara Lexion hanya diam. Sampai mempelai wanita masuk menarik perhatiannya. Wanita itu hanya terdiam di ujung karpet merah. Meski semua mata tertuju padanya, tapi mata gadis itu hanya tertuju pada satu pasang mata. “Kak...” lirihnya. Lexion sendiri tak bergerak. Mungkin dia sendiri bingung harus bagaimana. “Apa kau tidak ingin mengantarku ke sana?” tanyanya. Aku lihat Lexion semat ragu, namun akhirnya dia berdiri menghampiri gadis itu.


“Shit” umpatku. Ini jelas alaram berbahaya bagiku. Aku tidak ingin Lexion berubah pikiran dan kembali memiliki ganjalan sebelum kematiannya. Atau aku akan mendapatkan sangsi karenanya.


“itu tugas ayah” tuturnya halus sambil mengelus pundak Mira. Sejenak aku merasa lega. Dia menolaknya. Namun semua tak bertahan lama.


“aku menyerahkan tugas ini untukmu” jawaban laki-laki paruh baya itu membuatku mengumpat kembali.


“Ada apa dengan mereka?” gerutuku “apa mereka bekerja sama untuk membuat ganjalan ulang untuk Lexion. “Ini tidak bisa di biarkan.” Aku segera bergerak cepat ke sisih Lexion. Aku menatapnya yang sedang menimbang keputusannya.


“Baiklah” keningku mengerut. Aku melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia tersenyum dan mengangguk pasti seperti sedang mengatakan semua masih berjalan pada mestinya.


Dia berjalan bersama wanitanya menuju altar sedangkan aku memilih keluar. Aku tidak ingin melihat drama sad ending itu. Lebih tepatnya aku tidak ingin di cap sebagai pemeran antagonis dalam drama mereka.


Lama juga aku menunggu sampai suara itu kembali memanggilku. “cloud” aku menoleh. “ayo pulang aku harus memasak makan malam untuk semua” dia kembali berucap seperti biasa. Aku hanya mengangguk dan mengikutinya. Kami sempat berbelanja sebelum kembali ke rumahnya.


Aneh hari ini dia memulangkan lebih awal seluruh asisten rumah tangga. Sedangkan sekarang dia terjun sendiri di dapur berkutat dengan berbagai macam bahan masakan. Aku hanya memperhatikannya sambil bersandar di gawang pintu.


“Aku tidak tahu” aku menjawab apa adanya.


“bantu aku. Aku sedikit kealahan” dia menoleh sambil memasang ringisannya.


“Seharusnya kau tidak memulangkan kokimu” gerutuku sambil mengambil apron hitam yang tersampir di sebelahku. Dia hanya membalasku dengan cengirannya.


Aku mengambil alih bawang bombai dan memotongnya tipis dengan cepat. “Wow aku tidak menyangka kau hebat juga” komentarnya. “mungkin dulu kau seorang koki” tebaknya.


“Aku tidak tahu” balasku. Aku memang tidak tahu aku dulu seperti apa. Aku kehilangan seluruh ingatanku semasa hidup. Bahkan aku juga tidak tahu siapa namaku.


Semua ini sudah ketentuan Yang Kuasa. Bahwa seluruh Cloud sepertiku akan kehilangan ingatannya semasa hidupnya selama bertugas. Yang Kuasa akan mengembalikan ingatan kami setelah kami berhasil membimbing lima roh terbebas dari urusan dunianya. Yang Kuasa juga akan mengizinkan kami menyelesaikan urusan dunia kami yang masih belum tuntas.


Setelah mendengar jawabanku Lexion sempat terdiam dan melanjutkan memasak. “Cloud, terimakasi” ucapnya lirih. Aku langsung menghentikan tanganku yang memotong wortel. Diam sejenak dan mencerna maksud kalimatnya.


“Untuk apa?” tanyaku tanpa menoleh padanya. Meski aku tidak menoleh tapi aku tahu dia juga menghentikan aktivitas menumisnya.

__ADS_1


“Semuanya” katanya sambil menatapku yang kembali melanjutkan memotong wortel.


“Itu sudah tugasku” jawabku singkat. Meski jawabanku terdengar dingin tapi dia tetap tersenyum.


Aku menghirup nafas dalam dan menghembuskannya. Kuletakkan pisauku dan ku ubah posisi tubuhku menghadapnya. Tangan kiriku kuletakkan di atas meja pentri dan tangan kananku ada di pinggan. Aku menatapnya yang juga sedang menatapku dengan heran. Aku memberinya kode dengan melirik tumisannya yang sudah berubah warna jadi coklat kehitaman.


“Apa?” tanyanya bingung.


“Kamu ingin menumis atau membakar?” tanyaku sarkas. Dia langsung menyadarinya. “Oh shit” umpatnya sambil mematikan kompor. “Oh shit” dia kembali mengumpat tapi kali ini lebih pelan.


“Ulang saja dari awal” usulku enteng.


“Waktunya tidak akan cukup sebentar lagi mereka sampai” katanya sedikit sedih.


Aku terpaksa menggunakan kemampuanku untuk mengecek sampai mana keluarga Lexon sekarang. Aku tertawa sinis melihat visionku. Mereka masih ada di dalam pesta dan sedang tertawa bahagia. Ironi bukan. Mungkin tidak ada satupun dari mereka yang menyadari ketidak hadiran Lexion. Tunggu setidaknya masih ada satu yang melipat wajahnya untuk Lexion. Wanita paruh baya yang selalu di panggil Lexion dengan sebutan ibu itu masih jelas tampak murung.


“Ulang saja dari awal. Waktunya masih cukup” kataku padanya. Dia menoleh sambil mengerutkan keningnya. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya penuh selidik.


“Aku seorang Cloud. Aku bisa melihat dengan jarak jauh” dia menganggukkan kepalanya seolah baru mengingat jika aku bukan manusia sepertinya. Dia sempat tersenyum tipis sambil mencuci pan gosongnya.


“Pantas kau selalu bisa menemukan Mira di manapun.” Dia membuat jeda pada kalimatnya. “mungkin akan menyenangkan jika mulai besok aku punya kemampuan seperti itu” begitu mendengar kalimat itu aku langsung menghentikan kegiatanku menyiapkan blender untuk menghaluskan bumbu. “setidaknya dengan itu aku masih bisa mengawasinya saat aku sudah pindah dunia” ucapnya santai. Sambil meneruskan pekerjaannya.


“Apa kau menyesal harus pergi darinya?” tanyaku tiba-tiba. Aku tidak sempat menyaring kata itu dalam otakku. Dan detik kemudian aku menyesali pertanyaan itu. “Bodoh bagaimana jika dia menyesal aku bisa tamat di sini” batinku.


“Tidak.” jawaban itu membuatku plong seketika “Karena aku tahu dia akan bahagia bersama pasangannya” dia menjawabku sambil tersenyum. Seolah dia benar-benar bahagia. Padahal aku juga tahu laki-laki itu sedang sekarat penuh luka sayat dalam dirinya.


“ngomong-ngomong aku menunggu bumbu halusnya” dia menepuk pundakku menyadarkanku yang dari tadi mematung.


“Oh ok” aku sedikit tergagap, tapi setelah itu kembali sigap melakukan tugasku dengan cepat.


Masakan siap tepat waktunya. Keluarga besar Anggoro membuka pintu ruang tamu tepat saat Lexion meletakkan piring berisi hidangan terakhir.


Aku segera menghilang. Aku berpindah menunggu Lexion di puncak atap rumahnya. Meski begitu, aku masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2