
Dari bab 1 sampai bab ini merupakan perkenalan tokoh, tapi tetap nyambungkok. ada adegan yang saling berkaitan antara satu bab dengan bab lainny. Jadi, jangan bingung dan selamat menikmati membaca đ.
Claud pov
Hampir saja gadis itu menabrakku. Untung dia berhasil menghindar. âMengehindar?â ada keganjilan dari kata itu. âBagaimana mungkin dia bisa menghindar? Apa dia bisa melihatku?â pertanyaan itu muncul dan membuatku penasaran, jadi aku menghentikan langkahku dan kembali menoleh padanya. Namun, tidak ada yang ganjil darinya. Dia hanya pemain piano biasa.
Aku mengedikkan bahu acuh dan kembali pada tujuan utamaku. âMemastikan pernikahan ini berjalan lancarâ. Meski aku bukan bagian dari Wedding organizernya.
âCloud Râ suara itu menyadarkanku.
Aku segera menghampirinya. âKenapa? Apa kau membutuhkan sesuatu?â aku mencoba memastikan kebutuhan Shadow ku. Jika kalian ingin tahu apa itu Shadow, maka terpaksa aku menjelaskannya. Shadow adalah sebutan untuk seseorang yang tengah mendapat dampingan Cloud sepertiku. Para Shadow ini adalah orang-orang yang kemungkinan akan jadi arwah penasaran saat mereka meninggal kelak. Penyebabnya adalah ganjalan berupa keinginan yang tidak bisa mereka wujudkan atau tanggungan yang belum mereka selesaikan. Dan para Cloud sepertikulah yang bertugas untuk membantu mereka.
âApa semuanya akan berjalan lancar?â ini sudah ke sekian kalinya Lexion bertanya dengan pertanyaan yang sama padaku. Aku mengerti dia gusar, tapi ini sudah keterlaluan jadi aku hanya diam. Dan sepertinya dia paham.
âMaaf. Aku sedikit gusarâ aku mengangguk. Lalu kami sama-sama diam.
âCloud R bisakah kau menemaniku?â Dia melihatku penuh harap. Aku mengangguk mengiyakan âAku ingin menemui Miraâ tanpa banyak bicara aku mengarahkannya ke depan ruangan rias pengantin.
Aku memilih berdiam di depan pintu. Bersandar pada tembok di dekatnya. Melihat jam gaib yang tersambung juga dengan yang ada di lengannya. Esok adalah harinya. Hari di mana laki-laki itu akan berpisah dari dunia. Aku tidak tahu penyebab kematiannya. Aku hanya tahu jam dan tanggalnya. Selebihnya itu urusan malaikat pencabut nyawa.
âCloud Râ aku menoleh pada seseorang yang tiba-tiba ada di sebelahku. Sontak mataku terbelalak kaget.
âSedang apa kau di sini? Bukankah waktunya besok?â tanyaku pada jelmaan malaikat di sebelahku. Tidak seperti kaum Cloud, semua malaikat tidak pernah menampakkan wujud aslinya. Mereka selalu menjelma tiap kali menemui kami. Tapi menjelma seperti apa pun kami para Cloud pasti mengenalinya karena aroma khas yang keluar dari tubuh mereka.
âAku hanya memastikan kesiapannyaâ aku menghembuskan nafas lega mendengarnya karena tadinya ku kira dia akan langsung membawanya.
âIni permintaan terakhirnya. Aku jamin semua lancarâ jelasku padanya.
âBagus. Pastikan semua berjalan dengan baikâ dia menepuk bahu kananku. Aku hanya mengangguk.
âAku akan kembali besokâ aku mengangguk lagi sebelum dia menghilang.
âCloudâ suara itu bergetar dan terdengar lemah. Aku menoleh pada pintu yang sudah terbuka. Lexion berdiri di sana dengan wajah sayu. âkita kembali ke dalamâ dia bergerak lebih dulu. Aku mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Sepanjang acara Lexion hanya diam. Sampai mempelai wanita masuk menarik perhatiannya. Wanita itu hanya terdiam di ujung karpet merah. Meski semua mata tertuju padanya, tapi mata gadis itu hanya tertuju pada satu pasang mata. âKak...â lirihnya. Lexion sendiri tak bergerak. Mungkin dia sendiri bingung harus bagaimana. âApa kau tidak ingin mengantarku ke sana?â tanyanya. Aku lihat Lexion semat ragu, namun akhirnya dia berdiri menghampiri gadis itu.
âShitâ umpatku. Ini jelas alaram berbahaya bagiku. Aku tidak ingin Lexion berubah pikiran dan kembali memiliki ganjalan sebelum kematiannya. Atau aku akan mendapatkan sangsi karenanya.
âitu tugas ayahâ tuturnya halus sambil mengelus pundak Mira. Sejenak aku merasa lega. Dia menolaknya. Namun semua tak bertahan lama.
âaku menyerahkan tugas ini untukmuâ jawaban laki-laki paruh baya itu membuatku mengumpat kembali.
âAda apa dengan mereka?â gerutuku âapa mereka bekerja sama untuk membuat ganjalan ulang untuk Lexion. âIni tidak bisa di biarkan.â Aku segera bergerak cepat ke sisih Lexion. Aku menatapnya yang sedang menimbang keputusannya.
âBaiklahâ keningku mengerut. Aku melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia tersenyum dan mengangguk pasti seperti sedang mengatakan semua masih berjalan pada mestinya.
Dia berjalan bersama wanitanya menuju altar sedangkan aku memilih keluar. Aku tidak ingin melihat drama sad ending itu. Lebih tepatnya aku tidak ingin di cap sebagai pemeran antagonis dalam drama mereka.
Lama juga aku menunggu sampai suara itu kembali memanggilku. âcloudâ aku menoleh. âayo pulang aku harus memasak makan malam untuk semuaâ dia kembali berucap seperti biasa. Aku hanya mengangguk dan mengikutinya. Kami sempat berbelanja sebelum kembali ke rumahnya.
Aneh hari ini dia memulangkan lebih awal seluruh asisten rumah tangga. Sedangkan sekarang dia terjun sendiri di dapur berkutat dengan berbagai macam bahan masakan. Aku hanya memperhatikannya sambil bersandar di gawang pintu.
âAku tidak tahuâ aku menjawab apa adanya.
âbantu aku. Aku sedikit kealahanâ dia menoleh sambil memasang ringisannya.
âSeharusnya kau tidak memulangkan kokimuâ gerutuku sambil mengambil apron hitam yang tersampir di sebelahku. Dia hanya membalasku dengan cengirannya.
Aku mengambil alih bawang bombai dan memotongnya tipis dengan cepat. âWow aku tidak menyangka kau hebat jugaâ komentarnya. âmungkin dulu kau seorang kokiâ tebaknya.
âAku tidak tahuâ balasku. Aku memang tidak tahu aku dulu seperti apa. Aku kehilangan seluruh ingatanku semasa hidup. Bahkan aku juga tidak tahu siapa namaku.
Semua ini sudah ketentuan Yang Kuasa. Bahwa seluruh Cloud sepertiku akan kehilangan ingatannya semasa hidupnya selama bertugas. Yang Kuasa akan mengembalikan ingatan kami setelah kami berhasil membimbing lima roh terbebas dari urusan dunianya. Yang Kuasa juga akan mengizinkan kami menyelesaikan urusan dunia kami yang masih belum tuntas.
Setelah mendengar jawabanku Lexion sempat terdiam dan melanjutkan memasak. âCloud, terimakasiâ ucapnya lirih. Aku langsung menghentikan tanganku yang memotong wortel. Diam sejenak dan mencerna maksud kalimatnya.
âUntuk apa?â tanyaku tanpa menoleh padanya. Meski aku tidak menoleh tapi aku tahu dia juga menghentikan aktivitas menumisnya.
__ADS_1
âSemuanyaâ katanya sambil menatapku yang kembali melanjutkan memotong wortel.
âItu sudah tugaskuâ jawabku singkat. Meski jawabanku terdengar dingin tapi dia tetap tersenyum.
Aku menghirup nafas dalam dan menghembuskannya. Kuletakkan pisauku dan ku ubah posisi tubuhku menghadapnya. Tangan kiriku kuletakkan di atas meja pentri dan tangan kananku ada di pinggan. Aku menatapnya yang juga sedang menatapku dengan heran. Aku memberinya kode dengan melirik tumisannya yang sudah berubah warna jadi coklat kehitaman.
âApa?â tanyanya bingung.
âKamu ingin menumis atau membakar?â tanyaku sarkas. Dia langsung menyadarinya. âOh shitâ umpatnya sambil mematikan kompor. âOh shitâ dia kembali mengumpat tapi kali ini lebih pelan.
âUlang saja dari awalâ usulku enteng.
âWaktunya tidak akan cukup sebentar lagi mereka sampaiâ katanya sedikit sedih.
Aku terpaksa menggunakan kemampuanku untuk mengecek sampai mana keluarga Lexon sekarang. Aku tertawa sinis melihat visionku. Mereka masih ada di dalam pesta dan sedang tertawa bahagia. Ironi bukan. Mungkin tidak ada satupun dari mereka yang menyadari ketidak hadiran Lexion. Tunggu setidaknya masih ada satu yang melipat wajahnya untuk Lexion. Wanita paruh baya yang selalu di panggil Lexion dengan sebutan ibu itu masih jelas tampak murung.
âUlang saja dari awal. Waktunya masih cukupâ kataku padanya. Dia menoleh sambil mengerutkan keningnya. âBagaimana kau bisa tahu?â tanyanya penuh selidik.
âAku seorang Cloud. Aku bisa melihat dengan jarak jauhâ dia menganggukkan kepalanya seolah baru mengingat jika aku bukan manusia sepertinya. Dia sempat tersenyum tipis sambil mencuci pan gosongnya.
âPantas kau selalu bisa menemukan Mira di manapun.â Dia membuat jeda pada kalimatnya. âmungkin akan menyenangkan jika mulai besok aku punya kemampuan seperti ituâ begitu mendengar kalimat itu aku langsung menghentikan kegiatanku menyiapkan blender untuk menghaluskan bumbu. âsetidaknya dengan itu aku masih bisa mengawasinya saat aku sudah pindah duniaâ ucapnya santai. Sambil meneruskan pekerjaannya.
âApa kau menyesal harus pergi darinya?â tanyaku tiba-tiba. Aku tidak sempat menyaring kata itu dalam otakku. Dan detik kemudian aku menyesali pertanyaan itu. âBodoh bagaimana jika dia menyesal aku bisa tamat di siniâ batinku.
âTidak.â jawaban itu membuatku plong seketika âKarena aku tahu dia akan bahagia bersama pasangannyaâ dia menjawabku sambil tersenyum. Seolah dia benar-benar bahagia. Padahal aku juga tahu laki-laki itu sedang sekarat penuh luka sayat dalam dirinya.
ângomong-ngomong aku menunggu bumbu halusnyaâ dia menepuk pundakku menyadarkanku yang dari tadi mematung.
âOh okâ aku sedikit tergagap, tapi setelah itu kembali sigap melakukan tugasku dengan cepat.
Masakan siap tepat waktunya. Keluarga besar Anggoro membuka pintu ruang tamu tepat saat Lexion meletakkan piring berisi hidangan terakhir.
Aku segera menghilang. Aku berpindah menunggu Lexion di puncak atap rumahnya. Meski begitu, aku masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka.
__ADS_1