
Semua orang terdiam, terpaku di tempat mereka masing- masing. Tak sedikit dari mereka yang menutup mulut dengan sorot mata penuh kekaguman. Langkah kecil dari sepatu boots berwarna seputih salju menginjak rumput hijau di bawahnya terlihat sangat menggemaskan.
“Dia seperti seorang malaikat!” Ujar salah satu pelayan wanita.
“Kau benar. Dia sangat cantik.”
“Apa Kediaman Yeeshai baru saja diberkati oleh dewa? Anak itu sangat menggemaskan!”
“Selamat datang kembali Tuan Eliot dan Nona Muda kita yang cantik... Yeeshai Rae.”
Kepala kecil berbentuk bulat diangkat ke atas. Menampilkan iris biru muda yang sangat cantik. Kau bahkan bisa melihat pantulan bulan sabit yang sangat jernih di dalamnya. Senyum ramah diberikan sampai menunjukkan kedua dimple di pipinya yang bulat dan berisi.
“Selamat malam, gēgē dan jiě jie.”
^^^[哥哥 (gēgē) dari bahasa ^^^
^^^China artinya kakak laki- laki. ^^^
^^^Sementara 姊姊 (jiě jie) ^^^
^^^artinya kakak perempuan.]^^^
“Kya! Dia sangat sopan!”
“Benar- benar seorang malaikat!”
“Ah! Nona Muda! Nǐ tōu zǒule wǒ de xīn!”
^^^[你偷走了我的心 (nǐ tōu zǒule wǒ de xīn)^^^
^^^dalam bahasa Indonesia memiliki arti^^^
^^^kamu mencuri hatiku. Ungkapan yang^^^
^^^satu ini ini sedikit lebih gombal^^^
^^^dibandingkan ungkapan lainnya.]^^^
“Sudahlah kalian ini, hentikan. Biarkan Rae ku istirahat dulu, oke?” Suara yang berat dan dalam mengalun selembut sutra.
“Ah, Tu, Tuan Eliot?!”
“Maafkan kami, Tuan. Kami sudah melanggar batasan kami.” Salah seorang pelayan menunduk penuh penyesalan.
“Tidak apa- apa. Lagi pula aku sudah terbiasa dengan kehebohan kalian semua.”
“Selamat beristirahat, Tuan dan Nona.”
“Ya, terima kasih.”
Sinar lampu dari segala penjuru ruangan menampilkan desain rumah yang terkesan minimalis dan sederhana namun punya aura kemewahan yang kuat. Perabotan rumah dengan harga jutaan sampai miliaran rupiah terlihat jelas. Sofa, meja, lantai, jendela, bahkan semuanya terlihat bersih tanpa sedikitpun debu.
Eliot melangkah masuk dengan aura kewibawaan yang melekat kuat di tubuhnya. Ia berjalan seiringan dengan ritme langkah Rae yang terbilang cepat. Senyum kecil mengembang walau tidak terlalu kentara karena saking kecilnya.
Drap, Rae tiba- tiba menghentikan langkahnya di tengah ruangan besar bernuansa putih itu. Perlahan tapi pasti ia mundur ke belakang disertai dengan badan yang menggigil hebat. Apa dia ketakutan karena ruangan ini terlalu besar? Set, Eliot mengangkat Rae menuju pelukannya. Dengan model gendongan ala koala.
__ADS_1
“Ada apa, hm?”
“Ruangannya... Sangat gelap.”
Alis Eliot mengkerut, “Gelap? Bagian mana dari rumah ini yang gelap, bǎobèi?”
^^^[宝贝 (bǎobèi). Jika diterjemahkan ke^^^
^^^Bahasa Inggris, 宝贝 (bǎobèi) artinya^^^
^^^baby. Namun secara harfiah, 宝贝^^^
^^^(bǎobèi) artinya adalah sesuatu^^^
^^^atau benda yang berharga.]^^^
“Semuanya. Semuanya terlihat sangat gelap dan menakutkan, hiks.”
“Semuanya...?”
Rae sedikit terisak, ia bersembunyi di sela- sela leher jenjang dan panjang milik Eliot. Sambil sesekali menggerak- gerakan kepala kecilnya mencari tempat yang aman dan nyaman. Alias Eliot berkedut. Semuanya gelap? Iris biru muda itu menelusuri segala penjuru ruangan.
Itu tidak mungkin. Seluruh ruangan sudah dipasangi lampu dan semuanya terang. Lalu bagian mana yang gelap? Sebelum dibawa ke Kediaman Yeeshai, Rae sudah diperiksa oleh dokter terlebih dahulu. Baik mata, kulit, dan tubuh Rae baik- baik saja.
“Bǎobèi, bisa kau beritahu Papa mu ini sesuatu, hm?”
“Apa?” Rae sedikit melirik dari balik leher jenjang Eliot.
“Mengapa kau bilang kalau ruangannya gelap? Padahal ruangan ini sangat terang, loh.”
“Lalu apa, hm?”
“Banyak... Banyak aura jahat dan hanya aura papa yang terlihat terang.”
Sial, Eliot melupakan hal itu. Hal yang paling penting, Rae adalah seorang Indigo. Itu artinya dia dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Ia bahkan juga dapat berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata itu kapanpun dia mau. Eliot menghela nafas panjang.
“Apa ada makhluk berbentuk jelek dan menakutkan di sana?”
Rae segera menoleh ke belakang, “Tidak. Tidak ada. Hanya auranya saja.”
“Kalau begitu kenapa harus takut? Dengarkan Papa Rae.”
“Huh?”
“Di dalam hidup pasti ada sesuatu yang membuat kita takut dan ingin menyerah. Tapi kita tetap harus berusaha dan melawan rasa takut itu mengerti? Apa kau tau kenapa?”
Rae menggeleng, “Tidak.”
“Karena musuh sebenarnya itu adalah... Diri kita sendiri.”
Iris biru muda yang lebih kecil menatap intens, “Bukankah itu hanya berlaku untuk orang dengan kepribadian ganda?”
“Tidak.” Eliot mengalihkan pandangan, “tidak juga...”
Checkmate alias skakmat, Eliot kalah. Ia terus mengelus surai rambut putih milik sang anak sambil terus memikirkan jawaban. Memang jawaban itu terlihat mudah, hanya saja cara menjelaskannya yang sedikit sulit. Rae masih menatap iris biru muda sang ayah menunggu jawaban.
__ADS_1
“Jika pertanyaan Rae terlalu sulit, maka tidak perlu dijawab.”
“Eh? Apa?”
“Maaf sudah menyusahkan Papa dengan pertanyaan tidak perlu itu.”
“Eiy! Apa yang kau katakan! Kau tidak salah. Bertanya itu memang hal yang bagus. Hanya saja tidak semua orang memiliki jawaban yang kau inginkan. Contohnya saja Papamu ini.”
“Papa.”
“Ya?”
“Rae mau tidur bersama, Papa.”
“Oh, baiklah. Dengan senang hati, My Princess.”
Drap, Eliot melangkah naik lewat tangga didepan mereka. Setiap langkah kaki yang dihasilkan Eliot membuat ketenangan tersendiri untuk Rae. Hidup, ia sedang berbicara dan memeluk sesuatu yang hidup. Bukannya abstrak atau tidak terlihat. Tiba- tiba hati Rae seperti dipenuhi bunga- bunga yang indah.
“Papa.”
“Kenapa, hm?”
“My princess itu artinya putri ku bukan?”
“Haha, anakku sangat pintar.”
“Papa memanggil ku begitu karena aku putri Papa, kan.”
“Tepat sekali.”
“Jadi kalau misalnya Papa punya istri, apa Papa akan memanggilnya dengan sebutan my queen? Yang artinya ratu ku?”
“Heh?!” Eliot berhenti melangkah.
“Apa maksudmu bǎobèi? Kenapa kau memikirkan hal seperti itu?”
Bibir Rae sedikit merenggut, “Hanya penasaran saja.”
“Um... Mungkin saja.”
“Benarkah?!” Tanya Rae dengan suara senang.
“Iya. Jika itu maumu akan Papa lakukan.”
Kecupan singkat mendarat di kening Rae yang tidak tertutupi helaian rambut putih. Rasa nyaman itu mengantarkannya ke dalam alam mimpi yang indah. Senyuman hangat dan tulus diberikan secara percuma untuk yang tercinta. Sekarang Eliot menyadari, Rae memanglah berkat terbaik Tuhan untuknya.
Ceklek, kenop pintu kamar berwarna coklat gelap dibuka. Ranjang berukuran king size didepan mereka terasa seperti menyambut untuk dibawa ke alam bawah sadar. Perlahan Eliot membaringkan tubuh Rae selembut mungkin. Takut jika malaikat kecilnya akan terganggu.
“Rae... Kau memang sangatlah manis.”
“Uhm,”
Merasa ada yang kurang, Rae menggerak- gerakan tangan kanannya ke atas dan bawah mencari sesuatu. Sadar jika yang dicari adalah dia, Eliot segera membaringkan tubuh tinggi tegapnya ke samping Rae. Memeluk anak itu erat seperti takut akan diambil darinya.
“Tidurlah dan Papa akan selalu ada bersama mu.”
__ADS_1
Kecupan ringan kembali diberikan, “Selamat malam.”