
“Serry...! Serry...!”
Suara siapa itu?
“Serry! Nak, tolong ibu!”
Aura kegelapan yang sangat pekat menutup daya penglihatan ku. Yang dapat kulakukan hanyalah mendengarkan suara yang nyaring dan tersiksa. Perlahan secercah cahaya datang entah dari mana. Seorang wanita, dengan rambut panjang berwarna coklat muda.
Wajah yang putih pucat dan bibir yang retak. Kedua iris matanya berubah menjadi putih semua dengan kedua sisi dialiri darah segar. Tangan itu mendadak bergerak maju, berusaha untuk menyentuh ku. Aura hitam menyesakkan dibelakangnya semakin menghitam. Kaki ku seperti terpaku, tidak dapat melarikan diri.
Aku takut...
Ku mohon seseorang...
Ku mohon siapapun!
... Tolong aku...!
Air mata mulai berjalan turun. Tubuhku menggigil ketakutan. Perlahan aku menyadari ada sinar hangat yang mendekat. Sinar itu membuatku tenang dan merasa aman. Rambut putih panjang bagaikan awan mengalun lembut di udara. Ia memakai pakaian putih panjang dengan selendang berwarna biru polos tipis di belakangnya.
Selendang itu terbang seperti membentuk rupa sayap lebar sang bidadari. Tangannya yang selembut busa menyentuh pipi ku pelan. Aku tidak bisa mengingat jelas wajah itu, mungkin karena ini semua adalah mimpi. Suara yang menenangkan, nyaring tapi sangat merdu. Penuh akan keanggunan.
“Jangan takut anak baik. Aku ada disini.”
Aku semakin takjub, “Kakak siapa? Kenapa datang didalam mimpi Rae?”
“Karena aku... Suka tipe anak baik seperti mu.”
“Siapa nama Kakak? Rae ingin tau!”
“Namaku... Mizuki... Yuuna...”
Set, kelopak mata ku perlahan terbuka. Akhirnya mimpi buruk itu berakhir juga, sekarang aku bisa bernapas lega. Tunggu sebentar. Dimana Papa? Seharusnya kan dia ada disampingku saat ini. Melirik lemari jam di depanku, ternyata ini sudah pukul 04:00 pagi.
Apa Papa sudah berangkat syuting, ya?
Sebenarnya kemarin aku mendengar pembicaraan Ochi dan papa tentang kontrak syuting. Aku tau menguping itu buruk, tapi sayangnya rasa penasaran ku terlalu besar. Jadi aku tidak bisa mencegahnya. Kalau papa tau dia pasti akan sangat kecewa.
“Sudah aku bilang tolak semua permintaan itu, Ochi!”
Eh?
Itu, kan, suara Papa!
Aku segera beranjak turun dari ranjang. Papa ternyata masih disini, ia hanya keluar kamar untuk membicarakan sesuatu ternyata. Saat sudah mulai dekat diambang pintu, langkahku terhenti. Ayah sedang bersama Ochi, manajernya. Ia nampak kesal dengan alis yang senantiasa berkerut.
“Tuan Eliot, Anda tidak bisa egois seperti ini! Apa Anda ingin karir Anda hancur?!”
“Tapi Rae membutuhkan ku saat ini Ochi! Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja! Aku tau dia lebih dewasa dari anak seumurannya yang pernah kita temui tapi... Akh! Dia kan masih tetap anak kecil, Ochi!”
“Tuan Eliot. Apa Anda meragukan keamanan Kediaman Yeeshai?”
“Tentu saja tidak!”
“Kalau begitu percayakan saja pada kami.”
__ADS_1
“Ochi, kau itu seorang perempuan. Kau juga akan memiliki anak nanti. Apa kau tega meninggalkan anakmu sendirian?”
“Tidak. Tapi jika keadaan memaksa, maka akan aku lakukan.”
“Kau tega menitipkan mereka begitu saja?”
“Sudah saya katakan. Jika keadaan memaksa maka akan saya lakukan.”
“Ochi kau-”
“Papa?”
Mereka berdua berhenti berdebat. Menatap ke arahku dengan wajah yang tak dapat dideskripsikan seperti apa. Kebingungan terlihat jelas di mata dan wajah mereka. Ah, aku datang di waktu yang salah. Papa segera mendekat ke arahku. Suaranya yang setinggi langit benar- benar indah.
“Bǎobèi, kenapa mau ada di sini, hm? Apa kau bermimpi buruk?”
Dari mana Papa tau jika aku mimpi buruk?
“Tidak, Rae hanya haus saja.” Jawabku selogis mungkin.
“Kau seharusnya memanggil Papa saja kalau begitu.”
“Tapi jika Rae berteriak, nanti para gēgē dan jiě jie di rumah akan terbangun.” Wajah ku merenggut dengan pipi digembungkan.
“Haha, sekali malaikat tetap malaikat, ya. Sangat baik.”
“Tuan Eliot.” Ochi menatap kami dengan sorot mata penuh arti.
Aku paham dengan jelas maksudnya. Papa harus segera kembali bekerja dan aku tidak boleh membebaninya lebih dari ini. Kedua alis Papa menukik marah, ia paling kesal jika terus diingatkan kepada sesuatu yang membuat mood nya hancur. Aku menggenggam kedua tangan Papa erat.
“Rae...!” Bibir Papa ditekuk ke bawah.
“Sudah dong, Pa. Lagi pula Rae kan 2 hari lagi akan berangkat sekolah. Tidak mungkin, kan Papa akan ikut Rae sekolah?”
“Huh? Sekolah? Kapan Papa mengijinkan Rae sekolah?” Papa pura- pura lupa.
“Papa! Tapi Rae kan pengen sekolah!”
“Kenapa anak ku ini sangat ingin meninggalkan Papanya sendirian, sih? Jahat!”
“Papa, jika Papa tidak mendengarkan Ochi èr gēgē dan tidak mengijinkan ku sekolah. Maka Rae tidak akan makan!”
^^^[ 二哥 (èr gē) artinya kakak laki- laki ^^^
^^^no 2. Tapi saat aku membaca novel^^^
^^^terjemahan China. Biasanya memakai^^^
^^^sebutan ( 二哥哥) èr gēgē dan aku^^^
^^^lebih nyaman pakai sebutan itu.]^^^
“Eiy...! Jangan gitu dong!”
“Rae tidak akan mengubah pilihan Rae. Titik.”
__ADS_1
“Ugh. Baik- baik, Papa akan pergi bekerja.” Papa melirik tajam ke arah Ochi, “aku membencimu!”
Ochi membenarkan kacamatanya, “Terima kasih kembali.”
Papa berteriak frustasi, “Akh! Kau menyebalkan!!!”
꧁ꕥ❦︎♫︎❦︎𑁍❦︎♫︎❦︎ꕥ꧂
Pulau Hanshu, Kyoto, Jepang. Kyoto pernah menjadi Ibu Kota Jepang. Kota ini terkenal dengan banyak kuil Buddha klasik, taman, istana kekaisaran, kuil Shinto, dan rumah-rumah kayu tradisional. Sekaligus menjadi tempat favorit para wisatawan luar negeri.
Di sinilah tempat dimana Yeeshai Eliot, aktor terkenal paling tampan kita akan mengadakan syuting film “Watashinounmei Wa Anata No Monodesu” atau “私の運命はあなたのものです”. Yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya Nasibku adalah Milikmu.
“Ck!” Eliot kembali mengumpat geram.
“Tenangkan diri Anda, Tuan.”
“Diam kau, Ochi! Semua ini gara- gara kau!”
“Saya hanya mengerjakan tugas saya saja Tuan.”
“Ochi,”
“Ya Tuan?”
“Cepat serahkan surat pengunduran diri mu.”
“Akan saya berikan jika masa kontrak selesai.”
“Dan berapa lama itu?”
Ochi menjawab tenang, “Tiga bulan lagi.”
“Ugh...!”
Eliot benar- benar kekurangan tidur. Jarak perjalanan dari Beijing, China menuju Kyoto, Jepang sangatlah lama. Sekitar 33 jam 50 menit alias 1 hari lebih dan Eliot benci bangun pagi. Sudah begitu ia belum ada kesempatan untuk melakukan video call dengan putri kesayangannya Rae karena saking sibuknya.
“Aku mau pulang.” Ucap Eliot cepat.
“Anda baru sampai beberapa jam yang lalu Tuan. Anda tidak bisa langsung pulang begitu saja.”
“Kenapa kau selalu memberiku fakta yang sangat menyakitkan, Ochi?”
“Karena fakta memang selalu menyakitkan Tuan.”
“Sialan kau.”
“Oh, itu Kak Yeeshai Xuemei!”
Yeeshai Xuemei adalah nama lahir atau nama kecil. Sementara Yeeshai Eliot adalah nama populer atau nama yang dikenal luas oleh masyarakat. Jika di China menyebut nama lahir orang lain tanpa hubungan yang terbilang akrab. Itu adalah tindakan lancang alias tidak sopan.
Eliot menyipitkan matanya, menatap tidak suka. Hanya dua orang sahabat dekatnya saja yang boleh memanggil nama kecilnya itu. Sedangkan orang lain? Sampai akhir pun tidak akan boleh. Eliot menelusuri penampilan gadis muda itu dari atas sampai bawah. Model gaun yang imut dengan wajah palsu.
Pewarna bibir dan alas bedak yang sengaja dipertebal. Sekilas memang cantik tapi bagi Eliot, wajah itu seperti tembok. Sekarang ia ingat gadis itu. Dia adalah gadis yang ia beri nilai paling rendah yaitu 20 poin saat audisi pencarian penyanyi terbaik dulu. Sehingga gadis itu tidak bisa lolos ke babak selanjutnya.
“Ada apa memanggil ku... Nona Ji Ah.”
__ADS_1